"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan

Cerita Rakyat Temanggung III: BAMBU RUNCING

DOWNLOAD
Kita sebagai warga kota Temanggung sudah sepantasnya untuk mencintai kota ini. Warga kota Temanggung harus bangga mempunyai Monumen Bambu Runcing yang dapat mengingatkan jasa para pendahulu dalam mempertahankan kota Temanggung. Dengan merawat dan tidak merusaknya,merupakan salah satu cara kita dalam membuktikan bahwa kita cinta pada kota Temanggung. Tetapi monument yang seharusnya kita hargai dan hormati kadang-kadang dissalah gunakan siswa yang tidak bertanggung jawab, anak-anak kecil yang bermain memanjat di monument tersebut juga merupakan potret akan kurangnya kesadaran untuk merawatnya. Maka sudah selayaknya kita sebagai generasi muda untuk menengok sejarah berdirinya monument tersebut. Beberapa ratus tahun yang lalu ada”PEPUNDEN” dari desa Jampiroso meninggal dunia. Beliau bernama Kyai Bubak yang kemudian dimakamkan di daerah Dongkelan Utara (sekarang di sebelah monument). Dulu belum dibangun Tugu Jam dan monument Bambu Runcing. Di sana juga dimakamkan kerabat dari Kyai Bubak yang berjumlah empat makam. Secara rinci makam tersebut terdiri dari Kyai Bubak dan Mbah Sekatan masing-masing beserta istri. Konon apabila seseorang lewat di daerah makam tersebut dengan menggunakan kuda, mereka harus turun dan berjalan dari kuda. Orang-orang berpendapat bahwa daerah tersebut keramat. Selain makam disana juga terdapat pohon beringin yang sangat besar, karena mengganggu pohon tersebut ditebang. Karena penebangannya sangat berbahaya, maka dilakukan oleh narapidana. Setelah itu dalam jangka waktu beberapa tahun dibangunlah balai desa Jampiroso disekitar makam tersebut. Balai desa tersebut digunakan untuk bermacam-macam keperluan, misalnya pertemuan warga kampung, pentas seni kethoprak, juga digunakan oleh siswa-siswi dari beberapa sekolah di Temanggung untuk perpisahan ataupun kegiatan lainnya. Sekitar akhir tahun1976 dibalai desa tersebut diadakan perpisahan siswa SMEA dengan hiburan band. Pada saat perpisahan tengah berlangsung, tiba-tiba gedung balai desa tersebut roboh. Sebelum peristiwa robohnya gedung balai desa ada firasat atau ada keanehan. Pertama dekorasi panggung memakai warna hijau yang biasanya dipakai untuk tutup keranda. Kedua, saat berlangsungnya hiburan, seakan-akan diatas atap terjadi perang. Kemudian disusul suara patahnya “wuwug”(pucuk atap). Dari kejadian tersebut para peserta perpisahan berlari keluar mencari keselamatan masing-masing. Pada saat itu terdspst korban seorang meninggal dunia dan yang lainnya luka berat serta luka ringan. Bahkan ada yang cacat sampai sekarang.

Oleh: Anjar Yulianto

Cerita Rakyat Temanggung II: TERBELENGGU DERITA TAHAYUL

DOWNLOAD
Sebut saja namaku Mamik, beranak tiga dan berusia 30an tahun. Aku tinggal di sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian membuat batu bata. Banyak orang mengatakan kalau tempat aku membuat batu bata itu angker. Tempat itu terletak di pinggir sawah disisi jalan menuju Tembarak. Di tempat itu pula terdapat seonggok batu besar yang dipercaya sebagian besar tetanggaku, kalau batu besar itu berpenunggu. Sebagai orang beragama, tentu saja aku tidak percaya, bahkan aku berniat menghilangkannya. Selain mengganggu kerjaku batu itu juga telah membuat gossip tentang hantu. Sudah tiga kali dalam tiga lebaran aku kehilangan beberapa lembar rupiah, karena batu bata yang siap dibakar roboh tanpa sebab yang jelas. Orang orang percaya kalau hal itu terjadi disebabkan oleh kegiatanku yang mengganggu sang penunggu batu itu. Puasa tanggal 4 Januari 1999 adalah hari yang paling kelabu bagiku. Siang itu aku dedang duduk di pinggir tobong (tempat membakar batu bata) sambil menyaksikan batu bataku yang telah dibakar. Sambil istirahat kubayangkan bahwa sebentar lagi aku akan menerima jerih payahku dan tentu saja aku akan dapat membelikan baju baru untuk ketiga anakku dihari lebaran tahun ini. Brugh…..tiba-tibabatu bata yang masih di perapian itu mendadak roboh. Baru saja aku mencapai satu langkah, batu bata sebanyak 8000 itu telah menutupi sebagian dari anggota badanku. Dari dada kebawah, tubuhku terbenam diantara batu bata yang panas membaa. Dengan menjerit aku berusaha minta tolong, ibu mertuaku dan suamiku yang berada tak jauh dai tempat itu. Aku tidak tahui apa yang terjadi, setelah aku tidak mampu menahan panas yang melelehkan tubuhku. Sampai aku sadar, aku telah berada di rumah sakit dengan rasa pedih, perih, panas yang menyiksa tubuhku.
Kini tubuhku terbalut perban, aku kehilangan sebagian besar daging di pantat dan di tungkai, karena meleleh tertimpa batu bata panas itu. Kini aku terbaring di rumah sakit umum Temanggung, dengan bau amis daging terbakar. Sampai para tetanggaku yang menjengukku tak berani masuk ke bangsalku, karena bau amis dari badanku. Kudengar selentingan kalau musibah yang menimpaku adalah akibat usahaku yang ingin menyingkirkan batu sumber takhayul itu. Walau demikian aku tetap tak pecaya dan makin berniat akan mengkancurkan. Musibah ini ku anggap sebagai ujian, bukan kutukan. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan lukaku mengering, dan sampai kapan akan terbaring di bangsal rumah sakit ini.

Oleh: Anjar Yulianto

Cerita Rakyat Temanggung I: SUATU PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB

DOWNLOAD
Di suatu tempat , tepatnya disebelah selatan desa Guntur Kecamatan Temanggung, ada sebuah tempat yang dianggap keramatdan menakutkan oleh orang-orang di desa tersebut. Tempat itu berupa kebun yang cukup lebat dengan suasananya yang sepi dan menyeramkan. Tempat itu jarang dilewati oleh orang-orang, karena mereka beranggapan bahwa disana ada mahluk gaib yang menunggu. Pernah suatu ketika, terjadi peristiwa yang aneh. Seorang wanita yang menanam padi di tanah tersebut tiba-tiba jatuh sakit, setelah pulang dari sawah. Dan akhirnya meninggal dunia. Menuut orang-orang tua, dia diganggu oleh makhluk “Tedeng” seoang makhluk gaib yang dipercaya sebagai penunggu sawah tersebut. Tidak hanya kejadian itu saja , tetapi setiap orang yang berusaha mengolah sawah itu mengalami hal yang sama. Kejadian lain yang membuat warga desa Guntur tecengang, adalah seorang janda tua sebut saja Bu Mantri, dia sering melakukan hal-hal aneh, seperti tidak segan segan untuk mengganggu tetangganya dengan cara memukuli penggorengan sehingga mengeluarkan suara bising. Suatu hai ia menyuruh orang untuk membuatkan makamnya di tengah-tengah tanah Tedeng yang dianggap angker. Orang yang disuruh itu pernah menolak, tetapi Bu Mantri mengancam”apabila saya meninggal, saya akan mengganggu kehidupanmu dan kamu tidak akan hidup tenang”. Dengan tepaksa orang itu pun menuruti keinginan Bu Mantri membuatkan sebuah makam yang di sampingnya ditanami bunga Kamboja. Sampai sekarang yang masih menjadi pertanyaan mengapa Bu Mantri memilih dimakamkam di sana?. Apakahdia benar-benar kerasukan makhluk halus? Ataukah memang suatu misteri yang tak akan pernah terjawab?
Tempat lain yang juga dianggap angker adalah sebuah makam yang juga terletak di lahan Tedeng tersebut. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang anak kecil yang mengaku pernak mengalami kejadian yang aneh dan sungguh tidak masuk akal. Saat itu ia tengah berjalan melewati kuburan yang hanya terdiri dari 2 buah makam, yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan “krenda”. Tiba-tiba anak itu melihat bahwa disana ada sebuah boneka, tanpa berpikir panjang ia membawa boneka itu pulang. Sesampainya di rumah, ternyata boneka itu matanya dapat berkedip-kedip tanpa ada yang menggerakkan. Ketika anak itu melihatnya, iapun menjadi takut, lalu ia mengajak ibunya untuk membuang boneka tersebut kesungai. Sampai sekarang, berita tentang boneka itu telah lenyap ditelan bumi. Disuatu sisi di desa Guntur.

Oleh: Anjar Yulianto

Cerita Rakyat Tembarak III: KARTINI

DOWNLOAD

Dahulu, di Desa Banjar ada seorang anak gadis yang benama Kartini. Kartini tidak mempunyai tempat mandi khusus di rumahnya. Setiap sore Kartini mandi di Kali Lungge, di dekat rumahnya. Aliran air Kali Lungge seperti biasanya tidak pernah deras. Itu sebabnya Kali Lungge aman dan ibu Kartini tidak melarang Kartini untuk mandi di Kali Lungge. Pada suatu hari, Kartini sedang bermain-main bersama teman-temannya seperti biasa di dekat Kali Lungge di sebelah rumahnya. Kartini sangat asyik bermain bersama temantemannya hingga ia lupa bahwa hari sudah sangat sore dan ia harus segera pergi mandi agar tidak terlalu larut malam. Kemudian ia berpisah dengan teman-temannya. Tanpa minta izin dengan oang tuanya, dia berangkat ke Kali Lungge untuk mandi. Menurut Kartini, jika dia pulang, tentu saja hal pertama yang akan diperintahkan oleh ibunya, pasti mandi. Jadi ia langsung saja mandi. Padahal biasanya Kartini tidak mandi selarut itu. Sore itu, matahari mulai tenggelam, dan bulan sabit mulai menampakkan diri. Kartini mulai melepas pakaiannya dan mengenakan kembennya. Kartini memilih tempat di kali lungge itu yang bagian dasarnya paling dangkal, lalu merendamkan tubuhnya ke bagian dasarnya. Saat asyik berendam, tiba-tiba kartini mendengar sebuah suara merintih dan memanggil-manggil namanya. “Kartini… kartini… katini… kemari kartini… kemari…” Kartini mengangkat tubuhnya dan mencoba bangkit, berjalan ke arah datangnya suara. Kartini tidak sadar semakin ia berjalan, semakin dalam tubuhnya terendam air.
Sementara Kartini masih bejalan menuju dasar kali lungge, tiba-tiba aliran air menjadi begitu derasnya. Kartini terbawa arus yang deras itu. Kepala
Kartini terbentur sebuah batu jeram. Kepalanya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Seketika setelah hanyut dan pecahnya kepala kartini tanggal 21 April itu, air kali lungge menjadi berwarna merah darah dan ketinggiannya berkurang drastis menjadi sangat dangkal. Esoknya, warga banjar mencari kartini, namun tak juga menemukannya. Tiga hari berturut-turut warga mencarinya, tapi tak juga ada hasilnya. Beberapa tahun kemudian seorang warga banjar menemukan tengkorak kepala manusia yang telah pecah di bantaran Kali Lungge. Setelah kejadian hilangnya kartini itu, tidak boleh ada orang yang mandi di Kali Lungge pada sore hari dan pada setiap tanggal 21 April.

Oleh: Fathin Nabihaty

Cerita Rakyat Tembarak II: ASAL USUL BOTO PUTIH

DOWNLOAD

Dahulu, di daerah yang lebih atas dari Desa Greges, Desa Banjar, dan Mantenan, adalah mata air Janturan yang merupakan danau yang sangat besar. Sedangkan desa-desa dibawahnya itu merupakan daerah berkembang yang semakin lama semakin penuh saja oleh pemukiman dan lahan pertanian. Di Desa Greges, ada seorang kyai yang konon adalah sahabat dari salah seorang Wali Songo. Pada suatu hari, kyai itu ditanya pendapatnya oleh beberapa orang warga yang akan mandirikan rumah baru, akan tetapi sudah tidak ada tempat lagi yang cukup untuk mendirikan rumah. Sang kyai berfikir lama, kemudian ia pergi dan bertanya kepada sahabatnya, sang wali. Sang wali menyarankan kepada sang kyai agar penduduk membuat rumah dibagian atas Desa Greges, kemudian karena bagian atas Desa Greges itu merupakan danau yang sangat besar dan adalah suatu hal yang mustahil untuk mendirikan rumah diatas air, maka sang wali menyuruh agar mereka memindahkan air di danau itu menaruhnya di Kali Lungge. Sepulang dari perginya menemui sang wali, sang kyai menyampaikan pesan dari wali kepada penduduk desa agar mereka mambuat rumah di bagian atas Desa Greges. Sebelum itu, mereka harus memindahkan dahulu air di sana ke Kali Lungge. Semakin banyak rumah yang akan dibangun, semakin banyak pula air yang dipndahkan ke Kali Lugge, semakin dalam pula lubang di daerah itu. Karena itu, sang kyai menyuruh warga agar mengisi derah di sekitar danau itu yang sudah tidak ada airnya untuk diisi dengan batu bata yang terbuat dari batu kapur yang tentu saja warnanya putih.
Sejak sang kyai itu menyuruh warga di sana mengisi daerah yang tidak rata itu dengan batu bata putih atau biasa disebut batu kapur itu, daerah tersebut dinamai bata putih.
Tak seperti namanya, bata putih, sekarang didaerah itu tidak ditemukan lagi batu gamping yang berwarna putih tersebut. Konon, setelah sang kyai wafat, kebanyakan warga di daerah Bata Putih, Greges, Banjar, dan Mantenan sering mengambil batu-batu kapur di daerah Bata Putih untuk membangun rumah, dan bangunan-bangunan lainnya, bahkan untuk dikomesilkan. Akhirnya sekarang disana sudah tidak lagi didapati batu kapur atau batu gamping atau batu bata putih itu lagi. Di Greges bagian atas, di dekat perbatasan Desa Greges dengan Bata Putih terdapat sebuah pemakaman. Di pemakaman itu terdapat sebuah makam yang tidak pernah diziarahi ataupun dikunjungi oleh siapapun. Makam itu menurut kabar burung yang beredar adalah merupakan makam Sang Kyai yang merupakan sahabat seorang Wali Songo itu.

Oleh: Fathin Nabihaty

Cerita Rakyat Tembarak I: DEMIT-DEMIT TUK KEDUNG DANDANG

DOWNLOAD
Pusat mata air Kali Legok terletak disebelah barat Dukuh Gondangan Desa Tawangsari Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, mata air itu akrab disebut “Tuk Kedung Dandang”. Disebut demikian karena semburan airnya yang begitu besar hingga menyerupai dandang. Dandang merupakan wadah untuk menanak nasi. Orang-orang tradisional (orang desa) biasanya menggunakan dandang yang tingginya mencapai lebih dari satu meter ini untuk menanak nasi, bukan dengan menggunakan sabluk. Konon katanya, pada setiap hari jumat ( tidak pandang bulu, mau Jumat Kliwon/Jumat Pahing/Jumat apa) di dekat Tuk Kedung Dandang itu selalu terdengar suara gamelan yang diyakini masyarakat sebagai acara wayangan yang diadakan oleh dedemit-dedemit yang menghuni mata air itu. Yang paling tidak masuk akal adalah bunyi gamelan itu selalu terdengar pada sekitar pukul 10.00 sampai pukul 12.00, apakah mungkin acara wayangan hanya dilakukan selama 2 jam??!! Pagi yang cerah, seorang petani, sebut saja namanya Abas, sedang bersiap akan berangkat ke sawah untuk menanam padi di lahan yang telah selesai dibajaknya kemarin. Abas keluar dari rumah dengan perasaan senang karena ia akan segera memiliki persediaan beras lagi. Abas saking asyiknya menanam bibit-bibit padi hingga tidak menyadari matahari yang sudah semakin meninggi dan petani-petani lainpun satu persatu kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap jumatan.
Abas lupa kalau hari itu adalah hari Jumat. Dia terus melanjutkan pekerjaannya, sampai ia mendengar sebuah suara berisik dari kejauhan. Dia baru berfikir, apakah ada orang sedang nduwe gawe. Abas semakin penasaran karena ia tidak ingat ada orang yang sedang punya acara. Abas terus mengikuti suara itu sampai akhirnya ia ingat bahwa hari itu adalah hari Jumat dan ia harus segera pulang untuk jumatan.
Di perjalanan pulang, Abas tidak lagi mendengar suara berisik itu. Seminggu kemudian, ketika hari Jumat juga, waktu itu Abas sedang menjaga sawahnya. Lagi-lagi abas mendengar suara berisik dari kejauhan, tapi kali ini dia tidak sendiri, tetapi bersama dua orang tetangganya. Abas dan kedua tetangganya mengikuti arah datangnya suara itu. Mereka melewati beberapa petak sawah dan akhirnya mereka sampai di hulu Kali Legok. Dari sana suara itu semakin jelas. Mereka mendengar suara gamelan. Semakin mereka mengikuti suara itu, semakin keras pula suaranya. Sampai di Tuk Kedung Dandang, suara itu hilang. Mereka bertiga pulang dengan terheran-heran. Esoknya, Abas dan kedua tetangganya pergi ke rumah tetua desa Tawangsari untuk menanyakan kejadian yang mereka alami kemarin itu. Sampai di rumah tetua itu, mereka menceritakan semuanya, kemudian tetua itu menceritakan sebuah kejadian yang terjadi beberapa geneasi lalu yang entah mengapa pesis sekali dengan kejadian yang dialami mereka. Kata tetua itu, dulu juga pernah terjadi hal seupa di dusun tersebut. Malahan, orangnya bukan hanya mendengar, tetapi juga melihat demit-demit yang sedang bermain wayangan dengan diiringi musik gamelan. Setelah kejadian itu, banyak orang percaya bahwa pada setiap hari jumat di Tuk Kedung Bendo ada demit-demit yang bermain gamelan yang merupakan pertanda bahwa mereka harus segera pulang.

Oleh: Fathin Nabihaty

TERJADINYA KOTA MAGELANG

DOWNLOAD
Dahulu berdirilah Kerajaan Pajang dengan rajanya bernama Sultan Hadiwijaya. Sedang kadipaten Jipang dipimpin oleh Arya Panangsang. Kedua tokoh itu saling berselisih. Arya Panangsang dikenal sebagai orang yang sombong, Karena keanmpuhannya.
Perselisihan kedua tokoh tersebut mengakibatkan perang. Sehingga banyak korban berjatuhan dari kedua daerah.
Saat petempuran terjadi, Hadiwijaya memberi kepercayaan kepada Danang Sutawijaya sebagai panglima perang. Danang Sutawijaya, adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya. Danang sebagai senopati perang didampingi oleh Ki Gede Pemanahan.
Dengan semangat yang tinggi dan bekal senjata tombak Kyai Pleret, mereka berdua pergi melaksanakan peintah Sultan Hadiwijaya ke medan perang. Mereka beserta rombongan agar selamat dalam medan perang, dianjurkan tidak melalui sungai atau menyebrangi sungai. Karena kelemahan mereka terdapat pada air atau sungai, yang dapat mengakibatkan kekalahan.
Ketika perang terjadi, Arya panangsang tewas oleh Danang Sutawijaya dengan tombak Kyai Pleret. Dengan tewasnya Arya Panangsang, anakbuahnya menjadi kalangkabut. Maka menanglah pihak danang Sutawijaya.
Sutawijaya didampingi Ki Gede pemanahan beserta seluruh pasukannya kembali ke Pajang dengan membawa kemenangan.
Gembiralah hati Sultan Hadiwijaya mendengar laporan kemenangan dari Sutawijaya.
Sebagai balas jasa, atas keberhasilan Sutawijaya, maka Sultan menghadiahkan tanah di daerah hutan Mentaok kepada mereka berdua.
Sejak saat itu, Sultan Hadiwijaya dan Ki Gede Pemanahan mulai mengubah hutan Mentaok dan membangunnya menjadi sebuah kerajaan. Maka berdirilah kerajaan Mataram. Dengan rajanya Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.
Kerajaan Mataram dibawah pemerintahan Panembahan Senopati menjadi sebuah kerajaan besar yang mempunyai pengaruh luas.
Kemudian muncul lah niat Panembahan Senopati untuk memperluas wilyah kerajaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Panembahan Senopati minta pendapat kepada Ki Gede Pemanahan. Nasihat yang diberikan Ki Gede Pemanahan yaitu memperkuat tentaranya sehingga dapat digerakkan untuk menaklukkan wilayah bagian lain.
Langkah pertama yang ditempuh yaitu dengan membuka daerah hutan baru di daerah Kedu. Konon, hutan Kedu tersebut masih merupakan semak belukar yang sangat angker. Karena tempat tersebut tidak pernah dikunjungi manusia.
Menuut kepercayaan masyarakat setempat, hutan Kedu tersebut merupakan kerajaan jin bernama: Jin Sepanjang.
Untuk menghadapi segala kemungkinan, maka ditunjuknya Pangeran Purbaya sebagai Senopati perang.
Hari yang ditentukan telah tiba untuk membuka hutan Kedu. Pangeran Purbaya beserata rombongan dengan membawa pusaka kerajaan Mataram, untuk membuka hutan kedu.
Tatkala hutan Kedu mulai dibuka,dan masuklah bala tentara Mataram untuk mengobrak – abrik hutan tersebut murkalah raja Jin Sepanjang . Raja Jin Sepanjang memerintahkan pasukannya untuk menggempur bala tentara pimpinan pangeran purbaya .
Maka terjadilah pertempuran antara pasukan kerajaan mataram melawan pasukan kerajaan jin . Akkhirnya bala tentara jin terpukul mundur . Raja jin sepanjang melarikan diri dan lolos dari kepungan pasukan mataram.
Desa hutan kedu yang sudah dapat dikuasai oleh pasukan mataram, sebagai desa yang indah pemandangannya, subur tanahnya, dan damai penduduknya.
Dalamdesa tersebut hiduplah seorang petani benama Kyai Keramat dan istrinya bernama nyai Bogem. Sodangkan anaknya benama Rara Rambat . Rara Rambat seorang gadis yang rupawan. Mereka bertiga hidup tentram didesa tersebut.
Pada suatu hari Rara Rambat bersama pengasuhnya mecari dedaunan dan berbagai bunga di sepanjang jalan hutan, untuk dijadikan obat – obatan. Karena asiknya, mereka takmenyadari bahwa dihadapannya telah berdiri seoang pemuda tampan. Rara Rambat dan pengasuhnya terkejut, bahwa didepannya telah beiri seorang pemuda. Jejaka tadi pendamping Pangeran Purbaya. Ia tetinggal oleh pasukan bala tentara mataram tatkala menyerang bala tentaa jin.
Terjadilah dialog antara kedua remaja tersebut. Bertanyalah jejaka tersebut :”siapa engkau berdua dalam hutan?” jawab putri tersebut: “Aku Rara Rambat, rumahku dalam hutan ini. Berkatalah jejaka tersebut: “Aku adalah Raden Kuning anggota pasukan bala tentara Mataram.” Semenjak percakapan itu, Raden Kuning terpikat oleh kucantikan gadis Rara Rambat. Kemudian diungkapkannya isi hati RadenKuning kepada RaraRambat mendengar ucapan Raden Kuning, malu hati rara Rambat.
Larilah Rara Rambat menuju rumahnya.peristiwa tersebut diceitakannya kepada orang tuanya yaitu Kyai Keramat dan Nyai Bogem. Kedua orang tuanya gembia sekali mendengar kejadian yang diceritakan anaknya
Melihat Rara Rambat lari meningalkannya, maka raden kuning mengikuti dari belakang. Sampailah Raden Kuning di rumah orang tua Rara Rambat.
Waktu bertemu dengan oang tua Rara Rambat, mereka saling memperkenalkan diri. Tak lama kemudian raden kuning menyatakan maksudnya untuk meminang Rara Rambat. Orang tua Rara Rambat senang sekali mendengar maksud Raden Kuning untuk meminang anaknya. Mereka sangat gembira akan mempunyai menantu seorang pangeran dari keraton Mataram.
Sesudah pernikahan dilangsungkan, Raden Kuning memboyong Rara Rambat dan kedua orang tuanya ke keraton Mataram.
Ternyata pasukan Kerajaan Mataram berhasil memporak porandakan kerajaan jin yang bersemayam di hutan Kedu. Raja Jin Sepanjang berusaha membalas dendam. Dicarinya jalan bagaimana ia dapat menggempur pasukan kerajaan Mataram.
Raja jin Sepanjang mempunyai cara dengan menyamar sebagai manusia bernama Sonta.
Sonta pergi kerumah Kyai Keramat untuk dapat mengabdi kepadanya. Tentu saja Kyai Keramat menerimanya. Ia tidak melihat siakap keangkuhan Sonta. Dan juga tidak diketahuinya bahwa Sonta itu jelmaan jin.
Senang hati Sonta dikabulkannya permintaannya. Niat jahat Sonta untuk membalas dendam mulai dilaksanakan. Dengan kesaktiannya, dia menyabarkan penyakit, sehingga muncullah wabah di desa tersebut. Kesengsaraan rakyat di desa tersebut tak terperikan, juga menimpa pasukan Mataram. Banyak penduduk menjadi sedih dan meninggal. Bahkan pasukan tentara Mataram banyak yang meninggal dunia karena terserang wabah.
Akhirnya malapetaka yang menimpa pedesaan tersebut diketahui juga oleh Pangeran Purbaya. Gelisahlah hati Pangeran Purbaya. Maka melaporlah Pangeran Purbaya kepada Panembahan Senopati.
Setelah mendapat laporan dari Pangeran Purbaya, Panembahan Senopati meninggalkan singgasana menuju ke kamar pertapaannaya. Di tempat tersebut Panembahan Senopati mengadakan kontak dengan Nyai Roro Kidul dan minta nasihat apa yang perlu dilakukan setelah terjadi malapetaka di desa tersebut.
Sesudah selesai bertapa, keluarlah Panembahan Senopati dari kamar pertapaannya dan menyampaikan nasihat yang diterima Nyai Roro kidul kepada Pangeran Purbaya.
Pada waktu itu Sonta sedang menikmati balasdendamnya dengan senang hati. Sonta merasa gembira karena telah berhasil menyengsarakan pasukan tentara Mataram dari penduduk desa tersebut. Bagi Kyai Kramat yang lagi menikmati istirahatnya, agak terkejut melihat Pangeran Purbaya beserta pengiringnya datang ke rumahnya. Pangeran Purbaya memberitahukan bahwa kedatangannya adalah bermaksud memberitahu bahwa pembawa malapetaka di desa itu adalah Sonta abdi Kyai Keramat, tentu saja Kyai Kramat gugup mendengar pemberitahuan dari pangeran purbaya. Menurut KyaiKramat, Sonta itu seorang abdi yang lugu, yang tidak memiliki keistimewaan.
Mendengar pembicaraan Pangean Purbaya dengan Kyai Kramat, si Sonta lari meninggalkan rumah Kyai Keramat. Kepergian Sonta itu diketahui Kyai Keramat dari bayang-bayang Sonta. Dikejarnya Sonta. Sesampai di suatu tempat terjadilah adu kekuatan antara Sonta dengan Kyai Keramat. Ternyata Sonta itu penyamaran dari jin sepanjang. Dan Sonta lebih sakti dari Kyai Keramat. Sedang Raja Jin Sepanjang atau Sonta kabur meninggalkan tempat itu.
Pangeran purbaya mengetahui perkelahian antara dua orang sakti itu, tetapi tidak dapat mencegahnya. Akhirnya jenazah Kyai Keramat dimakamkan di tempat perkelahian itu. Dan tempat tersebut sekarang dinamai desa Keramat.
Nyai Bogem melihat mayat suaminya, marahlah ia mengejar Sonta melarikan diri ke arah timur.
Ternyata Nyai Bogem dapat mengejar Sonta sampai di suatu tempat. Terjadilah pertempuran antara Sonta dan Nyai Bogem. Karena kesaktian Sonta yang tak tertandingi, tewaslah Nyai Bogem.
Pangeran Purbaya memerintahkan agar mayatnya dimakamkan di tempat pertempuran itu. Sampai sekarang tempat itu dinamai desa Bogeman.
Melihat peristiwa beruntun yaitu kematian Kyai Keramat dan Nyai Bogeman, maka Pangeran Purbaya memerintahkan Tumenggung Mertoyuda untuk membinasakan Sonta. Dalam pertempuran antara Sonta dengan Tumenggung Mertoyudo, ternyata Sonta lah yang unggul dalam pertempuran tersebut. Tewaslah tumenggung Mertoyuda. Kemudian Pangeran Purbaya memerintahkan agar jenazah Mertoyuda dimakamkan di tempat pertempuran tersebut. Maka desa tersebut dinamai desa Mertoyudan.
Kematian demi kematian terjadi, sampai Tumenggung Mertoyuda bernasib naas di tangan Sonta. Hal itu membuat hati Raden Kerincing tersinggung sebagai salah satu senopati andalan kerajaan Mataram. Raden Kerincing bersikeras ingin membinasakan Sonta. Pertempuran terjadi, Sonta tidak dapat dikalahkan, tewaslah Raden Kerincing.
Pangeran Purbaya sedih hatinya melihat kejadian tersebut. Untuk mengenang jasa Raden Kerincing, Pangeran Purbaya memerintahkan agar jenazahnya dimakamkan ditempat pertempuran itu. Dan tempat tersebut sampai sekarang dinamai desa Kerincing.
Berbagai kejadian yang dialami dan dilihat Pangeran Purbaya membuat Pangeran Purbaya marah besar. Kemudian Pangeran Purbaya memerintahkan pasukannya untuk membinasakan Sonta.
Dengan segala kekuatan, Sonta terus menghindar masuk hutan. Meskipun Sonta menghindar, pasukan Mataram terus melacaknya.
Dengan menakjubkan, Pangeran Purbaya bisa melihat Sonta dari ketinggian pohon besar. Dihajarnya Sonta hingga jatuh terjerembab ke tanah. Pertempuran hebat terjadi. Ternyata Pangeran Purbaya memiliki kesaktian yang lebih hebat daripada sonta. Tatkala Sonta tewas, kemudian menjelma kembali menjadi Raja Jin Sepanjang. Oleh Pangeran Purbaya, daerah tersebut dinamakan desa Santan.
Jin Sepanjang terus didesak oleh bala tentera Mataram. Timbullah pertempuran lagi yang sangat dahsyat. Akhirnya Jin Sepanjang tewas oleh Pangeran Purbaya. Tiba-tiba hutan menjadi gelap bersamaan dengan matinya Jin Sepanjang sedikit demi sedikit hutan yang semula gelap menjadi terang kembali bersasmaann dengan hilangnya Jin Sepanjang.
Hilangnya Jin Sepanjang kemudian menjadi sebatang tombak. Pangeran Purbaya tidak berminat memiliki tombak bertuah karena jelmaan Jin Sepanjang yang berwatak tidak baik.
Kemudian Pangeran Purbaya memeintah prajurit untuk mengubur tombak tersebut di tempat itu juga. Tempat tersebut dinamai desa Sepanjang.
Ketika pengepungan yang dilakukan pasukan Mataram terhadap Sonta dan karena rapatnya maka dikatakan “Tepung gelang”, karena mengepung rapat seperti gelang.
Pangeran purbaya menyebut tempat terjadinya pengepungan bernama “Magelang”. Sekarang menjadi kota dagang yang maju dengan nama: “Magelang”.

Oleh: Ueffa Fa’asenca

SEJARAH KALI KEROK

DOWNLOAD
Dahulu kala ketika salah seorang Sultan masih hidup, beliau sering memandikan kuda yang jadi alat transportasinya yang bernama kuda Sembrani itu di sebuah sungai yang berada di barat daya desa kecil yang bernama desa Precet. Beliau memandikan kuda sembrani miliknya itu satu kali seminggu, yaitu pada setiap hari selasa kliwon, tepatnya sore hari. Hal itu berlangsung sangatlah lama, mungkin bisa lebih dari tiga tahun.
Suatu hari, ketika hari selasa kliwon, Sultan membawa kuda kesayangannya yang selalu menemani beliau kemana saja atau si kuda Sembrani itu ke sungai untuk memadikan\memembersihkan kotoran-kotoran yang ada pada tubuh kuda sembrani miliknya itu, misalnya kotoran dari tubuh si kuda itu sendiri maupun kotoran dari alam. Kebetulan waktu itu kuda Sembrani tubuhnya sangat kotor hampir seluruh tubuh tertutup oleh kotoran, maka beliau harus mengeluarkan tenaga ekstra supaya badan kuda Sembrani menjadi bersih. Mungkin, karena kelelahan, Sang Sultan itu menjadi lupa membawa alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh kuda sembrani. Sesampainya di rumah,tiba-tiba beliau ingat kalau alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh si kuda itu tertinggal di sungai tempat beliau memandikan kuda sembrani miliknya itu.
Kemudian setelah itu Sang Sultan pergi ke sungai untuk mengambil alat itu, tetapi sesampainya di sana beliau tak menemukan alatnya itu. Pikir beliau mungkin saja alat itu sudah terbawa arus air, lalu dengan tangan kosong beliau pulang. Beberapa tahun kemudian kuda Sembrani itu mati, tak tahu apa sebab kematiannya. Sedangkan sungai tempat memandikan kuda itu dinamai sungai Kerok. Kerok artinya alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh kuda (dalam bahasa jawa disebut “kérok”).
Beberapa tahun kemudian datanglah seorang laki-laki. Sebut saja namanya Suwirno. Penduduk desa precet. Beliau tahu bahwa dahulunya sungai di sebelah barat daya desa Precet itu sering digunakan untuk memandikan kuda Sembrani milik sang Sultan. Suwarno berpikir, bukankah kuda sembrani itu merupakan salah satu kuda terhebat yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya, sedangkan kehebatan kuda Sembrani itu, bahwa kuda Sembrani itu bisa terbang. Mungkin saja kalau kuda kepunyaanku kumandikan disini maka kudaku akan jadi hebat seperti kuda Sembrani.
Akhirnya, mulai saat itulah kuda milik Suwarno dimandikan di sungai Kerok, sungai yang pernah dijadikan tempat untuk memandikan kuda Sembrani milik Sultan. Hal itu selalu dilakukannya, setiap kuda miliknya kotor dengan segera Suwarnno datang ke sungai Kerok untuk membersihkn tubuh si kuda. Sampai pada akhirnya terasa ada keanehan yang terjadi pada kuda miliknya, rasanya kuda itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mungkin kalau kudaku kumandikan terus di sungai kerok, kudaku akan menjadi lebih hebat dari yang sekarang aku rasakan ini.
Melihat perubahan yang terjadi pada kuda miliknya, beliau menjadi lebih giat lagi untuk membersihkan kuda miliknya itu. Ternyata perkiraan Suwarno tidak salah. Kuda miliknya lama-kelamaan menjadi semakin hebat daripada yang lain. Sangat beruntung beliau bisa mendapati kuda miliknya lebih baik, hanya karena rutin memandikan kudanya di sungai kerok. Kesimpulannya, sungai kerok ternyata memiliki kekuatan ghaib.
Tak lama setelah itu, karena kudanya itu sudah dewasa, dikawinkannya kuda betinanya itu dengan seekor kuda jantan yang dengan segera bisa ia dapatkan. Suwarno harus menunggu beberapa bulan agar ia dapat melihat bayi kuda dari sepasang kuda miliknya itu. Akhirnya masa-masa yang telah lama dinanti itu datang juga. Dari kejauhan dilihatnya ada tiga ekor kuda di kandang miliknya. Salah satunya adalah bayi kuda atau kuda yang baru lahir. Beliau sangat gembira dan mendekati kuda itu….
Setelah beliau berada didekatnya, beliau kaget karena ternyata bayi kudanya berkaki hijau(dalam bahasa jawa: “tracak ijo”). Baliau lebih gembira lagi karena tahu bahwa kuda yang bercirikan seperti itu tidak lain adalah kuda Sembrani milik salah seorang Sultan yang dulunya pernah dimandikan tubuh kudanya itu di sungai yang sama dengan sungai yang beliau gunakan.
Tak lama setelah kelahiran kuda keturunan kuda Sembrani milik Suwarno itu, kabar kalau kuda bayi itu mirip dengan kuda Sembrani milik seorang Sultan itu telah tersebar ke berbagai tempat. Pada suatu hari, sampailah kabar itu ke telinga sang Ratu yang berada di Keraton Yogyakarta. Sang Ratu ingin membuktikan kebenaran kabar tentang kuda itu, maka diutusnya dua orang prajurit untuk menyelidiki hal itu dengan mendatanginya langsung ke desa Precet. Dan kalau kabar yang didengarnya itu benar, beliau ingin memiliki kuda itu dan kuda itu harus dibawa.
Lalu kedua prajurit itu datang ke desa Precet. Sesampai disana mereka mencari tahu akan hal itu, dan mereka mendapati kuda itu, lalu keduanya meminta izin kepada pemuliknya, Suwarno, untuk membawa kuda Tracak Ijo itu ke Keraton Yogyakarta karena sang Ratu ingin memiliki kuda tersebut. Setelah Suwarno dibujuk-bujuki terus, akhirnya dia tetap tidak mau memberikan kuda dambaannya itu. Karena baginya ini adalah suatu kebahagiaan dalam hidupnya. Kedua prajurit itu pulang dengan tangan kosong karena sang pemilik kuda tidak mau memberikan kudanya.
Sepulang dari desa precet, para prajurit itu melaporkan bahwa kabar itu memang benar adanya, namun mereka tak berhasil membawa kuda Tracak Ijo karena sang pemilik tidak mengizinkan kudanya dibawa. Mangetahui hal itu, Ratu mengutus prajurit yang lain untuk mendatangi desa itu lagi dan mambeli kuda Tracak Ijo dengan harga berapapun, akan dinaikkannya derajat anak Suwarno setinggi-tingginya, dan akan mengabulkan permintaannya sampai tujuh turunan sekalipun. Namun jika Suwarno tidak bersedia, desa itu akan dinamai desa “Nggrajegan” atau “ Dawunan” yang artinya:
? Nggrajegan: ajeg(tetep). Maksudnya desa itu tidak akan mengalami perkembangan dan akan tetap seperti itu.
? Dawunan: wukan (gagal). Maksudnya kalau mereka menginginkan suatu hal maka hal itu tidak akan tercapai.
Dan kedua hal ini akan berakhir setelah Suwarno mempunyai tujuh turunan. Dahulunya desa Precet ini hanya dihuni oleh 1 keluarga yaitu keluarga Suwarno. Kemudian prajurit utusan sang Ratu tadi datang ke desa Precet dan menyampaikan beberapa hal antara lain:
? Kuda milik suwarno tadi akan dibeli dangan harga berapapun yang suwarno inginkan.
? Kelau suwarno menyetujuinya maka derajad anak cucunya akan dinaikkan bahkansampai tujuh turunan sekalipun.
? Kalau suwarno tidak menyetujuinya maka desa ini harus diberi nama Dawunan atau Nggrajegan.
Ternyata Suwarno tetap tidak mau memberikan kuda itu. Beliau ingin merawat kuda itu sampai mati. Kedua prajurit itu pulang ke keraton Yogya dengan memberitahukan keputusan Suwano tadi.
Kabar-kabarpun telah tersebar sampai keluar jawa tengah, lalu setiap orang yang mempunyai kuda ketika mendengar kabar itu, mereka langsung pergi ke desa Precet dan memandikan kudanya di sungai Kerok. Sesampai diumah, kuda yang sudah dimandikan di sungai itu meninggal. Kemudian mereka mengubur kuda milik mereka di desa precet dekat dengan rumah Suwarno. Bebeapa tahun kemudian mereka baru sadar akan perkataan sang ratu. Lalu desa Precet bagian atas mereka namakan desa Nggrajegan sedangkan yang bawah mereka namakan Dawunan, tetapi kedua desa itu masih dalam satu wilayah dan dipimpin oleh satu kadus.
Penduduk desa Dawunan dan Nggajegan itu semuanya adalah dari keturunan Suwarno, jadi mereka semua masih ada ikatan keluarga. Ada seorang pintar yang tahu akan hal atau keajaiban di sungai Kerok, desa Dawunan itu. Orang itu datang ke sungai Kerok dan memikat air yang ada di sana sehingga airnya menjadi tawar (tidak punya kekuatan magis lagi). Dulu di sekitar sungai itu banyak batu-batu besa seperti batu lapak, batu yang ada telapak kudanya, dan batu kendang (karena batu itu sering mengeluarkan suara seperti gendang setiap malam selasa kliwon. Ternyata pekataan ratu hanya berlaku untuk masyarakat asli dari keturunan masyarakat desa itu, sedangkan yang tinggal diluar desa itu hanya tiga turunan saja.
Sampai sekarang sungai Kerok masih dianggap keramat. Setiap masyarakat yang mengadakan dan menyembelih hewan seperti sapi, kerbau, kambing, dan lain sebagainya, maka kepala hewan yang disembelih itu harus dicuci dan ditinggal di sungai kerok. Hal itu harus dilaksanakan kalau mereka ingin acara yang diadakannya itu berjalan dengan lancar. Kaena kebetulan disamping sungai itu terdapat suatu jalan menuju desa lain yang keadaannya menanjak, maka setiap kendaraan yang melewati jalan itu harus membunyikan klalson kalau mereka ingin bisa sampai ke atas jalan itu. Sedangkan orang yang tidak menuruti perintah itu maka dirinya dalam keadaan bahaya, bahkan bisa saja orang itu kehilangan nyawanya.
Kebanyakan orang menyebut desa ini dengan nama desa Dawunan bukannya desa Nggrajegan. Banyak penduduk yang berkata bahwa jalan atau jembatan yang berada di depan Sungai Kerok itu juga angker. Terutama pada setiap malam jumat kliwon. Sampai sekarang, desa ini masih tergolong kedalam desa pelosok, karena jalannya masih terbuat dari batu yang dipukul dan ditata atau biasa disebut dengan “kricak” (dalam bahasa jawa), selain itu juga masih banyak terdapat pohon-pohon besar dan ladang di kanan kiri jalan. Kendaraan pun yang melewati melewatinya sangat sedikit, kendaraan-kendaraann besar seperti bis, tanker, dan lain lain tidak pernah lewat desa dawunan.
Mungkin hanya inilah yang bisa saya sampaikan mengenai sejarah sungai kerok (sungai kerok). Semoga anda sekalian bisa puas dengan legenda yang cukup singkat ini. Satu pesan dari saya, kalau anda ingin melewati jalan yang berada di dekat sungai Kerok desa Dawunan, bunyikan klakson atau paling tidak ucapkanlah “Assalamualaikum”. Itu kalau anda ingin selamat dari bahaya yang mengancam. Dalam peta-peta yang digunakan para tentara itu, desa Dawunan bukan dinamakan desa Dawunan, tetapi desa Precet. Semoga dapat dijadikan periksa.

Oleh: Esti Nurul Aini

ASAL MULA KANDANGAN

DOWNLOAD
Perang pada tahun 1825 Pangeran Dipongoro menentang penjajahan Belanda . Pangeran yang menewaskan delapan ribu orang serdadu Eropa dan tujuhribu orang serdadu pribumi . Dalam peperangan ini Belanda mengeluarkan biaya hingga 20.000.000 gulden .
Peperangan ini bermula dari perbuatan semena –mena Residen Belanda dan Patih Danurejo di Yogyakarta . Tanpa berunding dan memberitahu lebih dahulu kepada Pangeran Diponegoro ,Patih Danurejo telah memerintahkan membuat jalan melintasi pekarangan rumah pangeran Diponegoro dengan menancapkan tiang-tiang pancang. Karena hal inilah pangean Diponegoro tersinggung dan menyalah api peperangan Tegalrejo yang menjadi tempat penancapan tiang-tiang pancang untuk jalan “Jogalan”, masyarakatnya merasa dirugikan karena banyak tanah miliknya yang harus dielakan tanpa ganti rugi.
Peperangan meletus dan akhirnya pasukan dari Pangeran Diponegoro berhasil menewaskan “anthek-anthek” Belanda Termasuk Patih Danurejo.
Setelah patih Danurejo meninggal, terjadilah kevakuman pemerintahan Magelang sehingga dipilih seorang pengganti yang dipindah tempatkan dari Parakan. Namun, lama-kelamaan Arya Danukusuma, nama Bupati Kabupaten Magelang di Paakan ini meminta dipindahkan di kabupaten Menoeh( nantinya Temanggung). Lama-kelamaan Residen Kedu C.L. Hartman mengusulkan nama Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung, dan pada 28 Oktober 1834 Majlis Hindia menyetujui ususlan penggantian nama ini. Karena di kabupaten inilah Bupati dan Pemerintahan Eropah bertempat tinggal.
Perekonomian di Kabupaten Temanggung berkembang pesat, terutama pertanian dan peternakan. Namun, tiba-tiba terjadi lagi peperangan di Solo yang menyebabkan bebeapa orang petinggi dari Solo terpaksa melarikan diri karena dikejar-kejar pasukan Belanda. (tepatnya setelah Raden Patah wafat) dan terdesak di daerah Temanggung hingga ke sebuah hutan lebat (namanya menjadi desa Kandangan).
Akhirnya petinggi Solo yang terdesak itu menetap dan membuat sebuah dusun/perkampungan. Karena petinggi Solo itiu tak diketahui dengan jelas namanya, maka dipanggillah dengan sebutan “Kyai Kampung”. Kaena Temanggung perekonomiannya berkembang pesat dan jalur perdagangannya melalui desa ini belum diberi nama, maka disebutlah desa ini sebagai desa persinggahan pedagang (pedagang hewan ternak kebanyakan) ketika paa pedagang kamalaman untuk mencapai Kota Temanggung.
Pada umumnya pedagang-pedagang itu menitipkan tenaknya kepada Kyai Kampung, sehingga tempat tinggal Kyai Kampung lebih mirip dengan kandang. Maka, terkenallah tempat tinggal /dusun persinggahan Kyai Kampung ini sebagai Desa Kyai Kandang.
Tahun demi tahun berlalu, perdagangan di Temanggung, Dessa Kyai Kampung khususnya, semakin besar, sehingga penitipan hewan ternak para pedagang yang singggah pun semakin banyak, dan semakin bertambah pula kandang yang harus dibuatoleh Kyai Kandang, karena tempat tinggalnya tidak bias lagi dimuat ternak-ternak itu.
Semakin banyak waktu yang dilalui tentu saja semakin lanjut usia Kyai Kampung. Kyai Kampung akhirnya sakit dan meninggal dunia di desa perkampungan ini. Jasad beliau dimakamkan di Desa Kyai Kandang sebelah barat.
Untuk mengenang jasa kyai yang membangun desa itu, maka disebutlah desa Kyai Kandang sebagai Desa Kandangan dengan kandangnya yang banyak.
Sayingnya setelah Kyai kampung meninggal dunia perdagangan mulai menurun bahkan tak ada. Generasi ke generasi berganti dan legenda Kyai Kampungpun terlupakan meskipun makamnya masih ada dan namanyapun telah dijadikan nama desa. Namun, karena tak diketahui pasti nama asli sang Kyai Kampung beserta seluuh peninggalannya tak ditemukan, kecuali makam tak terurus, maka terlupakanlah legenda itu.
Desa Kandangan semakin banyak penduduk, lahan-lahan hutan berkurang, sawah dan pemukiman memenuhi hutan yang telah ditebangi. Hamper tak ada yang ingat kejadian desa kandangan ini. Puluhan tahun legenda desa ini terlupakan, tak ada yang memperdulikannya. Bahkan keadaan makam Kyai Kampung pun terlupakan. Tak berbentuk suatu makam leluhur yang dihormati karena hanya berwujud tanah rata yang diberi nisan batu bata, berlumut, tanpa nama, tahun, dan asal usul yang jelas. Masyarakat hanya menganggapnya batu bertumpuk saja.
Sekeliling makam dibangun beberapa rumah. Sebelah selatan rumah penduduk (sesepuh desa), sebelah barat dan utara rumah anak-anaknya, sebelah timurnya berupa hutan/kebun tak terurus. Sedangkan sebalah baat daya makam itu adalah tempat MCK (waktu itu makam itu belum diketahui).
Suatu ketika sang penduduk yang tinggal di sebelah selatan makam yang bernama Bapak Parmin mendapatkan seorang putra. Ketika sang bayi mencapai empat bulan, Pak Parmin merasakan badannya begitu kelelahan sepulang dai sungai. Beliau berjemur di depan rumahnya, membelakangi makam bekebalikan dengan arah MCK yang menghadap makam.
Tengah santainya Pak Parmin duduk berjemur, datanglah sosok laki-laki berperawakan laki-laki pada umumnya dengan jalan yang berwibawa. Mengambil posisi sujud sebanyak 3 kali di hadapan Pak Parmin. Pak Parmin tertegun tak berkedip, tiba-tiba orang itu bertanya pada Pak Parmin “kamu yang tinggal di tempat ini?” sampai 3 kali laki-laki itu bertanya barulah Pak Parmin menjawab “Iya, Bapak ini siapa? Dari mana? Ada apa?” laki-laki itu tertawa dan menjelaskan semua legenda Kyai Kampung. Ia mengaku sebagai abdi/utusan dari Kyai Kampung untuk menyampaikan beberapa pesan pada warga Kandangan. Laki-laki itu berpesan aga warga tidak membuat WC/MCK menghadap makam, rubahlah agar tidak membuat Kyai Kampung tersinggung. Laki-laki itu juga memperlihatkan pada pak Pamin bahwa batu bata berlumut yang sejajar itulah makam Kayai Kampung. Ia berpesan agar warga membersihkan makam itu seminggu sekali setiap hari jumat.
Konon, kata pak Parmin ketika diperlihatkan makam Kyai Kampung dangan laki-laki misterius tadi, terdapat sebuah keis dan tombak menyandar di batu nisan itu. Namun setelah laki-laki itu bepaling, dua benda pusaka itu tak terlihat lagi.
Laki-laki itu mengatakan bahwa dua benda pusaka itu akan tetap beada di tempatnya. Begegas pak Parmin minta izin untuk merawat(mempebaiki), namun laki-laki itu melarangnya dengan alasan bahwa Kyai Kampung belum mengizinkan. Lagipula saat pak Pamin menanyakan siapa nama Kyai Kampung yang sebenanya dan kapankah makam harus dirawat, laki-laki itu menjawab “saat aku kembali lagi menemuimu dan saat itulah akan kuberi tahu nama Kyai”.
Sampai sekarang nama Kyai Kampung belum diketahui. Konon katanya ruhnya kini berada di Kedu. Pesan-pesan laki-laki misterius itu masih sealalu dilaksanakan oleh pak Parmin. Bahkan pada saat Jumat kliwon selalu ada acara sadranan di makam itu.
Menuut ceita, sudah ada empat orang yang betapa selama 40 hari 40 malam minta agar diizinkan mendapatkan keris Kyai kampung yang dapat menjelma menjadi harimau aksasa yang bias terbang itu, tapi tak diizinkan kyai kampung.
Siapa Kyai Kampung?!
Semua masih jadi misteri………

Penulis:Nur Meida R.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...