"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

22 Januari 2012

UJI MUTU KOMPOS

ABSTRAKSI
Praktikum acara Uji Mutu Kompos dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2011 di Laboratorium Kimia Dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan. Hasil yang diperoleh dari pengecambahan selama tujuh hari hanya kompos pukan sapi yang diindikasi telah matang. Kematangan kompos harus diperhatikan sebelum digunakan karena kompos yang belum matang dapat menghambat perkecambahan atau mematikan tanaman.


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kompos merupakan campuran kotoran hewan, bahan tanaman, dan bahan orgaik lain yang telah mengalami perobakan atau pembusukan oleh mikroba. Kompos saat ini sangat diperlukan oleh petani pada karena adanya kelangkaan pupuk, meskipun kompos telah ada sejak dahulu.
Hasil akhir pengomposan adalah bahan yang mempunyai kandungan C/N ratio rendah dan mendekati C/N ratio tanah. bila bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan terlebih dahulu (langsung diberikan ke tanah) maka proses penguraiannya akan terjadi ditanah. Akibatnya, CO2 dalam tanah meningkat sehingga dapat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan, untuk tanah ringan dapat mengakibatkan daya ikatnya terhadap air menjadi kecil serta struktur tanahnya menjadi kasar dan berserat. Oleh karena itu, sebelum digunakan kompos perlu diuji kematangannya.

B. Tujuan
Tujuan Uji Mutu Kompos adalah untuk mengetahui mutu kematangan kompos dengan metode perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif.

 
 II. TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. (Anonim, 2010).
Pengomposan merupakan proses penguraian senyawa-senyawa yang terkandung dalam sisa-sisa bahan organik dengan suatu perlakuan khusus yang bertujuan agar tanaman lebih mudah memanfaatkannya. Hasil proses inilah yang lazim disebut pupuk kompos. Pengomposan juga merupakan salah satu cara pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradable (dapat diuraikan mikroorganisme). Proses perubahan sampah menjadi kompos dilakukan secara aerobik (memerlukan oksigen). Dari berbagai macam sampah, yang dapat dijadikan kompos antara lain sampah dapur (kupasan sayur), potongan rumput, endapan teh atau kopi, sampah kebun, kulit buah-buahan, daun-daunan, sisa hidangan dan kertas serta pupuk kandang (Suprijadi dan Tejaswarwana, 1994).
Menurut Yuwono (2011), bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu yang lama. Sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakan berlangsung.
Pada perombakan bahan-bahan organik selama pengomposan terjadi perubahan secara terus menerus karena aktivitas berbagai kelompok mikrobia. Tahap permulaan keadaan mesofil yang aktif mikrobia kelompok jamur dan bakteri pembentuk asam. Setelah suhu meningkat dari 400C kegiatan mikrobia pemula diganti oleh kelompok bakteri aktinomycetes dan jamur termofil. Pada tahap selanjutnya setelah suhu mencapai 700C yang aktif bakteri pembentuk spora. Setelah suhu turun kembali jamur dan bakteri mesofil aktif kembali (Sudasiman, 1980).
Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan adalah sebagai berikut (Roesmarkam dan Yuwono, 2002) :
1.      Kelembaban timbunan bahan kompos, kehidupan dan kegiatan mikroba sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup.
2.      Aerasi timbunan, berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu anaerob maka mikroba yang hidup hanya mikroba anaerob saja. Sedang jika terlalu aerob udara bebas masuk kedalam timbunan bahan yang dikomposkan yang menyebabkan kehilangan nitrogen cukup banyak menguap berupa NH3.
3.      Temperatur dijaga agar tidak terlampau tinggi (maksimum 60 C).
4.      Suasana, pengomposan kebanyakan menghasilkan asam-asam organik sehingga menyebabkan PH turun. Pembalikan timbunan dapat menetralisasi keasaman.
5.      Netralisasi keasaman; dengan menambah bahan pengapuran seperti abu tidak hanya menetralisasi tapi juga menambah Ca, K dan Mg dalam kompos.
6.      Kualitas kompos, untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos, timbunan diberi pupuk yang mengandung hara, terutama P (untuk perkembangan mikrobia).
Hal-hal yang harus dicapai dalam pembuatan kompos (Sosrodoedirdjo et al., 1981):
1.   Persenyawaan zat arang (C) harus secepat mungkin diubah sesempurna-sempurnanya. Perlu adanya banyak udara yang masuk ke dalamnya sehingga proses peragian berlangsung cepat. Campuran kapur, fosfat dan campuran zat lemas yang cukup dapat mempercepat proses tersebut.
2.   Persenyawaan zat lemas sebagian besar harus diubah menjadi persenyawaan amonium, jadi tidak hanya terikat sebagai putih telur di tubuh bakteri-bakteri. Diperlukan pula perbandingan C/N yang baik. Jika perbandingan C/N kecil, maka akan banyak amoniak dibebaskan bakteri-bakteri, NH3 di dalam tanah segera diubah menjadi nitrat, yang dengan mudah dapat dihisap oleh tanaman.
3.   Zat lemas yang hilang harus sedikit-sedikitnya. Perlu diambil tindakan terhadap kemungkinan hilangnya atau menguapnya zat lemas sebagai gas NH3 atau gas N yang terbentuk dengan jalan senitrifikasi dan pembasuhan nitrat. Jika pupuk dicampuri kapur maka pembuatan nitrat itu dapat lebih giat sehingga kadang-kadang 15-40% dari semua zat lemas  dapat diubah menjadi nitrat. Kalau suhunya naik sampai lebih dari 450C, maka bakteri yang menitrifikasikan itu akan mati, berarti tidak akan terbentuk nitrat-nitrit, jadi dengan sendirinya tidak akan terjadi senitrifikasi.
4.   Sisa-sisa sebagai bunga tanah harus sebanyak mungkin. Kompleks putih telur dan lignin merupakan hasil terakhir dari pembuatan kompos.
Kematangan kompos adalah tahapan tertentu antara keadaan bahan organik yang mentah dan keadaannya setelah mati. Ciri-ciri kematangan kompos (Anonim, 1992):
1.      Suhu. Apabila tingkat kelembaban dan zat asam yang sesuai dapat dipertahankan selama proses pengomposan, suhu tumpukan akan tetap tinggi (45-650C) selama masih terdapat bahan untuk dijadikan kompos. Masa aktif ini dikenal dengan masa termofilik. Setelah beberapa waktu dalam kondisi ini, suhu akan mulai menurun mendekati atau sama dengan suhu ruang. Apabila kelembaban sudah sesuai dan pembalikan tidak menyebabkan meningkatnya suhu, kompos dianggap hampir matang.
2.      Bau. Ambil dua genggam kompos, lembabkan, lalu masukkan ke dalam kantung plastik. Tutuplah kantung rapat-rapat, dan biarkan ± 2 x 24 jam. Jika kantung plastik menggembung dan panas atau pada waktu dibuka kompos tersebut berbau busuk, maka berarti jasad renik masih aktif dan kompos belum matang.
3.      Rasio C/N. Selama proses pengomposan, kandungan karbon menurun karena berubah menjadi karbondioksida. Kurang lebih 1/3 dari kandungan karbon berubah bentuk dan menyatu dalam kompos sedangkan 2/3 bagian lainnya menjadi karbondioksida dan tidak bermanfaat lagi bagi lingkungan. Rasio C/N kurang dari 20 : 1 maka kompos tersebut bermutu dan benar-benar matang.
4.      Bentuk fisik. Pada proses pengomposan yang relatif stabil, sampah sudah berdekomposisi sehingga wujud fisiknya sudah menyerupai tanah.
Kompos sebagai produk dari proses penguraian bahan organik memiliki sifat-sifat yang baik untuk menyuburkan tanah dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Pupuk kompos dapat memperbaiki daya ikat tanah berpasir dan memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga tidak terlalu berderai atau terlalu lekat. Kompos juga dapat meningkatkan daya ikat tanah terhadap air sehingga meningkatkan persediaan air untuk tanaman. Selain itu kompos juga dapat memperbaiki tata udara tanah dan mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara dari pupuk mineral sehingga tidak mudah larut oleh air penghujan sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien. Untuk tanaman, tentu saja kompos menyediakan unsur makro maupun mikronutrien yang penting untuk perkembangan pertumbuhannya. (Usman dan Mawardi, 1995).

III. METODOLOGI
Praktikum Acara V mengenai Uji Mutu Kompos dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2011 di Laboratorium Kimia dan kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu gelas plastik, label, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain benih bayam, sekam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang kambing.
Cara kerja dari praktikum ini yaitu pertama disiapkan gelas plastik sebanyak 7 buah dan digunakan sebagai 7 macam perlakuan. Gelas plastik I diisi dengan sekam, gelas plastik II diisi dengan pupuk kandang sapi, gelas plastik III diisi dengan pupuk kandang kambing, gelas plastik IV diisi dengan sekam + pupuk kandang sapi, gelas plastik V diisi dengan sekam + pupuk kandang kambing, gelas plastik VI diisi dengan pupuk kandang sapi + pupuk kandang kambing, gelas plastik VII diisi dengan sekam + pupuk kandang sapi + pupuk kandang kambing. Setelah gelas plastik dengan 7 perlakuan disiapkan, gelas plastik ditambah dengan air, kemudian ditanam 10 benih bayam dan gelas plastik ditutup. Setelah 7 hari dilakukan pengamatan pertumbuhan kecambah pada benih yang telah ditanam pada setiap gelas plastik.

IV. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1.2. Gaya berkecambah Bayam pada Berbagai Formulasi Kompos
No
Formulasi Kompos
Gaya Berkecambah
1
Sekam
28.57
2
Pukan Kambing
0.00
3
Pukan Sapi
100.00
4
Sekam + P. Kambing
0.00
5
Sekam + Pukan Sapi
0.00
6
Sekam + P. Kambing + P. Sapi
0.00
7
P. Sapi + P. Kambing
0.00


Tabel 1.3. pH dan DHL pada Kompos Dasar
No
Jenis Kompos
Ph
DHL (mS)
1
Pupuk Kandang Kambing
8,67
0,32
2
Pupuk Kandang Sapi
8,15
0,17
3
Sekam
7,48
0,80


V. PEMBAHASAN
Kompos tidak dapat langsung didunakan setelah dibuat. Bahan-bahan organik harus dirombak (dekomposisi dan mineralisasi) oleh decomposer dari kelompok mikrobia pemula.

Gambar 1. Bagan proses perombakan bahan organik menjadi anorganik

Setelah beberapa hari, suhu meningkat dari 400C dan kegiatan mikrobia pemula diganti oleh kelompok bakteri aktinomycetes dan jamur termofil. Bakteri perombak N kebanyakan merupakan bakteri termofil ini. Pada tahap selanjutnya setelah suhu mencapai 700C yang aktif bakteri pembentuk spora. Tahap terakhir suhu turun kembali, jamur dan bakteri mesofil aktif kembali. Setelah melewati tahap ini kompos dapat dikeluarkan dari komposter (tempat pembuatan kompos) dan disaring. Material yang sudah terombak teksturnya menjadi lebih halus dari yang belum terombak.

Gambar 2. Bagan proses pengolahan setelah kompos matang

Menguji mutu kompos sebelum digunakan bertujuan untuk mengetahui apakah kompos tersebut sudah layak untuk diaplikasikan, dalam arti kompos tersebut sudah memenuhi syarat untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kenampakan yang mengindikasikan sejauh mana kelayakan kompos adalah banyaknya benih yang tumbuh dari sejumlah benih yang ditanam dengan kompos tersebut atau disebut gaya berkecambah. Jika kompos belum layak maka benih yang ditanam tidak akan tumbuh dan gaya berkecambahnya rendah.
Agar pengujian gaya berkecambah dapat menggambarkan kelayakan kompos dengan baik, maka factor-faktor yang dapat perkecambahan dari internal benih harus diminimalkan. Oleh karena itu dipilih benih yang cepat berkecambah, dormansinya mudah dipatahkan, tahan dari organisme pengganggu dan penyakit benih, serta cenderung adaptif dengan lingkungannya. Salah satu benih yang memiliki sifat-sifat tersebut dan digunakan dalam praktikum ini adalah bayam. Berikut histogram gaya berkecambah bayam yang ditanam dengan berbagai formulasi kompos yang sama usianya.
Gambar 3. Grafik Gaya Berkecambah Bayam pada Berbagai Formulasi Kompos

Gaya berkecambah umum untuk benih sayuran normal adalah 80%, namun untuk indicator kematangan kompos, gaya berkecambah yang harus dipenuhi hanya 75%. Gambar 3 menunjukkan bahwa gaya berkecambah yang melebihi 75% hanya pupuk kandang (pukan) sapi. Beberapa sifat biokimia dan fisika dari formulasi kompos lainnya bisa jadi menyebabkan kompos tersebut dikatakan belum matang dan tidak mampu mendukung perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman.
1.      Konsentrasi urea masih terlalu tinggi dan kadarnya tidak mampu ditoleransi oleh benih.
2.      Masih tingginya kandungan senyawa kompleks. Bahan-bahan organik pembentuk kompos adalah senyawa kompleks. Terutaman pada kompos yang mengandung karbohidrat komplek seperti selulosa (pada sekam), penguraian dan pematangannya berlangsung lambat. Di pertanaman, senyawa kompleks tersebut tidak dapat diserap langsung oleh tanaman. Campuran kapur dan fosfat dapat mempercepat proses perombakannya.
3.      Masih banyaknya kandungan senyawa komplek pada kompos yang digunakan di media pertanaman menyebabkan perombakan senyawa tersebut terjadi di tanah dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Perombakan kompos secara normal (aerob) tidak menghasilkan senyawa berbahaya bagi tanaman. Namun jika ada genangan atau kondisi air tanah jenuh maka udara menjadi tidak tersedia, sehingga perombakan terjadi secara anaerob dan menghasilkan senyawa metana yang menggantikan pasokan O2 untuk respirasi benih.
Gambar 4. Perombakan karbon organik dalam kondisi aerob
Gambar 5. Perombakan karbon organik dalam kondisi anaerob

Selain dengan pengujian pasca pembuatan kompos, kematangan kompos seharusnya diperhatikan sejak dalam proses pembuatan. Identifikasi kematangan kompos dalam proses pembuatan meliputi:
1.      Suhu sudah stabil (mengikuti suhu ruang) dan kelembaban sudah sesuai dengan kelembaban tanah. Selama masih terdapat bahan untuk dijadikan kompos maka suhu tumpukan akan tetap tinggi (45-650C).
2.      Bau tidak busuk. Jika kantung kompos menggembung dan panas atau pada waktu dibuka kompos tersebut berbau busuk, maka berarti jasad renik masih aktif dan kompos tersebut belum matang.
3.      Rasio C/N kurang dari 20 : 1. Kurang lebih  2/3 bagian karbon dibebaskan menjadi karbondioksida selama pengomposan. Hanya 1/3 dari kandungan karbon termineralisasi dalam kompos.
4.      Bentuk fisik menyerupai tanah humus karena telah terdekomposisi dan stabil.


 VI.    PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.        Melalui uji perkecambahan, kenampakan yang mengindikasikan sejauh mana kelayakan kompos adalah banyaknya benih yang tumbuh dari sejumlah benih yang ditanam dengan kompos tersebut yang disebut gaya berkecambah. Jika kompos belum layak maka benih yang ditanam tidak tumbuh atau gaya berkecambahnya rendah.
2.        Dari ketujuh formulasi kompos yang diuji hanya kompos pukan sapi yang matang. Sementara pada kompos sekam pertumbuhan benih bayam belum mencukupi.

B.     Saran
Pengujian kompos harus benar-benar memperhatikan indikator mutunya, agar dapat digunakan dengan baik, karena kompos yang belum matang akan menyebabkan kematian pada tanaman.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Jenis-Jenis Pupuk dan Cara Aplikasinya. <http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/jenis-jenis-pupuk-dan-cara-aplikasinya/>. Diakses tanggal 16 November 2011.

Anonim. 1992. Panduan Pembuatan Kompos dari Sampah Teori Aplikasi. Center for Policy and Implementation Studies. Jakarta.

Sosrosoedirdjo, S., Rifai, B., Prawira, I. S. 1981. Ilmu Memupuk. Yasaguna. Jakarta.

Sudasiman, K. V. 1980. Microbiological succession during decomposition of organic matter in heese. P. R. Compost Technology FAO of UN Proj. Field. Doc. No (13) : 63-69.

Suprijadi dan R. Tejasarwana. 1994. Prospek pupuk organik dan pengelolaannya pada padi sawah di lahan tadah hujan. Tropika. 5 (3) : 42-49.

Rosmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Usman, W. dan S. Mawardi. 1995. Pengaruh komposisi bahan baku dan lama pegomposan terhadap mutu kompos. Warta Puslit Kopi dan Kakao 11(1) : 26-32.

Yuwono, N. W. 2011. http://nasih.staff.ugm.ac.id/p/009%20p%20k.htm. Diakses pada tanggal  16 November 2011.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...