"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label kultivar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kultivar. Tampilkan semua postingan

Tanggapan Dua Kultivar Kacang Tanah Terhadap Cekaman Besi (Fe) dalam Kondisi In Vitro


Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan komoditas sayuran yang cukup penting dalam banyak menu kuliner daerah di Indonesia. Tetapi dalam budidaya kacang tanah sering kali terkendala kesesuaian lahan. Banyak lahan pertanian mengandung kalsium (CaO) tinggi. Contohnya daerah Gunung Kidul yang sebagian besar merupakan batuan kapur. Kalsium cenderung menyerap besi (Fe) sehingga meningkatkan ketersediaan besi bagi tanaman. Ada dua kultivar kacang tanah yang umum dibudidayakan oleh petani, yaitu kultivar lokal dan super. Pada kondisi ligkungan optimal, biasanya kultivar super dapat tumbuh dan berproduksi lebih baik dari pada kultivar lokal, namun pada kondisi cekaman besi delum diketahui pengaruhnya.

Perbandingan Fisiologi Antar Kultivar Jagung: Hibrida dan Lokal

Dalam siklus karbon, atom karbon terus mengalir dari produsen ke konsumen dalam bentuk molekul CO2 dan karbohidrat, sedangkan energi foton matahari digunakan sebagai pemasok energi yang utama. Produsen memerlukan CO­2 yang dihasilkan konsumen untuk fotosintesis. Dari kegiatan fotosintesis tersebut produsen dapat menyediakan karbohidrat dan oksigen yang diperlukan oleh konsumen untuk melangsungkan kehidupannya (Anshory, 1984).
Menurut Dowswell dkk. (1996), jagung merupakan tanaman serelia paling produktif di dunia, mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan di negara-negara tropis dan subtropis, dari dataran rendah hingga ketinggian 3000 mdpl, dan dari curah hujan tinggi hingga rendah 500 mm/ tahun.
Umur panen jagung menurut Hyene (1987) dipengaruhi oleh suhu. Setiap kenaikan 50 m dpl, umur panen jagung menjadi mundur satu hari. Di dataran rendah, umur panennya 3-4 bulan, sedangkan di atas 1000 mdpl umurnya 4-5 bulan. Produksi jagung yang berbeda-beda antar daerah salah satunya disebabkan oleh perbedaan varietas yang di tanam. Menurut Iriany dkk. (2007), agroekologi spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk memperoleh produktivitas optimal.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...