"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

10 Desember 2011

UJI CEPAT TANAH

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah acara X dengan judul Uji Cepat Tanah dilakukan pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2011 di Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan praktikum ini adalah mengenal penggunaan perangkat uji cepat tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P, K.  Bahan dan alat yang digunakan adalah tanah sawah jenis inceptisol dan vertisol serta satu unit perangkat uji tanah sawah (PUTS). Pengujian ini dilakukan dengan menguji tanah sampel yang telah disediakan dengan perangkat uji tanah sawah. Dari hasil pengamatan diperoleh pada tanah inceptisol kadar hara N tinggi, kadar hara P tinggi, kadar hara K sedang dan pH tanah agak masam (pH 5-6). Pada tanah Vertisol kadar hara N rendah, kadar hara P sedang, kadar hara K sedang dan pH tanah netral (pH 6-7). Rekomendasi untuk tanah sawah inceptisol adalah pupuk urea 200 kg/ha, pupuk SP- 36 50 kg/ha. Dan pupuk KCl 50kg/ha + 5t jerami, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea. Rekomendasi untuk tanah sawah vertisol adalah pupuk urea 250 kg/ha, pupuk Sp-36 75 kg/ha, dan pupuk  KCl 50 kg/ha ditambah jerami 5 ton/ha, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea.
Key words: PUTS, Inseptisol, Vertisol.

I.       PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Selain sebagai media tanam, tanah menyediakan berbagai kebutuhan tanaman seperti unsur hara dan kondisi yang cocok yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan hidup. Lahan pertanian seperti sawah merupakan lahan yang dimanfaatkan oleh petani sampai saat ini untuk membudidayakan berbagai jenis  tanaman pangan. Kondisi seperti ini menyebabkan tanah sebagai media tanam dan penyuplai hara harus menyediakan berbagai kebutuhan hidup tanaman.
Untuk mengetahui apakah suatu tanah ketersediaan hara N, P, K dan kondisi pH nya mencukupi dan sesuai untuk kebutuhan tanaman maka diperlukan suatu pengujian tanah untuk mengetahui kadar N, P, K yang dapat dimanfaatkan dan pH yang sesuai untuk pertumbuhan tananaman. Pengujian ini dapat dilakukan secara langsung di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. Pengujian seperti ini dilakukan dengan menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Dengan melakukan pengujian seperti ini dapat diketahui kadar N, P, dan K dalam bentuk tersedia bagi tanaman, sehingga penambahan pupuk dapat efisien. Dengan demikian pemberian pupuk dan dosis pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman. 


B. Tujuan
Mengenal penggunaan perangkat uji cepat tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P, K. 

II.                TINJAUAN PUSTAKA
            Rekomendasi pemupukan berimbang harus didasarkan atas penilaian status dan dinamika hara dalam tanah serta kebutuhan tanaman, agar pemupukan efektif dan efisien. Pemupukan berimbang tidak harus memberikan semua unsur makro/mikro yang dibutuhkan, tetapi memberikan unsur yang jumlahnya tidak cukup tersedia untuk tanaman. Penambahan hara yang sudah cukup tersedia justru menyebabkan masalah pencemaran lingkungan (tanah dan perairan), terlebih bila status hara tanah sudah sangat tinggi. Sebagai contoh pemupukan P terus menerus pada sawah intensifikasi menyebabkan kejenuhan P dan ketidakseimbangan hara di dalam tanah. Pemupukan P tidak lagi memberikan peningkatan hasil tanaman yang nyata. Efisiensi pemupukan menjadi rendah, dan kemungkinan unsur hara lain seperti Zn menjadi tidak tersedia (Subiksa et al., 2009).
            Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) terdiri atas satu set alat dan bahan kimia untuk menganalisis kadar hara tanah sawah, serta dapat digunakan di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Hasil pengukuran kadar hara N, P, dan K tanah dengan PUTS dikategorikan menjadi tiga kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T).PUTS merupakan penyederhanaandari pekerjaan analisis tanah di laboratorium yang didasarkan pada hasil penelitian uji tanah. Kriteria penggolongan status N, P, K, dan pH tanah untuk PUTS disajikan pada Tabel 1. Satu paket kemasan PUTS terdiri atas: (a) satu set larutan ekstraksi untuk menetapkanN,P,KdanpH,(b)peralatanpendukung. Untuk mengetahui status hara tanah sawah, petani atau penyuluh kini tidak perlu lagi mendatangi laboratorium uji tanah. Dengan perangkat uji tanah sawah, pengujian dapat dilakukan di lapangan dengan cepat, mudah, murah, dan hasilnya pun akurat (Anonim, 2010).
            Aplikasi pupuk P yang ditebar dengan merata merupakan hal yang fisibel dalam bentuk kering ataupun cairan. Percampuran selanjutnya dengan tanah dari pupuk P yang ditebar dengan pengolahan akan mencampurkannya ke dalam tanah dan menempatkannya sebagian dari P tersebut cukup dalam di dalam tanah sehingga akan berada dalam zone yang lembab paling tidak selama suatu bagian dari musism pertumbuhan. Pada tanah-tanah yang mengandung tingkat P tersedia rendah, waktu dan metode dapat cukup penting. Penempatan dalam zone perakaran efektif umumnya menghasilkan efisiensi penggunaan P yang lebih besar (Welch et al., 1966).
            Penggunaan pupuk N, P, dan K secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan beberapa komponen hasil padi, namun terhadap bobot 1000 biji tidak menunjukkan perbedaan. Hara nitrogen merupakan salah satu faktor pembatas utama untuk tanaman padi sawah. Peranan penting dari P di dalam tanaman antara lain adalah dalam pembentukan buah dan biji serta pembelahan sel dan perkembangan akar, sehingga kekurangan P akan menyebabkan tanaman tumbuh lambat dan kerdil (Arafah dan Sirappa, 2003).
      Secara langsung, hasil pengujian tanah memang tidak akan menunjukkan detail jenis tanah seperti apa lahan yang kita miliki tersebut. Namun setidaknya dari hasil pengujian secara statistik akan menunjukkan apakah tanah kita bersifat basa, asam, atau netral yang ditunjukkan dengan nilai pH. Hal ini penting karena bila tanah kita terlalu asam atau terlalu basa, akan mengganggu pertumbuhan tanaman bahkan bisa membuat tanaman keracunan unsur-unsur tertentu (Maas, 2005).
kebanyakan tanaman yang kekurangan kalium memperlihatkan gejala lemahnya batang tanaman sehingga tanaman mudah roboh. Turgor tanaman berkurang sel menjadi lemah, dan tanaman menjadi kering, ujung daun berwarna coklat atau adanya noda-noda berwarna coklat (nekrosis). Kalau kekurangan kalium berlangsung terus, maka nekrosis ini menjadi jaringan yang kering dan mati, kemudian lepas dan daun menjadi berlubang. Kekurangan hara K menyebabkan produksi merosot, walaupun sering tidak menampakkan gejala difisiensi. Kejadian ini disebut lapar tersembunyi (hiden hunger). Kekurangan kalium menyebabkan kadar karbohidrat berkurang dan rasa manis buah-buahan sering berkurang (Tisdale et al., 1985).


III.             METODOLOGI
Praktikum kesuburan, kesehatan dan pemupukan acara X dengan judul Uji Cepat Tanah ini dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah  Mada .Alat dan bahan yang digunakan adalah satu unit PUTS, tanah sawah jenis inceptisol dan vertisol.
Langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah menguji tanah sawah yang telah dipersiapkan dengan seperangkat Alat Uji tanah sawah. Kemudian diukur kadar N, P, dan K. Setelah itu diberikan rekomendasi untuk pemupukan dan pengolahan tanah tersebut. Pengukuran kadar N dilakukan dengan cara ½ sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah uji diambil dengan syringe (spet), dimasukkan ke dalam tabung reaksi , ditambahkan 2 ml Pereaksi N-1, kemudian diaduk rata sampai homogen dengan pengaduk kaca. 2 ml Pereaksi N-2 ditambahkan , dikocok sampai rata, ditambahkan 3 tetes Pereaksi N-3, dikocok sampai rata, kemudian ditambahkan 5-10 butir Pereaksi N-4, dikocok sampai rata dan didiamkan + 10 menit. Setelah itu dibandingkan warna yang muncul pada larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna N tanah dan baca status hara N tanah. Pengujian P dilakukan dengan cara ½ sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah diambil dengan syringe (spet) dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 3 ml Pereaksi P-1, kemudian diaduk sampai homogen dengan pengaduk kaca. ditambahkan 5-10 butir Pereaksi P-2, dikocok 1 menit. Didiamkan selama + 10 menit. Kemudian dibandingkan warna biru yang muncul dari larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna P tanah. Pengujian K dilakukan dengan cara ½ sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah diambil dengan syringe (spet) dimasukkan ke dalam tabung reaksi. ditambahkan 2 ml Pereaksi K-1, kemudian diaduk hingga homogen dengan pengaduk kaca. ditambahkan 1 tetes Pereaksi K-2, dikocok selama 1 menit. Ditambahkan 1 tetes Pereaksi K-3, dikocok sampai merata dan didiiamkan selama + 10 menit. Selanjutnya , dibandingkan warna kuning yang muncul pada larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna K tanah. Pengujian pH dilakukan dengan cara  ½ sendok spatula contoh tanah uji atau 0,5 cm tanah diambil dengan syringe (spet) dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 2 ml Pereaksi pH-1, kemudian diaduk sampai membentuk homogen dengan pengaduk kaca. Ditambahkan lagi 2 ml Pereaksi pH-1 sambil membilas dinding tabung reaksi kemudian dikocok sampai rata dan didiamkan ± 3 menit. Ditambahkan 1-2 tetes indikator warna Pereaksi pH-2, dan larutan didiamkan  selama + 10 menit hingga suspensi mengendap dan terbentuk warna pada cairan jernih di bagian atas. Kemudian dibandingkan warna yang muncul pada larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna pH tanah. Jika warna yang timbul meragukan, tanah dikocok ulang secara perlahan sampai cairan jernih teraduk merata, lalu didiamkan sampai mengendap kembali. Selanjutnya bandingkan lagi dengan bagan warna pH. Metode ini berlaku untuk kedua jenis tanah sawah inceptisol dan vertisol.
 
IV.              HASIL PENGAMATAN

1.                                                                                       Jenis Tanah        : Vertisol                                  
Lokasi                               : Sumberagung, Moyudan, Sleman

No
Uji
Hasil
Rekomendasi
Foto
1
Hara N


rendah


250 kg urea/ha

2
Hara P


sedang


75 kg SP-36/ha

3
Hara K



sedang


KCl 50 kg/ha
KCl ditambah jerami 5 ton jerami/ha

4
pH


netral (6-7)


Sistem drainase konvensional
Pupuk N dalam bentuk urea

1.9.             Tabel uji kadar hara tanah Vertisol acara Uji Cepat Tanah





2.      Jenis tanah : Inceptisol       
Lokasi                    : Maguwoharjo, Depok, Sleman

No
Uji
Hasil
Rekomendasi
Foto
1
Hara N
tinggi


200 kg urea SP-36/ha

2
Hara P
tinggi


50 kg SP-36/ha

3
Hara K
sedang
KCl 50 kg/ha
KCl ditambah jerami 5 ton jerami/ha

4
pH
Agak masam
 (6-7)
Sistem drainase konvensional
Pupuk N dalam bentuk urea


 1.10.        Tabel uji kadar hara tanah Inseptisol acara Uji Cepat Tanah


V.                 PEMBAHASAN
Setiap jenis tanah mempunyai kandungan hara dan kondisi yang berbeda, sehingga untuk mengetahui kesuburan tanah secara kimia diperlukan analisis tanah. Kegiatan analisis umumnya di lakukan di laboratorium sehingga hasil analisis umumnya tidak cepat, sulit, mahal meskipun akurat. Untuk mengatasi hal ini maka dibuat suatu alat analisis yang berupa Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) adalah suatu alat untuk analisis kadar hara tanah secara langsung di lapang dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. Kegunaan dari PUTS adalah dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah dengan cepat. Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) terdiri atas satu set alat dan bahan kimia untuk menganalisis kadar hara tanah sawah. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Hasil pengukuran kadar hara N, P, dan K tanah dengan PUTS dikategorikan menjadi tiga kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T).PUTS merupakan penyederhanaandari pekerjaan analisis tanah di laboratorium yang didasarkan pada hasil penelitian uji tanah.
Gambar 1. PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah)



Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) terdiri atas satu set alat dan bahan kimia untuk menganalisis kadar hara tanah sawah, serta dapat digunakan di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Hasil pengukuran kadar hara N, P, dan K tanah dengan PUTS dikategorikan menjadi tiga kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T). PUTS merupakan penyederhanaan dari pekerjaan analisis tanah di laboratorium yang didasarkan pada hasil penelitian uji tanah.
Satu paket kemasan PUTS terdiri atas: (a) satu set larutan ekstraksi untuk menetapkan N, P, K dan pH, (b) peralatan pendukung, (c) bagan warna N, P, K, dan pH, (d) bagan warna daun (BWD), serta (e) buku petunjuk penggunaan. PUTS dapat digunakan untuk menganalisis 50 contoh tanah. Jika dirawat dan ditutup rapat segera setelah digunakan maka masa kedaluwarsa bahan kimia yang ada dalam PUTS ini berkisar 1-1,5 tahun dari pertama kali kemasan dibuka. Berikut komponen bahan dan alat yang disediakan di dalam satu paket Perangkat Uji Tanah Sawah terdiri atas:
1.      Pereaksi
a)      Pereaksi N-1 : 100 ml
b)      Pereaksi N-2 : 100 ml
c)      Pereaksi N-3 : 60 ml
d)      Pereaksi N-4 : 2,5 g
e)      Pereaksi P-1 : 250 ml
f)        Pereaksi P-2 : 2,5 g
g)      Pereaksi K-1 : 100 ml
h)      Pereaksi K-2 : 30 ml
i)        Pereaksi K-3 : 30 ml
j)        Pereaksi pH-1 : 250 ml
k)      Pereaksi pH-2 : 60 ml
l)        Air murni (Aquadest) : 250 ml
2.      Bagan warna
a)      Bagan warna N tanah
b)      Bagan warna P tanah
c)      Bagan warna K tanah
d)      Bagan warna pH tanah
3.      Peralatan
a)      Tabung reaksi volume 10 ml : 8 buah
b)      Sendok stainless : 1 buah
c)      Pengaduk dari kaca : 1 buah
d)      Rak tabung reaksi : 1 buah
e)      Kertas tissue pengering : 1 bungkus
f)        Syringe 2 ml : 1 buah
g)      Sikat pembersih tabung reaksi : 1 buah
            Prinsip yang digunakan dalam menyusun PUTS adalah dapat mengukur hara N, P, dan K tanah dalam bentuk tersedia untuk tanaman secara semikuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Bentuk hara tersedia menggambarkan suatu indeks ketersediaan hara yang terdapat dalam larutan tanah dan dapat dengan mudah diambil/ diserap oleh tanaman. Bentuk hara inilah yang diukur di laboratorium maupun dengan PUTS. Kadar hara dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak hara tersedia dari tanah dan kemudian mengukur kadar hara yang terekstrak tersebut. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tanah pada umumnya terdiri atas larutan pengekstrak dan pembangkit warna. Bentuk hara yang diekstrak dengan PUTS untuk nitrogen adalah N-NO3- dan N-NH4+, untuk fosfat bentuk orthophosphate yaitu PO4 3-, HPO4 -2, dan H2PO4- dan untuk kalium adala K+ .
            PUTS ini telah diuji dengan menggunakan contoh tanah mineral dari lahan sawah dengan kandungan P dan K serta pH tanah rendah hingga tinggi. Uji validasi PUTS telah dilaksanakan pada tanah Inceptisol, Ultisol, Entisol, dan Vertisol yang tersebar di 146 lokasi di Pulau Jawa. Namun demikian, untuk lebih memantapkan hasil penetapan atau pengukuran N, P, K dan pH serta rekomendasinya pada jenis tanah yang lebih beragam, pada tahun 2005 tetap akan dilakukan pengujian atau validasi PUTS. Tingkat kesesuaian pengukuran hara N, P, K dan pH dengan PUTS dibandingkan dengan hasil analisis di laboratorium berturut-turut adalah 55% untuk N, 90% untuk P, 70% untuk K, dan 78% untuk pH. Rekomendasi pemupukan N, P, dan K pada berbagai kelas status hara tanah yang diberikan mengacu pada hasil kalibrasi uji tanah.
Manfaat PUTS adalah untuk mengetahui status hara tanah sawah, petani atau penyuluh kini tidak perlu lagi mendatangi laboratorium uji tanah. Dengan perangkat uji tanah sawah, pengujian dapat dilakukan di lapangan dengan cepat, mudah, murah, dan hasilnya pun akurat, dengan adanya PUTS yang dapat dioperasikan oleh penyuluh pertanian atau petani terlatih, maka takaran pupuk untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien serta penerapannya dapat menjangkau wilayah yang luas. Bagi petani, penggunaan PUTS dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan menambah keuntungan. Dari sisi lingkungan, pemakaian pupuk yang tepat dan efisien dapat menekan pencemaran lingkungan dari badan air (nitrat) dan dalam tanah (logam berat dari pupuk). Penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah dengan PUTS dapat menghemat pemakaian pupuk secara nasional serta devisa Negara. Secara umum PUTS dapat digunakan untuk menilai status kesuburan tanah sawah secara cepat. Tanah sawah yang mempunyai kandungan hara N, P, dan K tinggi dinyatakan sebagai tanah sawah yang subur, sehingga upaya pelestarian produktivitas lahannya sedikit lebih ringan dibandingkan tanah sawah yang berstatus hara rendah. Manfaat khusus adalah pemberian rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien sehingga menghemat pemakaian pupuk. Jumlah pupuk yang diberikan untuk masing-masing kelas status hara tanah berbeda sesuai kebutuhan tanaman.
1.               Unsur N, P, K
Setiap tanaman memerlukan paling sedikit 16 unsur (ada yang menyebutkan zat) agar pertumbuhannya normal. Dari ke-16 unsur tersebut, 3 unsur (karbon, hidrogen, dan oksigen) diperoleh dari udara, sedangkan 13 unsur lagi disediakan oleh tanah. Jadi tanah sebagai dapur bagi tanaman setidaknya harus tersedia 13 menu agar pertumbuhannya normal. Ke-13 unsur tersebut adalah nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), sulfur atau belerang (S), klor (Cl), ferum atau besi (Fe), mangan (Mn), kuprum atau pembaga (Cu), zink atau seng (Zn), boron (B) dan molibdenum (Mo).
a)      Unsur N
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi lainnya ialah membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya. Nitrogen merupakan unsur mobil dalam tanaman, oleh karena itu gejala kekurangannya akan dimulai pada daun-daun yang lebih tua. Gejala berupa menguningnya daun, kadang-kadang disertai dengan berubahnya warna daun menjadi kemerahan akibat terbentuknya anthocyanin. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, dan bentuk daun tidak normal.
b)      Unsur P
Unsur P dalam tanaman mempunyai fungsi untuk memacu pembelahan sel dan pembentukan lemak serta albumin, merangsang pembentukan bunga, buah dan biji untuk meningkatkan kematangan tanaman dan mengurangi pengaruh kelebihan nitrogen, untuk merangsang perkembangan akar halus dan akar rambut, untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman dan untuk meningkatkan katahanan tanaman terhadap serangan penyakit. Gejala kekurangan unsur P dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat, lemah, tanaman kerdil, daun hijau gelap, pada daun yang tua menunjukkan becak (Purple pigmentation), berwarna kelam (hijau kebiruan), perkembangan akar terhambat, batang ramping dan hampir tanpa anakan. Unsur P larut dalam asam sitrat 2% terdapat sebagai ortofosfat dalam petiola dan stem daun dari jaringan tanaman yang aktif. Kelebihan unsur P dalam tanah dapat mengakibatkan gejala kekurangan unsur mikro, Fe dan Zn adalah unsur pertama yang terpengaruh. Bentuk ketersediaan P dalam tanah dimana H2PO4 dan HPO4 adalah bentuk anion tergantung pH. Kombinasi dengan Al, Fe dan Ca adalah bentuk yang dominan. P dilepaskan dalam larutan tanah bersama dekomposisi residu tanaman dan mikroorganisme.
c)      Unsur K
Fungsi utama Kalium (K) ialah membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium pun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Yang tidak bisa dilupakan ialah Kalium pun merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit. Selain itu, Kalium berfungsi untuk pengembangan sel dan pengaturan tekanan osmosis. Pengembangan sel disebabkan karena vakuola mengembang 80 - 90% dari volume sel. Hal ini disebabkan oleh dinding sel yang mengembang dan adanya akumulasi larutan yang berpengaruh secara internal terhadap tekanan osmosis. Menurut Tisdale (1985), kebanyakan tanaman yang kekurangan kalium memperlihatkan gejala lemahnya batang tanaman sehingga tanaman mudah roboh. Turgor tanaman berkurang sel menjadi lemah, dan tanaman menjadi kering, ujung daun berwarna coklat atau adanya noda-noda berwarna coklat (nekrosis). Kalau kekurangan kalium berlangsung terus, maka nekrosis ini menjadi jaringan yang kering dan mati, kemudian lepas dan daun menjadi berlubang. Kekurangan hara K menyebabkan produksi merosot, walaupun sering tidak menampakkan gejala difisiensi. Kejadian ini disebut lapar tersembunyi (hiden hunger). Kekurangan kalium menyebabkan kadar karbohidrat berkurang dan rasa manis buah-buahan sering berkurang. Fungsi Kalium selanjutnya yaitu mengendalikan proses fisiologis dan metabolisme sel serta meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak), proses penganggkutan hara, pernafasan dan fotosintesis terganggu yang pada akhirnya mengurangi produksi. Pada tanaman padi, sebagian hara K dari pupuk dapat digantikan oleh jerami padi yang dikembalikan sebagai pupuk organik. Kadar K dalam jerami umumnya sekitar 1% sehingga dalam 5 ton jerami terdapat sekitar 50 kg K setara (K ® K2O®KCl) dengan pemupukan 50 kg KCl/ha. Pengembalian jerami dalam bentuk segar maupun dikomposkan dilahan sawah harus digalakkan kembali, karena selain mengandung unsure K, jerami juga mengandung unsure hara lain seperti N, P, Ca, Mg dan unsur mikro, hormon pengatur tumbuh serta asam-asam organik yang sangat berguna bagi tanaman. Selain itu penambahan jerami dan bahan organik lain dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah yang secara tidak langsung dapat meningkatkan dan mengefesiensikan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Kalium berperan sebagai aktivator dari berbagai enzim esensial dalam reaksi-reaksi fotosintesis dan respirasi, serta untuk enzim yang terlibat dalam sintesis protein dan pati. Kalium juga merupakan ion yang berperan dalam mengatur potensi osmotik sel, dengan demikian juga akan berperan dalam mengatur tekanan turgor sel (Lakitan, 1993). Gejala defisiensi unsur K yaitu daun menguning, terdapat noda – noda jaringan mati di tengah – tengah lembaran atau sepanjang tepi daun. Pertumbuhan terhambat, batang kurang kuat sehingga mudah terpatahkan oleh angin.
pada tanah inceptisol kadar hara N tinggi sehingga diberikan rekomendasi yaitu untuk memberikan pupuk urea 200 kg/ha. Untuk kadar hara P tinggi sehingga diberikan rekomendasi yaitu 50 kg pupuk SP-36/ha. Untuk kadar hara K sedang sehingga diberikan rekomendasi yaitu untuk tanah berpasir : pupuk KCl 100 kg/ha dan berliat : pupuk KCl 50kg/ha + 5 ton jerami. Untuk pH tanah Agak masam (pH 5-6) diberikan rekomendasi yaitu sistem drainase konvensional dan diberi pupuk N dalam bentuk urea. Sedangkan Pada tanah sawah vertisol, Untuk kadar hara N rendah sehingga diberikan rekomendasi pupuk N 200 kg/ha. Untuk kadar hara P sangat sedang sehingga diberikan rekomendasi 75 kg SP-36/ha. Untuk kadar hara K sedang sehingga rekomendasi KCl 50 kg/ha dan KCl ditambah jerami 5 ton/ha. Untuk pH tanah netral (pH 6-7) diberikan rekomendasi yaitu sistem drainase konvensional dan diberi pupuk N dalam bentuk urea.
Pupuk urea adalah pupuk kimia yang mengandung nitrogen (N) berkadar tinggi. Pupuk urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2 CONH2, merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis) . Pupuk urea yang dijual di pasaran biasanya mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea mengandung 46 kg nitrogen.
Pupuk SP - 36 merupakan sumber hara fosfor bagi tanaman. Pupuk SP – 36 berbentuk butiran berwarna keabu - abuan. Unsur hara fosfor yang terdapat dalam pupuk SP-36 hampir seluruhnya larut dalam air. Pupuk ini tidak mudah menghisap air, sehingga dapat disimpan cukup lama dalam kondisi penyimpanan  yang baik. Sesuai dengan namanya (SP-36) kandungan hara fosfor dalam bentuk P2O5 pada pupuk ini yaitu sebesar 36%.
Pupuk NPK  merupakan jenis pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro nitrogen (N) , phospor (P) dan kalium (K). pupuk ini berbentuk butiran (prill) dengan bulatan besar berwarna merah bata. Pupuk ini termasuk pupuk yang tidak mudah menyerap air, sehingga tahan disimpan lama di dalam gudang. Kandungan nitrogen, phospor dan kalium pada pupuk NPK yang dijual di pasaran ini bervariasi. Perbandingan kandungan yang paling lazim dijual di pasaran yaitu :
1. 15 : 15 : 15
2. 15 : 15 : 6 : 4
3. 15 : 15 : 17 : 2
ket → perbandingan di atas dibaca nitrogen (%) : phospor (%) : kalium (%) : magnesium (%). Rekomendasi pemupukan sesuai PUTS untuk kedua jenis tanah awah inceptisol dan vertisol dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Nitrogen
Tingkat kesesuaian PUTS untuk N termasuk rendah (55%) dibandingkan unsur lain. Hal ini disebabkan unsur N mudah bergerak (mobile) dan berubah bentuk menjadi gas dan unsur lain serta hilang melalui penguapan (volatilisasi) dan pencucian (leaching). Oleh karena itu, dalam aplikasinya di lapangan, efisiensi pupuk N hanya sekitar 30- 40% dari jumlah pupuk yang diberikan. Rendahnya efisiensi pupuk N dapat diatasi dengan:
a.                                                                      Membagi pupuk (split application) menjadi 2-3 kali pemberian pada saat pertumbuhan tanaman optimal, yaitu setelah tanam, pembentukan anakan maksimal, dan  menjelang berbunga;
b.                                                                     Membenamkan urea ke dalam lapisan reduksi di dalam tanah (10-15 cm); penggunaan urea briket atau urea granul yang dibenamkan dapat meningkatkan efisiensi pupuk N hingga 20-30%;
c.       Menggunakan pupuk N yang dilapisi belerang atau silika (silica coated urea/SiCU)
d.      Menggunakan penghambat nitrifikasi dan urease inhibitor, seperti dicyandiamide.Dari keempat cara di atas, yang paling banyak diaplikasikan dan mudah diterapkan adalah cara pertama.
Untuk meningkatkan ketelitian rekomendasi N dengan PUTS dapat digunakan bagan warna daun (BWD) yang dikembangkan olehInternational Rice Research Institute (IRRI) dan Balai Penelitian Tanaman Padi. BWD digunakan untuk memantau kebutuhan N tanaman padi secara periodik selama masa pertumbuhannya.
2.      Fosfat
Fosfor di dalam tanah tidak mudah bergerak (immobile) dan sebagian besar terikat atau terfiksasi oleh oksida, mineral liat, dan bahan organik. Karena tidak mudah bergerak, keberadaan hara P mudah dideteksi di dalam tanah. Hal ini sesuai dengan hasil pengujian nilai kesesuaian pengekstrak P dengan PUTS yaitu 90%. Perangkat Uji Tanah Sawah V.01.16 Ketersediaan hara P di dalam tanah sangat rendah karena:
Ø      jumlah P-tanah sedikit,
Ø      sebagian besar P terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diambil tanaman
Ø      P terikat oleh Al dan Fe dalam bentuk Al-P dan Fe-P pada tanah masam serta dalam bentuk Ca-P pada tanah alkalin. Pada pH masam, P dalam tanah akan segera terikat oleh Fe dan Al sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Begitu pula bila P diberikan pada tanah alkalin akan diikat oleh Ca dan CaCO3 sebagai Ca-P yang tidak larut. Namun demikian, pada kondisi tanah sawah, pH tanah yang semula masam atau alkalin akan berubah menuju pH netral (6-7). Pada pH netral, bentuk P tanah terdapat dalam kondisi yang paling mudah diserap tanaman.
3.      Kalium
Cadangan K dalam tanah cukup banyak, namun hanya sebagian kecil yang tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman, yaitu yang terlarut dalam air serta K yang dapat dipertukarkan. Ion K tergolong unsur yang mudah bergerak sehingga mudah sekali hilang dari tanah melalui pencucian, karena K tidak ditahan dengan kuat di permukaan koloid tanah. Mengingat sifat K yang mudah hilang dari dalam tanah, maka efisiensinya rendah seperti halnya N, sehingga pemberian pupuk K perlu dibagi minimal dua kali. Sebagian besar K yang diserap tanaman padi berada dalam jerami (80%). Oleh karena itu, pengembalian jerami ke lahan sawah sama dengan memupuk K. Selain dari pupuk, sumber K untuk tanah sawah adalah air irigasi dan jerami.
4.      Kemasaman Tanah
Kemasaman atau pH tanah menunjukkan kadar H+ dan OH- dalam larutan tanah. Ketersediaan hara esensial bagi tanaman bergantung pada pH, di mana hara tanaman optimum pada kisaran pH 6-7. Tanah sawah pada umumnya mempunyai pH sekitar netral (6-7). Pada kondisi ini, ketersediaan semua unsur hara dalam kondisi optimal. Informasi tentang pH tanah sawah berguna dalam pemilihan jenis pupuk, pengelolaan tata air, dan mendeteksi peluang terjadinya keracunan suatu unsur mikro seperti Fe dan Mn pada tanah masam dan Na pada tanah alkalin. Reaksi tanah, yang dinyatakan dengan nilai pH, menunjukkan tingkat kemasaman tanah. Tanah sawah umumnya mempunyai pH tanah netral sekitar 6-7. Jika tanah mineral disawahkan (digenangi), maka pH tanah akan mengarah ke netral, atau dengan kata lain tanah awal yang mempunyai pH masam akan meningkat pH-nya menuju netral, sebaliknya tanah awal yang mempunyai pH alkalin akan turun menuju pH netral. Perubahan pH tanah menuju netral mempunyai manfaat terhadap tingkat ketersedian hara tanah. Pada tanah sawah ber-pH netral ketersediaan hara dalam kondisi optimal dan unsur hara tertentu yang dapat meracuni tanaman mengendap. Pada tanah masam, ketersediaan beberapa hara lebih rendah dari tanah netral, serta kemungkinan besar muncul keracunan besi (Fe++) pada pH tanah <4.5. Ciri tanah yang banyak mengandung besi umumnya pada permukaan air genangan terlapisi seperti karat/ minyak, berbau menyengat, dan pada daun padi terdapat bintik karat  Pada kondisi terjadi keracunan Fe, disarankan untuk menerapkan sistem drainase berselang (intermittent drainage) dengan tujuan untuk membuang larutan tanah yang mengandung besi (Fe) tinggi. Cara lain adalah dengan menambahkan bahan organik ke dalam tanah, dimana senyawa organik akan mengikat besi. Selanjutnya pada tanah basa atau alkalin, ketersediaan haranya juga rendah dan terdapat kemungkinan kelebihan Na. Salah satu metoda untuk mengurangi keracunan Na adalah melakukan pencucian tanah dengan air ber-pH netral. Ciri tanah yang kelebihan Na adalah pada permukaan tanah pada saat kering akan dilapisi kristal putih (garam), tanaman tumbuh tidak normal, akar tanaman berwarna kehitaman sehingga mengasilkan produksi gabah sangat rendah.





VI.        PENUTUP
A.     KESIMPULAN
1.      Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) adalah suatu alat untuk analisis kadar hara tanah secara langsung di lapang dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah.
2.      Pada tanah inceptisol kadar hara N tinggi, kadar hara P tinggi, kadar hara K sedang dan pH tanah Agak masam (pH 5-6).
3.      Pada tanah Vertisol kadar hara N rendah, kadar hara P sedang, kadar hara K sedang dan pH tanah netral (pH 6-7).
4.      Rekomendasi untuk tanah sawah inceptisol adalah pupuk urea 200 kg/ha, pupuk SP- 36 50 kg/ha. Dan pupuk KCl 50kg/ha + 5t jerami, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea.
5.       Rekomendasi untuk tanah sawah vertisol adalah pupuk urea 250 kg/ha, pupuk Sp-36 75 kg/ha, dan pupuk  KCl 50 kg/ha ditambah jerami 5 ton/ha, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea.

B.              SARAN
      Alat PUTS harus digunakan secara teliti, karena menentukan tindakan manajemen tanah sawah yang akan digunakan.


 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009 . http://www.tanindo.com/abdi12/hal2501.htm. Diakses tanggal 12  November 2011.

Anonim. 2010. Perangkat Uju Tanah Sawah. <.http//:soil-fertility@indo.net.id>. Diakses tanggal 12 November 2011.

Arafah dan M.P. Sirappa. 2003. Kajian penggunaan jerami dan pupuk N,P, dan K pada lahan sawah irigasi. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 4 : 15 – 24.

Maas, A. 2005. Ilmu Tanah dan Pupuk. APP, Yogyakarta.

Tisdale, S. L., W. L. Nelson & J. D. Beaton. 1985. Soil fertility and fertilizers. MacMillan Pub. Co, New York.

Welch, L.F., Johnson, O.E. Mc Kibben, L.V. Boone, dan J.W. Pendleton. 2004. Relative efficiency of broadcast versus banded potassium for corn. Agronomy Journal 58: 618 – 621.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...