"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Prospek Pemuliaan Tanaman Mutasi untuk Meningkatkan Daya Saing Produk Hortikultura Dalam Negeri

Komoditas hortikultura memiliki potensi pasar yang sangat besar. Meski demikian, daya saing yang rendah menyebabkan lemahnya permintaan ekspor produk hortikultura domestik terhadap impor. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka yang menawarkan alternatif metode untuk mendapatkan sifat-sifat tanaman yang diharapkan bagi peningkatkan daya saing produk hortikultura Indonesia, yaitu melalui pemuliaan mutasi. Tulisan ini tersedia lengkap

Riwayat Ubay bin Ka’ab dan Perannya dalam Penghimpunan Al Quran

Ubay merupakan kaum Anshar yang berasal dari Bani Khazraj. Selain mempunyai sebutan Abu Mundzir dari Rosulullah Saw, Ubay bin Ka’ab juga dipanggil dengan sebutan Abu Thufail oleh Amr bin Ash. Nama lengkapnya adalah Ubay bin Ka’ab bin Qais bin ‘Ubaid bin Zaid bin Mu’awiyah bin Umar bin Malik bin Nijar bin Tyim. Dia termasuk sahabat dari golongan anshor yang pertama masuk Islam dan ikut bagian dalam perjanjian Aqobah.

Riwayat Zaid bin Tsabit dan Perannya dalam Penghimpunan Al Quran

Zaid bin Tsabit merupakan keturunan Bani Khazraj dari Nuwar Binti Malik. Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru. Zaid Bin Tsabit adalah kaum Anshor yang masuk islam bersamaan dengan dengan keluargannya saat Rasulullah SAW tiba di Madinah, usianya kala itu baru 11 tahun. Ada yang mengatakan bahwa Zaid tinggal bersama Rasul sejak saat itu, sehingga dalam usia 11 ia sudah hafal beberapa surah Al Qur’an.

Budidaya Tanaman Hias: Sikas


I.       Sejarah Cycas
Cycads / Sikas adalah tanaman jurasik yang berumur kurang lebih 240 juta tahun dan diperkirakan merupakan makanan dinosaurus yang herbifora. Sikas bahkan dipercaya sudah tumbuh sebelum tanaman bunga dan fern.
Distribusi Sikas yang sangat luas menunjukkan tanaman ini sangat dominan pada masa prehistorik, sikas dapat ditemui di benua Amerika (Dioon, Zamia, Mikrosikas), Australia (Macrozamia, lepidozamia dan cycas), Asia (cycas), Afrika (Encephalartos, Cycas dan Stangeria). Umur sikas yang begitu tua memberikan kesan prehistorik yang kuat sehingga menjadi buruan banyak hobiis. 
Sikas hanya tumbuh didaerah beriklim tropis seperti di Asia, Australia, Amerika Tengah dan Selatan hingga Afrika. Beberapa Zamia juga tumbuh di wilayah Amerika Serikat yang beriklim tropis.  Beberapa jenis sikas diketahui telah punah di alam habitatnya, sedang sebagian lainnya terancam punah yang disebabkan karena aktivitas illegal para kolektor tanaman hias yang secara membabi buta mengambil sikas dari alam bebas seirring dengan tingginya permintaan dan nilai komersial yang dapat diperoleh dari usaha jaul beli tanaman hias.
Pakis haji atau populer juga dengan nama sikas adalah sekelompok tumbuhan berbiji terbuka yang tergabung dalam marga pakishaji atau Cycas dan juga merupakan satu-satunya genus dalam suku pakishaji-pakishajian (Cycadaceae) yang masih banyak dijumpai. Masyarakat awam di Indonesia mengenal pakis haji dari beberapa spesies yang biasa ditanam di taman-taman menyerupai palem, yaitu C. rumphii, C. javana, serta C. revoluta (sikas jepang). Tetapi saat telah terdapat 10 genre sikas lainnya yang teridentifikasi.

Sejarah Bandung Lautan Api

Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harts benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun ke¬mudian, lagu "Halo Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.
Dengan dibom atoomnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh Sekutu, Jepang menyerah kalah kepada Sekutu, yang dengan otomatis seluruh daerah yang telah direbut Jepang dari Belanda, Inggris di Asia Timur Raya harus dikembalikan pada "pemilik lama," ialah Inggris dan jika di Indonesia kepada kawan sekutunya ialah Belanda.
Padahal dengan diumumkan Proklamasi Kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 yang secara "de facto" Indonesia sudah bukan jajahan Belanda lagi, seharusnya Belanda jangan "mengutik-ngutik" apa yang dikatakannya "milik" nya lagi, karena sekarang Indonesia sudah merdeka: Berdaulat dan Merdeka dengan berbentuk Republik Indonesia.
Tetapi dasar penjajah, Belanda masih menganggap Indonesia miliknya dan harus dikembalikan kepadanya, dan jika perlu dengan paksaan dan kekerasan.
Dalam usahanya untuk membantu Belanda tentara Sekutu (Inggris) bermuka dua: Inggris memberi pengakuan de facto kepada Republik kita dan tidak akan mencampuri masalah dalam negeri Indonesia. Tapi terhadap Belanda mereka tetap membantunya dengan mengikutsertakan pasukan-pasukan Belanda dalam pendaratannya, dan melindungi pasukan-pasukan tersebut di daerah-daerah yang mereka duduki. Tidak heran kalau dalam grup Sekutu, selain Laksamana Muda Mr Patterson yang membawahi Tentara Sekutu di Jawa dan Sumatera, juga terdapat pejabat NICA, ialah Dr Cho Vander Plas dan Dr HJ Van Mook.

Dengan alasan telah mendapat izin dari Pemerintahan Republik di Jakarta -- waktu itu Jakarta dijadikan kota "diplomatik" antara pihak Sekutu dengan Republik kita -- maka batalyon Sekutu bertugas "menduduki" kota Bandung, dengan alasan mengurus pemulangan orang-orang tawanan Jepang dan pengungsi-pengungsi Belanda yang dulu ditawan oleh Jepang, untuk dikembalikan ke tempatnya masing-masing.
Tapi nyatanya sesampainya di Bandung, pihak Sekutu telah mengeluarkan surat selebaran, yang isinya: Sangat berat bagi rakyat umum antara lain terutama keharusan mengumpulkan senjata. Dijawab oleh Pemerintahan Daerah Bandung, bahwa yang berhak mengadakan penggeledahan di rumah-rumah ialah polisi Kota baik terhadap penduduk, maupun Belanda atau Indo-Belanda atau asing. Jika penggeledahan terhadap penduduk Eropa, polisi Kota akan memberikan laporan kepada Sekutu. Pada prinsipnya, kedua belah pihak berusaha menimbulkan saling pengertian dan menjalankan tugas masing-masing dengan lancar. Tapi dalam kenyataannya terdapat kepentingan-kepentingan yang sukar dipertemukan. Di satu pihak Pemerintahan di Bandung ingin mempertahankan harga-diri sebagai Pemerintah yang syah dan berdaulat, sedang di pihak lain berdiri suatu kekuatan asing yang ingin mempertahankan kepentingannya.
Dari perbedaan kepentingan itulah timbulnya insiden-insiden yang bermula dari persoalan kecil, tetapi kemudian berkembang menjadi pertempuran-pertempuran yang menelan banyak korban. Selain itu disebabkan pula oleh kebencian para pemuda pejuang Bandung terhadap Sekutu yang telah mengikutsertakan serdadu Belanda dalam pasukan Sekutu di Bandung. Ini dibuktikan dengan sering terdengarnya percakapan-percakapan dalam bahasa Belanda oleh sebagian tentara Sekutu, yang berarti serdadu-serdadu Sekutu itu adalah orang Belanda.
Semangat juang yang tinggi dari TKR dan Badan-badan Perjuangan rakyat Bandung untuk mengusir penjajah, menjadi pendorong utama dalam meletuskan "Bandung Lautan Api." Sekali serangan terhadap Sekutu dimulai, tidak lagi melihat siapa yang mengawali serangan itu, baik pihak TKR ataupun pihak Badan Perjuangan. Yang penting Sekutu harus ditekan, agar tidak tenang dan kerasan tinggal di Bandung. Infiltrasi NICA melalui RAPWI dan tindak tanduk Sekutu sendiri menyebabkan pihak Indonesia kehilangan kepercayaan terhadap mereka. Bekas tentara KNIL dan pemuda-pemuda Indo-Belanda bebas berkeliaran di dalam kota. Dan di bawah perlindungan Sekutu mereka mulai berani mengganggu ketertiban.
Pertempuran-pertempuran yang terjadi di Utara, Selatan, Barat maupun bagian timur Kota sangat menyulitkan posisi Sekutu. Sebab itu orang-orang Belanda bekas interniran mengusulkan kepada Sekutu agar Bandung bagian utara dikosongkan dari pasukan-pasukan bersenjata Republik. Brigjen Mac Donald minta kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo untuk suatu pertemuan dan menyerahkan ketentuan-ketentuan yang ditujukan kepada rakyat Bandung sebagai berikut:
1. Orang-orang Indonesia tidak boleh berdiam di sebelah utara jalan kereta-api yang membujur dari barat ke timur
2. Penduduk dilarang bersenjata.
3. Tidak boleh memasang rintangan-rintangan. Bila ada rintangan-rintangan yang dijaga, penjaga-penjaganya akan ditembak.
Sebagian penduduk mengungsi, tapi sebagian lagi tinggal, tanpa menghiraukan ancaman Sekutu. Begitu pula unsur-unsur bersenjata. Mereka tidak bersedia tunduk atas ancaman-ancaman tersebut. Mereka membuat kantong-kantong gerilya yang pada malam hari digunakan sebagai pangkalan serangan.
Maka mulai tanggal 29 November 1945 jam 12.00 secara resmi kota Bandung dibagi dua, dengan batas jalan kereta-api yang membujur dari barat ke timur. Daerah bagian utara dianggap daerah Sekutu, sedangkan bagian Selatan merupakan daerah Republik Indonesia.
Tapi walaupun Kota Bandung telah dibagi menjadi dua, keadaan tidak ada bedanya dari sebelumnya. Penyerangan terhadap Sekutu semangkin meningkat.
Tgl. 1 Desember 1945 dilakukan serangan terhadap kedudukan Inggris -- yang sekarang berdiri gedung Universitas Pejajaran, Dua hari kemudian dengan penyerangan di Haurgeulis. Daerah ini menjadi pertempuran yang hebat. Sekutu yang mengadakan serangan atas Balai Besar Kereta Api, Stasiun Bandung dan Viaduct dengan mengerahkan infanterinya yang cukup besar, dapat dipukul mundur oleh para pejuang Bandung dan bertahan dengan gigihnya. Serangan-serangan yang dilancarkan pihak Indonesia mengkhawatirkan pihak Sekutu. Oleh karena itu mereka mendatangkan pasukan baru melalui udara dari Jakarta, ialah batalyon Mahrata.
Dipisahkannya Bandung utara dengan Bandung selatan ternyata tidak menguntungkan Sekutu, karena diblokir oleh penduduk, mereka tidak dapat makanan segar. Untuk memperoleh makanan segar, mereka harus ke selatan. Dan jika ini terjadi berarti mereka melanggar "demarkasi" yang mereka sudah buat.
Tindakan Sekutu melanggar garis demarkasi ini, ketika berusaha membebaskan para interniran yang ada di bagian selatan, ialah di Ciateul. Tanggal 6 Desember pagi-pagi Sekutu dengan tentaranya mulai bergerak kearah Selatan dengan dibantu dari udara oleh 3 buah pesawat B. 25.
Melihat akan ada gerakan besar-besaran dari Sekutu, maka Pasukan API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang berpusat di Lengkong Besar segera memberitahukan Pasukan BMP (Barisan Merah Putih). Pertempuran berlangsung sampai jam 12.00. Gerak maju musuh melalui jalan Lengkong Besar dapat ditahan oleh para Pemuda Bandung yang terdiri dari Kesatuan-kesatuan TRI, API, BMP, Hizbullah pimpinan Husain dan Pemuda DKA pimpinan Sofyan. Semuanya bertempur bahu-membahu dalam satu barisan.
Sekutu mendatangkan lebih banyak bantuan dari Jakarta, dan Badan Perjuangan yang ada di Bandung tetap mengadakan penghadangan di jalan-jalan yang mereka lalui, dan serangan-serangan terhadap musuh ditingkatkan oleh pihak TKR dan para kesatuan-kesatuan pejuang kita.
Akhirnya pihak Sekutu kewalahan, dan... mengajak berunding, tapi tidak dengan Pemerintahan Daerah, tapi langsung dengan Pemerintah Pusat.
Pada tanggal 22 Maret 46, Mayor Jendral Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Syarifudin Prawiranegara sebagai utusan dari Perdana Menteri Syahrir -- Pemerintah Pusat -- baik dengan Pemerintah Daerah di Bandung maupun dengan Panglima Divisi III (Kolonel AH Nasution)-- yang isinya mengenai ultimatum Sekutu dan pendirian Pemerintah Republik. Instruksi Pemerintah Pusat, agar TRI keluar dari Kota Bandung, dan Pemerintahan Sipil tetap ada di Bandung untuk mempertahankan de facto RI dalam kota seperti yang dijalankan oleh Suwiryo di Jakarta dan Walikota Icksan di Semarang.
Instruksi Pemerintah Pusat agar TRI keluar dari Kota Bandung sebagaimana ultimatum Sekutu, membawa Kolonel Nasution datang ke Jakarta menemui St. Syahrir dan memberitahukan keberatan-keberatan TRI menerima ultimatum Sekutu tersebut, bahwa tentara RI harus keluar dari Bandung dalam radius 11 Km dari Pusat Kota Bandung atau batas rel kereta api, dan apa yang dipikirkan oleh Nasution mengenai rencananya. Dijawab oleh St. Syahrir:
"Kerjakan saja. TRI adalah modal yang harus dipelihara, jangan sampai hancur dahulu. Harus kita bangun untuk kelak melawan NICA. Pemerintahan Sipil tetap bertugas di posnya yang sekarang, karena kalau ia pergi pasti NICA akan menggantikannya." (Penulis adalah pejuang '45)
Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung diman¬faatkan oleh musuh, bahkan perintah dari Jakarta juga tidak diindahkan. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Disunting dari sumber:
Bandung lautan api\Harian Umum PELITA.htm
Sejarah Singkat Bandung Lautan Api - bandungheritage.org.htm

Republik Rakyat Cina Pasca Perang Dunia II dan Masa Perang Dingin

DOWNLOAD

Cina merupakan negara yang diperintah oleh para kaisar selama 2000 tahun dengan sebuah pemerintahan pusat yang kuat dengan pengaruh Kong Hu Cu. Setelah tahun 1911 pula, Cina diperintah secara otokratis oleh KMT dan beberapa panglima perang.
Negara Republik Cina lahir di Moforines dengan seorang nasionalis Cina bernama Dr. Sun Yat yang didirikan atas dasar Nasionalisme, Demokrasi dan Sosialisme. Selanjutnya pengaruh komunis soviet masuk, bahkan semakin besar dengan berdirinya Partai Kung Chang Tang pada tahun 1912.
Sejak tahun 1925 Konflik (perang saudara) kekuasaan antara kaum nasionalis (Kuo Min Tang) dan kaum Komunis (Kuo Chang Tang) tidak dapat dihindari. Tetapi selama PD II berlangsung keduanya bersatu melawan Jepang.
Setelah Perang Dunia II, Perang Saudara Cina antara Partai Komunis Cina dan Kuo Min Tang berakhir pada 1949 dengan pihak komunis menguasai Cina Daratan (Tiongkok) dan Kuomintang menguasai Taiwan dan beberapa pulau-pulau lepas pantai di Fujian. Pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Cina menjadi sebuah negara komunis.
Berdirinya Negara komunis Cina segera didukung Negara komunis lain seperti Inggris, Perancis, Myanmar dan India. Sebaliknya Amerika Serikat menentang bahkan menolak keberadaannya di PBB. Amerika Serikat hanya mengakui Negara Republik Nasionalis Cina yang dipimpin Chiang Kai Shek (Taiwan).
Pada tahun 1950 RRC mulai terjun membantu Korea Utara menghadapi Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Pada tahun 1957 Cina mulai mengembangkan teknologi senjata nuklir yang juga diikuti dengan bom hydrogen.
Para pendukung Era Maoisme, yang terdiri dari kebanyakan rakyat Cina miskin dan lebih tradisionil atau nasionalis dan pemerhati asing yang percaya kepada komunisme, mengatakan bahwa di bawah Mao, persatuan dan kedaulatan Cina dapat dipastikan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir, dan terdapat perkembangan infrastruktur, industri, kesehatan, dan pendidikan, yang mereka percayai telah membantu meningkatkan standar hidup rakyat. Mereka juga yakin bahwa kampanye seperti Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan penting dalam mempercepat perkembangan Cina dan menjernihkan kebudayaan mereka. Pihak pendukung juga ragu terhadap statistik dan kesaksian yang diberikan mengenai jumlah korban jiwa dan kerusakan lainnya yang disebabkan kampanye Mao.
Meskipun begitu, para kritikus rezim Mao, yang terdiri dari mayoritas analis asing dan para peninjau serta beberapa rakyat Cina, khususnya para anggota kelas menengah dan penduduk kota yang lebih terbuka pemikirannya, mengatakan bahwa pemerintahan Mao membebankan pengawasan yang ketat terhadap kehidupan sehari-hari rakyat, dan yakin bahwa kampanye seperti Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan berperan atau mengakibatkan hilangnya jutaan jiwa, mendatangkan biaya ekonomi yang besar, dan merusak warisan budaya Cina. Lompatan Jauh ke Depan, pada khusunya, mendahului periode kelaparan yang besar di Cina yang, menurut sumber-sumber Barat dan Timur yang dapat dipercaya, mengakibatkan kematian 20-30 juta orang; kebanyakan analis Barat dan Cina mengatakan ini disebabkan Lompatan Jauh ke Depan namun Mao dan lainnya mengatakan ini disebabkan musibah alam; ada juga yang meragukan angka kematian tersebut, atau berkata bahwa lebih banyak orang mati karena kelaparan atau sebab politis lainnya pada masa pemerintahan Chiang Kai Shek.
Tahun 1958 RRC mulai mengalami hubungan kurang baik dengan Uni Soviet seiring dengan bertambah besarnya kekuatan dan pengaruh teknologi, militer, dan ekonomi RRC di Asia. Uni Soviet hawatir akan tersaingi, sampai akhirnya banyak tenaga ahli dari Uni Soviet yang dipulangkan dari RRC. Pada tahun yang sama cina terlibat perselisihan perbatasan dengan India, Nepal, Myanmar, Mongolia, Bhutan, dan Pakistan yang semuanya diakhiri dengan persetujuan perbatasan.
• Aksai Chin, dikuasai Cina, diklaim oleh India
• Kepulauan Paracel, dikuasai Cina, diklaim oleh Vietnam dan Republik Cina
• Kepulauan Spratly, dipertentangkan antara Cina, Taiwan, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam
• Kepulauan Diaoyu/Kepulauan Senkaku, dikuasai Jepang, diklaim oleh Cina dan Republik Cina
• Arunachal Pradesh/Tibet Selatan, dikuasai India, diklaim oleh Cina
Setelah kegagalan ekonomi yang dramatis pada awal 1960-an, Mao mundur dari jabatannya sebagai ketua umum Cina. Kongres Rakyat Nasional melantik Liu Shaoqi sebagai pengganti Mao. Mao tetap menjadi ketua partai namun dilepas dari tugas ekonomi sehari-hari yang dikontrol dengan lebih lunak oleh Liu Shaoqi, Deng Xiaoping dan lainnya yang memulai reformasi keuangan.
Pada 1966 Mao meluncurkan Revolusi Kebudayaan, yang dilihat lawannya (termasuk analis Barat dan banyak remaja Cina kala itu) sebagai balasan terhadap rival-rivalnya dengan memobilisasi para remaja untuk mendukung pemikirannya dan menyingkirkan kepemimpinan yang lunak pada saat itu, namun oleh pendukungnya dipandang sebagai sebuah percobaan demokrasi langsung dan sebuah langkah asli dalam menghilangkan korupsi dan pengaruh buruk lainnya dari masyarakat Cina. Kekacauan pun timbul namun hal ini segera berkurang di bawah kepemimpinan Zhou Enlai di mana para kekuatan moderat kembali memperoleh pengaruhnya.
Hubungan RRC dengan Amerika Serikat membaik pada era 1970-an ditandai dengan kunjungan presiden Richard Nixon ke RRC pada 1972 serta pengakuan keanggotaan RRC di PBB pada 1971. RRC menggantikan Republik Cina sebagai wakil untuk "Cina" di PBB dan sebagai salah satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Setelah kematian Mao dan Enlai tahun 1975, Deng Xiaoping berhasil memperoleh kekuasaan dan janda Mao. Jiang Qing beserta rekan-rekannya, Kelompok Empat, yang telah mengambil alih kekuasaan negara, ditangkap dan dibawa ke pengadilan.
Sejak saat itu, pihak pemerintah telah secara bertahap (dan telah banyak) melunakkan kontrol pemerintah terhadap kehidupan sehari-hari rakyatnya, dan telah memulai perpindahan ekonomi Cina menuju sistem berbasiskan pasar. Perselisihan perbatasan dengan Uni Soviet diselesaikan dan hubungan dengan Barat mulai membaik.
Para pendukung reformasi keuangan – biasanya rakyat kelas menengah dan pemerhati Barat berhaluan kiri-tengah dan kanan – menunjukkan bukti terjadinya perkembangan pesat pada ekonomi di sektor konsumen dan ekspor, terciptanya kelas menengah (khususnya di kota pesisir di mana sebagian besar perkembangan industri dipusatkan) yang kini merupakan 15% dari populasi, standar hidup yang kian tinggi (diperlihatkan melalui peningkatan pesat pada GDP per kapita, belanja konsumen, perkiraan umur, persentase baca-tulis, dan jumlah produksi beras) dan hak dan kebebasan pribadi yang lebih luas untuk masyarakat biasa.
Para pengkritik reformasi ekonomi – biasanya masyarakat miskin di Cina dan pemerhati Barat berhaluan kiri, menunjukkan bukti bahwa proses reformasi telah menciptakan kesenjangan kekayaan, polusi lingkungan, korupsi yang menjadi-jadi, pengangguran yang meningkat akibat PHK di perusahaan negara yang tidak efisien, serta telah memperkenalkan pengaruh budaya yang kurang diterima. Akibatnya mereka percaya bahwa budaya Cina telah dikorupsi, rakyat miskin semakin miskin dan terpisah, dan stabilitas sosial negara semakin terancam.
Meskipun ada kelonggaran terhadap kapitalisme, Partai Komunis Cina tetap berkuasa dan telah mempertahankan kebijakan yang mengekang terhadap kumpulan-kumpulan yang dianggap berbahaya, seperti Falun Gong dan gerakan separatis di Tibet. Pendukung kebijakan ini – biasanya penduduk pedesaan dan mayoritas kecil penduduk perkotaan, menyatakan bahwa kebijakan ini menjaga stabilitas dalam sebuah masyarakat yang terpecah oleh perbedaan kelas dan permusuhan, yang tidak mempunyai sejarah partisipasi publik, dan hukum yang terbatas. Para pengkritik – umumnya minoritas dari rakyat Cina, para rakyat pelarian Cina di luar negeri, penduduk Taiwan dan Hong Kong, etnis minoritas seperti bangsa Tibet dan pihak Barat, mengatakan bahwa kebijakan ini melanggar hak asasi manusia yang dikenal komunitas internasional, dan mereka juga mengklaim hal tersebut mengakibatkan terciptanya sebuah negara polisi, yang menimbulkan rasa takut.
Hubungan dengan Amerika Serikat selalu pasang surut, sedangkan dengan Uni Soviet semakin memanas karena bantuan Uni Soviet pada Vietnam.
Cina mengadopsi konstitusi yang kini digunakan pada 4 Desember 1982. Sementara Taiwan tetap dianggap sebagai salah satu propinsinya yang didukung oleh Amerika Serikat.
Hubungan Cina-Amerika telah dirusak beberapa kali dalam beberapa dekade terakhir. Titik-titik permasalahan termasuk pengeboman AS terhadap kedubes Cina di Belgrado pada tahun 1998 yang menewaskan tiga wartawan Cina, sebuah insiden yang disebut Cina sebagai kesengajaan namun oleh AS dinyatakan sebagai suatu kesalahan; jatuhnya pesawat AS di Tiongkok pada tahun 2001, di mana Cina menahan 24 awak pesawat tersebut dan merebut informasi yang sensitif dari pesawat tersebut, serta laporan Cox yang mengungkap aksi mata-mata Cina terhadap rahasia nuklir AS beberapa dekade sebelumnya.
Hubungan Cina-Jepang seringkali dibelenggu masalah keengganan Jepang untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf terhadap kekejamannya atas rakyat Cina dan negara Asia lain semasa Perang Dunia II, terutama dalam Pembantaian Nanjing. Sebagian badan bukan dari Barat dan pemerintah Barat mengkritik Cina kerana konon menafikan hak asasi manusia dan hubungan luar negerinya dengan pemerintah-pemerintah Barat terjejas oleh kejadian di Tian'anmen pada tahun 1989. Hak asasi manusia seringkali diungkit oleh pemerintahan-pemerintahan ini. Meskipun begitu, dengan pembangunan ekonomi Cina yang mendadak, pemerintahan-pemerintahan ini mulai menutup sebelah mata karena mau mengadakan hubungan perdagangan dengan Cina, sejajar dengan sikap hipokrit mereka. Ini dilihat semasa pemerintahan Bill Clinton di AS pada masa yang lalu, yang melihat isu hak asasi manusia tidak lagi ditekankan dalam perhubungan.
Pada bulan Mei tahun 1999, suatu pesawat perang B-2 Stealth Bomber menjatuhkan tiga buah bom yang setiap masing-masing berbobot 900 kg atas kantor kedutaan besar Cina di kota Beograd semasa pergolakan Kosovo. Bom-bom ini membunuh tiga rakyat Cina yang bekerja di kedutaan terkait. Amerika Serikat yang enggan bertanggung jawab atas kejadian yang disifatinya sebagai 'bencana' itu mengatakan bahwa hal itu adalah kesalahan menggunakan peta lama yang memberi maklumat tidak betul tentang kedudukan bangunan itu sebagai pangkalan senjata pemerintahan Yugoslavia. Pemerintah RRC tidak puas dengan penjelasan ini dan mendakwa bahwa hal itu sengaja dilakukan. Pada bulan April tahun 2001 pula, kapal terbang pengintip milik Amerika bernama EP-3E Aries II yang berada di atas pulau Hainan di Cina bertemu dengan pesawat jet Cina yang memperhatikan gerak-gerinya. Pesawat Cina terkait terhempas dan pemandunya terbunuh saat kapal pengintip AS terpaksa mengadakan pendaratan darurat di pulau Hainan. Cerita Amerika dan Cina mengenai kejadian ini berbeda sedikit kandungannya. Versi Amerika menyatakan bahwa pesawatnya berada di atas lautan internasional sedangkan RRC mendakwa ia berada di atas Zona Ekonomi Eksklusifnya. Kedua belah pihak menyalahkan pihak lawan bertanggung jawab atas insiden ini. 24 anak kapal Amerika ditahan selama 12 hari sebelum dilepaskan dan kejadian ini memberi dampak pada hubungan diplomatik kedua negara. Amerika pula tidak sedikit pun meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya saat pemerintah RRC mengambil keputusan atas dasar kasihan melepaskan anak-anak kapalnya itu. Satu lagi perkara terkait dengan laporan Cox, yang mendakwa pengitipan RRC telah mengkompromi rahasia-rahasia nuklir Amerika Serikat selama beberapa dekade.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...