"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan

Resume “Role of Sea grass Photosynthesis in Root Aerobic Processes”

ROBERTD.SMITH,WILLIAMC.DENNISON,ANDRANDALLS.ALBERTE
PlantPhysiol.(1984)74,1055-1058
Fathin Nabihaty
Banyak spesies telah berevolusi secara fisiologis atau morfologis, dimana anoksia jaringan dapat dihindari atau diminimalkan. Spesies ini, disebut spesies toleran banjir, biasanya memiliki akar udara, memiliki jaringan aerenchymous yang luas, menunjukkan bertekanan ventilasi, memiliki transport 02 dari jaringan aerasi untuk jaringan anoxic, atau memiliki cara metabolic untuk meminimalkan dampak anoksia. Untuk kondisi yang terakhir (cara metabolic untuk meminimalkan dampak anoksia), karbon hasil glikolisis sering kali dijauhkan dari etanol untuk mengurangi jumlah senyawa toksik, seperti asam organic atau asam amino, yang kemudian karbon tersebut dapat dioksidasi untuk menghasilkan energy atau digunakan untuk aktivitas metabolic lainnya.

RESUME Perkiraan Cepat Kandungan Air Nisbi (KAN) / Relative Water Content (RWC)

RICHARD E. SMART, GAIL E. BINGHAM
Plant Physiol. (1974) 53, 258-260
Fathin Nabihaty 
DOWNLOAD JURNAL ASLI
Salah satu kelemahan utama menggunakan KAN untuk menilai status air tanaman adalah persyaratan waktu yang cukup lama. Kedua metode untuk mengestimasi KAN yang ditinjau disini meniadakan kebutuhan oven untuk pengeringan dan penentuan bobot kering oven.

POLIPLOIDISASI

DOWNLOAD FILE .doc

-->
I.               INTISARI
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Kamis, tanggal 28 April 2011. Pada acara keempat ini akan dilakukan pengujian dan pengamatan pembelahan sel yang telah diperlakukan dengan cairan kimia colchisine, agar sel tersebut mengalami polyploidy. Dalam meningkatkan produksi hasil pertanian, banyak usaha yang telah dilakukan dengan pemuliaan tanaman. Salah satunya adalah dengan polyploidisasi, yaitu usaha untuk menggandakan jumlah kromosom. Tanaman polyploid mempunyai sifat superior dibandingkan dengan tanaman diploid. Tujuan dari praktikum polyploidisasi ini adalah memperoleh forma-forma dalam bentuk liar maupun untuk persilangan, mengubah pollen yang incompatible menjadi compatible, mempertahankan kombinasi gen yang diperoleh pada forma-forma diploid, dan mempertinggi hasil pertanaman. Bahan yang digunakan adalah bawang merah ( Allium cepa ) yang diberikan larutan colchisni. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian colchisine menyebabkan terjadinya penggandaan jumlah kromosom dari 16 menjadi 32, karena colchisine membuat benang-benang spindel tidak terbentuk pada saat akan memasuki anafase dalam pembelahan mitosis. 

Kastrasi dan Hibridisasi

http://adf.ly/YcHBw
Teknologi awal yang digunakan dalam pemuliaan tanaman adalah dengan persilangan tanaman. Persilangan tanaman tersebut dalam perkembangannya telah melahirkan teknik penyilangan yang dikenal dengan teknik hibridisasi. Praktikum dasar-dasar pemuliaan tanaman ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi serta aplikasinya di lapangan. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 13-27 Mei 2011 di Kebun Percobaan Banguntapan, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kastrasi dilakukan dengan metode, clipping dan forcing. Kegagalan teknis hibridisasi dapat disebabkan oleh gagalnya proses kastrasi.

A. TUJUAN
Mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi serta aplikasinya di lapangan.

B. LATAR BELAKANG
Di alam bebas dapat terjadi penyerbukan silang berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara spontan oleh kupu-kupu, lebah, angin, dan serangga lainnya. Terjadinya penyerbukan bebas secara alami tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti apakah yang menjadi induk jantan maupun betina mempunyai sifat baik atau buruk. Sehubungan dengan kondisi tersebut maka kemudian manusia berusaha menyelenggarakan penyerbukan silang dengan sengaja antara dua jenis tanaman tertentu yang sifat-sifatnya telah diketahui dengan pasti dan tergolong jenis unggul.

Sebelum melakukan hibridisasi, untuk menghindari tanaman menyerbuk sendiri, terlebih dahulu dilakukan kastrasi. Kastrasi biasanya dilakukan dengan beberapa cara yaitu, clipping method, forcing method, sucking method, dan hot water treatment. Dengan hibridisasi diharapkan akan diperoleh varietas yang mempunyai perpaduan sifat kedua induknya, sehingga diharapkan akan dapat dihasilkan varietas unggul yang mempunyai produksi tinggi, tahan serangan hama dan penyakit, dan tahan kekeringan.

C. LANDASAN TEORI

Tiga fase penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman, yaitu: (1) menciptakan keragaman genotip dalam suatu populasi tanaman, (2) menyeleksi genotip yang mempunyai gen-gen pengendali karakter yang diinginkan, dan (3) melepas genotipe/kultivar terbaik untuk produksi tanaman (Frey, 1983). Beberapa parameter genetik yang dapat digunakan sebagai pertimbangan agar proses seleksi efektif dan efisien, yaitu: keragaman genetik, keragaman fenotipik, heretabilitas, korelasi dan pengaruh dan karakter-karakter yang erat hubungannya dengan hasil.

Pada awal tahun 1965, Bolton dan perhimpunannya mengamati bahwa fragment panjang dari DNA eukariotik dapat membentuk aggregate multimolekuler yang besar atau suatu jaringan kerja reasosiasi sebagian., dan mereka menyimpulkan bahwa sekuen berulangnya bertanggung-jawab untuk pasangan dasar dibawah kondisi mereka harus dihamburkan keseluruh genomnya (Rubenstein et al., 1980). 

Penyerbukan sendiri dan penyerbukan bersilang yang berlanjut dengan pembuahan akan menghasilkan komposisi genetic keturunan yang berbeda. Pada tanaman penyerbuk sendiri yang berlanjut dengan pembuahan secara terus-menerus, populasi generasi-generasi berikutnya cenderung mempunyai tingkat homozigot yang semakin besar, jadi populasi tanaman cenderung merupakan kumpulan suatu lini murni. Sedangkan pada tanaman penyerbuk silang dikenal adanya perkawinan acak. Perkawinan acak merupakan suatu perkawinan dimana setiap individu dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk kawin dengan individu lain dalam populasi tersebut (Hardjowigeno, 2003). 

Pada umumnya maksud dari penyerbukan silang adalah untuk memperoleh jenis-jenis tanaman batu yang memiliki sifat-sifat (Darjanto dan Satifah, 1982):
1. Tumbuhnya tanaman lebih cepat, dapat lekas menjadi besar dan lebih kuat.
2. Hasilnya dapat dipungut dalam waktu yang lebih pendek.
3. Produksinya setiap tahun tetap baik atau lebih tinggi.
4. Kualitas hasil yang diperoleh lebih baik.
5. Tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
6. Tanaman dapat tumbuh baik di berbagai daerah.
7. Bentuk dan warna bunga lebih menarik. 

Menurut Jennings et al (1979), teknik emaskulasi yang sederhana dan yang lebih efisien adalah membuka spikelet dan memindah anthera dengan tweezers atau vacuum. 

Penyerbukan sendiri dan penyerbukan bersilang yang berlanjut dengan pembuahan akan menghasilkan komposisi genetic keturunan yang berbeda. Pada tanaman penyerbuk sendiri yang berlanjut dengan pembuahan secara terus-menerus, populasi generasi-generasi berikutnya cenderung mempunyai tingkat homozigot yang semakin besar, jadi populasi tanaman cenderung merupakan kumpulan suatu lini murni. Sedangkan pada tanaman penyerbuk silang dikenal adanya perkawinan acak. Perkawinan acak merupakan suatu perkawinan dimana setiap individu dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk kawin dengan individu lain dalam populasi tersebut (Hardjowigeno, 2003). 

Menurut Poespodarsono (1988), tepung sari yang diambil untuk mencegah terjadinya penyerbukan sendiri dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Cara mekanis.
2. Menggunakan panas/bahan kimia.
3. Sterilisasi tepung sari.

Menurut Jennings et al (1979), teknik emaskulasi yang sederhana dan yang lebih efisien adalah membuka spikelet dan memindah anthera dengan tweezers atau vacuum. 

Sebagai konsekuensi dari system reproduksi ini dan sejarah evolusi mengenai hal ini sebelumnya, setiap populasi pada tipe ini dipercaya untuk memiliki struktur genetic yang terpadu yang setidak-tidaknya dapat dirtetapkan sebagian dalam hal frekuensi system gen. populasi seperti ini telah dikenal oleh Dobzhansky (1951) sebagai “Suatu komunitas seksual reproduktif dan organisme pembuahan silang yang terbagi kedalam suatu gen pool” (Allard, 1966).


III. METODOLOGI

Praktikum acara II yang berjudul “Kastrasi dan Hibridisasi” dilaksanakan pada hari Jum'at tanggal 13-27 Mei 2011 di Kebun Percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat- alat yang digunakan dalam praktikum yaitu pinset, pentil sepeda, kantong kertas, label, gunting. Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanaman padi (Oryza sativa).

Adapun cara kerja untuk pelaksanaan praktikum kali ini adalah pertama-tama dilakukan pemilihan induk tanaman, yakni tanaman dipilih yang sehat dan bisa mewakili varietas atau line yang digunakan, kemudian dipilih malai yang akan diserbuki, kemudian bunga dipilih yang cukup masak untuk disilangkan yaitu pada saat tinggi kepala sari kira-kira ditengah panjang bunga. Bunga yang tengah dan akan mekar dibuang. Kemudian yang kedua adalah perlakuan kastrasi dan hibridisasi yaitu setelah individu induk dipilih, maka daun benders dipotong untuk memudahkan persilangan, kemudian malai bagian atas dan malai bagian bawah dibuang untuk memudahkan kastrasi dan hibridisasi.

Untuk selanjutnya digunakan cara pertama: metode paksa (forcing method), caranya adalah bunga dibuka secara paksa secara hati-hati melalui lemma dan palea dengan pinset. Kedua ujung sekam dipegang dengan hati-hati. Setelah itu benang sari dari luar dibawa masuk kedalam bunga yang diemaskulasi, kemudian bunga ditutup kembali dan diberi pentil sepeda yang sudah dipotong kecil, dan terakhir diberi label. 

Cara kedua yaitu dengan metode clipping: sepertiga atau setengah bagian dari pallea dan lemma dipotong hingga kepala sari kelihatan, bidang potong miring kearah lemma. Benang sari kemudian dibuang secara hati-hati dengan menggunakan pinset. Setalah itu bunga parental jantan dalam malai yang sudah membuka digoyang-goyangkan diatas bunga yang sudah dikastrasi. Setelah itu bunga ditutup dengan kantong kertas dan diberi label.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kebutuhan akan pangan semakin hari semakin meningkat. Para pemulia tanaman telah berusaha mengembangkan teknologi dalam bidang pertanian untuk mendapatkan hasil yang terbaik pada varietas tanaman pangan. Salah satu teknologi yang sudah sangat populer saat ini, dan sangat membantu dalam peningkatan kualitas pangan di dunia adalah pembuatan varietas hibrida dari suatu tanaman. Varietas hibrida adalah varietas hasil persilangan dari dua tetua. Varietas ini mempunyai sifat heterosis, dan penampilannya lebih baik dibandingkan dengan penampilan rata-rata kedua orang tuanya. Pembuatan varietas hibrida ini didasarkan karena adanya penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu mengenai adanya kemunduran hasil dari tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri (selfing). Galur inbred pada dasarnya sama dengan lini murni pada tanaman penyerbuk sendiri karena merupakan hasil pemilihan akhir dari proses seleksi tanaman hasil penyerbukan sendiri pada setiap generasi sampai diperoleh individu tanaman yang homozigot. Pada proses selfing yang dilakukan, keturunannya akan mengalami kemunduran dalam hal kegigasan atau vigor, berkurangnya ukuran standar normal, dan berkurangan tingkat reproduksi dibandingkan dengan tanaman tetuanya. Kemunduran sifat-sifat ini sering disebut adanya tekanan silang dalam. Kemunduran yang terjadi pada suatu galur inbred sebagai akibat proses selfing dari generasi ke generasi akan sembuh pada f1 bila dua galur inbred yang tidak berkerabat disilangkan. Hasil dari persilangan inilah yang disebut dengan varietas hibrida.

Dalam rangka mendapatkan varietas-varietas yang lebih baik atau unggul, para pemulia menggunakan teknik kastrasi yang dilanjutkan dengan hibridisasi sehingga didapatkan jenis baru yang memiliki sifat yang diinginkan. Metode kastrasi yang digunakan dalam hibridisasi tanaman padi pada acara praktikum ini adalah clipping method dan forcing method.

Kastrasi atau biasa disebut emaskulasi, adalah mengambil alat kelamin jantan sebelum pecahnya kepala sari. Sedangkan hibridisasi adalah menyilangkan dua tanaman atau lebih yang punya sifat genetis yang berbeda. Hibridisasi dapat dilakukan pada tanaman autogam maupun tanaman allogam. Pada tanaman autogam, dikarenakan bunganya merupakan bunga lengkap, maka sebelum dilakukan hibridisasi bunga harus dikastrasi terlebih dahulu dengan cara membuang benang sari tanaman tersebut. Sedangkan pada tanaman allogam, tidak perlu dilakukan kastrasi karena bunga jantan dan bunga betina letaknya terpisah. Tanaman padi merupakan tanaman autogam maka sebelum dilakukan hibridisasi harus dilakukan kastrasi terlebih dahulu agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Proses hibridisasi didahului dengan proses kastrasi maka untuk menghasilkan tingkat keberhasilan hibridisasi yang tinggi, proses kastrasi harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada saat pollen diusahakan jangan sampai merusak struktur pollen bunga. Selain itu, tanaman yang akan dihibridisasi harus diambil dari varietas yang punya hubungan kekerabatan yang dekat dan tidak mempunyai sifat incompatibiltas.

Clipping Method merupakan metode yang dilakukan dengan cara memotong sebagian dari palea dan lemma sehingga kepala sari kelihatan. Bidang potong miring kebawah kearah lemma, kemudian benang sari dibuang menggunakan pinset. Setelah bunga pada satu malai selesai dikastrasi, selanjutnya malai dibungkus dengan kertas transparan dan penyerbukan dilakukan pada pagi harinya. Kantong kertas penutup malai dibuka lalu bunga lain yang telah mekar yang digunakan sebagai sumber pollen / pejantan digoyang-goyangkan didekat bunga yang telah dikastrasi tadi sehingga diharapkan pollen jatuh ke stigma dan penyerbukan terjadi. Kendala yang muncul dalam kastrasi menggunakan metode ini yaitu pada porsi pemotongan berpengaruh terhadap persentase jumlah biji padi. Pemotongan yang terlalu rendah dapat melukai stigma, tetapi jika pemotongan terlalau tinggi, emaskulasi menjadi sulit karena benang sari menjadi terlalu jauh dan pollen menjadi sulit untuk sampai ke stigma pada saat polinasi/ penyerbukan. Pemotongan miring kearah lemma menyebabkan benang sari yang berada didekat lemma menjadi lebih terbuka daripada benang sari yang berada di dekat palea sehingga pengambilan benang sari yang berada didekat palea menjadi lebih sulit karena benang sari tertutup palea. Pengambilan kepala sari yang didekat palea memerlukan kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kerusakan pada stigma, karena tinggi benang sari sama atau lebih rendah dari pada stigma dan keadaan benang sari yang tertutup palea. Malai yang telah diemaskulasi perlu dibungkus dengan kertas transparan agar lingkungan yang diharapkan menyerupai lingkungan saat putik terbungkus oleh lemma dan palea. Hal tersebut mempunyai tujuan untuk melindungi malai dari kondisi lingkungan yang dapat merugikan atau mengganggu prose emaskulasi. Kendala lain yang dihadapi jika menggunakan metode ini adalah biji yang tidak tertutup penuh oleh lemma dan palea yang dipotong meskipun viable, tetapi bentuknya tidak normal dan sering mempunyai dormansi yang tinggi dari pada biji normal. 

Forcing method merupakan metode kastrasi dengan cara membuka secara paksa bunga (padi) melalui penekanan pada lemma dan palea, yang kemudian dengan menggunakan jarum, garis temu antara lemma dan palea dibuka. Setelah lemma dan palea terbuka, kepala sariyang jumlahnya enam buah diambil dengan menggunakan pinset. Setelah itu bunga padi tersebut ditutup dan diikat dengan menggunakan pentil lalu diberi label. Masalah yang timbul dari metode iini adalah pembukaan dengan paksa lemma dan palea yang berisiko terhadap kerusakan stigma atau putik. Hal tersebut terjadi akibat adanya penekanan pada bunga. Putik dapat rusak akibat pembukaan bunga secara paksa melebihi batas membukanya bunga padi. Palea dan lemma membuka sedemikian sehinggaantara lemma dan palea terjkadi sudut kira-kira 30-600. Kastrasi dilakukan pada bunga padi yang belum mengalami self fertilization ( penyerbukan sendiri ), yaiut bunga yang memiliki panjang benang sari maksimal setengah panjang bunga. Keadaan tersebut menyebabkan tinggi benang sari hampir sama dengan tinggi putik atau lebih rendah dari putik sehingga pengambilan benang sari menjadi lebih sulit. Hibridisasi dengan forching method dilakukan sekali pada tiap bunganya, agar pembukaan paksa tidak terjadi berulang kali, untuk menghindari tingkat kerusakan putik yang lebih besar.

Pada dasarnya terdapat beberapa tahapan dalam melakukan teknik hibridisasi , yaitu:
1. Persiapan
 Dilakukan pengamatan pada bunga mentimun, meliputi pembungaan, benangsari, dan putik.
 Pemilihan induk jantan dan induk betina.
 Pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkanb.
2. Isolasi kuncup terpilih.
3. Emaskulasi
 Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga mentimun yang akandijadikan induk betina.
 Dilakukan sebelum putik dan benang sari masak
4. Mengumpulkan dan menyimpan serbuk sarie.
5. Melakukan penyerbukan silang.

Biasanya persilangan yang diadakan dalam usaha memperoleh hybrid tidak saja melibatkan persilangan yang sederhana yang berarti melibatkan dua jenis induk saja, tetapi kadang-kadang persilangan-persilangan yang sangat kompleks dengan menggunakan lebih dari dua induk yang dianggap mewakili kelebiha-kelebihan sifat yang diharapkan menyatu dalam suatu keturunan. Dalam hal ini, seleksionis harus mempunyai koleksi tanaman, sehigga dapat dengan mudah memilih material yang diperkirakan sesuai dengan tujuan seleksinya. Pemeilihan material ini perlu disetai tentang pengetahuan tentang sistematik, morfologi, fisiologi, cytology dalam genetika dari bahan-bahan untuk membatasi kemungkinan-kemungkinan kegagalan yang terjadi. 

Keberhasilan atau kegagalan proses hibridisasi dapat dilihat setelah 3 hari sampai satu minggu setelah peerlakuan. Ciri-ciri proses hibridisasi yang berhasil adalah bunga masih segar, dan bila bunga/ bulir padi tersebut dipencet maka akan keluar cairan putih seperti susu yang merupakan cairan pati. Sedangkan jika gagal maka maka bunga akan kelihatan layu dan warnanya berubah menjadi kecoklatan. Diantara kedua metode tersebut sudah nampak jelas bahwa clipping method lebih efisien untuk dilakukan, karena tidak perlu membuka bunga depan secara paksa yang sulit dikerjakan, tetapi kekurangan dari metode ini yaitu adanya kemungkinan jatuhnya pollen yang terbawa oleh angin ke kepala putik sebelum putik benar-benar masak untuk melakukan penyerbukan, karena tidak ada penghalang untuk melindungi putik dari masuknya benda asing (pollen), untuk mengantisipasinya maka pada saat penutupan dengan menggunakan kertas harus serapat mungkin, hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya pollen ke kepala putik. Sedangkan kelebihan dari forcing method yaitu adanya penutupan kembali bunga yang tadinya dibuka secara paksa tersebut setelah diambil benang sarinya, hal inilah yang yang menjadi nilai lebih bagi forcing method untuk mendapatkan tingkat akurasi data yang maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini, setelah satu minggu, didapatkan tanaman padi yang diberi perlakuan kontrol dapat tumbuh dengan baik dengan persentase keberhasilan 100%. Sedangkan bulir padi hasil perlakuan forcing mempunyai persentase keberhasilan 15 %. Dari 20 bulir yang dikenai perlakuan hanya ada 3 bulir yang di dalamnya terdapat cairan berwarna putih susu. Sedangkan untuk percobaan kastrasi dengan metode clipping mempunyai persentase keberhasilan sebesar 0%. Dari 20 bulir padi yang dikastrasi tidak ada bulir yang berwarna hijau dan malai tampak segar. Secara teoritis, kastrasi menggunakan metode forcing memiliki presentase keberhasilan terjadinya polinasi yang lebih besar karena pollen dipastikan ada di dalam bunga yang dikastrasi. Sedangkan pada kastrasi dengan metode clipping, presentase keberhasilan terjadinya polinasi lebih kecil karena pollen belum tentu masuk ke dalam bunga yang dikastrasi. Meskipun demikian, metode ini lebih cepat dan mudah dilakukan daripada metode kastrasi yang lain.

-----
Persentase keberhasilan:
Forcing method 0%
Clipping methode 4.44 %
Kontrol 82.78%
Tabel 1. Persentase keberhasilan Hibridisasi
 -----

Faktor-faktor berikut ini merupakan hal-hal yang dapat menjadi penyebab kegegalan hibridisasi pada tanaman:
1. Gametic mortality (kematian gamet)
Meskipun oleh struktur yang kebetulan memungkinkan bahwa dua spesies tumbuh-tumbuhan dapat melakukan perkawinan, fertilisasi yang sebenarnya mungkin tidak akan terjadi. Contohnya ketika bunga jantan sampai pada alat kelamin betina namun segera terhenti gerakannya karena keadaan yang tidak sesuai pada alat kelamin tersebut, sehingga sperma tidak akan mencapai sel telur.
2. Aygot mortality (kematian zigot)
Hybrid seringkali sangat lemah dan berbentuk tidak baik sehingga sering mati sebelum mereka dikeluarkan dari induknya. Hal ini berarti bahwa gene flow antara kedua golongan induk tidak terjadi.
3. Hybrid inviability
Anggota dari kedua spesies berdekatan mungkin dapat mengadakan persilangan dan menghasilkan keturunan yang fertil. Juka keturunan ini dan keturunannya lagi bersifat sekuat orang tua mereka disamping adaptasi juga sebaik orang tua mereka, maka kedua populasi ini tidak akan tetap terpisah untuk jangka waktu yang lama jika mereka simpatrik. Hal ini mengakibatkan mereka tidak lagi disebut sebagai dua spesies yang penuh tetapi jika jika anak-anaknya dan keturunannya kurang beradaptasi, mereka lenyap. Akan tetapi faktor ini dapat diabaikan dalam praktikum ini.

Dalam melakukan kastrasi diperlukan kecermatan yang tinggi, karena menyangkut hasil yang akan didapat. Kecermatan diperlukan dalam hal memilih bunga yang akan dikastrasi, memilih tanaman yang akan digunakan sebagai induk jantan dan betina, memilih waktu yang tepat pada saat kastrasi, kemudian juga saat melakukan kastrasi harus teliti dalam arti pada saat mengambil benang sari dari induk betina haruslah cermat yaitu tidak melukai putik dan dapat membedakan mana yang putik dan mana yang serbuk sari. Dan juga semua benang sari harus terambil (yang berjumlah 6 kepala sari).

V. KESIMPULAN

Hibridisasi dapat dilakukan secara buatan dengan terlebih dahulu melakukan kastrasi untuk tanaman penyerbuk sendiri. Dua contoh teknik kastrasi adalah forcing dan clipping. Kegagalan teknis hibridisasi dapat disebabkan oleh gagalnya proses kastrasi.





DAFTAR PUSTAKA


Allard R. W. 1966. Principles of Plant. John Wiley & Sons, Inc. New York, USA. 485 p.

Darjanto dan SAtifah, 1982. Biologi Bunga dan Taknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia. Jakarta.

Hayes, H. K., F. R Immer, D. C Smith, 1955. Method of Plant Breeding. McGraw Hill Book Company Inc. New York.

Jennings., P. R, W. R Scoffman, H. E. Kauffman. 1979. Rice Improvement. IRRI. Los Banos. The Philippines.

Mangoendihardjo W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 181 p.

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. PAU. Bogor.

Rubenstein I., Burle Gengenbach, Ronald L Philips, C Edward Green. 1980. Genetic Improvement of Crops Emergent Techniques. University of Minnesota Press. United States of America. 242 p.

Saptowo, S., Pardal C. A. Wathmena, M. F. Masyhudi, S Hanan. 1994. Pengaruh Umur Embrio dan Genotip Tanaman Terhadap Pertumbuhan Kultur Embrio Muda. Zuriat. V (2): 52

Sucipto, A. 1993. Sekilas Tentang Hibridisasi Pada Tanaman Padi (Oryza Sativa). Buletin Ilmu Terpadu. IV. (21): 3-6

mengapa biji legume lebih cepat rusak dari pada biji graminae?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan biji legume (yang dalam hal ini berfungsi sebagai benih) dari pada graminae:

1. relatifitas kondisi kulit biji legume. Kebanyakan jenis dari famili leguminosae menunjukkan dormansi fisik, yang disebabkan oleh struktur morfologis dari kulit biji yang rumit. Kondisi kedap air kulit biji  legum relatif,  dalam arti bahwa bermacam-macam jenis, bermacam-macam tingkatan kemasakan dan bermacam-macam individu dalam lot benih homogen menunjukkan tingkat  ketahanan terhadap penyerapan air (imbibisi) yang berbeda. Strutur kulit biji tersebut terdiri dari 4 lapisan yang sangat berbeda, yaitu:
1.              Kuticula adalah lapisan yang paling luar yang berlilin yang bersifat menolak air.
2.              Macrosclereids atau lapisan palisade yang terdiri dari sel-sel bentuk panjang, sempit,  terbungkus rapat,  vertikal.
3.              Osteosclereids yaitu lapisan yang terdiri dari sekelompok sel yang terbungkus longgar.
4.              Lapisan parenchyma yang tersusun oleh lapisan sel yang sedikit terdifrensiasi.
Impermeabilitas ditentukan oleh dua lapisan luar, sekali lapisan-lapisan tersebuat dapat tembus air, benih dapat mudah menyerapnya. Ketebalan kulit biji dan ketebalan masing-masing  lapisan berfariasi menurut jenis (Del, 1980 dalam Schmidt 2002).

2. kadar air benih saat dipanen dan saat penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi daya simpan benih.Jika kadar air benih terlalu tinggi dapat memacu respirasi dan berbagai cendawan dapat tumbuh (Wahyu Qamara Munisjah, dkk, 1991).
Umumnya tanaman sereallia dan boiji-bijian legume dipanen pada kadar air 20%. umumya kadar air biji 30% merupakan batas tertinggi untuk dipanen. Gandum dipanen pada kadar air biji 14-15%,kapas 12-14%,padi 18%,jagung 20-30%. Benih yang sanagt kering sangat peka terhadap kerusalkan mekanis serta pelukaan sampingan lainya.kerusakan seperti ini dapat menyebabkan bagian penting benih mengalami pecah atau retak pada bagian penting biji hingga benih tersebut peka terhadap serangan cendawan yang dapat menurunkan daya simpannya (Oren L.Justice dan Louis N.Bass, 1979).

3. kandungan cadangan makanan. Legume banyak mengandung protein yang merupakan tempat dan cadangan energi yang baik bagi bakteri dan cendawan. Sedangkan graminae lebih banyak mengandung karbohidrat.

Biologi Bunga



http://adf.ly/YcIzH
Praktikum Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman yang berjudul Biologi Bunga ini dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 di Laboratorium Pemuliaan tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum mengenai biologi bunga ini bertujuan untuk mempelajari stuktur bunga, mempelajari saat membuka dan menutupnya bunga, mempelajari waktu tepungsari dapat berfungsi (viabel) dan stigma siap menerima tepungsari (reseptif), dan mempelajari tipe persilangan tanaman. Metode yang digunakan adalah dengan cara mengamati morfologi bunga dari masing-masing jenis yang digunakan sebagai preparat praktikum, kemudian digambar lengkap dengan bagian-bagiannya. Alat-alat yang digunakan adalah lup, pinset, dan alat tulis. Hasil dari percobaan ini adalah deskripsi dari masing-masing preparat, yakni bunga jagung (Zea mays), bunga padi (Oryza sativa), bunga kelapa (Cocos nucifera), bunga pepaya (Carica papaya), bunga kakao (Theobroma cacao), bunga cabai (Capsium frutescens), bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis), dan bunga kacang panjang (Vigna sinensis), dan bunga Tomat (Solanum lycopersicum L.). Dari hasil pengamatan diperoleh morfologi dan struktur bunga yang berbeda-beda. Bunga dengan tipe penyerbukan sendiri antara lain bunga padi, jagung, kelapa, tomat, dan cabai. Sedangkan bunga dengan tipe penyerbukan silang antara lain kakao dan pepaya.

PENGAMATAN STRUKTUR SEL HEWAN

DOWNLOAD MAKALAH LENGKAP
I. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengenal struktur seldan jaringan pada berbagai macam sel hewan.
2. Mengetahui bagian-bagian sel hewan.
3. Mengetahui susunan dan letak bagian-bagian sel pada jaringan hewan.
4. Mengetahui perbedaan antar berbagai macam dan jaringan pada hewan.
5. Dapat membedakan antara susunan sel tumbuhan dan susunan sel hewan.

II. DASAR TEORI
1. Sebuah sel adalah suatu unit fungsional dan structural terkecil makhluk hidup yang dapat menopang kehidupan.
2. sel pada hewan tidak memiliki dinding sel.
3. plastida merupakan organel-organel terbesar pada sel hewan yang jelas terlihat di bawah mikroskop sederhana.

III. ALAT DAN BAHAN
1. Mikroskop cahaya
2. Preparat awetan jaringan hewan

V. CARA KERJA
1. satu-persatu letakkan setiap sediaan di bawah mikroskop, periksa dengan perbesaran sedang.
2. atur pencahayaan hingga obyek terlihat jelas.
3. amati setiap bagiannya.

PENGAMATAN STRUKTUR SEL TUMBUHAN

DOWNLOAD MAKALAH LENGKAP

I. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengenal susunan sel pada Allium cepa, Rhoeo dishcolor, dan Manihot utilisum .
2. Mengetahui bagian-bagian sel tumbuhan.
3. Mengetahui susunan dan letak dinding sel, cytoplasma, nucleus, dan plastida dalam satu sel
4. Mengetahui perbedaan antara sel yang menyusun Allium cepa, Rhoeo dishcolor, dan Manihot utilisum

II. DASAR TEORI
1. Sebuah sel adalah suatu unit fungsional dan structural terkecil makhluk hidup yang dapat menopang kehidupan.
2. sel pada tumbuhan setidaknya memiliki dinding sel, protoplasma(cytoplasma, nucleus), vakuola sentral, dan plastida.
3. sel tumbuhan yang menyusun benang sari memiliki sifat dinamik sepeti gejala aliran protoplasma atau siklosis.
4. plastida merupakan organel-organel terbesar pada sel tumbuhan yang jelas terlihat di bawah mikroskop sederhana.

III. ALAT
1. Mikroskop cahaya
2. Deg glass
3. penutup deg glass
4. silet
5. tissue
6. pipet
7. air

IV. BAHAN
1. Allium cepa / bawang merah
2. Rhoeo dishcolor / bunga pikno
3. Manihot utilisum / gabus

V. CARA KERJA

A. Bawang merah
1. sediakan deg glass yang bersih,kemudian beri setetes air bersih menggunakan pipet.
2. belah bawang merah menjadi dua menggunakan tangan sehingga tinggal satu lapisan yang tidak terbelah, ambil dan letakkan lapisan tersebut ke atas deg glass kemudian tutup dengan kaca penutup.
3. letakkan sediaan di bawah mikroskop, periksa dengan perbesaran sedang.

B. Bunga pikno
1. sediakan deg glass yang bersih, kemudian beri setetes air bersih menggunakan pipet.
2. ambil sehelai serabut benang sari, letakkan ke atas deg glass kemudian tutup dengan kaca penutup.
3. letakkan sediaan di bawah mikroskop, periksa dengan perbesaran sedang.
C. Gabus

1. sediakan deg glass yang bersih kemudian beri setetes air bersih menggunakan pipet.
2. sayat gabus (bagian tengah dari batang ketela pohon) setipis mungkin (hampir tansparan).
3. letakkan sayatan gabus ke atas deg glass kemudian tutup dengan kaca penutup.
4. letakkan sediaan di bawah mikroskop, periksa dengan perbesaran sedang.

lap bio2 - EFEK KERJA ENZIM OLEH PERLAKUAN TERTENTU



I. TUJUAN
1. Mengamati reaksi antara enzim katalase dengan hydrogen peroksida
2. Mengamati pengaruh pH terhadap kerja enzim katalase
3. Mengamati pengaruh suhu / pemanasan terhadap kerja enzim katalase
II. METODE DAN SAMPEL
Analisa penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan merujuk pada berbagai referensi yang ada.
Untuk menjawab rumusan masalah, dalam percobaan ini dilakukan pengelompokan kedalam lima sampel. Empat kategori merupakan variable bebas penelitian dan yang satu meupakan variable kontrol.
1. sampel A
filtrate hati ayam Murni 1cc
2. sampel B
filtrate hati ayam 1cc + H2SO4 (asam) satu pipet
3. sampel C
filtrate hati ayam 1cc + NaOH (basa) satu pipet
4. sampel D
filtrate hati ayam 1cc dipanaskan 37 - 40 C hingga berwarna putih kelabu
5. sampel E
filtrate hati ayam 1cc dipanaskan +/- 60 C hingga rusak dan timbul gelembung udara

III. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat dan bahan yang digunakan antara lain:
1. Hati ayam segar
2. Hydrogen peroksida (H2O2)
3. Asam sulfat (H2SO4)
4. Natrium hidroksida / soda api (NaOH)
5. Pelarut / Air murni
6. Tabung reaksi 7 buah
7. Rak tabung reaksi
8. lumpang dan alu porselen
9. kompor Bunsen
10. lidi 1 batang
11. Korek api
12. Kertas saring / tissue
13. Pipet panjang 2 buah
14. Pisau
15. Corong
16. Label
17. Kain lap
18. Sabun cuci

IV. CARA KERJA
Setelah mempersiapkan semua alat dan bahan, kemudian yang harus dilakukan secara umum adalah:
1. Cincang atau remas-remas hati ayam sampai hancur, tambahkan air secukupnya
2. Ambil filtrate hati dengan menyaring menggunakan tissue. Masukkan ke dalam tabung reaksi F
3. Bagi filtrate ke dalam 5 tabung, A,B,C,D,E

Untuk sampel A: langsung lakukan 3 langkah terakhir
Untuk sampel B: masukkan larutan asam, lalu lakukan 3 langkah terakhir
Untuk sampel C: masukkan larutan basa, lalu lakukan 3 langkah terakhir
Untuk sampel D: panaskan antara 37 - 40 C, diamkan sebentar, lalu lakukan 3 langkah terakhir
Untuk sampel E: panaskan antara 60 C, lalu lakukan 3 langkah terakhir

Langkah terakhir yang dilakukan pada setiap sampel yaitu:
1. Teteskan 5 tetes H2O2 pada mulut tabung, tunggu beberapa detik
2. Bakar lidi dengan Bunsen, tiup api sampai timbul bara pada lidi. Masukkan bara ke mulut tabung.
3. Lakukan langkah ke-2 hingga 2 – 3 kali atau hingga tidak terjadi letupan saat bara dimasukkan ke mulut tabung.
Catatan:
o Tangan kiri memegang tabung reaksi, tangan kanan menetesi H2O2.
o Ibu jari kiri menutup mulut tabung rapat-rapat.





V. HASIL




Keterangan:
a = sangat banyak
b = banyak
c = sedikit
d = tidak ada

VI. PEMBAHASAN
Dalam percobaan ini digunakan hati ayam. Dalam sel-sel hati terdapat enzim katalase yang mampu menguraikan racun termasuk hydrogen peroksida atau peroksida air (H2O2) menjadi air dan oksigen menurut reaksi berikut.
Enzim katalase
2H2O2 ---------------- 2H2O + O2

Pada hasil penelitian dapat dilihat bahwa kondisi optimal di mana enzim mampu menghasilkan energi paling besar adalah dengan pemanasan 37 – 40 C. pada kondisi ini, gelembung O2 yang dihasilkan cukup banyak dengan tekanan yang sangat besar, serta mampu memicu letupan bara api hingga lebih dari 10 kali.

Jika dibandingkan dengan kondisi lainnya, apabila diasumsikan bahwa nilai a = 9, b = 8, c = 7, d = 6. Maka dapat dibentuk pemetaan pebandingan berikut.



Titik puncak yang berwarna paling muda adalah kondisi paling optimal bagi kinerja enzim.
Pada umumnya, sifat-sifat dari berbagai macam enzim adalah sama.
Penambahan asam, basa, maupun pemanasan yang ekstrim dapat merusak enzim yang mampu mempercepat terjadinya reaksi. Sehingga secara spesifik kerusakan enzim ini dapat mengakibatkan tidak terjadinya reaksi pembentukan O2.

VII. SIMPULAN
Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa. Penambahan asam, basa, maupun pemanasan yang ekstrim dapat merusak enzim. Sedangkan kondisi optimal enzim pada pemanasan 37 – 40 C.

VIII. REGU PENELITIAN (Kelas XII IPA 2)
1. Fathin Nabihaty
2. Nur Meida R.

AMONIA MENGHAMBAT PERKECAMBAHAN BIJI KACANG HIJAU



I. TUJUAN
1. Mengamati pengaruh penambahan amonia terhadap perkecambahan biji kacang hijau
2. Mengamati pengaruh pH tinggi terhadap perkecambahan biji kacang hijau
3. Mengamati pengaruh unsur nitrogen dalam ammonia terhadap perkecambahan biji kacang hijau

II. METODE
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode sampel. Sedangkan analisanya menggunakan metode kuantitatif dengan merujuk pada berbagai referensi yang ada.
Pemilihan sampel dengan standar berikut:
1. Biji dengan kandungan air sekitar 7-10% (tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah)
2. Daun biji berwarna hijau bersih (tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua)
3. Biji dalam masa dormansi
Pemilihan sampel dengan standar tersebut dimaksudkan agar didapatkan perkecambahan maksimum dari setiap kategori percobaan.
Dalam penelitian ini digunakan sampel berupa 5 biji kacang hijau untuk setiap kategori (kelompok). Hal ini dengan pertimbangan bahwa peluang tumbuh setiap benih kacang hijau antara 80-100%
Untuk menjawab rumusan masalah, dalam percobaan ini dilakukan pengelompokan sampel kedalam empat kategori. Keempat kategori tersebut merupakan variable bebas penelitian.
1. Kategori A
Menggunakan 15 ml Air Murni
2. Kategori B
Menggunakan 10 ml Air Murni + 5 ml NH4OH Pekat
3. Kategori C
Menggunakan 5 ml Air Murni + 10 ml NH4OH Pekat
4. Kategori D
Menggunakan 15 ml NH4OH Pekat
Sementara variable-variabel yang dibuat sama antara lain:
1. Tempat media tanam. Tempat media tanam yang digunakan adalah gelas plastik bekas air minum kemasan, karena sifatnya transparan sehingga memungkinkan cahaya masuk dengan bebas, serta diameternya cukup luas untuk perkecambahan kacang hijau
2. Untuk media tanam digunakan kapas sintetis karena mampu menahan akar-akar kecambah muda, serta cukup transparan untuk memudahkan pengamatan.
3. Pola tanam. Setiap biji ditanam dalam substrat kapas dengan pola berikut dilihat dari samping dan dari atas.



4. Volume air pada setiap kategori 15 ml
(sampai kapas terendam)
5. Intensitas cahaya dibuat sama dengan
Menempatkan semua gelas di bawah jendela
Yang memungkinkan cahaya mengenai biji, tetapi tidak langsung.
6. Suhu optimal diberikan dengan menutup rapat bidang yang sejajar mulut gelas dengan kain (mirip kain handuk). Sehingga udara lembab tetap di dalam gelas.
7. Tidak diberikan pupuk apapun. Dalam hal ini hanya pemberian amonia dengan kadar tertentu.

III. HASIL




IV. PEMBAHASAN

Dalam penelitian selama tujuh hari tersebut, didapati bahwa semakin lama waktu perendaman biji dalam kadar amonia yang tinggi, maka warna daun biji dan daun lembaganya semakin gelap. Hal ini karena terjadinya peristiwa osmosis pada daun biji yang mengakibatkan konsentrasi amonia dalam kotiledon semakin lama semakin pekat.

Pekatnya kandungan amonia dalam kotiledon menghambat penyerapan sari-sari yang seharusnya diambil kecambah dari kotiledon,hingga tidak terjadi penyerapan sama sekali. Akhirnya pada hari kedua kecambah tidak lagi dapat hidup. Sehingga betapapun amonia mengandung zat-zat yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman, justru menghambat pada masa perkecambahan

Dari penelitian dapat dilihat bahwa perkecambahan dengan air murni terlihat lebih normal dari yang lain. Diameter batang +/- 2mm. warna putih susu. Pertumbuhan serta imbibisi cepat.




Dapat dilihat, bahwa semakin hari kecambah semakin berambah pajang. Ada kemungkinan lain yang dapat menyebabkan biji B,C, dan D tidak dapat tumbuh, yaitu potensi gas metan (CH4) dalam ammonia yang bersifat toksik / racun.

V. SIMPULAN

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
“Menambahkan amonia dapat menghambat proses perkecambahan.”
Dengan demikian, hipotesis aawal bahwa “amonia akan membantu proses perkecambahan” bernilai nol, atau salah sama sekali.

Presentasi Reproduksi sel

download file ppt di sini

Ringkasan Sistem Ekskresi

Download file format ms.word di sini

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui struktur sistem ekskresi pada makhluk hidup.
1.3.2 Mengetahui fungsi sistem ekskresi pada makhluk hidup.
1.3.3 mengetahui hal-hal yng berhubungan dengan sistem ekskresi.

1.2 Langkah Penulisan
1.1.1 menyeleksi dan mengkaji berbagai literature yang berhubungan dengan system ekskresi.
1.1.2 meringkas data-data yang diperoleh serta menyajikannya dalam bentuk makalah


BAB II
SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

2.1 Ren
2.1.1 Fungsi
2.1.1.1 Ekskresi zat sisa (toksit); urea, asam urat, kreatinin, kreatin
2.1.1.2 Mengatur volume plasma darah dan jumlah air dalam tubuh
2.1.1.3 menjaga tekanan osmosis; mengatur ekskresi garam
2.1.1.4 mengatur pH plasma dan cairan tubuh, dengan ekskesi urine (asam / basa)
2.1.1.5 sebagai hormon; menghasilkan renin dan eritropoietrin (fungsi endokrin.
2.1.2 Struktur
2.1.2.1 korteks
2.1.2.2 medula
2.1.2.3 pelvis renalis
pada nefron terdiri dari badan malpighi (kapsula bowman dan glomerolus) dan tubulus kontorti (tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan tubulus kontortus distal).
2.1.3 Proses Pembentukan Urine
2.1.3.1 filtrasi (penyaringan)
2.1.3.2 Reabsorbsi (penyerapan kembali)
2.1.3.3 Augmentasi (pengeluaran zat sisa yang tidak diperlukan / disimpan lagi dalam tubuh)





2.1.4 Gangguan Ginjal



2.2 Kulit
2.2.1 Fungsi
Alat ekskresi; mengekskresikan keringat dan minyak
Pengatur suhu tubuh
Pelindung tubuh dari berbagai rangsangan eksternal
2.2.2 Struktur
2.2.2.1 Epidermis:
2.2.2.1.1 stratum korneum : lapisan mati yang selalu mengalami deskuamasi (mengelupas / kehilangan sisik).
2.2.2.1.2 stratum lusidum
2.2.2.1.3 stratum granulosum : mengandung melanin (pigmen hitam pada kulit) yang dihasilkan oleh melanosit.
2.2.2.1.4 stratum germinativum :
2.2.2.1.4.1 Stratum spinosum : daerah proliferasi (perbanyakan) sel.
2.2.2.1.4.2 Stratum basale : daerah awal terjadinya keratinisasi (pembentukan zat tanduk / keratin)
2.2.2.2 Dermis. Sebagian besar terdiri dari serat kolagen, retikuler, dan elastin.
2.2.2.2.1 Akar rambut
2.2.2.2.2 Pembuluh darah
2.2.2.2.3 Saraf
2.2.2.2.4 Glandula sebasea (kelenjar minyak)
2.2.2.2.5 Glandula sudorifera (kelenjar keringat)
2.2.2.2.6 Lapisan lemak



2.3 Hepar
2.3.1 Fungsi
Memecah senyawa racun / menetralkan racun
Menghasilkan amonia, urea, asam urat, enzim arginase, dan empedu
Tempat perombakan eritosit
Tempat pembentukan dan perombakan protein tertentu
Menyimpan gula dalam bentuk glikogen

2.3.2 Struktur
2.3.2.1 Kapsula hepatis (selaput luar hati)
2.3.2.2 Kapsula glison (jaringan ikat)
2.3.2.3 Lakuna (ruang sel)

2.4 Pulmo
2.4.1 Fungsi
Alat ekskresi CO2 dan H2O
Alat respirasi


BAB III
SISTEM EKSKRESI PADA VERTEBRATA






BAB IV
SISTEM EKSKRESI PADA AVERTEBRATA





BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
7.1.1 Setiap tingkatan makhluk hidup memiliki alat dan sistem ekskresi berbeda-beda.
7.1.2 Tingkat perkembangan ginjal dari yang paling sederhana adalah : pronefros ? mesonefros ? metanefros
7.1.3 Proses pembentukan urine dipengaruhi oleh faktor hormon dan jumlah air yang diminum.



DAFTAR PUSTAKA


Kuswinarno dan Isnardiyanti, Sri. Acuan Pengayaan Biologi SMA Kelas XI Semester 2. Solo: CV. Shindunata. 2006.
Encarta ® World English Dictionary © 1998 – 2004 Microsoft Corporation.
Aryuliana, Diah. 2004. Biologi SMA dan MA Untuk Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.





Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...