Perbanyakan tanaman hias
dibagi dua yaitu perbanyakan vegetatif dan generatif. Perbanyakan generatif
adalah perbanyakan yang menggunakan biji sebagai calon individu baru.
"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label artikel ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel ilmiah. Tampilkan semua postingan
Perbanyakan Tanaman Hias (2): Praktik Perbanyakan Bunga Pukul Empat, Sansevieria, Paku, dan Melati
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
budidaya,
bunga pukul empat,
generatif,
Jasminum,
melati,
Naftalenasetamida,
paku,
perbanyakan,
Pertanian,
Rooton f,
stek daun,
vegetatif
Perbanyakan Tanaman Hias (1)
Sering
kali pada komoditas tanaman hias terjadi kesenjangan antara permintaan dan
ketersediaan stok tanaman. Rendahnya ketersediaan tanaman hias di pasaran
dipengaruhi oleh cara perbanyakan yang belum memadai, sehingga multiplikasi
rendah. Masalah ini sering kali juga berdampak pada fluktuasi harga tanaman.
Perbanyakan
tanaman hias penting peranannya bagi penyediaan bahan tanam yang memadai.
Setiap jenis tanaman hias berbeda-beda teknik perbanyakan yang dapat digunakan,
tergantung dari pola reproduksinya tanamannya. Cara perbanyakan yang benar akan
dapat memberikan hasil perbanyakan yang optimal dan keuntungan yang maksimal.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
budidaya,
pembibitan,
perbanyakan,
perbanyakan generatif,
perbanyakan vegetatif,
Pertanian,
tanaman hias
Tanggapan Dua Kultivar Kacang Tanah Terhadap Cekaman Besi (Fe) dalam Kondisi In Vitro
Kacang tanah (Arachis
hypogaea) merupakan komoditas sayuran yang cukup penting dalam banyak menu
kuliner daerah di Indonesia. Tetapi dalam budidaya kacang tanah sering kali
terkendala kesesuaian lahan. Banyak lahan pertanian mengandung kalsium (CaO)
tinggi. Contohnya daerah Gunung Kidul yang sebagian besar merupakan batuan
kapur. Kalsium cenderung menyerap besi (Fe) sehingga meningkatkan ketersediaan
besi bagi tanaman. Ada dua kultivar kacang tanah yang umum dibudidayakan oleh
petani, yaitu kultivar lokal dan super. Pada kondisi ligkungan optimal,
biasanya kultivar super dapat tumbuh dan berproduksi lebih baik dari pada
kultivar lokal, namun pada kondisi cekaman besi delum diketahui pengaruhnya.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
besi,
budidaya,
cekaman,
Fe,
Gunungkidul,
in vitro,
kacang tanah,
kultivar,
kultur jaringan,
lokal,
Pertanian,
sterilisasi,
super,
tanggapan
Prospek Pemuliaan Tanaman Mutasi untuk Meningkatkan Daya Saing Produk Hortikultura Dalam Negeri
Komoditas hortikultura memiliki potensi pasar yang sangat besar. Meski demikian, daya saing yang rendah menyebabkan lemahnya permintaan ekspor produk hortikultura domestik terhadap impor. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka yang menawarkan alternatif metode untuk mendapatkan sifat-sifat tanaman yang diharapkan bagi peningkatkan daya saing produk hortikultura Indonesia, yaitu melalui pemuliaan mutasi. Tulisan ini tersedia lengkap
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
Daftar,
database,
daya saing,
efisiensi metode pemuliaan,
gene pool,
genetika,
hortikultura,
impor,
induksi,
mutasi,
pemuliaan tanaman,
perkembangan,
Pertanian,
sejarah,
tahap
Permiabilitas dan Perkecambahan Berbagai Warna Benih Sorgum
Sutopo
(2002) menyebutkan bahwa dormansi benih dapat disebabkan oleh impermeabilitas kulit
biji terhadap air atau permeabilitas yang rendah terhadap gas, atau resistensi mekanis
kulit biji terhadap pertumbuhan embrio. Morris (2000) menyebutkan bahwa dormansi
yang disebabkan oleh kulit benih dapat terjadi karena adanya komponen penyusun benih
baik yang bersifat fisik dan atau kimia.
Sebagian
besar biji legume mengandung tannin. Di antara bahan pakan yang tinggi
kandungan taninnya adalah biji Sorgum
bicolor L. yang dapat mencapai 2,7 dan 10,2 % catechin equivalent. Pada 24
varietas lainnya 0,05-3,67 % catechin equivalen. Kandungan tannin pada sorgum
sering dihubungkan dengan warna kulit luar yang gelap (Abridianto, 2011).
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
imbibisi,
kulit benih,
perkecambahan,
permiabilitas,
Pertanian,
sorgum,
tanin,
warna benih
Sugar Sorgo, Inovasi Gula Merah Sorgum
Permintaan
gula merah untuk pasar industri dan umum terus meningkat seiring pertumbuhan
ekonomi dalam negeri. Namun peningkatan permintaan ini baru mampu tercukupi 10%
dari sektor perkebunan kelapa rakyat pada tahun 2010. Di beberapa daerah
seperti Kabupaten Bantul dan Purworejo, penurunan produksi dari tahun ke tahun
disebabkan ketiadaan tenaga kerja penyadap serta kesulitan dalam proses penyadapan
nira kelapa. Sampai saat ini, potensi terkuat sebagai bahan baku pembuatan Gula
Merah Rakyat (GMR) selain kelapa masih dimiliki komoditas tebu, yang juga
merupakan bahan baku utama pembuatan gula putih. Maka dari itu, untuk
meningkatkan produksi gula merah,
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
cantel,
gula merah,
gula merah kelapa,
gula merah rakyat,
gunung kidul,
kuliner,
Pertanian,
sorgum,
tebu
Optimasi Hasil Melalui Pengaturan Sumber (Source) dan Lubuk (Sink) pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)
Keseimbangan sink-source diperlukan bagi tanaman pada
saat fase perkembangan buah. Masa pembentukan organ reproduktif merupakan fase kritis yang sangat memerlukan cukup
banyak energi dari jaringan source.
Pengendalian nisbah sink-source
menjadi sangat penting bagi tanaman berenergi tinggi seperti nut.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
fisiologi tanaman,
Pertanian,
source and sink,
sumber dan lubuk,
tomat
Pemanfaatan Venom Lebah untuk Pengobatan HIV
School of Medicine, Washington University, di St. Louis,
menemukan bahwa venom lebah dapat membunuh virus tanpa merusak tubuh.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
Aphis mellifera,
Apiologi,
artikel ilmiah,
Hepatitis,
HIV,
intra vena,
lebah,
melittin,
membran dwi lapis,
nano partikel,
vagina gel,
venom
Pembuatan Arang Sekam Sebagai Media Tanam Hidroponik
Salah satu sistem hidroponik yang banyak dijumpai adalah sistem hidroponik substrat. Pada sistem hidroponik ini, larutan nutrisi dialirkan kesekitar daerah perakaran setiap beberapa waktu. Debit larutan nutrisi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanaman yang ditanam. Selain debit larutan nutrisi dan kandungannya, hal lain yang harus diperhatikan dalam sistem hidroponik ini adalah media tanam yang dipergunakan (Rest, 2004).
Media tanam adalah media yang digunakan sebagai tempat untuk akar, atau bakal akar tumbuh dan berkembang. Media tanam yang digunakan dalam sistem hidroponik substrat dapat berupa media tanam organik seperti arang sekam (Suhardiyanto, 2010)
Proses penggilingan padi biasanya menghasilkan sekam sekitar 20-30%. (Irzaman, 2010). Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis, terdiri dari belahan lemma dan palea yang saling bertautan (Sipahutar, ?). Sekam merupakan bahan yang baik untuk digunakan sebagai media tanam dan pembibitan, karena nutrisinya yang kaya. Menurut DTC-IPB (Nugraha dan Setiawati, 2001), sekam mengandung 1,33% zat arang, 1,54% hidrogen, 16,96% silika, dan 33,64% oksigen.
Akan tetapi, bila sekam digunakan langsung sebagai media tumbuh tanaman akan mendorong tumbuhnya bakteri pembusuk akar dan jamur rhizophonia (Nugraha dan Setiawati, 2001). Oleh karena itu, sekam perlu diolah sedemikian rupa sehingga menjadi arang (char) yang sifat fisik dan kimianya menjadi lebih sesuai bagi tanaman.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
arang sekam,
artikel ilmiah,
hidroponik,
media tanam,
Pertanian
Perlakuan Benih Cabe Keriting
Cabai
merupakan salah satu komoditas sayuran yang terpenting di Indonesia. Cabai yang
dibudidayakan secara luas di Indonesia termasuk spesies Capsicum annuum
L. (misalnya cabai besar dan cabai keriting) dan C. frutescens L.
(misalnya cabai rawit).
Salah
satu penyakit utama pada pertanaman cabai adalah antraknosa atau pathek yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum
capsici. Pada kondisi lingkungan
yang optimum bagi perkembangan patogen, antraknosa dapat menghancurkan seluruh
areal pertanaman cabai (Prajnanta, 1999). Penyakit antraknosa sukar
dikendalikan karena infeksi patogennya bersifat laten dan sistemik, penyebaran
inokulum dilakukan melalui benih (seed borne) atau angin serta dapat
bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit. Serangan patogen antraknosa pada fase
pembungaan menyebabkan persentase benih terinfeksi tinggi walaupun benih tampak
sehat. Cendawan C. capsici dapat menyerang inang pada segala fase
pertumbuhan (Sinaga, 1992).
Oleh
karena itu, upaya yang paling mudah dan murah untuk mencegah penyakit
antraknosa pada pertanaman cabai adalah dengan menjaga kesehatan benih dan
menerapkan metode enhancement. Salah satu metode enhancement menurut Copeland dan McDonald (1995) adalah Seed coating, yakni
metode untuk memperbaiki mutu benih menjadi lebih baik dengan penambahan bahan
kimia pada coating yang dapat mengendalikan dan meningkatkan perkecambahan.
Ilyas (2003) menambahkan bahwa penggunaan seed coating dalam industri
benih sangat efektif karena dapat memperbaiki penampilan benih, meningkatkan
daya simpan, mengurangi risiko tertular penyakit dari benih di sekitarnya, dan
dapat digunakan sebagai pembawa zat aditif, misalnya antioksidan, anti mikroba,
repellent, mikroba antagonis, zat pengatur tumbuh dan lain-lain.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
cabe keriting,
Dithane,
fitopatologi,
hot water treatment,
patologi benih,
Perlakuan benih,
Pertanian,
seed treatment
Deteksi Virus Patogen dengan Metode LAMP
Produksi budidaya tanaman dalam bidang pertanian dapat bernilai tinggi baik
secara kualitas maupun kuantitas apabila faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi tersebut dilakukan secara baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi
produksi pertanian adalah Benih tanaman. Benih yang bermutu rendah, baik dalam
hal daya tumbuh maupun karena terinfeksi patogen tular benih, apabila ditanam
akan menghasilkan populasi tanaman per satuan berat benih dan luas tanam yang
lebih rendah dibanding benih yang bermutu tinggi. Populasi tanaman yang tumbuh
dan dipanenmerupakan faktor yangmenentukan tinggi rendahnya produksi dan
produktivitas tanaman. Rendahnya
populasi tanaman antara lain disebabkan oleh daya tumbuh benih yang rendah,
atau oleh serangan hama dan penyakit. Benih yang tidak sehat (terinfeksi oleh
patogen) akan tumbuh menjadi kecambah dan tanaman yang juga tidak sehat,
sehingga tidak mampu berproduksi optimal. Infeksi patogen tular benih tersebut
seringkali tidak nampak jelas pada benih dan barumemperlihatkan gejala pada
kecambah, bahkan adakalanya baru tampak pada saat tanaman sudah tumbuh dewasa
(Saleh, 2008).
Salah satu patogen benih yang berpotensi
merugikan adalah virus. Penyakit mosaik pada tanaman cabai umumnya disebabkan oleh gabungan
beberapa patogen virus. TMV merupakan virus yang diketahui dapat ditularkan
melalui benih (Widodo dan Wiyono, 1995). Tanaman yang terserang TMV menurut
Widodo dan Wiyono, menunjukkan gejala, yaitu daun-daun muda berubah menjadi
warna belang kuning hijau, keriting serta berkerut, tanaman kerdil, buah belang
dan berwarna kuning, serta munculnya garis nekrosis pada daun cabai yang menyebabkan
terjadinya gugur daun.
1. Menggunakan mikroskop elektron untuk
memvisualisasi virus di dalam sel-sel jaringan.
2. Menumbuhkan virus di laboratorium menggunakan cell line, yaitu melakukan kultur sel
jaringan di laboratorium (in vitro).
3. Identifikasi virus menggunakan teknik serologi,
menggunakan serum dari inang yang mengandung antibodi spesifik terhadap virus
tertentu. Dengan demikian manakala virus (sebagai antigen) kontak dengan serum
akan terjadi aglutinasi sebagai respon antibodi terhadap antigen.
4. Menggunakan PCR dan sequencing DNA.
5. Secara imunokimia/imunositokimia.
Selain itu, terdapat juga metode modern yang sering disebut dengan metpde
LAMP. Metode deteksi virus patogen dengan metode Loop mediated isothermal amplification (LAMP) merupakan teknik tabung tunggal untuk
amplifikasi DNA. Amplifikasi dan
deteksi gen dengan LAMP (Anonim, 2005) dapat diselesaikan dalam satu langkah,
yaitu dengan menginkubasi campuran sampel DNA, primer, dan DNA polimerase pada
suhu konstan (sekitar 65 ° C) selama 15-60 menit. Deteksi secara visual dapat
dilakukan dengan bantuan flourecence.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
CMV,
Cucumber Mozaik Virus,
deteksi patogen,
fitopatologi,
LAMP,
Loop mediated isothermal amplification,
patogen,
patologi benih,
Pertanian,
virus
Deteksi Virus Patogen dengan Metode PCR
Metode deteksi virus umumnya menggunakan metode teknik Enzyme
linked immunosorbent assay (ELISA) dan reverse transcription polymerase
chain reaction (RT-PCR). ELISA didasarkan pada penggunaan antibodi yang
didapatkan dari hewan untuk mengenali protein virus. Metode ini telah lama
digunakan untuk pengujian virus tanaman karena kemudahan dan sensitivitasnya
yang cukup baik. Meskipun demikian metode ini mempunyai kelemahan yaitu,
kemungkinan terjadinya reaksi silang dengan protein tanaman (Webster et al.
2004). Teknik RT-PCR didasarkan pada pendeteksian RNA virus. Teknik ini
memiliki keunggulan dibandingkan dengan ELISA karena memiliki spesifitas dan
sensitivitas yang lebih baik (Henson & French 1993). Namun di balik keunggulannya metode RT-PCR juga
memiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah keberadaan senyawa inhibitor
pada ekstrak RNA total tanaman yang dapat mempengaruhi proses amplifikasi DNA
target (Narayanasamy 2008).
Selain
teknik RT-PCR dan Elisa deteksi virus pathogen juga dapat dilakukan dengan
Teknik sintesis dan amplifikasi fragmen DNA secara in vitro yang dikenal
dengan Polymerase chain reaction (PCR) merupakan salah satu metode untuk
mengidentifikasi penyakit infeksi yang baru-baru ini banyak dikembangkan.
Metode ini digunakan untuk mengatasi kelemahan metode diagnosis konvensional seperti
imunologi dan mikrobiologi. Patogen memiliki waktu generasi lama dan tidak
dapat dibiakkan secara in vitro atau patogen yang mirip dengan flora
normal sulit untuk dideteksi dengan cara mikrobiologi biasa. Sedangkan titer
antibodi tinggi tidak selamanya berbanding lurus dengan adanya infeksi aktif
(Retnoningrum 1997). Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi virus penting yang
mungkin menyerang tanaman dengan metode PCR.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
begomo virus,
cabe,
deteksi patogen,
DNA,
fitopatologi,
patologi benih,
PCR,
Pertanian,
vein clearing,
virus
Deteksi Bakteri Patogen Benih Cabe Keriting (Capsicum Annum)
Diagnosis penyakit yang
disebabkan bakteri dan identifikasi bakteri penyebabnya terutama didasarkan
pada gejala penyakit, terdapatnya bakteri dalam jumlah besar secara terus
menerus pada daerah terserang, dan tidak terdapat patogen lain di tempat
tersebut. Telah tersedia medium selektif untuk pemeliharaan secara selektif
untuk hampir semua jenis bakteri patogenik tumbuhan yang bebas dari saprofit
umum, sehingga dapat diidentifikasi sampai tingkat genus bahkan sampai tingkat
spesies (Agrios, 1996).
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
cabe keriting,
deteksi patogen,
fitopatologi,
Hypersensitive reaction (HR),
pengenceran,
perbenihan,
Pertanian,
tembakau,
uji hipersensitif
Deteksi Jamur Patogen Benih Cabe
Fungi atau jamur merupakan penyebab penyakit infeksi yang utama pada
tanaman. Jamur merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya
spora yang masuk ke dalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara
pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan
yang tidak teratur ini mengakibatkan sistem kerja jaringan pengangkut air
menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana (Wudianto, 1999).
Salah satu penyakit utama pada
pertanaman cabai yang disebabkan oleh cendawan adalah antraknosa atau pathek. Kerugian yang disebabkan oleh
antraknosa dapat mencapai 60 % atau lebih (Duriat et al., 1991; Hartman
dan Wang, 1992).
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
Aspergillus sp,
blotter,
cabe rawit,
deteksi patogen,
fitopatologi,
jamur,
patologi benih,
perbenihan,
Pertanian
Growing on Test
Lebih dari 100 jenis virus dapat
ditularkan oleh biji. Ada dua mekanisme virus agar dapat ditularkan melalui
biji yaitu virus tersebut berada dalam sel-sel di luar embrio
dan virus berada dalam jaringan embrio, tetapi hal ini jarang terjadi. Meskipun
sel induk dapat terinfeksi virus namun virus tidak sampai memenetrasi ke embrio
karena kantung embrio tidak memiliki plasmodesmata. Kebanyakan virus tidak
dapat bertahan
dalam kondisi kering sehingga virus
akan hilang sejalan dengan pemasakan biji (Wahyuni, 2005).
Uji kesehatan benih terutama ditujukan pada ada atau tidaknya penyakit yang disebabkan oleh organisme, seperti jamur, bakteri, virus dan hama, seperti ulat dan serangga tetapi kondisi fisiologi juga dapat menjadi penyebabnya. Pengujian mengenai ada atau tidaknya organisme terbawa benih harus dilakukan dengan metode yang berdasarkan pada penelitian yang dapat diterima secara internasional. Tujuan akhir dari uji kesehatan benih sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang aktual dalam peningkatan mutu benih, perdagangan benih, dan perlindungan tanaman (Neergard, 1977).
Benih yang bermutu adalah benih yang dinyatakan sebagi benih yang berkualitas tinggi dari jenis tanaman unggul. Benih yang berkualitas tinggi ini memiliki daya tumbuh lebih dari 90 % dengan ketentuan memiliki viabilitas atau dapat mempertahankan kelangsungan pertumbuhannya menjadi tanaman yang menghasilkan, mampu berkecambah dengan baik dan tumbuh normal sering disebut dengan benih yang matang, ketentuan yang kedua yaitu memiliki kemurnian yang artinya bebas dari kotoran, dari benih tanaman lain, bebas dari biji herba dan hama penyakit (ISTA, 2005).
Metode deteksi patogen menurut Neergard (1977) ada lima macam, yaitu:
GB = jumlah benih
yang berkecambah x 100%
DAFTAR PUSTAKA
Uji kesehatan benih terutama ditujukan pada ada atau tidaknya penyakit yang disebabkan oleh organisme, seperti jamur, bakteri, virus dan hama, seperti ulat dan serangga tetapi kondisi fisiologi juga dapat menjadi penyebabnya. Pengujian mengenai ada atau tidaknya organisme terbawa benih harus dilakukan dengan metode yang berdasarkan pada penelitian yang dapat diterima secara internasional. Tujuan akhir dari uji kesehatan benih sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang aktual dalam peningkatan mutu benih, perdagangan benih, dan perlindungan tanaman (Neergard, 1977).
Benih yang bermutu adalah benih yang dinyatakan sebagi benih yang berkualitas tinggi dari jenis tanaman unggul. Benih yang berkualitas tinggi ini memiliki daya tumbuh lebih dari 90 % dengan ketentuan memiliki viabilitas atau dapat mempertahankan kelangsungan pertumbuhannya menjadi tanaman yang menghasilkan, mampu berkecambah dengan baik dan tumbuh normal sering disebut dengan benih yang matang, ketentuan yang kedua yaitu memiliki kemurnian yang artinya bebas dari kotoran, dari benih tanaman lain, bebas dari biji herba dan hama penyakit (ISTA, 2005).
Metode deteksi patogen menurut Neergard (1977) ada lima macam, yaitu:
- metode pengamatan benih yang tidak berkecambah: pengamatan biji kering secara langsung; pengamatan suspensi patogen hasil pencucian benih; pengamatan suspensi patogen hasil pencucian benih yang kemudian diendapkan; pengamatan embrio biji.
- metode inkubasi: metode kertas isap dengan berbagai macam variasi, metode agar, metode agar cair dalam tabung, metode batu bata, pasir atau tanah
- metode hayati (bioassay) dan biokimiawi: metode indikator, metode phage plaque, metode serologi
- metode pengamatan setelah melewati medium semai: metode growing- on
- metode molekuler: metode asam nukleat, teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction).
Metode uji pengecambahan dapat digunakan
untuk mendapatkan informasi yang mewakili gejala di lapangan. Sejumlah
cendawan, bakteri dan virus terbawa benih sering menghasilkan gejala infeksi
atau serangan pada bibit tanaman. Gejala terjadi pada akar, batang, daun atau
seluruh bagian tanaman bahkan sampai menyebabkan kematian pada benih tanaman
(Susetyo, 2012).
Benih berkualitas mampu memunculkan kecambah yang normal, sebaliknya benih yang rusak, rendah kualitasnya akan menghasilkan kecambah/ bibit abnormal. Kerusakan benih dapat terlihat nyata (retak kulit, mengelupas atau biji pecah). Namun, kadang-kadang kerusakan tidak tampak karena disebabkan oleh patogen yang berada di dalam benih sehingga kerusakan benih dapat diketahui setelah benih berkecambah berupa adanya gejala abnormal. Oleh karena itu dalam pengujian kesehatan benih perlu dilakukan uji daya tumbuh benih dengan metode growing- on untuk mengetahui adanya atau tidaknya patogen yang menginfeksi benih.
Praktikum Patologi Benih acara 1 dengan judul Growing on Test dilaksanakan pada tanggal 17-24 Oktober 2012 di Laboratorium Klinik Tumbuhan dan greenhouse, Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan adalah benih cabai, pot, nampan, dan media tanam.
Praktikum ini merupakan deteksi virus menggunakan metode growing on test dengan cara in vivo. Cara kerjanya adalah pertama-tama memilih biji yang normal dan abnormal secara visual. Kemudian menyediakan pot dan media tanam. Pada masing-masing pot dibuat 5 lubang sedalam ±1 cm. setiap lubang ditanami dengan 2 benih cabai sehingga dalam 1 pot tersebut terdapat 10 benih cabai yang akan tumbuh. Setiap jenis benih cabai yang digunakan dilakukan 3 ulangan. Setelah itu pot ditaruh di nampan untuk kemudian ditaruh di rumah kaca. Setelah itu diinkubasi selama 7 hari dalam greenhouse dan diamati adanya gejala patogennya. Dicatat hasil pengamatan jumlah benih yang berkecambah serta gejala patogennya. Jumlah benih berkecambah dihitung gaya berkecambahnya dengan rumus :
Benih berkualitas mampu memunculkan kecambah yang normal, sebaliknya benih yang rusak, rendah kualitasnya akan menghasilkan kecambah/ bibit abnormal. Kerusakan benih dapat terlihat nyata (retak kulit, mengelupas atau biji pecah). Namun, kadang-kadang kerusakan tidak tampak karena disebabkan oleh patogen yang berada di dalam benih sehingga kerusakan benih dapat diketahui setelah benih berkecambah berupa adanya gejala abnormal. Oleh karena itu dalam pengujian kesehatan benih perlu dilakukan uji daya tumbuh benih dengan metode growing- on untuk mengetahui adanya atau tidaknya patogen yang menginfeksi benih.
Praktikum Patologi Benih acara 1 dengan judul Growing on Test dilaksanakan pada tanggal 17-24 Oktober 2012 di Laboratorium Klinik Tumbuhan dan greenhouse, Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat dan bahan yang digunakan adalah benih cabai, pot, nampan, dan media tanam.
Praktikum ini merupakan deteksi virus menggunakan metode growing on test dengan cara in vivo. Cara kerjanya adalah pertama-tama memilih biji yang normal dan abnormal secara visual. Kemudian menyediakan pot dan media tanam. Pada masing-masing pot dibuat 5 lubang sedalam ±1 cm. setiap lubang ditanami dengan 2 benih cabai sehingga dalam 1 pot tersebut terdapat 10 benih cabai yang akan tumbuh. Setiap jenis benih cabai yang digunakan dilakukan 3 ulangan. Setelah itu pot ditaruh di nampan untuk kemudian ditaruh di rumah kaca. Setelah itu diinkubasi selama 7 hari dalam greenhouse dan diamati adanya gejala patogennya. Dicatat hasil pengamatan jumlah benih yang berkecambah serta gejala patogennya. Jumlah benih berkecambah dihitung gaya berkecambahnya dengan rumus :
jumlah biji yang dikecambahkan
Deteksi virus adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mengetahui apakah dalam suatu tanaman atau benih terdapat virus atau tidak. Banyak metode deteksi virus yang digunakan dalam laboratorium-laboratorium, diantaranya dengan growing on test, serologi, PCR, mikroskop elektron, dll. Namun yang paling banyak digunakan adalah growing on test karena metode ini mudah dan ekonomis. Growing on test ini dengan melihat pertumbuhan dari benih apakah terlihat gejala virus atau tidak pada perkecambahannya. Prinsip pengujian benih dengan metode growing on test adalah memberikan kondisi tumbuh yang optimal bagi mikroorganisme terbawa benih, baik yang ada di permukaan ataupun yang ada di dalam jarungan benih.
Tabel 1. Perkecambahan dan gaya berkecambah benih cabe keriting sachet yang diperoleh dari toko benih, cabe rawit putih yang diperoleh dari pertanaman, dan cabe rawit hijau yang diperoleh dari warung makan
Praktikum Growing
on Test dengan menggunakan biji cabai secara in
vivo, tidak ditemukan adanya gejala patogen. Kenampakan tanaman dari
benih cabai yang ditanam sehat,
secara visual biji bersih, permukaan mulus. Pada uji in vivo, terlihat dari 3 jenis benih cabai yang diujikan, hanya sampel benih
cabe rawit keriting sachet yang diperoleh dari toko benih yang berhasil
berkecambah dan tumbuh dengan normal, meskipun tidak seluruh ulangan memiliki
daya kecambah yang baik.
Gaya berkecambah menentukan kualitas dari suatu benih. Gaya berkecambah diharapkan merupakan dapat merepresentasikan daya tumbuh benih jika ditanam di lingkungan tumbuh yang sebenarnya. Benih cabai keriting sachet yang diperoleh dari toko benih semestinya memiliki daya kecambah yang baik dan dapat menjamin pertumbuhan serta hasil yang baik di lapangan, namun setelah diuji ternyata rata-rata daya kecambahnya hanya 65%, masih berada di bawah standar benih cabe yaitu 95%. Sehingga benih ini sebenarnya sudah tidak layak sebagai bahan tanam, terlebih untuk dikomersialkan.
Benih cabe rawit putih dan cabe rawit hijau yang tidak dapat berkecambah sama sekali dapat dikarenakan oleh dormansi biji atau adanya infeksi patogen. Pada benih yang masih baru, umumnya permeabilitas benih, GB benih, dan indeks vigor benih masih baik, begitu pula dengan zat pengatur tumbuh yang dikandungnya pun masih baik untuk memulai pertumbuhan perkecambahan, sehingga gaya berkecambahnya pun masih tinggi. Sehingga apabila diletakkan pada tempat yang sesuai maka benih akan cepat dan mudah berkecambah. Namun bila benih masih dalam masa dorman maka GB benih dan vigor tidak dapat muncul meskipun telah diberikan kondisi yang optimum bagi perkecambahannya. Benih yang sudah tidak dorman namun terinfeksi patogen juga memiliki kemungkinan untuk tidak dapat berkecambah jika infeksi yang terjadi telah mematikan embrio. Benih yang tidak dorman tetapi tidak dapat tumbuh setelah periode pengujian tertentu juga dinilai oleh Sutopo (1993) sebagai mati. Benih mati sebaiknya tidak diperhitungkan ataupun dibertimbangkan sebagai bahan tanam.
Kekurangan dari metode grow-on test ini adalah terkadang virus tidak muncul saat fase vegetatif dari tanaman atau saat berkecambah dan virus ini akan muncul setelah di lapangan. Growing on test juga dibutuhkan uji lanjut seperti ELISA, PCR, serologi, dll agar didapatkan hasil yang lebih baik untuk mengantisipasi bahaya laten patogen.
Deteksi virus adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mengetahui apakah dalam suatu tanaman atau benih terdapat virus atau tidak. Banyak metode deteksi virus yang digunakan dalam laboratorium-laboratorium, diantaranya dengan growing on test, serologi, PCR, mikroskop elektron, dll. Namun yang paling banyak digunakan adalah growing on test karena metode ini mudah dan ekonomis. Growing on test ini dengan melihat pertumbuhan dari benih apakah terlihat gejala virus atau tidak pada perkecambahannya. Prinsip pengujian benih dengan metode growing on test adalah memberikan kondisi tumbuh yang optimal bagi mikroorganisme terbawa benih, baik yang ada di permukaan ataupun yang ada di dalam jarungan benih.
Tabel 1. Perkecambahan dan gaya berkecambah benih cabe keriting sachet yang diperoleh dari toko benih, cabe rawit putih yang diperoleh dari pertanaman, dan cabe rawit hijau yang diperoleh dari warung makan
Perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah benih yang berkecambah pada pengamatan Hari ke-
|
GB (%)
|
|||
2
|
4
|
6
|
8
|
|||
Cabe keriting
|
1
|
0
|
1
|
4
|
4
|
40
|
2
|
0
|
0
|
1
|
2
|
20
|
|
3
|
0
|
2
|
7
|
7
|
70
|
|
Cabe rawit putih
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
3
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
Cabe rawit hijau
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
3
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
Gaya berkecambah menentukan kualitas dari suatu benih. Gaya berkecambah diharapkan merupakan dapat merepresentasikan daya tumbuh benih jika ditanam di lingkungan tumbuh yang sebenarnya. Benih cabai keriting sachet yang diperoleh dari toko benih semestinya memiliki daya kecambah yang baik dan dapat menjamin pertumbuhan serta hasil yang baik di lapangan, namun setelah diuji ternyata rata-rata daya kecambahnya hanya 65%, masih berada di bawah standar benih cabe yaitu 95%. Sehingga benih ini sebenarnya sudah tidak layak sebagai bahan tanam, terlebih untuk dikomersialkan.
Benih cabe rawit putih dan cabe rawit hijau yang tidak dapat berkecambah sama sekali dapat dikarenakan oleh dormansi biji atau adanya infeksi patogen. Pada benih yang masih baru, umumnya permeabilitas benih, GB benih, dan indeks vigor benih masih baik, begitu pula dengan zat pengatur tumbuh yang dikandungnya pun masih baik untuk memulai pertumbuhan perkecambahan, sehingga gaya berkecambahnya pun masih tinggi. Sehingga apabila diletakkan pada tempat yang sesuai maka benih akan cepat dan mudah berkecambah. Namun bila benih masih dalam masa dorman maka GB benih dan vigor tidak dapat muncul meskipun telah diberikan kondisi yang optimum bagi perkecambahannya. Benih yang sudah tidak dorman namun terinfeksi patogen juga memiliki kemungkinan untuk tidak dapat berkecambah jika infeksi yang terjadi telah mematikan embrio. Benih yang tidak dorman tetapi tidak dapat tumbuh setelah periode pengujian tertentu juga dinilai oleh Sutopo (1993) sebagai mati. Benih mati sebaiknya tidak diperhitungkan ataupun dibertimbangkan sebagai bahan tanam.
Kekurangan dari metode grow-on test ini adalah terkadang virus tidak muncul saat fase vegetatif dari tanaman atau saat berkecambah dan virus ini akan muncul setelah di lapangan. Growing on test juga dibutuhkan uji lanjut seperti ELISA, PCR, serologi, dll agar didapatkan hasil yang lebih baik untuk mengantisipasi bahaya laten patogen.
KESIMPULAN
- Berdasarkan metode Growing on test, benih cabai keriting sachet yang diperoleh dari toko benih dan berhasil berkecambah tidak mengandung patogen baik itu jamur, bakteri, atau pun virus. Sedangkan benih cabe rawit putih yang diperoleh dari pertanaman dan cabe rawit hijau yang diperoleh dari warung makan dapat dikatagorikan ke dalam benih dorman atau benih mati setelah dilakukan uji lanjut.
- Benih cabai keriting sachet yang diperoleh dari toko benih sudah tidak layak sebagai bahan tanam, terlebih untuk dikomersialkan, karena daya kecambahnya kurang dari 95%.
- Metode Growing on test dapat dipilih untuk menguji kesehatan benih karena mudah dan murah, namun perlu uji lanjut untuk mendeteksi patogen yang tidak muncul saat fase vegetatif tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. International Seed
Testing Association (ISTA) International Rules for Seed Testing. Seed Science and Technology 13 : 299-355.
Neergard, P. 1977. Seed Pathology. MacMillan, London.
Rustikawati, 2000. Identifikasi genotipe tahan
dan pewarisan sifat ketahanan terhadap Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada cabai
merah (Capsicum annum L.). Program Pascasarjana IPB, Bogor.
Susetyo, H. P.
2012. Pengelolaan Benih Melati. <http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=499%3Apengelolaan-benih-melati&catid=42%3Ademo-category&I
temid=1>. Diakses 17 Oktober 2012.
Sutopo, L. 1993. Teknologi Benih. Rajawali Press, Jakarta.
Wahyuni, W. S. 2005. Dasar-Dasar Virologi
Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Wirajaswadi, L. 2010. Penyakit
Tungro dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. <http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/artikel/300-penyakit-tungro-dan-pengendaliannya-pada-tanaman-padi>.
Diakses pada tanggal 8 Desember 2012.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
cabe rawit,
deteksi patogen,
growing on test,
kesehatan,
murah,
patologi benih,
Pertanian,
uji kesehatan benih,
virus
Pengaruh Kekeringan pada Tanaman Pangan
Mekanisme yang terjadi pada tanaman yang mengalami stress air adalah
dengan mengembangkan mekanisme respon terhadap kekeringan. Pengaruh yang paling
nyata adalah mengecilnya
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
fisiologi tanaman,
kacang tanah,
kekeringan,
Pertanian,
tanaman pangan
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman pada Berbagai Jarak Tanam
Jenis kangkung yang umum dibudidayakan ada dua jenis (Rukmana,
1996), yaitu kangkung air (Ipomea
aquatica Forsk.) yang berdaun panjang dengan ujung agak tumpul, warnanya
hijau kelam, dan bunganya putih kekuning-kuningan atau kemerah-merahan, serta
kangkung darat (Ipomea reptans Poir.)
yang berdaun panjang dengan ujung runcing berwarna keputih-putihan dan bunganya
putih.
Kangkung air dari genus Nasturtium yang disebut juga watercress atau selada air cina dikenal
karena merupakan sumber substansial dari karoten A dan zat besi di Asia dan
Amerika Selatan. Kangkung jenis ini tumbuh dengan cepat. Pertumbuhannya hampir 10,16
cm per hari, sehingga sulit bagi setiap kehidupan lain untuk bertahan hidup di
lokasi yang sama karena kurangnya cahaya dan kompetisi untuk nutrisi dan ruang
(Anonim, 2012).
Menurut Atani dkk. (2009), Peningkatan jumlah daun dan luas daun fungsional di jarak
Menurut Atani dkk. (2009), Peningkatan jumlah daun dan luas daun fungsional di jarak
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
fisiologi tanaman,
jarak tanam,
kangkung,
Pertanian,
produktivitas tanaman
Perbandingan Fisiologi Antar Kultivar Jagung: Hibrida dan Lokal
Dalam
siklus karbon, atom karbon terus mengalir dari produsen ke konsumen dalam
bentuk molekul CO2 dan karbohidrat, sedangkan energi foton matahari
digunakan sebagai pemasok energi yang utama. Produsen memerlukan CO2
yang dihasilkan konsumen untuk fotosintesis. Dari kegiatan fotosintesis
tersebut produsen dapat menyediakan karbohidrat dan oksigen yang diperlukan
oleh konsumen untuk melangsungkan kehidupannya (Anshory, 1984).
Menurut Dowswell dkk. (1996), jagung merupakan tanaman serelia paling produktif di dunia, mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan di negara-negara tropis dan subtropis, dari dataran rendah hingga ketinggian 3000 mdpl, dan dari curah hujan tinggi hingga rendah 500 mm/ tahun.
Menurut Dowswell dkk. (1996), jagung merupakan tanaman serelia paling produktif di dunia, mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan di negara-negara tropis dan subtropis, dari dataran rendah hingga ketinggian 3000 mdpl, dan dari curah hujan tinggi hingga rendah 500 mm/ tahun.
Umur panen jagung menurut Hyene
(1987) dipengaruhi oleh suhu. Setiap kenaikan 50 m dpl, umur panen jagung
menjadi mundur satu hari. Di dataran rendah, umur panennya 3-4 bulan, sedangkan
di atas 1000 mdpl umurnya 4-5 bulan. Produksi jagung yang berbeda-beda antar
daerah salah satunya disebabkan oleh perbedaan varietas yang di tanam. Menurut
Iriany dkk. (2007), agroekologi
spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk memperoleh produktivitas
optimal.
Cari artikel dengan kata kunci serupa:
artikel ilmiah,
fisiologi tanaman,
hibrida,
jagung,
kultivar,
Pertanian,
produktivitas tanaman,
varietas
Keterbatasan Source (Sumber) dan Sink (Lubuk), Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Beberapa
peneliti telah melaporkan bahwa hasil panen biji tanaman jagung dipengaruhi
oleh hubungan antara sumber dan lubuk asimilat.
Langganan:
Postingan (Atom)
Baca juga
Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1
Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...