"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

20 Maret 2011

PENGAMATAN CUACA MIKRO


-->
I.               PENDAHULUAN

a.     Latar Belakang
Hampir semua jenis tanaman pertanian ditanam pada lapangan terbuka, sehingga mereka akan menerima pengaruh-pengaruh alamiah yang ada di sekitarnya, baik tanah, iklim, maupun faktor lainnya. Telah diketahui bersama bahwa tanaman tidak mungkin pindah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih cocok.
Seseorang akan berusaha untuk menanam suatu jenis tanaman di tempat-tempat yang iklimnya dianggap paling cocok (tahap penyesuaian). Namun karena mengingat makin meningkatnya kebutuhan orang akan hasil tanaman, tempat-tempat yang paling cocok untuk suatu jenis tanaman akhirnya tidak lagi memadai untuk mencakup kebutuhan. Akibatnya orang akan berusaha untuk menanam tanaman-tanaman yang dibutuhkan di tempat-tempat yang iklimnya kurang sesuai. Agar usaha ini dapat mencapai sasaran, maka diadakan modifikasi iklim untuk mendekati kebutuhan iklim tanaman yang optimal. Modifikasi ini ditujukan tehadap iklim mikro yang merupakan bagian lingkungan yang sangat erat hubungannya dengan tempat hidup tanaman. Iklim mikro adalah iklim di dekat permukaan tanah yang secara vertikal sampai ± 2 meter. Karena anasir iklim berhubungan erat satu dengan lainnya, maka usaha memodifikasi satu unsur pasti akan mempengaruhi unsur lainnya (Wisnusubroto, 1981).

b.     Tujuan
1.     Mengenal cara-cara mengukur anasir cuaca mikro.
2.     Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap cuaca mikro.
3.     Mengetahui cuaca mikro pada berbagai ekosistem.










II.             TINJAUAN PUSTAKA
Iklim mikro merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas, tetapi komponen iklim ini penting artinya bagi kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia, karena kondisi udara pada skala mikro ini yang akan berkontak langsung dan mempengaruhi secara langsung makhluk hidup tersebut. Keadaan unsur-unsur iklim ini akan mempengaruhi tingkah laku dan metabolisme yang berlangsung pada tubuh makhluk hidup, sebaliknya keberadaan makhluk tersebut (terutama tumbuhan) akan pula mempengaruhi keadaan iklim mikro di sekitarnya. Antara makhluk hidup dan udara di sekitarnya akan terjadi saling mempengaruhi satu sama lain (Oktavia, 2009).
Kondisi iklim mikro bergantung pada beberapa faktor seperti suhu, kelembaban udara, angin, penguapan, dll. Tipe tanah yang ada juga mempengaruhi iklim mikro. Karakteristik permukaan tanah juga penting, tanah dengan warna yang lebih terang lebih memantulkan dan kurang merespon terhadap pemanasan harian. Hal lain yang berpengaruh terhadap iklim mikro adalah kemampuan tanah untuk menyerap atau mempertahankan uap air, yang bergantung pada komposisi tanah dan penggunaannya. Keberadaan vegetasi juga berperan penting untuk mengontrol penguapan air ke udara melalui proses transpirasi. Vegetasi atau tumbuhan bisa juga menutupi tanah di bawahnya dan mempengaruhi perbedaan suhu (Anonim, 2010). Tanaman atau vegetasi secara langsung memberikan pengaruh kepada kondisi iklim mikro yang ada melalui modifikasi radiasi matahari dan suhu tanah. Keberadaan tanaman juga mempengaruhi tingkat evapotranspirasi (Villegas et al., 2010).
Memodifikasi iklim mikro di sekitar tanaman  terutama tanaman hortikultura merupakan  suatu usaha yang telah banyak dilakukan agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kelembaban udara dan  tanah, suhu udara dan tanah merupakan komponen iklim mikro yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan masing-masing berkaitan mewujudkan keadaan lingkungan optimal bagi tanaman (Noorhadi, et al., 2003).
Radiasi dan lama penyinaran matahari merupakan anasir yang terpenting dalam kajian iklim mikro. Jumlah radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi tergantung antara lain kepada konstante matahari dan keadaan atmosfer, sedangkan lama penyinaran matahari yang ditentukan oleh keadaan atmosfer sangat berperan dalam menentukan jumlah radiasi matahari yang sampai permukaan bumi. Ditinjau dari kebutuhan terhadap lama penyinaran matahari, tanaman digolongkan menjadi (Garner dan Alland, 1920 cit. Wisnubroto, 1981):
1.   Tanaman hari panjang yang memerlukan lama penyinarn lebih dari 14 jam,
2.   Tanaman hari pendek, memerlukan lama penyinaran kurang dari 10 jam,
3.   Tanaman hari netral, lama penyinaran antara 10-18 jam, dan
4.   Tanaman intermedier memerlukan lama penynaran selama 12-14 jam.
Selain itu, temperatur juga memiliki peran yang sangat penting dalam kajian ini. Temperatur merupakan ukuran kualitas panas atau gatra intensitas energi panas. Unsur ini mudah sekali diukur dan seringkali menjadi faktor pembatas agihan tanaman. Dalam proses fisiologi tanaman ada temperatur terendah dimana aktivitas mulai berjalan, temperatur optimum dimana aktivitas mencapai nisbah tertinggi dan temperatur maksimum dimana aktivitas-aktivitas berhenti. Tiga macam temperatur tersebut dapat disebut sebagai titik kardinal yang variasinya tergantung dengan umur, atau stadia perkembangan tanaman dan tergantung pada jenis tanamannya (Wisnubroto, 1981).
Anasir iklim yang juga mengendalikan iklim mikro adalah kelembaban udara. Kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. Uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting jika ditinjau dari segi cuaca dan iklim. Sebagian gas-gas yang menyusun atmosfer yang dekat dengan permukaan laut relatif konstan dari satu tempat ke tempat yang lain, sedangkan uap air merupakan bagian yang tidak konstan, bervariasi antara 0% sampai 5% . Adanya variabilitas kandungan uap air ini dalam udara baik berdasarkan tempat maupun waktu penting karena (Wisnubroto et al., 1983):
1.   Besarnya jumlah uap air dalam udara merupakan indikator kapasitas potensial   atmosfer tentang terjadinya presipitasi,
2.   Uap air mempunyai sifat menyerap radiasi bumi sehingga ia akan menentukan  cepatnya kehilangan panas dari bumi dan dengan sendirinya juga akan mengatur temperatur, dan
3.   Makin besar jumlah air dalam udara makin besar jumlah energi potensial yang laten tersedia dalam atmosfer dan merupakan sumber terjadinya hujan angin (storm), sehingga dapat menentukan apakah udara itu kekal atau tidak.

                                               


III. METODOLOGI
Pengamatan iklim mikro pada acara 2 ini dilaksanakan pada hari Jum’at 26 November 2010 di lembah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dimulai pukul 14.00 WIB yang dilakukan di dua daerah yang berbeda yaitu daerah berkanopi dan daerah tanpa kanopi. Daerah yang berkanopi di dalammya meliputi vegetasi : pohon jati, sengon, bambu, pinus, lamtoro, dan rumput. Sedangkan pada daerah yang tanpa kanopi di dalamnya hanya terdapat vegetasi rumput saja.
Alat-alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah termometer untuk mengukur suhu udara, termohigrometer untuk mengukur kelembaban nisbi udara, foot candles untuk mengukur intensitas cahaya, digital anemometer untuk mengukur kecepatan angin, sedangkan data suhu  tanah telah tersedi, serta statif untuk menggantung thermometer. Dua tempat yang memiliki keadaan yang berbeda yaitu daerah yang berkanopi dan daerah tanpa kanopi dipilih untuk mengadaakan percobaan pengamatan cuaca makro kali ini. Kemudian statif ditancapkan ke tanah dan dipasang dengan termometer pada aras 25 cm, 75 cm, dan 150 cm dari permukaan tanah. Pengamatan diukur setiap 10 menit sehingga mencapai 5 kali pengamatan.Stick termometer ditancapkan di tanah pada jeluk 0 cm, 20 cm, dan 40 cm dari permukan tanah. Pengamatan dilakukan pada setiap jeluk pada setiap pengambilan data setiap 10 menit sekali 10 menit pertama dilakukan pada jeluk 0cm, setelah itu dimasukkan hingga mencapai jeluk 20 cm, setelah sepuluh menit dicatat lagi hasilnya pada tebel pengamatan. Kemudian stick termometer dimasukkan lagi pada jeluk 40 cm, setelah sepuluh menit dicatat hasil pengamatannya pada tebel pengamatan. Pengamatan dengan stick anemometer dilakukan bersamaan dengan alat lainnya sebanyak 3 kali pengamatan.Pada waktu yang bersamaan digital anemometer disiapakan lima menit sebelum waktu ditentukan. Setelah memasuki waktu yang ditentukan yaitu bersama-sama dengan waktu yang lainnya dimulai, digital anemometer diangkat ke atas agar tidak terhalang dengan penghalang. Pada pengukuran intensitas cahaya digunakan foot candles. Alat ini memiliki tiga skala dengan tombol pengatur di sebelah kanannya. Mula-mula diatur pada skala yang paling rendah dengan posisi tombol pengatur ada di paling bawah, apabila jarum penunjuk melebihi batas skala maka tombol dinaikkan dan pembacaan skala berubah dengan membaca skala di atas skala yang sebelummya dibaca. Begitu seterusnya. Sensor cahaya berada di atas foot candles jika sudah tidak digunakan maka ditutup kembali agar terlindung dari sinar matahari sehingga tidak terjadi pengukuran intensitas cahaya.



IV. HASIL PENGAMATAN

Pengamatan Iklim Mikro
Hari, tanggal      : Jumat, 26 November 2010
Golongan            : B5
Kelompok            : III
Waktu : 15.00 – 16.20
Cuaca : Mendung
PARAMETER
NO
TITIK WAKTU PENGAMATAN
ARAS / JELUK PENGAMATAN
STRATA
KANOPI
TANPA KANOPI







SUHU UDARA
1
10’
25 cm
31
34
75 cm
31
33
150 cm
31
35
2
20’
25 cm
30
34
75 cm
30
33
150 cm
30
34
3
30’
25 cm
30
34
75 cm
30,5
33
150 cm
30
34,5
4
40’
25 cm
30,5
33
75 cm
30,5
33
150 cm
30
34
5
50’
25 cm
30
33
75 cm
30
33
150 cm
30
34





KELEMBABAN NISBI UDARA
1
10’
25 cm
47
45
75 cm
47
44
150 cm
46
45
2
20’
25 cm
39
42
75 cm
39
40
150 cm
40
38
3
30’
25 cm
46
49
75 cm
46
46
150 cm
46
46
4
40’
25 cm
41
43
75 cm
41
41
150 cm
42
41
5
50’
25 cm
47
47
75 cm
47
46
150 cm
47
45








SUHU TANAH
1
10’
0 cm
31
31,75
20 cm
28
30
40 cm
27
29,5
2
20’
0 cm
31
31
20 cm
28
30
40 cm
27
29,8
3
30’
0 cm
29,8
31
20 cm
28
30,5
40 cm
27
29
4
40’
0 cm
29,5
30
20 cm
28
30
40 cm
26
29
5
50’
0 cm
28
30
20 cm
26
30
40 cm
25,5
29


KECEPATAN ANGIN
1
10’

1,3
1,6
2
20’

2,0
2,2
3
30’

3,3
2,2
4
40’

3,1
3,4
5
50’

4,8
3,5

INTENSITAS PENYINARAN
1
10’

18
80
2
20’

18
100
3
30’

16
100
4
40’

16
130
5
50’

17
140

V. PEMBAHASAN
1.     Suhu Udara
Pada aras 25 cm di atas permukaan tanah dapat diamati bahwa terdapat perbedaan suhu antara tempat yang berkanopi dengan tempat yang tidak berkanopi. Pada grafik di atas terlihat bahwa daerah yang berkanopi memiliki suhu udara yang lebih rendah di bandingkan dengan daerah tidak kanopi. Tinggi rendahnya suhu udara dalam hal ini erat kaitannya dengan pengaruh besarnya radiasi  yang sampai ke permukaan tanah. Daerah berkanopi memiliki suhu udara lebih rendah dari daerah tidak berkanopi disebabkan oleh sinar matahari yang menghantarkan panas melalui radiasi pada daerah bekanopi tertahan oleh kanopi - kanopi pohon sehingga sinar radiasi matahari tidak datang secara langsung untuk mencapai ketinggian 25 cm di atas permukaan tanah, berbeda dengan daerah tidak berkanopi, radiasi matahari datang secara langsung tanpa tertahan oleh kanopi sehingga memiliki suhu lebih tinggi.
Pada daerah yang tidak berkanopi, pengamatan 30 menit pertama menunjukkan kestabilan suhu udara, kemudian pada 20 menit selanjutnya terjadi penurunan suhu udara. Penurunan suhu udara untuk daerah tidak berkanopi pada menit-menit akhir diakibatkan intensitas cahaya matahari semakin berkurang seiring bergesernya sudut penyinaran matahari. Hal ini berbeda dengan daerah berkanopi yang suhu udaranya lebih berfluktuasi teratur dalam tiap waktunya, meskipun pada menit ke-40 mengalami peningkatan yang dimungkinkan akibat adanya turbulensi sehingga mengakibatkan kenaikan suhu.
Pada aras ketinggian 75 cm di atas permukaan tanah dapat diamati bahwa terdapat perbedaan suhu udara antara tempat yang berkanopi dengan yang tidak berkanopi. Grafik di atas menunjukkan bahwa suhu udara di daerah tidak berkanopi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang berkanopi. Hal ini disebabkan karena pertukaran udara yang memiliki suhu udara yang panas dan dingin pada daerah yang berkanopi berlangsung sangat lambat karena udara panas yang diterimanya tidak dapat secara bebas berpindah akibat terhambat oleh kanopi sehingga suhu udaranya berfluktuasi lebih banyak dibandingkan daerah yang tidak berkanopi. Pada 10 menit ke-3 suhu udara naik setelah turun pada 10 menit ke-2. Hal ini disebabkan angin berubah-ubah kecepatannya pada daerah berkanopi sehingga mempengaruhi fluktuasi suhu udara. Hal ini berbeda dengan suhu udara pada daerah tidak berkanopi yang cenderung tetap karena berada di tempat terbuka sehingga intensitas radiasi matahari mempengaruhi suhu udara.

Pada ketinggian 150 cm di atas permukaan tanah dapat diamati bahwa terdapat perbedaan suhu udara antara tempat yang berkanopi dengan yang tidak berkanopi. Perbedaan yang dapat diamati dari suhu udara pada daerah berkanopi dan tidak berkanopi adalah pada daerah yang memiliki kanopi perubahan suhu udara cenderung lebih konstan, sedangkan daerah yang tidak memiliki kanopi terlihat bahwa perubahan suhu yang terjadi tidak stabil. Pada 10 menit ke-3 suhu daerah yang tidak berkanopi meningkat. Hal ini disebabkan oleh faktor mekanisme udara pada daerah yang tidak berkanopi terpengaruh secara langsung oleh radiasi sinar matahari yang datang sehingga dimungkinkan ketika pengamatan tidak ada penghalang bagi sinar matahari seperti awan yang menjadikan suhu udara naik.
Pengamatan yang dilakukan pada daerah yang tidak berkanopi terlihat bahwa data yang dihasilkan yaitu suhu udaranya tinggi (panas) dan cenderung mengalami perubahan - perubahan yang fluktuatif. Hal ini terjadi karena pada daerah tidak berkanopi anasir-anasir iklim mikro, terutama radiasi matahari, memberikan pengaruhnya secara langsung pada suhu udara. Pada aras 75 cm dari data yang diperoleh memiliki suhu terendah dan terlihat konstan, kemudian diikuti dengan 25 cm dan 150 cm. Pada aras 25 cm, rerata suhu udara lebih tinggi dari aras 75 cm. Jika disesuaikan dengan besarnya peluang insolasi, ketinggian aras akan sejalan dengan kenaikan suhu udara. Meskipun arasnya lebih rendah, lebih tingginya suhu udara pada aras 25 cm ini bisa diakibatkan adanya turbulensi udara oleh permukaan tanah yang menyebabkan suhu udara menjadi lebih tinggi. Pada aras 75 cm, suhu udara konstan yang bisa diakibatkan mekanisme udara pada aras ini lebih stabil. Pada aras 150 cm suhu udara paling tinggi karena dipengaruhi altitude paling atas sehingga radiasi matahari banyak tertangkap. Pada aras ini 10 menit ke-2 dan ke-4 mengalami penurunan suhu, hal ini dimungkinkan karena hari semakin sore sehingga radiasi mulai menurun. Begitu juga pada 10 menit ke-3 pada aras 25 cm.
Pengamatan yang dilakukan pada daerah yang berkanopi terlihat bahwa terdapat perbedaan suhu udara pada tiap-tiap tinggi dari permukaan tanah yang diukur dan cenderung fluktuatif seperti pada aras 25 cm dan 75 cm. Pada grafik di atas terlihat bahwa suhu udara pada berbagai aras terjadi penurunan setelah 10 menit pertama. Daerah berkanopi dilindungi atau ditutupi oleh lebatnya dedauan yang menghambat radiasi matahari sehingga menjadikan suhu udaranya lebih rendah dari daerah tidak berkanopi. Pada aras 25 cm, fluktuasi suhu udara naik turun. Hal ini bisa diakibatkan oleh turbulensi udara di permukaan tanah yang mengakibatkan suhu udara tidak teratur. Pada aras 75 cm, memiliki rerata suhu udara paling tinggi. Hal ini bisa diakibatkan oleh keteraturan fluktuasi udara pada aras ini sehingga suhu udaranya paling stabil. Berbeda halnya dengan aras 150 cm yang memiliki rerata suhu udara paling rendah, meskipun altitudenya paling tinggi. Suhu udara yang rendah pada aras ini bisa diakibatkan karena aliran udara terhambat dedaunan sehingga gerakannya lambat.
Dalam hubungannya dengan parameter lain, tinggi rendahnya suhu udara akan mempengaruhi suhu tanah dan kelembaban nisbi. Selain itu, suhu tanah, suhu udara dan kelembaban nisbi dipengaruhi oleh adanya angin dan intensitas penyinaran. Sehingga, bila suhu udara tinggi, maka suhu tanah pun semakin tinggi dan kelemmbaban nisbi semakin rendah. Bila intensitas penyinaran makin tinggi, maka suhu udara dan suhu tanahpun semakin tinggi dan menjadikan kelembaban nisbi udara rendah. Kemudian, semakin tinggi kecepatan angin, maka semakin rendah suhu udara dan suhu tanah, sedangkan keembaban nisbi udara semakin tinggi.
2.     Kelembaban Nisbi Udara
Pada grafik kelembaban nisbi udara 25 cm, perbedaan rerata kelembaban nisbi udara antara daerah yang berkanopi dan tidak berkanopi tidak terlalu tinggi. Dimana perbedaan reratanya hanya 1,2 % antar kedua strata. Pada aras ini, daerah berkanopi seharusnya memiliki kelembaban nisbi udara lebih tinggi karena rerata suhunya lebih rendah dari daerah tak berkanopi. Hal ini bisa terjadi dimungkinkan karena banyaknya penguapan pada daerah tak berkanopi akibat terkena radiasi matahari langsung sehingga menyebabkan kelembaban udaranya lebih tinggi. Pada 10 menit ke-2 dan selanjutnya di kedua daerah terjadi penurunan dan kenaikan suhu. Ketidakstabilan ini dimungkinkan akibat adanya pergerakan angin yang tidak teratur sehingga mempengaruhi fluktuasi uap air di udara.
Pada grafik kelembaban nisbi udara 75 cm, perbedaan kelembaban antara daerah yang berkanopi dan tidak berkanopi tidak terlalu tinggi. Dimana perbedaan tertinggi hanya 3 % antar kedua strata. Seperti halnya pada aras 25 cm, pola fluktuasi tingkat kelembaban udara antara daerah berkanopi dan tidak berkanopi cenderung sama. Daerah berkanopi kelembaban nisbi udaranya lebih besar dari daerah tak berkanopi sebagai akibat dari sinar matahari yang tidak langsung mengenai tanah sehingga suhu udara turun karena kapasitas udaranya juga turun. Pola naik turunnya kelembaban udara pada 10 menit ke-2 dan ke-4 ini dimungkinkan akibat adanya hembusan angin sehingga kandungan uap air pada udara juga ikut berubah seperti pada aras 25 cm.


Pada grafik kelembaban nisbi udara 150 cm, perbedaan rerata kelembaban antara daerah yang berkanopi dan tidak berkanopi tidak terlalu tinggi. Dimana perbedaan reratanya hanya 1,2 % antar kedua strata. Fluktuasi pada kandungan uap air  pada tiap aras cenderung naik turun seperti saat 10 menit ke-2 dan ke-4. Pada hal ini, daerah berkanopi memiliki tingkat kelebahan udara nisbi lebih tinggi daripada daerah tak berkanopi. Hal ini disebabkan karena vegetasi di sekitar lingkungan yang berkanopi cukup banyak mengandung uap air dan sinar matahari sukar mencapai daerah yang berkanopi sehingga memperkecil penguapan
Pada daerah tidak berkanopi, aras 25 cm memiliki kelembaban nisbi udara paling tinggi, kemudian aras 75 cm dan 150 cm. Aras 25 cm memiliki kelembaban tinggi disebabkan dekat dengan permukaan tanah sehingga banyak mengandung uap air oleh evapotraspirasi dari tanah dan rerumputan. Pada aras 75 cm dan 150 cm suhu udara bertambah tinggi sehingga kelembaban udara nisbinya semakin berkurang. Pada ketiga aras, kelembaban mengalami ketidakteraturan kelembaban seperti penurunan pada 10 menit ke-2 dan ke-4. Adanya angin dimungkinkan sedang bergerak tidak teratur sehingga mempengaruhi adanya uap air di udara.
Pengamatan pada daerah berkanopi terhadap kelembaban nisbi udara terlihat bahwa kelembaban udara mencapai angka yang tidak berbeda jauh pada berbagai aras. Fluktuasi kelembaban cenderung naik turun pada semua aras. Pada daerah berkanopi ini besar kelembaban nisbi udara rata-rata hampir sama karena terlindung oleh kanopi dari sinar matahari sehingga lebih stabil. Iklim mikro mempengaruhi adanya selimut udara diatas kanopi yang menjadikan pergerakan udara dibawah kanopi tidak stabil karena terperangkap. Hal ini menjadikan angin bergerak tidak teratur sehingga mempengaruhi perubahan kelembaban seperti terlihat pada 10 menit ke-2 dan ke-4.









3.     Suhu Tanah
Dari grafik suhu tanah jeluk 0 cm di atas dapat diamati bahwa daerah tidak berkanopi memiliki suhu tanah yang lebih tinggi daripada daerah tidak berkanopi. Daerah tidak berkanopi memiliki suhu tanah lebih tinggi karena berada di tempat terbuka sehingga radiasi matahari langsung mengenai permukaan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa suhu tanah dipengaruhi oleh faktor luar yang salah satunya yaitu radiasi matahari. Pada daerah berkanopi bersuhu lebih rendah lebih disebabkan karena memiliki kadar lengas lebih tinggi dari daerah terbuka sehingga suhunya lebih rendah. Dari 10 menit ke-2 hingga selanjutnya di kedua daerah mengalami penurunan suhu. Hal ini dapat dikarenakan pada awal pengukuran termometer belum sepenuhnya terpengaruh suhu tanah atau masih terpengaruh suhu udara dan semakin lamanya menjadikan suhu pada termometer semakin turun karena pengaruh dari suhu tanah.

Pada jeluk 20 cm, seperti halnya pada jeluk 0 cm, dapat diamati bahwa suhu tanah lebih tinggi pada daerah yang tidak berkanopi. Pada daerah tidak berkanopi, fluktuasi suhu cenderung stabil selama 50 menit pengamatan. Hal ini dikarenakan faktor yang mempengaruhi seperti suhu udara dan radiasi cenderung tetap. Sedangkan pada daerah berkanopi, suhu tanah mengalami penurunan pada menit ke-10 terakhir yang dimungkinkan terjadi sebab tanah semakin dingin oleh suhu udara yang menurun di sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa suhu tanah pada daerah berkanopi cenderung tidak stabil.
Pada grafik suhu tanah jeluk 40 cm, perbedaan suhu yang tertinggi antara daerah berkanopi dan tidak berkanopi terjadi pada akhir pengamatan sekitar 3,50 C. Suhu tanah daerah berkanopi mula-mula konstan kemudian turun secara tajam seperti terlihat saat 10 menit keempat dan kelima. Penurunan ini karena suhu tanah yang semakin menurun seperti halnya pada aras 25 0C. Sementara itu untuk daerah yang tidak berkanopi cenderung stabil pada 290 C. Hal ini dipengaruhi oleh radiasi matahari yang diterima, jumlah vegetasi yang tumbuh, struktur tanah, kadar air, dan kemiringan tanah. Semakin rimbun vegetasinya, semakin banyak kandungan airnya.
Pada daerah tidak berkanopi, fluktuasi suhu tanah pada ketiga jeluk cenderung tidak stabil. Pada jeluk 0 cm memiliki suhu rerata paling tinggi. Hal ini disebabkan pengaruh radiasi paling besar terdapat pada jeluk ini yang menyebabkan suhunya tinggi. Pada jeluk 20 cm dan 40 cm suhu udaranya lebih rendah. Hal ini disebabkan pengaruh radiasi matahari semakin kecil dan kandungan lengas tanah semakin banyak. Pada jeluk 40 cm, pada 30 menit terakhir suhunya konstan. Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman mempengaruhi sedikitnya tingkat keterolahan serta tinggi kepadatan tanah sehingga suhu lebih stabil dibanding jeluk yang mudah terolah diatasnya.
Pada daerah berkanopi, seperti halnya pada daerah tidak berkanopi yaitu semakin dalam jeluk semakin rendah suhu tanah. Fluktuasi suhu tanah yang tidak sama kestabilannya ini bisa disebabkan akibat pengambilan sampel untuk memasukkan stick termometer berbeda sehinga dimungkinkan tekstur tanah juga berbeda. Secara rata-rata, suhu tanah daerah berkanopi lebih rendah dari daerah berkanopi. Fungsi dari kanopi adalah supaya panas dari radiasi matahari sukar untuk dibebaskan karena bentuknya yang melebar tersebut dapat menahan panas matahari yang telah diterima. Mulai 10 menit ke- 2 jeluk 0 cm dan 10 menit ke-3 pada jeluk 20 cm dan 40 cm terjadi penurunan suhu tanah. Hal ini diakibatkan interaksi termometer dengan tanah semakin besar sehingga pengaruh dari udara luar mulai menurun yang berakibat pada penurunan suhu.
Pada faktor eksternal, intensitas penyinaran atau radiasi matahari sangat berpengaruh pada pengukuran suhu tanah tersebut. Selain itu, kelembaban dan juga curah hujan juga mempengaruhi suhu tanah. Pada faktor internal, tekstur tanah, kadar air tanah, dan juga kepadatan pada tanah juga mempengaruhi besarnya suhu tanah. Tanah yang semakin padat, kandungan airnya relatif banyak dan membuat suhu tanah rendah. Suhu tanah pada daerah yang berkanopi relatif lebih stabil daripada suhu tanah pada daerah yang tidak berkanopi, karena intensitas penyinaran yang juga fluktuatif. Hal ini sesuai dengan teori, karena selain faktor eksternal, faktor internal juga mempengaruhi besarnya suhu tanah.


4.     Kecepatan Angin
Pengamatan terhadap kecepatan angin pada strata berkanopi dan tidak berkanopi dapat diamati bahwa kecepatan angin pada daerah yang berkanopi memiliki rata-rata kecepatan angin lebih tinggi dari kecepatan angin rata-rata strata tidak berkanopi. Fluktuasi kecepatan angin pada kedua daerah terdapat perbedaan yaitu lebih stabil pada daerah tidak berkanopi. Hal ini cenderung bertentangan dengan teori yang menjelaskan bahwa adanya kanopi pepohonan merupakan salah satu modifikasi anasir angin yang ditujukan untuk memecah angin sehingga mampu mengurangi kecepatan angin. Kecenderungan ini bisa diakibatkan ketinggian pengamatan pada daerah tidak berkanopi cukup dekat dengan permukaan tanah sehingga kecepatan angin yang bergerak masih lamban. Semakin lama pengukuran, kecepatan angin semakin tinggi pada kedua daerah. Hal ini karena radiasi matahari mulai menurun sehingga suhu udara menurun juga yang mempengaruhi kecepatan angin bertambah.







5.     Intensitas Penyinaran
Pengamatan terhadap intensitas penyinaran pada strata berkanopi dan tidak berkanopi dapat diketahui bahwa pada daerah tidak berkanopi intensitas penyinarannya lebih tinggi daripada pada daerah berkanopi. Hal ini disebabkan karena kanopi (penutup tajuk tanaman), hanya dapat meneruskan 5-10 % sinar datang. Pada daerah tidak berkanopi, tidak terdapat tanaman tahunan yang dapat menghalangi sinar datang, sehingga intensitas penyinarannya lebih tinggi. Sedangkan di daerah berkanopi terdapat tanaman tahunan yang menghalangi sinar datang, sehingga intensitas penyinarannya rendah karena sinar yang didapat tidak secara langsung. Dapat diamati pula bahwa pada daerah berkanopi, intensitas penyinarannya lebih konstan karena kanopi yang menghalangi sinar juga sama. Sedangkan pada daerah tidak berkanopi sinar matahari secara langsung sehingga fluktuasinya berubah-ubah.








VI. KESIMPULAN

1.     Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim mikro adalah keadaan vegetasi, bentuk relief tanah, sifat tanah dan jenis tanah.
2.     Pada bagian tanah yang berkanopi rata-rata suhu udara dan suhu tanahnya lebih rendah. Selain itu, tingkat kelembabannya juga tinggi dan memiliki intensitas penyinaran yang lebih rendah.
3.     Pada bagian tanah yang tidak berkanopi, rata-rata suhu udara dan suhu tanahnya lebih tinggi. Kelembaban udaranya juga rendah namun memilikitingkat intensitas penyinaran yang lebih tinggi.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Microclimate.  < http://www.britannica. com/EBchecked/topic/380278/ microclimate >. Diakses tanggal 29 November 2010.
Villegasa, J.C., David D.B., Chris B.Z. and Patrick D.R. 2010. Seasonally Pulsed Heterogeneity in Microclimate: Phenology and Cover Effects along Deciduous Grassland–Forest Continuum. Vadose Zone Journal 9 (3) : 537-547.
Noorhadi dan Sudadi. 2003. Kajian pemberian air dan mulsa  terhadap iklim mikro pada tanaman cabai  di tanah entisol. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 4 (1) : 41-49.
Oktavia. 2009. Iklim Makro dan Mikro. <http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/02/ iklim-makro-dan-iklim-mikro.html>. Diakses tanggal 29 November 2010.
Wisnubroto, S. 1981. Modifikasi Unsur Iklim Untuk Mendekati Persyaratan Optimal Bagi Tanaman. Fakultas Pertanian. UGM, Yogyakarta.
  Wisnubroto S., S.L. Aminah dan M. Nitisapto. 1983. Asas-Asas Meteorologi Pertanian. Ghalia Indonesia, Jakarta.


Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...