"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

7 April 2012

KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM KOMUNIKASI SOSIAL

DOWNLOAD DI SINI FILE .DOC atau .PPT

Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau ‘common” dalam Bahasa Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan makna, “commonness”.  Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya. 
Ada lima unsur penting dalam komunikasi yang harus diperhatikan. Kelima unsur tersebut adalah: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (communication channel), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Pesan tersebut disampaikan melalui suatu media komunikasi, sehingga dapat diterima dengan baik oleh si penerima, dan menghasilkan umpan balik yang berguna bagi si pengirim pesan. Yang dimaksud media komunikasi di sini bukan hanya berupa percakapan secara langsung dengan menggunakan suatu bahasa yang dapat dimengerti, melainkan segala hal yang dapat membuat individu saling berinteraksi dan saling mengerti mengenai pesan apa yang akan disampaikan, sehingga tidak terjadi salah penafsiran mengenai isi dari pesan tersebut. Media komunikasi tersebut bisa juga berupa isyarat melalui gerakan tubuh, morse, maupun melalui alat bantu seperti surat, gambar, serta alat bantu visual lainnya.
Dalam tahap-tahap sosialisasi teknologi di bidang pertanian terdapat tiga aspek penting bagi penerimanya, yaitu: kognitif, afektif, dan konatif. Dalam teori adopsi inovasi yang dikembangkan oleh Everett M. Rogers dari 3 aspek tersebut memiliki 5 (lima) tahapan hasil komunikasi yaitu: knowledge (pengetahuan), persuation (persuasi), decision (keputusan), implementation (pelaksanaan), dan confirmation (konfirmasi). Sehingga jika dikaitkan dengan sosialisasi di bidang pertanian maka dapat dijelaskan bahwa, tahap pengetahuan terjadi saat seseorang menerima informasi tentang teknologi tersebut, berikutnya menentukan menyukai atau tidak menyukai teknologi tersebut (persuasi), selanjutnya akan memutuskan untuk menerima atau menolak (keputusan), tahap berikutnya jika menerima akan melaksanakannya (pelaksanaan), dan selanjutnya mengkonfirmasi informasi tersebut lebih lanjut (konfirmasi).
Proses yang dikemukakan Rogers tersebut membutuhkan waktu lama, seperti halnya proses penerimaan petani terhadap inovasi teknologi pertanian organik. Kendala utama dalam proses komunikasi ini adalah seringkali terdapat pemaknaan berbeda terhadap lambang yang sama. Komunikasi efektif menentukan keberhasilan sosialisasi tersebut bukan hanya karena diterima atau tidaknya inovasi, melainkan baik atau tidaknya proses sehingga pesan yang diterima petani tidak menyimpang dari yang disampaikan.
   
KOMUNIKASI EFEKTIF

Komunikasi yang Efektif
Efektivitas menurut Peter Salim dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keberhasilan, kemujaraban, pengaruh atau kesan. Efektivitas berarti taraf sejauh mana suatu kelompok mencapai tujuannya (Salim, 1991). Menurut Hasan Syadily dalam Ensiklopedi Indonesia, secara terminologi (harfiyah) efektivitas berarti taraf tercapainya suatu tujuan. Suatu usaha dikatakan efektif kalau usaha itu mencapai tujuannya. Jadi, jika seseorang melakukan kegiatan dengan tujuan tertentu, maka kegiatan orang tersebut dikatakan efektif apabila sasaran atau tujuan dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Dengan kata lain, sesuatu disebut efektif apabila proses kegiatan itu waktunya minimum, tenaga sedikit, hemat biaya, tetapi hasilnya sesuai dengan target.
Komunikasi yang efektif akan memberikan pemahaman bahwa proses komunikasi tidak hanya berupa penyampaian dan penerimaan komunikasi belaka, tetapi juga berfungsi sebagai proses pembangunan hubungan antar pelaku komunikasi. Kualitas hubungan ini sangat ditentukan oleh setidaknya tiga aspek, yaitu: proses, manusia, dan informasi. Dengan demikian komunikasi juga digunakan untuk mengembangkan hubungan antar teman dan membangun kepercayaan antar individu dan pertemanan seseorang dalam organisasi. Komunikasi yang efektif dalam konteks ini akan turut meningkatkan kualitas hidup manusia.

Indikator Komunikasi Efektif
Menurut Suranto AW (2006), ada beberapa indikator komunikasi efektif:
Pemahaman
Pemahaman ialah kemampuan memahami pesan secara cermat sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator. Tujuan dari komunikasi adalah terjadinya pengertian bersama, dan untuk sampai pada tujuan itu, maka baik komunikator maupun komunikan harus sama-sama saling mengerti fungsinya masing-masing. Dalam hal ini komunikasi dikatakan efektif bila komunikator mampu menyampaikan pesan sedangkan komunikan mampu menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Kesenangan.
Komunikasi efektif apabila proses komunikasi itu selain berhasil menyampaikan informasi, juga dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan ke dua belah pihak. Sebenarnya tujuan berkomunikasi tidaklah sekedar transaksi pesan, akan tetapi dimaksudkan pula untuk saling interaksi secara menyenangkan untuk memupuk hubungan insani.
Pengaruh pada sikap
Tujuan berkomunikasi adalah untuk mempengaruhi sikap. Jika dengan berkomunikasi kemudian terjadi perubahan perilaku, maka komunikasi yang terjadi adalah efektif, dan jika tidak ada perubahan pada sikap seseorang, maka komunikasi tersebut tidaklah efektif.
Hubungan yang makin baik
Proses komunikasi yang efektif secara tidak sengaja meningkatkan kadar hubungan interpersonal. Seringkali terjadi komunikasi yang dilakukan bukan untuk menyampaikan informasi atau mempengaruhi sikap semata, tetapi terdapat maksud implisit untuk membina hubungan baik. Jika orang telah memiliki persepsi yang sama, kemiripan karakter, dan kecocokan, dengan sendirinya hubungan akan terjalin dengan baik.

Hambatan-hambatan Komunikasi Efektif
Jenis-jenis hambatan dalam komunikasi antara lain: Fisik (hal menyangkut ruang fisik), Biologis (hambatan karena ketidaksempurnaan  anggota tubuh), Intelektual (hambatan yang berhubungan dengan kemampuan pengetahuan), Psikis (hambatan yang menyangkut faktor kejiwaan, emosional, tidak saling percaya, penilaian menghakimi), dan Kultural (Hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya, bahasa).
Menurut Leonard R.S. dan George Strauss yang dikutip oleh Yusrizal (2009), hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu:
Mendengar. Biasanya orang hanya mendengar apa yang ingin didengar. Banyak hal atau informasi yang ada di sekeliling, namun tidak semua didengar dan ditanggapi. Informasi yang menarik bagi seseorang, itulah yang ingin dia dengar.
Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang telah diketahui.
Menilai sumber. Orang cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika anak kecil yang memberikan informasi tentang suatu hal, orang cenderung mengabaikannya.
Perbedaan persepsi. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengartikan sebuah pesan. Komunikasi tidak akan berjalan efektif, jika persepsi pengirim pesan tidak sama dengan penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan konflik, diantara pengirim dan penerima pesan.
Sinyal nonverbal yang tidak konsisten.
Pengaruh emosi. Pada keadaan marah, seseorang akan kesulitan menerima informasi.
Gangguan. Gangguan ini bisa berupa suara yang bising pada saat berkomunikasi, jarak jauh, dan lain sebagainya.
Bila hambatan-hambatan dalam komunikasi telah diketahui maka dapat dicari cara untuk mengatasinya.

Hukum Komunikasi Efektif
Hukum dasar yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi dapat dirangkum dalam kata REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble).
Hukum pertama dalam berkomunikasi adalah Respect. Respect merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara. Sikap (attitude) menghormati dan menghargai lawan bicara harus dimiliki karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan orang tersebut. Samuel Johnson mengatakan bahwa ”There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY.”
Hukum kedua adalah Empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan seseorang untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Jadi sebelum membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, diperlukan pengertian dan empati terhadap calon penerima pesan. Sehingga nantinya pesan akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. Prinsip dasar dari hukum kedua ini adalah ”Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.” ”Seek first to understand then be understood to build the skills of emphatetic listening that inspires openness and trust.” (Stephen Covey).
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali orang yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan.
Hukum ketiga adalah Audible. Makna dari audible yaitu dapat didengarkan dan dimengerti dengan baik. Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:
Buat pesan menjadi mudah untuk dimengerti
Fokus pada informasi yang penting
Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut
Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan sekitar
Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul
Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup)
Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang disampaikan (Clarity). Pesan yang ingin disampaikan harus jelas sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi pesan tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan. Beberapa cara untuk menyiapkan pesan agar jelas yaitu:
  • Tentukan goal yang jelas
  • Luangkan waktu untuk mengorganisasikan ide
  • Penuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang akan dipakai
  • Buat pesan sedemikian rupa sehingga menjadi jelas, tepat dan meyakinkan
  • Pesan yang disampaikan harus fleksibel
Hukum kelima dalam komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati (Humble). Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan tidak menganggap diri sendiri penting ketika berbicara. Justru dengan kerendahan hatilah seseorang dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari penerima pesan.

Prinsip dan Teknik Berkomunikasi yang Efektif
Komunikasi efektif dapat berlangsung dengan baik apabila didukung oleh kepahaman tentang prinsip-prinsip serta teknik berkomunikasi secara efektif. Dalam hal ini ada dua prinsip dalam komunikasi efektif  yang antara lain dapat ditinjau dari penyampaian dan penerimaan pesan.
Pertama, prinsip berbicara efektif. Prinsip ini lebih menekankan pada bagaimana berbicara dapat mempengaruhi orang lain.  Artinya proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan secara verbal, sampai pada sasaran. Indikasinya adalah jelas artikulasinya, hamat kata-kata, bahasa yang mudah dimengerti, suara yang enak untuk didengar dan dirasakan.  Selanjutnya dapat dikatakan efektif apabila: menarik untuk didengar dan sasaran tercapai (instruktif, informative, ajakan atau himbauan, argumentatif dan klarifikatif). Teknik berbicara yang efektif dapat dilakukan sebagai berikut:
  • Menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai berbicara.
  • Mengatur volume bicara agar lebih keras dari biasanya. Caranya dengan mengatur, agar suara dapat didengar oleh jajaran orang yang duduk atau berdiri paling jauh dari tempat kita berbicara.
  • Menggunakan kata-kata sehari-hari, yang dikenal oleh pendengar. Orang akan tertarik pada pembicaraan yang menggunakan kata-kata yang akrab ditelinganya daripada kata-kata yang tidak dimengerti (misalnya istilah-istilah dalam bahasa asing). 
  • Layangkan pandangan ke seluruh pendengar.
Kedua, Mendengar dengan aktif. Ada ungkapan yang mengatakan kalau kita ingin didengar orang maka belajarlah menjadi pendengar yang baik. Tampaknya ungkapan ini sangat sesuai dengan bahasan ini. Mendengar adalah hal yang utama dalam berkomunikasi, mendengar dengan aktif berarti mendengar untuk mengerti apa yang dikatakan dibalik pesan. Ada beberapa tip untuk mendengar secara aktif yaitu:
Mendengar dengan aktif dengan menangkap ungkapan non verbal sebaik isyarat/petunjuk verbal. Artinya pada saat mendengarkan dengan aktif penerima akan mendapatkan umpan balik dengan menguraikan sendiri melalui kata-katanya tentang pesan yang disampaikan oleh pengirim, dan mengulang kembali dengan caranya sendiri.
Penerima pesan mengecek kembali, yaitu apa yang ada dibalik pesan yang diterimanya untuk mengerti pesan apa yang sesungguhnya diterima.
Gambaran perilaku, ini merupakan gambaran individual yang sangat spesifik, kegiatan pengamatan keapda orang lain tanpa membuat keputusan atau generalisasi tentang latar belakang, orangnya atau sifatnya.
Teknik mendengar efektif dapat membantu dan memastikan para komunikator mempunyai informasi yang akurat. Memastikan bahwa kualitas informasi yang baik tidak hanya merupakan tantangan dalam komunikasi. Keduanya baik pengirim maupun penerima ingin memastikan bahwa mereka mempunyai kualitas ketepatan dari informasi yang benar.
Brownell menyatakan bahwa efektivitas mendengarkan dapat dimengerti melalui indicator perilaku bahwa sesorang merasa berhubungan dengan mendengarkan secara efektif, sebagaimana orang-orang merasa berhubungan dengan mendengarkan efektif dalam enam unsur yang dikenal dengan HURIER (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and Responding.

Gaya Komunikasi yang Efektif
Aspek penting gaya komunikasi yang efektif ialah adanya landasan kesamaan. Sebagaimana dikemukakan Parwiyanto (2009) bahwa gaya komunikasi yang ideal adalah The equalitarian style of communication, yaitu ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication).
Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka.  Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal.  Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja.  The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks.  Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan share (berbagi informasi) di antara para anggota dalam suatu organisasi.


DAFTAR PUSTAKA

Greenber, J., and Robert A Baron. 1995. Behavior In Organization, understanding and Managing The Human Side of Work, Fifth edition. Prentice Hall International Edition.
Parwiyanto, Herwan. 2009. Kajian Komunikasi dalam Organisasi. . Diakses 11 Maret 2012.
Suranto, A. W. 2006. Komunikasi Efektif Untuk Mendukung Kinerja Perkantoran. . Diakses 18 Maret 2012.
Yusrizal. 2009. Hambatan-hambatan dalam Berkomunikasi. . Diakses 11 Maret 2012.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...