"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

21 Maret 2013

Deteksi Jamur Patogen Benih Cabe



Fungi atau jamur merupakan penyebab penyakit infeksi yang utama pada tanaman. Jamur merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya spora yang masuk ke dalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan sistem kerja jaringan pengangkut air menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana (Wudianto, 1999).
Salah satu penyakit utama pada pertanaman cabai yang disebabkan oleh cendawan adalah antraknosa atau pathek. Kerugian yang disebabkan oleh antraknosa dapat mencapai 60 % atau lebih (Duriat et al., 1991; Hartman dan Wang, 1992).
Penyakit antraknosa sukar dikendalikan karena infeksi patogennya bersifat laten dan sistemik, penyebaran inokulum dilakukan melalui benih (seed borne) atau angin serta dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit. Serangan patogen antraknosa pada fase pembungaan menyebabkan persentase benih terinfeksi tinggi walaupun benih tampak sehat. Cendawan C. capsici dapat menyerang inang pada segala fase pertumbuhan (Sinaga, 1992).
Benih terinfeksi jamur antraknosa menurut metode yang digunakan Setiyowati dkk. (2007), diambil dari buah dengan ciri adanya bercak coklat kehitaman melingkar yang kemudian meluas menjadi busuk lunak pada kulit buah. Pada serangan berat, seluruh buah bisa menguning dan busuk. Asumsi yang digunakan yaitu apabila benih diambil dari buah cabai yang terserang antraknosa maka benihnya akan berpotensi terinfeksi Colletotrichum capsici.
Salah satu cara untuk memeriksa kesehatan benih adalah dengan teknik isolasi patogen di mana kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan benih pada media yang telah ditentukan untuk mengetahui ada tidaknya mikroorganisme patogenik yang terbawa oleh benih (seed born). Isolasi dianggap berhasil jika tumbuh misellium di atas benih, dan miselium tersebut berasal dari spora patogen yang terdapat dalam benih (terbawa benih). Metode yang bisa digunakan untuk isolasi patogen benih adalah metode inkubasi, yaitu benih ditumbuhkan selama waktu tertentu pada kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan patogen (biasanya selama 5-7 hari, suhu 20±2oC, kelembaban udara >70%) (Sutopo, 1993).
Metode blotter merupakan salah satu metode inkubasi dimana benih ditempatkan pada kertas saring, dan diinkubasi biasanya selama 7 hari pada suhu 22oC dengan penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap. Setelah inkubasi perkembangan jamur dari masing-masing benih di periksa dalam perbesaran yang berbeda dengan mikroskop stereoskopik dan diidentifikasi (Mathur et al., 2003).
Praktikum Acara II dengan judul Deteksi Jamur Patogen Benih Cabe dilaksanakan pada tanggal 24-30 Oktober 2012 di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Terpadu, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat dan bahan yang digunakan adalah benih cabai sachet dari toko pertanian, petridish, kertas saring, air steril, pinset, jarum preparat, lampu spiritus, NaOCl (kloroks) 1%, gelas benda, gelas penutup, saringan plastik, dan gelas beker.
            Praktikum ini berlangsung dua pertemuan. Pertemuan pertama melakukan perkecambahan pada media kemudian diamati selama satu minggu dan pertemuan kedua melakukan diagnosis jamur. Benih cabe direndam dalam larutan NaOCl 1% selama 2 menit kemudian ditiriskan dengan menggunakan saringan plastik. Petridish yang didalamnya terdapat kertas saring dibasahi dengan air steril. Setelah itu benih cabe yang telah direndam tadi diletakkan dalam petridish sebanyak 50 butir per pertidish, diulang empat kali. Kemudian benih diinkubasikan selama 7 hari dengan penyinaran 12 gelap dan 12 jam terang di laboratorium. Kemudia dihitung jumlah benih cabe yang terinfeksi jamur. Persentase infeksi dihitung dengan rumus :
I = jumlah benih yang terinfeksi x 100%
                                                  jumlah benih yang diinkubasi


HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Miselium cendawan merupakan struktur yang cukup dominan ditemukan dalam tanah. Selain itu, miselium cendawan ditemukan pula pada berbagai jenis tanaman yang terinfeksi oleh cendawan patogen. Bagian yang terinfeksi meliputi benih, daerah perakaran, daun, dan batang. Cendawan yang dominan menginfeksi tanaman adalah Aspergillus sp. (Agrios, 1996). Hal ini dikarenakan cendawan tersebut memiliki spora mobilize dan dapat tumbuh pada suhu lingkungan dan kelembaban relatif tinggi. Cendawan tersebut bersifat patogen pada tanaman dan hewan. Pada umumnya, Aspergillus sp. dan berbagai cendawan lain, memanfaatkan pati, hemiselulosa, selulosa, pektin dan polimer gula lainnya sebagai nutrisinya. Benih tanaman memiliki endosperm sebagai cadangan makanan untuk pertumbuhannya. Kandungan yang paling banyak dalam endosperm adalah karbon berupa substrat pati (Carrol and Wicklow, 1992). Oleh karenanya, berbagai jenis cendawan dapat tumbuh dengan baik pada benih tanaman sebagai patogen yang memanfaatkan endosperm sebagai substratnya. Seperti terlihat pada Tabel 1. yang menjelaskan mengenai infeksi patogen cendawan.
 Tabel 1. Hasil deteksi benih terinfeksi cendawan patogen dengan metode blotter.
Ulangan
Jumlah benih yang berkecambah
Benih yang sakit
I (%)
Patogen
1
48
0
0
-
2
43
1
2
Aspergillus sp
3
45
0
0
-
4
44
2
4
Aspergillus sp
Pada tabel 1.1 terlihat bahwa dari 4 ulangan yang terdiri dari 50 benih ditiap ulangan, menunjukkan adanya patogen cendawan yang menginfeksi benih cabe. Pada ulangan 1 dan 3 tidak terdapat cendawan patogen yang menginfeksi, akan tetapi pada ulangan 2 dan 4 terdapat cendawan patogen yang menginfeksi benih, yaitu 2% teruntuk ulangan 2 dan 4% teruntuk ulangan 4. Infeksi tersbut ditandai dengan terlihatnya koloni spora berwarna hijau (gambar 2) (Saryono et al., 2002). Koloni jamur tersebut terlihat dengan menggunakan mikroskop dan itu terdapat pada benih ulangan 2 dan 4.
 Tabel 2. Hasil deteksi benih terinfeksi cendawan patogen dengan metode PDA.
Ulangan
Jumlah benih yang berkecambah
Benih yang sakit
I (%)
Patogen
1
9
2
22.2
Aspergillus sp. dan Colletotrichum sp.
2
9
1
11.1
Aspergillus sp.
3
9
1
11.1
Aspergillus sp.
4
9
1
11.1
Aspergillus sp.
Pada tabel 2. terlihat pertumbuhan cendawan Aspergillus sp. dengan adanya benang-benang hifa berwarna coklat (Gambar 1). Hifa cendawan lebih dominan daripada pertumbuhan bakteri. Hal ini dikarenakan nutrisi yang tersedia dari medium pertumbuhan lebih cepat dipakai oleh hifa cendawan. Sehingga pertumbuhan cendawan lain dan bakteri serta benih menjadi terhambat. Colletotrichum sp. pun ditemukan dalam jumlah sedikit dan hanya satu koloni saja.
Gambar 1 dan 2. Hasil pengamatan deteksi cendawan dengan metode PDA (kiri) dan koloni spora Aspergillus sp. (kanan)
Seperti yang dinyatakan oleh Hedayati et al. (2007) bahwa spora Aspergillus bersifat aerosolid yang dapat ditemukan disekitar dan terdeteksi lebih dominan jika dibandingkan dengan cendawan lainnya. Hal ini dikarenakan spora yang dilepaskan ke lingkungan sekitar lebih mudah mengalami pertumbuhan setelah melekat pada substratnya, spora akan terbentuk dan lepas dari konidianya (Geizer, 2008). Spora terdeteksi dengan menggunakan metode blotter.
Metode blotter merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi cendawan patogen. Terdapat 2 metode blotter yang masing-masing diperuntukkan menguji cendawan dan bakteri, yaitu blotter dan PDA(Potato Dextrose Agar). Dalam praktikum ini digunakan metode blotter dengan tujuan untuk mengetahui berbagai jenis cendawan patogen yang berspora aerosolid. Dari hasil yang didapatkan dapat dinyatakan bahwa deteksi patogen dengan metode blotter dapat memberikan hasil yang akurat untuk mendeteksi keberadaan cendawan patogen. Namun, proses terjadinya infeksi tersebut dikarenakan tidaknya aseptis dalam melakukan perlakuan percobaan. Pada ulangan 1 dan 3 tidak terlihat adanya infeksi cendawan patogen. Jika diperhatikan lebih lanjut, benih tidak terinfeksi dikarenakan pada percobaan yang dilakukan bersifat aseptis. Dari 50 benih yang ditumbuhkan, tidak semuanya tumbuh. Untuk ulangan 1 dan 3 dapat dikarenakan benih yang digunakan tidaklah terbilang benih yang baik. Bisa saja itu disebabkan benih masih mengalami dorman. Sedangkan pada ulangan 2 dan 4, benih tidak tumbuh dikarenakan adanya cendawan yang menyerap nutrisi disekitar lingkungan benih, sehingga benih tidak tumbuh dengan baik dikarenakan nutrisi yang tidak mencukupi untuk pertumbuhan. Selain itu, cendawan patogen yang tidak tumbuh pada ulangan 1 dan 3 dapat dikarenakan tidak tersedianya nutrisi di lingkungan benih tersebut. Persaingan dalam mendapatkan nutrisi dapat sja terjadi dalam kondisi cekaman nutrisi. Benih akan lebih aktif menyerap nutrisi jika dalam cekaman nutrisi. Sehingga tidak semua jenis cendawan dapat tumbuh dikarenakan minimnya ketersediaan nutrisi.
Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menghindari pertumbuhan cendawan patogen, yaitu 1). Tingkat aseptis dalam perlakuan, 2). Kelembaban dalam kondisi lingkungan, dan 3), ketersediaan nutrisi (Okuda et al., 2000). Dari ketiga hal tersebut, dua diantaranya merupakan kondisi yang mendukung pertumbuhan cendawan patogen, yaitu kelembaban dalam kondisi lingkungan dan ketersediaan nutrisi. Dan satu diantaranya merupakan kondisi yang tidak mendukung pertumbuhan cendawan patogen, yaitu tingkat aseptis. Ketiga hal tersebut menjadi sebuah acuan yang logis dalam hal melakukan analasis di laboratorium. Jika ingin terhindar dari infeksi cendawan patogen, maka perlakuan yang dilakukan harus benar-benar aseptis.

KESIMPULAN
  1. Jamur yang terdeteksi pada benih cabe dengan metode blotter adalah Aspergillus sp. , dengan metode PDA adalah Aspergillus sp. dan Colletotrichum sp.
  2. Persentase biji terinfeksi yang paling besar adalah pada ulangan 2 dan 4 (uji blotter), yaitu 2% dan 4 % dengan jenis patogen yang sama, Aspergillus sp.
  3. Persentase biji terinfeksi pada uji PDA adalah 22.2% (ulangan 1) dan 11.11% (ulangan 2,3, dan 4) dengan jenis patogen yang sama, Aspergillus sp. 
  4. Tiga hal yang mempengaruhi pertumbuhan cendawan patogen, yaitu 1). Tingkat aseptis perlakuan, 2). Kelembaban, dan 3). Ketersediaan nutrisi.
 

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...