"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label tanaman tahunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman tahunan. Tampilkan semua postingan

PENYADAPAN TANAMAN KARET

Pesatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada sepuluh tahun terakhir di kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi. Hasil studi REP (Rubber Eco Project) tahun 2004 meyatakan bahwa (Anwar, 2001) permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.Indonesia diketahui memiliki lahan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan karet alam ini.
Di samping potensi pasarlateks yang besar, harga jual juga mendorong pemerintah dan swasta semakin gencar mengupayakan berbagai cara untuk peningkatan produksinya.Upaya peningkatan produksi ini dilakukan melalui berbaikan manajemen dan teknologi budidaya, yaitu termasuk di dalamnya cara-cara penyadapan.
Dengan pengelolaan yang memenuhi seluruh kriteria teknis produksi, maka estimasi produksi dapat dioptimalkan dengan mengacu pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan terkait.

KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KELAPA KULON PROGO

Tanaman perkebunan (kelapa dan kelapa sawit) tumbuh baik pada gambut dangkal sampai gambut dalam (1-3 m). Ketebalan gambut lebih dari 3 m tidak disarankan untuk pertanian, dan lebih sesuai untuk kawasan hutan lindung atau konservasi. Pengembangan tanaman kelapa terutama kelapa hubrida di lahan gambut pasang surut banyak dilakukan di Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan (Mahmud dan Allolerung, 1998).
Kelapa mempunyai persyaratan tumbuh dengan selang sifat yang relative lebar, sehingga dapat tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi, dengan iklim basah (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) maupun iklim kering (Sulawesi dan Nusa Tenggara). Dalam criteria kesesuaian lahan (Djaenudin et al., 2000) dinyatakan bahwa kelapa dapat tumbuh pada daerah dengan temperature tahunan rata-rata 20-350 C dengan suhu optimal 25-280 C, dan curah hujan 1.000-5.000 mm/tahun atau paling sesuai 2.000-3.000 mm/tahun. Meskipun demikian, pada umumnya tanaman kelapa (terutama kelapa hibrida) tidak dapat betahan apabila bulan kering lebih dari 6 bulan (Abdurachman dan Mulyani, 2003).
Pohon kelapa dapat hidup pada berbagai macam jenis tanah, asalkan jenis-jenis tanah itu memiliki susunan physis yang baik. Susunan physis yang baik itu menjamin peresapan air dan peredaran udara yang sempurna di dalam tanah. Permukaan air tanah letaknya cukup dalam, setidaknya 1 meter dari permukaan tanah, dan air tanah itu hendaknya selalu dalam keadaan bergerak, karena pohon kelapa itu untuk pertumbuhannya yang sempurna memerlukan air banyak. Syarat penting yang dikehendaki terhadap tanah itu ialah kemampuannya yang cukup besar untuk menahan air, supaya tidak cepat merembas ke bagian dalam tanah. Pohon kelapa yang tumbuh di tempat -tempat yang berdekatan dengan air yang bergerak, misalnya di tepi-tepi sungai, di tepi-tepi galangan sawah, di dekat pantai, dsb. biasanya keadaan tumbuhnya baik sekali, karena air yang selalu dalam keadaan bergerak itu banyak mengandung zat asam (O2). Sebaliknya, pohon kelapa yang hidup di tepi-tepi rawa atau di tepi-tepi pantai yang berlumpur, tumbuhnya tetap kerdil. Pohon kelapa yang tumbuh di dataran rendah mempunyai potensi produksi yang tinggi. Di dataran tinggi, tumbuhnya lambat, karena itu mulainya berbuah dan berproduksi juga lambat, sedangkan penghasilan buah dari tiap batang juga tidak banyak. Kadang-kadang buahnya berukuran kecil pula. Tanah humus dan juga tanah gambut baik sekali untuk perkebunan kelapa; kalau menggunaan tanah gambut, drainasenya harus diatur dengan sempurna. Pada tanah-tanah tersebut pohon kelapa itu mudah tumbang, disebabkan karena susunan tanah kurang padat. Di pantai-pantai yang tanahnya terdiri dari lapisan pasir yang steril, sering kali pohon kelapa itu menunjukkan pertumbuhan yang baik. Ini disebabkan karena air tanah yang bergerak di bawah lapisan pasir itu mengandung unsur-unsur zat makanan tanaman yang cukup banyak. Pohon kelapa juga dapat tumbuh subur di pulau-pulau karang, kalau tanah itu banyak mengandung humus (Soetedjo, 1969).
Di Indonesia pada umumnya pertanaman kelapa terdapat pada ketinggian di bawah 500 m. Namun memang ada beberapa pengecualian, pada lokasi tertentu di daerah pegunungan Sumatera, Jawa dan Sulawesi Utara masih dijumpai pertanaman kelapa pada ketinggian 900 m atau lebih dari permukaan laut. Di daerah Minahasa (Sulawesi Utara) dijumpai kelapa yang tumbuh pada ketinggian 1.100 m. Pertumbuhan vegetatif kelihatan masih baik, pembentukan buah masih terjadi namun kecil-kecil dan tidak mempunyai daging buah. Perbedaan tinggi tempat dari permukaan laut, menyebabkan perbedaan temperatur. makin tinggi tempat, makin rendah temperatur. Dan sebenarnya faktor temperatur inilah yang terutama mempengaruhi pertumbuhan kelapa. Penurunan temperatur pada umumnya adalah sekitar 0.6o C setiap penambahan ketinggian 100 m. Walaupun hal ini tergantung pada beberapa faktor seperti musim, waktu, kandungan uap air di udara dan lain-lain. Tanaman kelapa tidak bisa tumbuh baik di daerah tinggi, karena temperatur yang rendah di tempat tersebut (Darwis, 1986).
Hasil penilaian kesesuaian lahan dibedakan menjadi lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi. Apabila wilayah yang dievaluasi tersebut telah digunakan untuk tanaman kelapa, maka arahan pengembangan lebih ditujukan untuk intensifikasi. Lahan untuk intensifikasi yang berpotensi tinggi hanya seluas 427.500 ha, sedangkan seluruh wilayah yang berpotensi (potensi tinggi, sedang, dan rendah) mencapai 872.900 ha, lebih kecil dari luas total lahan tanaman kelapa saat ini 3.759.397 ha. Hal ini terjadi karena lahan yang intensig ditanami kelapa belum seluruhnya terpetakan dalam peta penggunaan lahan, terutama untuk perkebunan rakyat yang umumnya berupa kebun campuran yag sulit untuk dibatasi/ didelineasi di peta. Peta penyebaran lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi di masing-masing propinsi tersedia di Puslitbangtanak (Abdurachman et al., 1998). Hasil penilaian berupa kelas dan subkelas kesesuaian lahan dari tanaman yang dinilai ditentukan oleh faktor pembatas terberat. Faktor pembatas tersebut dapat terdiri dari satu atau lebih tergantung dari karakteristik lahannya (Ritung dkk., 2007).
Untuk Kabupaten Kulon Progo, kesesuaian lahan S1 untuk tanaman kelapa dan pisang ditemukan di wilayah Kecamatan Temon, yaitu Desa Kulur, Kedungdandang, Demen, Kaligintung, Temonwetan, Temonkulon, Kebonrejo, Janten, Karangwuluh, Sindutan, Jangkaran, Palihan, Glagah, dan Plumbon, dengan factor pembatas kesuburan lahan, sehingga perlu ditambahkan pupuk N, K, dan pupuk organik. Sarana pengembagnan komoditas yang utama di daerah ini adalah tenaga kerja produktif usia 15-54 tahun yang rata-rata 4 orang/Ha (BPTP Yogyakarta, 2005).

 
DAFTAR PUSTAKA


Abdurachman, A. dan Anny Mulyani. 2003. Pemanfaatan lahan berpotensi untuk pengembangan produksi kelapa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 22(1): 24-30.

Abdurachman, A., A. Mulyani, dan K. Gandasasmita. 1998. Kesesuaian lahan untuk pengembangan beberapa tanaman perkebunan di Indonesia dalam Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Perkebunan: Kelapa, Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Kakao, Teh, Lada, Pala, Jambu Mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. hlm. 20-41.


Darwis.1086. Tanaman Kelapa dan Lingkungan Pertumbuhannya. Balai Penelitian Kelapa, Manado.

Djaenudin, D., M. Henrisman, Subagyo, A. Mulyani, dan. Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Beberapa Komoditas Pertanian. Versi 2, 2000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Mahmud, Z. dan D. Allolerung. 1988. Teknologi peremajaan, rehabilitas, dan perluasan tanaman kelapa dalam Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Perkebunan: Kelapa, Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Kakao, Teh, Lada, Pala, Jambu Mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. hlm. 116-130.

Ritung S, Wahyunto, Agus F, Hidayat H. 2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian Lahan dengan Contoh Peta Arahan Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh Barat. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia.

Soetedjo, R. 1969. Ilmu Bercocok Tanam Kelapa. Penerbit C. V. Yasaguna, Jakarta.

Budidaya Tanaman Pala

Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah anggota dari genus Myristica yang merupakan tanaman rempah tropik asli Indonesia dari kepulauan Banda dan Maluku. Rumphius (1743) menyatakan bahwa dunia mengenal Maluku dari hasil pala dan cengkeh.
Dahulu, pala merupakan salah satu tanaman rempah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa yang datang ke Indonesia seperti Portugis pada tahun 1511. Biji dan kulitnya dibawa ke Eropa dan dijual dengan harga yang sangat mahal. Harga yang tinggi ini merupakan perangsang bagi bangsa-bangsa lain untuk datang ke Indonesia.
Pada zaman V.O.C, sistem tataniaga pala dan cengkeh telah tertata dengan baik, sehingga pala bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan yang signifikan bagi negeri Belanda. Kemudian pada tahun 1748 tanaman ini dikembangkan ke daerah Minahasa dan Kepulauan Sanger Talaud, Sumatra Barat dan Bengkulu, kemudian menyusul di Jawa, Aceh dan Lampung. Pada jaman kekuasaan Inggris, tanaman ini disebarkan pada beberapa daerah jajahan tetapi tidak berhasil baik, di Malaya dikalahkan oleh karet, di pulau kecil India Barat (Grenada) dapat berhasil baik sehingga daerah ini menjadi saingan Indonesia dalam ekspor pala di dunia.
Hingga saat ini, pala tetap menjadi primadona karena nilai ekonominya. Nilai ekonomi bahan baku kering pala di pasaran saat ini sekitar Rp52.500,00/kg sedangkan minyak atsirinya (Nutmeg Oil) Rp570.000/kg (Rusli, 2010). Dari satu pohon pala yang berumur sekitar 25-50 tahun akan menghasilkan 160 kg buah pala, yang terdiri dari daging buah, biji pala (22,5 kg) dan fuli (3 kg). Menurut Marzuki (2007) bila dari minyak buah pala diproses kimia lebih lanjut, akan dihasilkan lemak/mentega (8,05%), 16 komponen terpenoid (73,91%) dan 8 komponen aromatic (18,04%). Komponen utama dari senyawa aromatik tersebut adalah Miristin.
Seluruh bagian tanaman pala dapat bernilai ekonomi. Sebagaimana tanaman rempah lainnya, selain sebagai bumbu masak pala juga dapat menghasilkan minyak atsiri dan lemak dari biji dan fulinya. Minyak atsiri tersebut merupakan flavor dalam industri rokok, sabun, parfum, obat-obatan dan makanan. Manfaat lain tanaman pala adalah sebagai berikut:
  1. Kulit batang dan daun. Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri dalam konsentrasi yang sedikit.
  2. Fuli. Fuli atau kulit biji adalah selaput jala berbentuk seperti anyaman yang menutup biji buah pala, atau disebut juga “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual di dalam negeri.
  3. Biji pala. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, seperti obat muntah-muntah.
  4. Daging buah pala. Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kristal daging buah pala.
Bentuk komoditas pala yang diekspor oleh Indonesia adalah dalam bentuk biji, fuli dan pala glondong. Oleoresin pala umumnya diproduksi oleh negara-negara pengimpor biji pala seperti singapura, Amerika serikat, dan negara-negara di Eropa Barat. Ekspor komoditas pala dalam bentuk oleoresin memang sangat menguntungkan oleh karena handiling-cost-nya rendah, mudah dilakukan standarisasi mutu karena dihasilkan oleh industri dan daya simpannya lebih lama. Pengolahan lebih lanjut dari biji dan fuli pala menjadi oleoresin ini di daam negeri juga akan meningaktkan nilai tambah produk dan memperluas lapangan kerja.
Lebih dari 60 % kebutuhan pala dunia diekspor dari Indonesia. Akan tetapi, secara keseluruhan mutu pala Indonesia masih kalah dibanding mutu pala dari negara lainnya. Rendahnya mutu pala tersebut disebabkan oleh banyak faktor antara lain tanaman yang sedang berproduksi makin hari makin tua, pemeliharaan praktis jarang dilakukan, sebagian tanaman tua/ tidak produktif dan belum mengguanakan bibit unggul, kelembagaan petani lemah dan mutu produksi satuan petani masih rendah. Untuk dapat bersiang di pasar dunia, sangat dibutuhkan peningakatan produkitivitas dan mutu produk yang memenuhi standar pasar internasional.
Pertanian pala baik di masyarakat maupun perusahaan perkebunan, merupakan hasil perbanyakan asal biji (generatif) sehingga masalah sex ratio tidak dapat diatur dari awal pertanaman dan bibit yang digunakan adalah asalan, dengan produktivitas rendah yaitu kurang dari 1500–3000 butir/pohon/tahun (Hadad, 1992). Pemakaian bibit unggul pala klonal (vegetatif) diperlukan pada program pengembangan pala ke depan sehingga masalah sex ratio dapat teratasi dan produksi serta mutu dapat lebih meningkat.
Berdasarkan kondisi pala saat ini, Pemerintah seharusnya segera melakukan perbaikan dengan mengacu teknologi budidaya yang telah tersedia. Teknologi yang tersedia dari hasil penelitian, antara lain teknologi perbanyakan bibit pala unggul klonal (vegetatif), pengolahan biji pala dan fuli menjadi minyak atsiri, teknologi pengolahan minyak atsiri menjadi diversifikasi produk ikutan dan teknologi pengolahan daging buah pala menjadi berbagai macam makanan ringan.
Strategi pengembangan pala ke depan menurut Susanto dan Bustaman (2006) dapat dilakukan melalui pendekatan ekstensifikasi, intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan dengan bibit unggul klonal. Pengembangan pala selain pada areal bukaan baru, juga dilakukan pada existing perkebunan kelapa sebagai tanaman sela seperti di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Damer, Romang dan Tepa), Maluku Tenggara, Maluku Tengah, Buru, Aru (P.Wokam), Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur.

  1. PERSIAPAN LAHAN
Tanaman pala membutuhkan lahan pada ketinggian 500-700 m dpl yang beriklim panas (18-340 C) dengan curah hujan tinggi (2.000-3.000 mm/th) dan merata sepanjang tahun (Rusli, 2010). Namun, meski membutuhkan curah hujan tinggi pala ini dapat bertahan dalam musim kering selama beberapa bulan.
Untuk kriteria utama jenis tanah yang dibutuhkan adalah yang gembur, subur, dan mempunyai drainase yang baik seperti tanah vulkanis. Pertumbuhan tanaman optimal diperoleh pada tanah bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Adapun pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5-6,5.
Jika diperlukan pembukaan lahan maka sebaiknya pembabatan semak belukar dan penebangan pohon-pohon dilakukan pada musim kemarau untuk mencegah semak belukar tumbuh kembali dengan cepat pada musim hujan.
Tanaman ini peka terhadap genangan air, sehingga diperlukan adanya sistem drainase yang baik di lahan. Untuk itu, sebelum tanam perlu dilakukan pengolahan tanah dengan penggemburan, pembersihan akar dan sisa-sisa tanaman, serta pembuatan teras-terus untuk mencegah terjadinya erosi pada areal yang miring.

  1. PERSIAPAN BAHAN TANAM
Dalam mempersiapkan bahan tanam, aspek yang perlu diperhatikan adalah pemilihan spesies dan varietas yang sesuai, serta pemilihan klon yang unggul dan bermutu. Ada sekitar 85 spesies pala yang dapat dipilih sebagai bahan tanam. Di antara spesies tersebut yang banyak dibudidayakan dan bernilai ekonomi adalah Myristica fragrans Houtt., Myristica argentea Ware., Myristica fattua Houtt., dan Myristica sucedona BL.
Setelah ditentukan jenis yang akan dibudidayakan, maka kemudian perbanyakan dapat dilakukan dengan cara generatif ataupun vegetatif. Perbanyakan generatif yaitu dengan biji, sedangkan secara vegetatif dapat melalui cangkok maupun okulasi.
Perbanyakan tanaman dengan biji tampaknya kurang efektif karena meskipun ada 5% yang berjenis kelamin ganda, namun sejatinya tanaman pala memiliki jenis kelamin tunggal (monoecious). Pembuahan biasanya menghasilkan 40% biji calon pohon jantan yang tidak dapat berbuah. Bila harus dengan cara ini, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih pohon induk yang baik dan dekat dengan pohon jantan, kemudian buah yang telah masak penuh (besar, bulat dan simetris) paling lambat 24 jam setelah pemetikan langsung disemaikan. Selain itu jika tanaman sudah terlanjur dewasa, bisa juga dilakukan penyambungan (grafting) tanaman jantan dengan tanaman betina untuk menghasilkan tanaman yang mampu berproduksi.
Berdasarkan Surat keputusan Direktur Jenderal Perkebunan KB.010/42/SK/DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu: Sumatra Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku. Biji-biji dari pohon induk terpilih tersebut harus diseleksi, yaitu dipilih yang agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, serta tidak terserang oleh hama maupun penyakit.
Biji-biji pala yang akan ditanam di lahan harus terlebih dahulu dikecambahkan di persemaian berupa tanah olah dan pupuk kandang dengan bedengan. Bedengan dibuat membujur utara-selatan, dan di sekelilingnya dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase. Bedengan tersebut diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/ jerami setinggi 2 m (timur) dan 1 m (barat), agar persemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang. Jarak persemaian antar biji adalah 15 x 15 cm dengan posisi garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan persemaian terutama dengan menjaga tanah bedengan agar tetap basah dan bersih dari gulma.
Setelah berkecambah, maka bibit dapat dipindahkan ke dalam polibag berisi media tanah gembur yang subur yang dicampur dengan pupuk kandang. Polibag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari. Pemeliharaan dalam polibag adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap basah, tidak tergenang, dan bersih dari gulma. Agar tidak tergenang, bagian bawah polibag diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/ air hujan. Pemupukan dengan TSP dan urea masing-masing sekitar 1 gram pada awal musim hujan dan 1 gram pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3-5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan ke lapangan.
Perbanyakan secara klonal (vegetatif) lebih diutamakan karena lebih mudah, cepat, dan tanaman baru pun memiliki sifat-sifat seperti induknya sehingga keseragaman tanaman dapat dikendalikan. Perbanyakan secara klonal dapat dilakukan dengan cangkok ataupun okulasi (tempelan).
Untuk perbanyakan dengan cangkok sebagaimana cara pencangkokan biasa, hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: dalam memilih cabang yang akan dicangkok harus berasal dari pohon induk yang pertumbuhannya baik, rimbun, bebas dari hama dan penyakit, serta produktif; umur pohon induk berkisar antara 12 -15 th; cabang yang akan dicangkok sudah berkayu tetapi tidak terlalu tua atau terlalu muda; waktu pencangkokan pada musim hujan atau pada musim kemarau dengan penyiraman teratur; jika pencangkokan dengan pembalut plastik maka bagian atas dan bawah harus biberi lubang kecil untuk saluran penyiraman dan drainase. Cangkokan siap dipindah tanam setelah satu bulan atau jika akar yang muncul telah berubah warna menjadi cokelat tua.
Cara okulasi atau penempelan atau budding dapat mengurangi persentase pohon jantan yang muncul. Yaitu dengan menggunakan entrys (mata tunas) dari cabang pohon betina yang berproduksi tinggi. Yang perlu diperhatikan untuk melakukan okulasi yaitu: besar calon batang atas dan batang bawah (under stump) tidak jauh berbeda; umur batang bawah minimal 1 tahun; entrys diambil dari cabang yang lurus dari pohon yang telah berproduksi; satu atau dua minggu sebelum pengambilan cabang entrys, sebagian daunnya dipangkas untuk merangsang pertumbuhan mata tunas; pisau okulasi juga harus tajam dan bersih.

  1. PENANAMAN
Penanaman bibit pala dilakukan pada awal musim hujan untuk mencegah agar bibit tidak mati kekeringan.
Bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3-5 cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung baik. Penanaman dengan biji dilakukan dengan melepas polibag kemudian memasukkan bibit ke dalam lubang tanam (permukaan tanah pada lubang tanam dibuat sedikit lebih rendah dari permukaan lahan kebun). Setelah itu, lubang disiram dengan air supaya media tumbuh mejadi basah.
Penanaman bibit pala dari okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit pala yang berasal dari biji. Sedangkan untuk bibit pala dari cangkokan, sebelum ditanam terlebih dulu dilakukan perompesan daun untuk mencegah penguapan yang terlalu cepat. Lubang tanam perlu dibuat lebih dalam agar setelah dewasa tanaman tidak roboh karena sistem perakaran yang tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit ditanam, lubang tanam harus segera disiram.
Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm (untuk jenis tanah ringan) dan ukuran 80 x 80 x 80 cm (untuk jenis tanah lempung) perlu disiapkan satu bulan sebelum bibit ditanam agar tanah dalam lubang menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan. Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bawah dimasukkan lebih dahulu kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang dicampur dengan pupuk kandang secukupnya. Jarak tanaman yang baik pada lahan datar adalah 9 x 10 m, sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9 x 9 m.

  1. PENGELOLAAN TANAMAN
Pengelolaan tanaman saat belum menghasilkan (TBM) dan saat telah menghasilkan (TM) meliputi penanaman pohon pelindung sebelum pindah tanam; penyulaman jika bibit yang telah dipindah tanam ternyata mati atau abnormal; penyiangan mulai 60-90 HST (hari setelah tanam), pemupukan dengan pupuk organik dan anorganik secara melingkar; serta pengendalian organisme pengganggu terutama gulma, yaitu dengan penggunaan herbisida sesuai dosis anjuran.
Mengenai pohon pelindung, seumur hidupnya tanaman pala membutuhkan pohon pelindung sebagai pemecah angin yang dapat mengganggu penyerbukan, dan juga sebagai pelindung dari sinar matahari yang berlebihan saat tanaman masih muda. Penanaman pelindung di awal tanam penting untuk mencegah pertumbuhan abnormal, yaitu pertumbuhan memanjang ke atas dan tertundanya fase generatif. Setelah berumur 4-5 tahun, tanaman pala sudah membutuhkan sinar matahari lebih banyak untuk dapat berproduksi sehingga penjarangan pohon pelindung harus dilakukan. Penjarangan ini juga penting untuk mencegah terjadinya persaingan di dalam menyerap unsur hara antara tanaman pala dengan tanaman pelindung. Pohon pelindung yang baik adalah pohon yang daunnya tidak terlalu rimbun serta tahan terhadap hempasan angin seperti pohon kelapa, duku, rambutan dan jenis pohon buah-buahan lainnya.
Sedangkan mengenai organisme pengganggu selain gulma yang sering menyerang tanaman pala adalah penggerek batang (Batocera hercules) penyebab lubang dan bubuk batang, kumbang penggerek buah (Areoceum foriculatus), rayap penyebab bercak batang dan akar, dan cendawan Coryneum myristicae penyebab penyakit pecah buah dan bercak buah. Pengendalian penggerek batang dengan pestisida sistemik, penggerek buah dengan menyegerakan pengeringan buah pasca panen, rayap dengan penyemprotan pestisida ke saluran-saluran sarang melalui batang dan akar, sedangkan cendawan dicegah dengan membuat saluran drainase yang baik atau melakukan pengasapan belerang di bawah pohon serta penyemprotan fungisida jika telah terserang cukup berat.

  1. PANEN DAN PASCA PANEN
Tanaman pala dapat dipanen mulai umur 3-5 tahun hingga umur 60-70 tahun dan produksinya optimal pada umur 10-25 tahun (tergantung jenisnya). Periode panennya dua kali dalam setahun karena masa pematangan buahnya adalah selama ±180 HSA (hari setelah anthesis).
Untuk menghasilkan minyak atsiri, buah dipanen setelah merekah berwarna cokelat tertutup fuli. Setelah dipanen, daging buah dengan bijinya dipisahkan dan diambil daging buahnya. Daging buah tersebut kemudian dikeringanginkan dengan menjaga suhunya tidak lebih dari 45 derajat celcius agar lemaknya tidak mencair. Minyak lemak pala (fixed oil) sebanyak 25 - 40 % dipisahkan terlebih dahulu sebelum disuling dengan cara menggiling dan memeras biji dengan grinder. Setelah biji pala digiling kemudian disuling dalam ketel suling selama ±10-30 jam. Rendemen minyak yang diperoleh berkisar antara 7-16 %. Minyak pala ini biasanya diekspor ke Singapura, Perancis, Inggris, Nederland dan Amerika Serikat.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. <http://www.bakorluh-maluku.com/ /2011/Teknik%20Budidaya%20Pala.pdf.>. Diakses pada tanggal 18 Maret 2012.

Anonim. 2009. <http://ditjenbun.deptan.go.id/pedoman-praktis-budidaya-pala->. Diakses pada tanggal 18 Maret 2012.

Marks, S. and Pomeroy J. 1995. International trade in nutmeg and mace: issues andptions for Indonesia. Bull. Indo Economic Studies 3:103-118.

Marzuki, I. 2007. Karakteristik produksi, proksimat atsiri pala Banda. Makalah Pada Seminar Nasional Akselerasi Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Ketahanan Pangan di Wilayah Kepulauan. BPTP Maluku 29-30 Oktober 2007.

Ojechi, B.O., Souzey J.A., and Akpomedaye D.E. 1998. Microbial stability of mango (Mangifera indica L.) juice preserved by combined application of mild heat and extracts of two tropical spices. J. Food Protection 6:725-727.

Purseglove, J.W., E.G. Brown, S.L. Green, and S.R.J. Robbins. 1995. Spices. Longmans, New York.

Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.

Stecchini, M.L., Sarais I., and Giavedoni P. 1993. Effect of essential oils on Aeromonas hydrophyla in a culture medium and in cooked pork. J. Food Protection 5: 406- 409.

Sunanto, Hatta. Budidaya Pala Komoditas Ekspor. Kanisius, Yogyakarta.

Susanto, A.N. dan S. Bustaman. 2006. Data dan Informasi Sumberdaya Lahan Untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis Di Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku. Penerbit BPTP Maluku.

Kunjungan ke Balai Penelitian Karet Getas (Juni 2012)


Kunjungan ini adalah salah satu program dari mata kuliah Budidaya Tanaman Tahunan tahun 2012 (tahun-tahun sebelumnya juga sama.. grr >_<). Meskipun awalnya malas-malasan karena banyak faktor eksternal yang menyebalkan (nothing, just personal problem gals!) dan biayanya yang menguras uang makan seminggu, tapi sesampainya di lokasi rasanya sudah bisa terikhlaskan, Alhamdulillah.
Kami berangkat dari Jogja pukul 7.30 melalui jalan ringroad utara lalu mengikuti sepanjang jalan jalan jogja-solo. Dengan kecepatan bis kura-kura kami sampai pukul 10.45. Sebelum sampai di lokasi sebenarnya kami sempat terhambat perbaikan jalan, jalan ini baru disemen, kemungkinan karena sruktur tanahnya yang gumpal dan mudah hancur tidak memungkinkan jalan biasa (aspal) untuk lewat truk-truk besar. Tiba di lokasi kami disambut beberapa staf pabrik dan staf peneliti.
Gerbang Pabrik
Tidak lama basa-basi kami langsung digiring ke gedung pengolahan RSS (lateks lembaran). Di sini kami melihat proses penampungan lateks cair kedalam beberapa buah corong raksasa yang kemudian dialirkan menuju bak-bak koagulasi dengan lengser-lengser raksasanya. Tidak banyak orang yang terlihat bekerja disini karena kebetulan saat itu pabrik sedang dalam masa istirahat.
Penampung Latek Cair

Bak Koagulasi
Menggandeng gedung RSS adalah gedung pengasapan yang terdiri dari dua lantai. Ada banyak ruangan gelap gulita yang sunyi senyap di sini berisi bambu-bambu untuk menggantung orang eh maksudnya lembaran lateks. Lembaran lateks yang masih segar berwarna putih susu, setelah kering warnanya menjadi cokelat kehitaman dan berbau menyengat karena pengasapan. Pengasapan dilakukan selama satu minggu dengan peningkatan suhu secara pertahap. Panas dalam ruang pengasapan dihasilkan dari pembakaran kayu karet dalam tungku raksasa yang ada di lantai dasar. Kayu karet dipilih karena baunya yang relatif tidak terlalu menyengat dibandingkan dengan kayu lainnya. Dalam satu hari biasanya pengasapan ini dapat memakan 3-4 meter kubik kayu karet. Banyak banget ya.. Kami bersyukur tidak berkunjung ke sini malam hari. Ngeri.. di samping gedung pengasapan yang gelap gulita dan sunyi senyap ini ada sebuah gedung tua yang tinggi dan diselimuti rumput-rumput menjalar. Entah mengapa gedung itu ada di sana.
Ruang Pengasapan
Penampung Limbah
Gedung Tua
Di samping gedung pengasapan sangat ramai. Disini lateks lembaran yang sudah diasap kemudian dimakan, eh salah lagi, bukan dimakan tetapi di sortasi, tidak boleh ada lubang sedikitpun di tiap lembaran lateks itu. Setelah disortasi kemudian dipak dengan dibubuhi tepung, untuk menjaga agar lembaran-lembaran tersebut tidak rusak karena saling menempel.
Pengepakan
Adzan Dzuhur berkumandang, waktunya sholat dan makan. Karena tempat wudhu hanya ada satu ruang sempit untuk laki-laki dan perempuan maka beberapa dari kami mencari toilet. Toilet yang ku temukan sangatlah sepi dan tidak terawat, kamungkinan waktu malam tempat ini juga menyeramkan, ditambah lagi di dekatnya ada sebuah gedung tua yang juga tidak terawat. Setelah selesai sholat kami yang wudhu di toilet seram itu baru tahu kalau ternyata ada toilet baru yg lebih kinclong. Alamak..
Waktu makan jadi sangat singkat karena sholat yg lama. Sekardus makanan padang dan sekardus snack yang disediakan jadi terasa percuma. Tapi tidak masalah bagiku, sudah ku siapkan tas kain khusus untuk membawa pulang berkat. Hahaha.. akhirnya cuma sebuah pisang yang ku makan untuk siang ini.
Lanjut perjalanan beberapa meter menyeberang jalan yang sedang diperbaiki tadi menuju kebun karet. Lahan sekitar 2000 ha ini terbagi menjadi beberapa bagian untuk penyadapan, percobaan, dan juga pembibitan.
Perjalanan Menuju Kebun
Kebun Stock
Kebun Entres
Pembibitan di sini dilakukan hanya dengan cara okulasi (menempel). Perbanyakan dengan biji hanya dilakukan untuk penelitian/percobaan. Bahan untuk okulasi berasal dari kebun entres dan kebun induk. Dalam teknik okulasi ini ditekankan beberapa teknik yang prinsip:
1. Mata tunas diambil dari kulit batang sekitar 10 cm secara hati-hati sehingga mata tunas tidak terlepas dari kulit batang yang diambil ataupun berlubang
2. Batang bawah dikelupas kulit batangnya yang berwarna cokelat
3. Mata tunas ditempelkan dalam satu kali gerakan tanpa merubah posisi atau menggoyangkan apapun
4. Segera setelah itu bagian yang ditempel itu dililit dengan plastik dari bawah ke atas (agar air hujan tidak masuk)
5. Setelah sekitar satu bulan, mata tunas yang hidup akan terlihat berwarna kehijauan, sedangkan yang mati tetap berwarna cokelat gelap. Untuk meyakinkannya kulit sekitarnya dapat dikorek sedikit sehingga terlihat apakah warna bagian dalamnya sudah hijau atau belum
6. Jika ternyata mata tunas tersebut mati (disebut ‘janda satu’), dapat dilakukan satu kali lagi okulasi ulang di sisi lainnya
7. Okulasi dilakukan di batang bawah sekitar 15 cm dari tanah. jika terlalu tinggi akan dapat mengganggu produksi karena bekas okulasi biasanya membentuk benjolan seperti kaki gajah. Benjolan ini rentan terhadap hama penyakit
8. Jika akan dipindah tanam ke lahan, tajuk batang bawah harus dipotong lebih dahulu. Selama tajuk belum dipotong maka mata tunas okulasi akan tetap ‘tidur’ (tidak tumbuh).
Mata Tunas
Okulasi
Kaki Gajah pada Hasil Okulasi

Di kebun sadap terdapat bermacam klon karet dengan produksi yang beragam pula. Tanaman karet yang sudah bisa disadap ditandai dengan ukuran lilit batang sebesar 45 cm. Penyadapan hanya dapat dilakukan paling cepat setiap 48 jam (simbol: d2), karena penyadapan = menyakiti tanaman, tanaman perlu pemulihan diri untuk bisa disakiti lagi, kejam banget ya manusia.. untuk penyadapan 450 tanaman hanya diperlukan 1 orang tenaga sinder sadap yang bekerja mulai pukul 4.00 dini hari sampai pukul 7.00. waw.. sholat subuh di lahan kali ya. Penyadapan dilakukan dengan pisau sadap pada 3 bidang sadap sejajar berbentuk silinder diagonal yang melilit setengah lingkaran batang pohon (simbol: 3S/2 atau 3x1/2S) pada ketinggian 100-130 cm di atas tanah. Setiap bidang sadap dapat disadap hingga satu bulan. Setelah 5 bulan sisi sadap pertama (B1) dipulihkan dan penyadapan dilakukan pada sisi sadap sebaliknya (B2). B1 dapat disadap kembali setelah 7 bulan istirahat.
Penyadapan
Pengukuran Kedalaman Bidang Sadap
Tanaman karet juga mahluk hidup. Selain dieksploitasi tanaman juga perlu dirawat dan diberi nutrisi. Agar nutrisinya cukup maka pada saat penanaman jarak tanam sebaiknya tidak terlalu rapat (5x5 m atau 5x3 m), jarak 2,5x2,5 m bisa saja digunakan jika lahan tidak memadai asalkan perawatan lebih intensif. Pemupukan dengan pupuk organik dilakukan setahun sekali dan juga dengan N, P, K, Mg secara periodik. Penyadapan bagian atas sebaiknya tidak dilakukan karena tanaman menjadi terlalu terforsir sehingga dapat lebih mudah terkena hama dan penyakit. OPT yang sering menyerang adalah penyakit daun.
Daun-daun pohon karet terlihat cantik ketika menguning, ini adalah gejala gugur daun. Pada masa-masa tertentu setiap tahunnya karet mengalami gugur daun. Pada masa-masa ini produksi lateks meningkat, namun tidak lagi setelah daun habis.

Saatnya pulang, saatnya nampang. Kami pulang lewat jalan lain. Yaitu jalan sempit yang melewati jembatan kereta tua dan kemudian tembus di terminal Bawen. Sebagai resikonya kami kena macet panjang di secang (sudah biasa). Sayangnya bis ini tidak mau nerobos lewat jalan pinggiran berkerikil seperti molen-molen dan truk-truk besar yang sudah nyalip kami. Yah, sekedar saran, kalau pulang sore jangan lewat secang.. >_<

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...