"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

28 Desember 2014

Perbanyakan Tanaman Hias (2): Praktik Perbanyakan Bunga Pukul Empat, Sansevieria, Paku, dan Melati



Perbanyakan tanaman hias dibagi dua yaitu perbanyakan vegetatif dan generatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan yang menggunakan biji sebagai calon individu baru.

Mirabilis jalapa L. (bunga pukul empat) biasanya tumbuh di pekarangan rumah sebagai tanaman hias dengan penyinaran sinar matahari yang cukup dan di kondisi dataran rendah (1200 m) (Anonim, 2012). Perbanyakan kembang pukul empat dapat dilakukan dengan biji. Kembang pukul empat dirawat dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembaban tanahnya, dan dipupuk dengan pupuk organik. Beberapa bahan kimia yang terkandung pada buah pukul empat di antaranya zat tepung-lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4%), dan zat asam minyak (46,9%). Selain itu, pada bagian akar terkandung β-xanthins (Hariana, 2008).
Perbanyakan tanaman hias secara generatif selain dilakukan dengan biji, dapat pula dilakukan dengan spora, misalnya pada paku-pakuan dan suplir. Hal yang penting diperhatikan dalam perbanyakan tanaman hias dengan spora adalah memilih spora yang telah masak, yang ditandai dengan warna cokelat atau kehitaman. Spora biasanya terletak pada bagian bawah daun. Daun yang sudah tua sebelumnya dikeringkan dalam amplop plastik. Penyemaian dilakukan dalam media yang bagian bawahnya terendam air dan suhu udara 18-24ºC (Rukmana, 1998).
Melati adalah tanaman asli Asia yang banyak dijumpai di Indonesia, Philipina dan Asia Tenggara. Tanaman melati berbentuk perdu, mempunyai tinggi 0,3 – 3 m dan hidup secara liar. Di Jawa tanaman ini telah dibudidayakan di daerah dataran rendah hingga ketinggian lebih dari 600m diatas permukaan laut. Jenis melati yang banyak dikenal diIndonesia adalah Jasminum sambac dan Jasminum officinale, tanaman ini mudah dibudidayakan (Anonim, 2003).
Perbanyakan tanaman melati dilakukan dengan rundukan atau stek (stek ujung, tengah dan pangkal). Konsentrasi IBA100, 150 dan 200 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas, panjang tunas dan jumlah daun Jasminum sambac. Sedangkan Jasminum multiflorum pada konsentrasi IBA 100 ppm, 150 ppm dan rootone mampu meningkatkan panjang tunas (Wuryaningsih dan Satsiyati, 1995). Stek ujung mempunyai persen hidup yang tinggi, diikuti oleh stek tengah dan stek pangkal. Perlakuan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh ternyata mampu mendorong hidupnya stek melati. Konsentrasi IBA yang mempunyai pengaruh efektif berkisar antara 200-300 ppm (Soedjono, 1995).
Sansevieria termasuk tanaman hias yang mudah tumbuh dan ‘tahan banting’. Sansivieria yang berdaun tipis seperti S. trifasciata perkembangbiakannya relative cepat. Umumnya perbanyakan sansivieria dibagi menjadi dua, yaitu perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif dilakukan dengan persilangan buatan benang sari ke kepala putik hingga menghasilkan biji. Perbanyakan vegetatif dapat lebih cepat dan lebih tinggi keberhasilannya dari pada generatif, yaitu dilakukan dengan cara mengambil bagian tanaman, anakan, stek daun, stek rimpang, stek pucuk, dan stek cabut. S. trifasciata kurang cocok diperbanyak dengan stek daun karena anakan yang dihasilkan berwarna hijau (robusta). Jenis tersebut lebih cocok diperbanyak dengan cara potong pucuk atau memisahkan anakan (Tahir dan Sitanggang, 2008).

Metodologi
Praktikum Lanskap dan Budidaya Tanaman Hias acara II mengenai Perbanayakan Tanaman Hias dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2012 bertempat di Laboratorium Hortikultura dan Rumah Kawat, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Terdapat 3 langkah kerja yang dilakukan, terdiri dari perbanyakan generatif, perbanyakan vegetatif, dan perbanyakan tanaman hias paku-pakuan dengan spora. Alat yang digunakan adalah bak-bak perkecambahan,cetok, dan gembor (perbanyakan generatif); cetok, gembor, dan kantong plastik (perbanyakan vegetatif); kotak perkecambahan yang telah dilubangi dasarnya, dan kaca penutup (perbanyakan tanaman hias paku-pakuan dengan spora). Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih Mirabilis jalapa L. (bunga pukul empat), benih bunga matahari (Helianthus annuus Linn.), batang tanaman melati (Jasminum sambac), daun tanaman sansevieria (S. trifasciata), daun tanaman paku (Nephrolepis), pasir, tanah, dan sekam (perbanyakan generatif); Rooton, dan pasir (perbanyakan vegetatif).
Perbanyakan Generatif yang dilakukan pertama adalah disiapkan 3 macam media, yaitu pasir, campuran pasir dan tanah (1:1), dan campuran pasir dan pupuk kandang (1:1). Kemudian media tersebut dimasukkan ke dalam bak persemaian. Dibuat alur atau luubang tanam pada media dengan jari atau batang berdiameter ± 1 cm, jarak antar alur atau lubang ± 5 cm. biji kembang kertas yang telah disiapkan ditanam dalam alur atau lubang tanamn masing-masing 25 biji/ bak persemaian. Dibuat masing-masing 3 ulangan untuk setiap perlakuan media. Bak persemaian ditempatkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, pemeliharaan dilakukan dengan penyiraman apabila diperlukan. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap daya tumbuh benih/ vigor benih. 10 sampel bibit diambil dari setiap bak, diamati tingginya setiap minggu sampai bibit siap untuk dipindahkan (berdaun ±  4). Kemudian dilakukan pengukuran terhadap berat segar bibit sampel yang telah siap dipindah tanamkan.
Perbanyakan Vegetatif              langkah awal dimasukkan pasir ke dalam bak stek. Rooton disiapkan, basahi dengan aquadest hingga membentuk bubur. Penyiapan stek batang melati dipotong menjadi potongan-potongan stek masing-masing 2 ruas. Penyiapan stek daun Sanseviera, daunnya dipotong menjadi beberapa bagian, masing-masing panjangnya ± 10 cm. Rooton dilekatkan pada pangkal potongan. Tanaman stek pada media pasir, diletakkan di tempat teduh. Kelembabannya dijaga dengan melakukan penyiraman apabila perlu. Pengamatan dilakukan terhadap kondisi stek. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap jumlah dan panjang akar, jumlah dan panjang tunas yang tumbuh setelah ± 2 bulan.
Perbanyakan Tanaman Hias Paku-pakuan dengan Spora langkah kerja yang dilakukan pertama kali adalah dibersihkannya terlebih dahulu kotak perkecambahan. Pasir dicuci hingga bersih (air pencuci sampai bening), kemudian dimasukkan ke dalam kotak perkecambahan sampai ± ¾ tinggi kotak. Pasir dibasahi dengan air bersih namun tidak sampai menggenang. Spora dari daun ditaburkan di atas media pasir. Kotak perkecambahan ditutup dengan kaca, lalu diletakkan ditempah teduh. Diamati munculnya bintik-nintik hijau di permukaan media pasir.
Rotoon f merupakan hormon tumbuh sintetis yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dalam penyetekan. Rooton f mengandung Naftalenasetamida (0,067 %), Metil-1 Neftalenasetamida (0,013 %), Metil-1 Neftalen Asetat (0,033 %), Indole 3-Butirat (0,057 %) dan Fungisida tiram (4%). Fungsi rooton f dalam tanaman adalah untuk merangsang peningkatan aktifitas dari hormon tumbuh-tumbuhan. Rooton f juga berguna merangsang dan meningkatkan pertumbuhan tanaman mulai dari perkembangan sel, pertumbuhan bibit, akar, tunas, batang, dan bunga sampai menjadi buah. Zat perangsang tumbuh ini tersedia dalam bentuk tepung berwarna putih dengan konsentrasi anjuran 5 gr / 10 liter air (Rismunandar, 1889).

Hasil dan Pembahasan
Setiap jenis tanaman hias berbeda-beda teknik perbanyakan yang dapat digunakan, tergantung dari pola reproduksinya tanamannya. Cara perbanyakan yang benar akan dapat memberikan hasil perbanyakan yang optimal. Perbanyakan tanaman hias dalam praktikum ini menggunakan beberapa perlakuan untuk mengetahui cara perbanyakan yang  dapat memberikan hasil perbanyakan paling optimal. Tanaman Sansevieria trifasciata diberi perlakuan rotoon 0 dan 500 ppm. Tanaman Jasminum sambac diberi perlakuan bidang pemotongan lurus dan miring. Sedangkan tanaman paku, bunga matahari dan bunga pukul empat tidak diberi variasi perlakuan.
Selama enam minggu pengamatan, tanaman hasil perbanyakan generatif yang berkecambah dan tumbuh dengan baik hanya Mirabilis jalapa. Keberhasilan  perbanyakan tanaman-tanaman yang diperbanyak secara generative ini dipengaruhi oleh cara pemecahan dormansi biji serta cara penyesuaian media tanam, suhu, kelembaban, dan cahaya.


Gambar 1. Pola perkecambahan dan pertumbuhan hasil perbanyakan generatif Bunga Pukul empat, Bunga Matahari dan Paku Nephrolepis
M. jalapa memiliki biji yang mudah dikecambahkan bahkan tanpa perlakuan khusus, karena barrier fisik dan kimia pada kulit bijinya tidak terlalu kuat, selain itu dormansi bijinya juga mudah dipecahkan pada suhu udara ruang dan sinar mata hari yang cukup. Sedangkan biji H. annuus memerlukan medium pembibitan bebas gulma karena kecambahnya lebih lemah untuk dapat bersaing di lapangan. Biji H. annuus sering kali juga memiliki daya kecambah yang rendah, hal ini dapat dikarenakan kecenderungan pembentukan biji yang cacat, pemasakan fisiologis biji yang tidak serentak, serta adanya barrier fisik berupa kulit biji yang kedap air dan keras. Persemaian tanaman Nephrolepis lebih sulit lagi dari pada H. annuus, karena sulit untuk memilah antara spora yang masak dan yang masih muda, selain itu perkecambahan spora Nephrolepis membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik. Media untuk perkecambahan tanaman paku harus terendam air di bagian bawahnya agar kelembaban selalu tinggi, suhu udara lingkungan yang dibutuhkan juga rendah, yaitu sekitar 20ºC.
Perbanyakan tanaman Sansevieria trifasciata dengan cara stek daun sangat mudah, sederhana dan cepat. Bahkan pemberian rotoon pun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kesegaran tanaman pasca penanaman dibandingkan dengan yang tanpa pemberian (tabel 1). Rotoon merupakan naftalenasetic acid dan indole butyric acid sintetik yang berfungsi merangsang pemanjangan akar dan tunas. Pemberian rotoon menunjukkan pengaruh nyata pada pemanjangan akar, terutama pada tanaman yang diperbanyak dari bagian pangkal dan tengah daun.

Tabel 1. Tingkat kelayuan, panjang akar, dan jumlah akar tanaman Sansevieria hasil interaksi perlakuan prbanyakan bagian daun ujung, tengah, pangkal, dengan pemberian dan tanpa pemberian Rotoon.
Bagian daun
konsentrasi Rotoon
Skoring kelayuan minggu ke-
Panjang akar (cm)
Jumlah akar
0
1
2
3
4
5
6
Ujung
0 ppm
1.00a
1.00b
2.33ab
2.33ab
2.67ab
2.67ab
3.00a
0.00b
0.00c

500 ppm
1.00a
1.00b
3.00a
3.33a
3.00a
3.00a
2.67a
0.00b
0.00c
Tengah
0 ppm
1.00a
1.00b
1.00c
2.00ab
2.00ab
2.00ab
2.00a
0.00b
0.00c

500 ppm
1.00a
1.00b
1.67bc
1.33b
1.33ab
1.33ab
1.00a
1.00a
1.33ab
Pangkal
0 ppm
1.00a
1.67a
1.67bc
1.67b
1.67ab
1.67ab
1.67a
0.33b
0.67bc

500 ppm
1.00a
1.00b
1.00c
1.00b
1.00b
1.00b
1.00a
1.40a
2.00a
Keterangan: skor kelayuan dari yang paling segar, layu, sampai mati adalah 1-5. Angka-angka dalam kolom yang sama yang diakhiri dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan α 5%.

Kesegaran dan kelayuan tanaman S. trifasciata dipengaruhi oleh bagian asal bahan tanam. Bagian pangkal dan tengah memiliki resiko kegagalan perbanyakan yang lebih rendah dibandingkan dengan bagian ujung, karena bagian jaringn pangkal dan tengah sudah siap untuk membentuk akar dan melakukan asimilasi, jumlah klorofil telah memenuhi dan sel-sel telah berdiferensiasi dengan sempurna. Sedangkan bagian ujung masih terlalu muda, sehingga sebelum akar terbentuk cadangan air dan glukosa dalam jaringan telah habis digunakan untuk respirasi dan transpirasi. Pada akhirnya, tanaman yang belum siap namun telah diperbanyak ini mengalami kekurangan air atau disebut cekaman kekeringan.
Kekurangan air dalam jaringan tanaman terjadi ketika di dalam sel tanaman hanya ada sedikit air, yang kemudian terus-menerus ditranspirasikan, sehingga sel-sel mengalami plasmolisis, mengkerut dan layu. Keadaan ini sering kali terjadi pada perbanyakan tanaman yang belum siap atau belum mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Gejalanya yaitu daun tampak kering, kemudian bagian pangkal yang berada di dalam tanah jika diambil tampak busuk (Gambar 2, 3, 4,5, dan 6).


Gambar 2, 3, 4 dan 5. Hasil perbanyakan tanaman S. trifasciata pada minggu ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 setelah tanam
Gambar 6. Gejala kematian pada tanaman S. trifasciata umur 4 mst hasil perbanyakan stek bagian ujung daun
Berbeda halnya dengan pernyataan Tahir dan Sitanggang (2008) bahwa S. trifasciata yang diperbanyak dengan stek daun menghasilkan anakan berwarna hijau (robusta), dalam praktikum ini dihasilkan anakan yang warnanya bercorak sama seperti induknya. Dengan demikian, S. trifasciata tidak masalah untuk diperbanyak dengan stek daun, karena hasilnya dapat lebih kontinyu dan banyak dari pada perbanyakan anakan, keragaan fisiknya pun sama seperti induknya. Hanya saja untuk stek daun sebaiknya bagian ujungnya tidak digunakan.
Penggunaan rotoon untuk membantu perbanyakan tanaman melati justru lebih banyak dari pada tanaman sansevieria. Penelitian-penelitian sebelumya juga telah menggunakan rotoon untuk meningkatkan jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun (Wuryaningsih dan Satsiyati, 1995) serta mendorong hidupnya stek melati (Soedjono, 1995). Namun dalam praktikum ini perlakuan yang diberikan untuk perbanyakan tanaman melati (Jasminum sambac) bukan penggunaan rotoon melainkan bidang pemotongan pada stek batangnya.
Selama enam minggu pengamatan setelah tanam, tidak ada beda nyata antara kesegaran/kelayuan tanaman J. sambac, panjang tunas dan jumlah tunas hasil perbanyakan. Meskipun dalam angka panjang tunas dari pemotongan lurus lebih panjang dan jumlah tunasnya lebih sedikit dibandingkan pemotongan miring. Melati merupakan tanaman perdu rendah yang biasa digunakan sebagai pagar hidup pendamping pagar besi. Untuk keperluan ini, jumlah tunas lebih dipentingkan dibandingkan dengan panjang tunasnya jika laju pertumbuhan antara keduanya tidak berbeda nyata.

Tabel 2. Tingkat kelayuan, panjang tunas, dan jumlah tunas tanaman Melati hasil perbanyakan dengan cara pemotongan miring dan lurus
Pemotongan
Skoring Kelayuan pada Minggu ke-
Panjang tunas (cm)
Jumlah tunas
0
1
2
3
4
5
6
Miring
1.00a
1.00a
1.67a
1.67a
1.00a
2.33a
4.00a
1.33a
3.67a
Lurus
1.00a
1.00a
1.67a
1.67a
1.67a
2.33a
4.00a
2.33a
3.00a
Keterangan: skor kelayuan dari yang paling segar, layu, sampai mati adalah 1-5. Angka-angka dalam kolom yang sama yang diakhiri dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan α 5%.

Kesimpulan
Setiap jenis tanaman hias berbeda-beda teknik perbanyakan yang dapat digunakan, tergantung dari pola reproduksinya tanamannya. Cara perbanyakan yang benar dapat memberikan hasil perbanyakan yang optimal.
                Perbanyakan generatif tanaman paku pakuan dan bunga matahari sulit sedangkan bunga pukul empat lebih mudah. Keberhasilan  perbanyakan tanaman-tanaman yang diperbanyak secara generatif dipengaruhi oleh cara pemecahan dormansi biji serta cara penyesuaian media tanam, suhu, kelembaban, dan cahaya.
                Sansevieria trifasciata dapat diperbanyak dari stek bagian pangkal dan tengah daun dengan hasil anakan yang sama seperti induknya.
                Jasminum sambac dapat diperbanyak dengan cara pemotongan stek batang miring atau pun lurus dengan hasil yang tidak berbeda nyata antar keduanya.

Daftar Pustaka
Anonim. 2003. Manfaat dan Budidaya Tanaman Melati. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Perkembangan Teknologi TRO 15: 19-27.

Anonim. 2012. Bunga Pukul Empat: Mengenal Lebih Jauh. <http://tulipflorist.wordpress.com /2012/06/14/bunga-papan-dijual-disini/>. Diakses 22 November 2012.

Hariana, A. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 2. Penebar Swadaya, Jakarta.

Harjanto, H. dan N. Rakhmania. 2007. Memperbanyak Tanaman Hias Faforit. Penebar Swadaya, Depok.

Nopriastori. 2011. Dasar-dasar Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif. < http://nopriastor. wordpress.com/2012/06/12/dasar-dasar-perbanyakan-tanaman-secara-vegetatif/>. Diakses 17 Desember 2012.

Rismunandar. 1988. Hormon tanaman dan ternak. Penebar Swadaya, Jakaarta.

Ruhana, F. 2010. Modul Pelatihan Pertanian Pola Green House. Institut Pemerintahan Dalam Negeri.

Rukmana, R. 1998. Teknik Perbanyakan Tanaman Hias. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sihite, H. 2011. Tanaman Obat. <http://jamure.wordpress.com/2011/03/25/tanaman-obat/>. Diakses 13 November 2012.

Soedjono, S., 1995. Perbanyakan melati (Jasminum multiflorum dan Jasminum sambac) dengan setek dan zat pengatur tumbuh asamindol butirat. Jurnal Holtikultura 5: 79-89.

Tahir, M.I. dan Sitanggang, M. 2008. 165 Sansevieria Eksklusif. PT. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Vossen, H.A.M. van der, dan  S, Duriyaprapan. 2012. Helianthus annuus Linn. < http://www.proseanet.org/florakita/browser.php?docsid=542>. Diakses 17 Desember 2012.

Wuryaningsih, S dan Satsiyati, 1995.Hasil penelitian melati 1993/1994 dan 1994/1995. Prosiding EvaluasiHasil Penelitian Hortikultura. TA1993/1994 dan 1994/1995. hal 210– 221.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...