"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

22 Januari 2012

KESUBURAN TANAH AKTUAL

ABSTRAKSI
Praktikum kesuburan tanah aktual dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2011 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah itu berada. Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mengetahui kesuburan aktual tanah dari berbagai jenis tanah. Pot diisi dengan beberapa jenis tanah (vertisol, ultisol, dan inceptisol), kemudian pot tersebut ditanami dengan jagung dan disiram air secukupnya. Selanjutnya diamati kenampakan visual baik morfologi maupun warna daun, lalu diukur dan dicatat tinggi tanaman jagung. Hasil pengamatan tinggi pertumbuhan tanaman jagung yang paling baik adalah tanah ultisol, jumlah daun yang paling banyak pada tanah vertisol dan warna daun yang paling hijau adalah vertisol.


I.       PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium tumbuh tanaman. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologitanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara. Evaluasi kesuburan tanah dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu melalui pengamatan gejala defisiensi pada tanaman secara visual, analisa tanaman dan analisa tanah. Analisa tanaman meliputi analisa serapan hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihat pertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan hara makro primer (N, P dan K) dalam tanah.

B.     TUJUAN
·       Mengetahui kesuburan aktual tanah dari berbagai jenis tanah.


II.    TINJAUAN PUSTAKA
Keragaman sifat tanah secara alamiah adalah akibat dari faktor dan proses pebentukannya mulai dari bahan induk berkembang menjadi tanah pada berbagai kondisi lahan. Sehubungan dengan tingginya keragaman tanah tersebut maka informasi yang lebih objektif tentang kesuburan tanah sangat diperlukan untuk lebih mengarahkan pengelolaan tanahnya. Tanah yang subur akan memiliki nilai status kesuburan yang tinggi, sehingga upaya pemeliharaannya akan dapat dilakukan secara mudah, sedangkan pada tanah kurus nilai kesuburannya yang rendah akan memerlukan pemeliharaan yang lebih intensif (Adiwiganda, 1998).
Menurut Notohadiprawiro et al. (2006) kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Kesuburan tanah dibedakan menjadi dua. Pertama adalah kesuburan tanah aktual, yaitu kesuburan tanah hakiki atau alamiah. Kedua adalah kesuburan tanah potensial yaitu kesuburan tanah maksimal yang dapat dicapai dengan intervensi teknologi yang mengoptimumkan semua faktor.
Pertumbuhan tanaman diekspresikan dalam berat kering yang bersifat konstan yaitu hubungan antara waktu dengan ukuran pertumbuhan. Bentuk umum yang digunakan yaitu diinisialkan dalam ukuran tanaman real, diikuti periode kenaikan yang tinggi dan periode pertumbuhan yang melambat atau tidak tumbuh sama sekali. Adanya kurva pertumbuhan membantu untuk mengerti bentuk umum pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi suplai mineral, cahaya, air, dan CO2. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan (Tisdale et al., 1990).
Menurut Sirappa (2003), uji tanah telah berhasil dengan baik dalam membantu membina status ketersediaan hara dalam tanah, interpretasi dan evaluasi hasil analisis, serta penyusunan rekomendasi pupuk, sedangakan analisis tanaman dapat melengkapi uji tanah. Selanjutnya jika uji tanah dijadikan sebagai dasar untuk rekomendasi pemupukan, maka penelitian kalibrasi sangat penting untuk memberikan arti dari uji tanah.
Vertisol (grumusol) dicirikan oleh tingginya kandungan lempung tipe mengembung, yang dalam musim kering menyebabkan tanah retak dalam dan lebar. Tanah ini lekat dan liat kalau basah, dan keras kalau kering. Apabila tanah tersebut mengering sehabis hujan, waktu untuk dapat dibajak atau diolah sangat pendek. Inceptisol dapat disebut tanah muda karena profilnya mengandung horison yang diperkirakan terbentuk agak cepat dan kebanyakan hasil dari perubahan batuan induk. Produktivitas alami inceptisol sangat bervariasi tergantung dari letak daerahnya (Buckman dan Brady, 1982).
III. METODOLOGI
Praktikum acara Kesuburan Tanah Aktual ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 14 Oktober 2011 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pot plastik. Bahan-bahan yang digunakan adalah benih jagung (Zea mays), tanah vertisol, tanah ultisol, dan tanah inceptisol.
Cara kerjanya yaitu pertama-tama pot plastik yang berlubang di bagian bawahnya diisi dengan tanah lapis olah. Di rumah kaca telah disediakan beberapa koleksi jenis tanah. Lalu pot tersebut ditanami dengan jagung dan diberi air secukupnya setiap hari. Selanjutnya diamati kenampakan visual, kemudian diukur dan dicatat tinggi tanaman saat kunjungan ke rumah kaca.


 IV.  HASIL PENGAMATAN
·       Tabel pengamatan acara 6
Tabel tinggi tanaman dan jumlah daun
No
Jenis Tanah
Parameter Pengamatan
Tinggi Tanaman (cm)
Jumlah Daun
1
2
3
1
2
3
1
Inseptisol
10,33
25,53
34,93
2,17
4,00
5,00
2
Ultisol
16,08
35,67
35,20
2,67
4,33
4,67
3
Vertisol
12,08
28,38
36,26
2,33
4,00
5,17

1.4.             Tabel tinggi tanaman dan jumlah daun acara Kesuburan Tanah Aktual

            Tabel warna daun
Jenis Tanah
Warna
1
2
3
Inseptisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+
+ +
+ +

+ +
+ +
+ +

+
+
+

+ +
+ +
+




Ultisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+ +

+ +
+ +
+ + +

+
+ +
+ +

+ +
+ +
-




Vertisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+




Keterangan: semakin banyak (+) maka warna daun semakin hijau
1.5.            Tabel warna daun acara Kesuburan Tanah Aktual


V.     PEMBAHASAN
Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menumbuhkan tanaman atau memproduksi hasil tanaman dan untuk menyediakan sumber kebutuhan hidup (udara, air dan unsur hara) untuk tanaman tertentu dan dalam waktu tertentu pula serta berpengaruh terhadap kecukupan hara pada keseimbangan pertumbuhan yang spesifik yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sinar matahari, suhu dan lainnya. Kesuburan tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kesuburan aktual dan kesuburan tanah potensial. Kesuburan aktual (alami) adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara air dan udara untuk tanaman tertentu pada saat itu. Sedangkan kesuburan potensial adalah kemampuan tanah menyediakan udara, air dan unsur hara esensial untuk tanaman tertentu setelah faktor-faktor penghambat diperbaiki sampai optimum (80-90% dari maksimum). Faktor penghambat yaitu N, P, K.
Praktikum kesuburan tanah aktual ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman pada berbagai jenis tanah. Pada praktikum ini digunakan berbagai jenis tanah antara lain tanah Inceptisol, Vertisol, dan Ultisol dari berbagai daerah. Inceptisol adalah tanah – tanah yang dapat memiliki epipedon okhrik dan horison albik seperti yang dimiliki tanah entisol juga yang menpunyai beberapa sifat penciri lain (misalnya horison kambik) tetapi belum memenuhi syarat bagi ordo tanah yang lain. Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) yang perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya. Inceptisol mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat – sifat tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari 3 bulan berturut – turut dalam musim – musim kemarau, satu atau lebih horison pedogenik dengan sedikit akumulasi bahan selain karbonat atau silikat amorf, tekstur lebih halus dari pasir geluhan dengan beberapa mineral lapuk dan kemampuan manahan kation fraksi lempung ke dalam tanah tidak dapat di ukur. Kisaran kadar C organik dan KPK dalam tanah inceptisol sangat lebar dan demikian juga kejenuhan basa. Inceptisol dapat terbentuk hampir di semua tempat kecuali  daerah kering mulai dari kutup sampai tropika.  
Vertisol merupakan tanah yang mengandung sebagian besar liat tipe 2:1(monmorilonit), dimana dapat mengembang bila basah dan mengkerut bila kering. Dalam keadaan kering, tanah menjadi retak–retak, merekah cukup lebar dan dalam. Tanah ini bermasalah karena kandungan K tersedia yang rendah karena sebagian terfiksasi pada mineral liat. Untuk meningkatkan ketersediaan K pada tanah ini perlu dilakukan beberapa tindakan seperti pemberian pupuk K. tetapi pemberian pupuk K menjadi tidak efisien karena sebagian akan difiksasi oleh mineral liat sehingga ketersediannya tidak seperti yang diharapkan. Agar pemberian pupuk K efisien perlu diberikan bersama dengan pupuk ammonium (NH4) memperbanyak bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang, karena benda-benda ini akan bersifat sebagai buffer/penyangga yang berfungsi mengurangi daya mengembang atau mengkerut tanah.
Ultisol (ultimus, terakhir) adalah tanah-tanah berwarna merah kuning, yang sudah mengalami proses hancuran iklim lanjut sehingga merupakan tanah yang berpenampang dalam sampai sangat dalam (> 2 m), menunjukkan adanya kenaikan kandungan liat dengan bertambahnya kedalaman yaitu terbentuknya horizon bawah akumulasi liat. Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi. Nilai kejenuhan Al yang tinggi terdapat pada tanah Ultisol dari bahan sedimen dan granit (> 60%), dan nilai yang rendah pada tanah Ultisol dari bahan volkan andesitik dan gamping (0%). Ultisol dari bahan tufa mempunyai kejenuhan Al yang rendah pada lapisan atas (5−8%), tetapi tinggi pada lapisan bawah (37−78%). Tampaknya kejenuhan Al pada tanah Ultisol berhubungan erat dengan pH tanah. Tanah Ultisol mempunyai horizon argilik, dengan reaksi agak masam sampai masam dengan kandungan basa-basa rendah yang diukur dengan kejenuhan basa pH 7 < 50 % pada kedalaman 125 cm dibawah atas horizon argilik/kandik atau 180 cm dari permukaan tanah.
2.1.             Grafik Tinggi tanaman pada 3 jenis tanah, acara Kesuburan Tanah Aktual
Dari hasil data pengamatan yang dilakukan selama tiga minggu terhadap tanaman jagung yang ditanam didapatkan grafik tinggi tanaman diatas. Grafik tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman jagung tersebut berbeda-beda. Untuk pertumbuhan tertinggi tanaman dicapai pada tanah ultisol. Tanah ultisol adalah tanah yang tidak subur. Pertumbuhan tanaman jagung yang tinggi pada tanah ultisol ini mungkin disebabkan tanah tersebut telah diberi perlakuan pemupukan oleh pemiliknya sebelum dibawa ke rumah kaca, sehingga tanaman jagung mudah menyerap unsur hara yang ada pada tanah ini. Selanjutnya diikuti oleh tanah vertisol kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengerut. Jika tanah ini kering, tanah akan mengerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras, tetapi saat basah cenderung mengembang dan lengket. Tanah Vertisol tidak baik untuk pertumbuhan jagung karena tanah ini bertekstur lempung berat sehingga strukturnya mampat. Hal ini mengakibatkan penetrasi akar kurang baik karena buruknya aerasi tanah. Tingginya kadar lengas kapasitas lapang pada berbagai ordo tanah di atas dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman menjadi baik. Tanah yang pertumbuhan jagungnya paling rendah adalah tanah inceptisol, karena tanah ini belum berkembang lanjut kebanyakan tanah ini tidak cukup subur. Sehingga didapatkan kesimpulan pertumbuhan jagung tersebut memiliki pertumbuhan yang tinggi terjadi pada tanah ultisol. Perbedaan asal atau tempat pengambilan tanah tersebut juga akan berpengaruh terhadap ciri tanah tersebut. Dari perbedaan tempat itulah pertumbuhan tanaman jagung juga berbeda karena faktor tanah yaitu perbedaan bahan induk/bahan penyusun tanah.
2.2.             Histogram jumlah daun pada 3 jenis tanah, acara Kesuburan Tanah Aktual

Dari hasil data pengamatan yang dilakukan selama tiga minggu terhadap tanaman jagung yang ditanam didapatkan histogram jumlah daun tanaman jagung diatas. Grafik tersebut menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman jagung pada tanah Vertisol paling tinggi. Kemudian diikuti oleh tanah inceptisol dan ultisol. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah daun pada tanaman dipengaruhi oleh jenis dan sifat dari masing-masing tanah.
Jenis Tanah
Warna
1
2
3
Inceptisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+
+ +
+ +

+ +
+ +
+ +

+
+
+

+ +
+ +
+




Ultisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+ +

+ +
+ +
+ + +

+
+ +
+ +

+ +
+ +
-




Vertisol
+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+ + +

+
+ +
+ + +

+ +
+ +
+




Dari tabel diatas, didapatkan data bahwa warna daun pada tiap-tiap jenis tanah berbeda. Warna daun tanaman jagung yang paling hijau pada tanah vertisol, kemudian diikuti tanah ultisol dan inceptisol. Perbedaan warna daun pada setiap jenis tanah dipengaruhi oleh jenis dan sifat dari tanah.
Setiap jenis tanah memiliki tingkat kesuburan yang berbeda-beda tergantung dari faktor pembentuk tanah yang mendominasi daerah/wilayah tersebut antara lain faktor bahan induk, iklim, relief, organisme, dan waktu. Tanah menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman di atasnya namun terbatas jumlahnya dan tergantung dari jenis tanah tersebut. Pengaruh dari kesuburan tanah maka dapat dilihat penampakan visual dari pertumbuhan tanaman yang berada di atasnya misalnya morfologi dan warna daun serta tinggi tanaman dan jumlah daun. Sehingga akan berpengaruh juga terhadap produksi yang diperoleh dari tanaman.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan tanah yaitu unsur hara esensial, tekstur dan struktur tanah, ion dan koloid tanah, kapasitas tukar anion dan kation, bahan organik tanah, mikroorganisme tanah, kesetimbangan hara tanah, kelerangan, dan kedalaman efektif tanah. Seperti yang telah banyak dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu faktor kesuburan tanah adalah unsur hara. Pengaruh unsur hara terhadap kesuburan tanah dapat melalui keberadaannya (bentuk ketersediaan), konsentrasi maupun kesetimbangannya dengan unsur hara lain. Kondisi unsur hara di dalam tanah, baik bentuk, konsentrasi dan kesetimbangannya dengan unsur hara lainnya di dalam tanah dapat/mudah dikendalikan, sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman san menjaga kualitas tanah atau lingkungan. Tekstur dan struktur tanah mempengaruhi jumlah air dan udara di dalam tanah yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan serta kesuburan tanah. Koloid yang ada di tanah ini sangat mengendalikan proses-proses reaksi di dalam tanah baik secara fisik, kimia, maupun biologi; yang akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan kualitas lingkungan serta kesuburan tanahnya. Proses pertukaran anion dan kation sangat penting karena terkait dengan pengelolaan tanah dalam hubungannya dengan pemupukan dan pengapuran serta proses serapan unsur hara oleh akar.


VI.  PENUTUP
A.     KESIMPULAN
1.      Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menumbuhkan tanaman atau memproduksi hasil tanaman dan untuk menyediakan sumber kebutuhan hidup (udara,air dan unsur hara) untuk tanaman tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
2.      Kesuburan tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kesuburan aktual dan kesuburan tanah potensial.
3.      Pertumbuhan tanaman jagung yang baik yaitu pada tanah ultisol, tanah vertisol, dan tanah inceptisol.

B.     SARAN
        Budidaya tanaman sangat berkaitan dengan kesuburan aktual tanah. Diperlukan pengetahuan yang baik tentang sifat tanah yang akan digunakan, karena kandungan hara yang terkandung di dalam tanah menentukan aplikasi pupuk yang akan digunakan, baik dosis maupun jenisnya.

DAFTAR PUSTAKA

Adiwiganda, R. 1998. Pedoman klasifikasi kesuburan tanah di areal perkebunan kelapa sawit. Warta PPKS 6 (2):63-69.

Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah (terjemahan : Soegiman). Penerbit Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

Notohadiprawiro, T., S. Soekodarmodjo dan E. Sukana. 2006. Pengelolaan Kesuburan Tanah dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan. <http://soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1981/1984%20penge.pdf>. Diakses tanggal 16 November 2011.

Sirappa, M.P. 2003. Penentuan Batas Kritis dan Dosis Pemupukan untuk Tanaman Jagung di Lahan Kering pada Tanah Typic Usthorthents. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 3 (2) : 25-37.

Tisdale, S. L., W. L. Nelson, J. D. beaton. 1990. Soil Fertility and Fertilizers 4th edition. Macmillan Publishing Company, New York.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...