"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

16 Agustus 2015

Akhirnya, Ku Putuskan Ikut ODOP



One Day One Post (ODOP) diluncurkan oleh Komunitas BloggerMuslimah tepat beberapa hari setelah saya bergabung dengan komunitas ini. Membaca sekilas nama programnya saja langsung terlintas di pikiran saya betapa brilian ide ini untuk membangkitkan disiplin menulis saya sebagai blogger (Secara, saya termasuk blogger yang malas. Lihat saja betapa kering arsip blog ini). ODOP juga menawarkan manfaat aksesibilitas artikel yang kita publikasikan melalui hastag #ODOPBloggerMuslimah, akun twitter @BmuslimahDotCom, dan grup facebook Blogger Muslimah dot com. Selain itu, aksesibilitas yang tinggi tentu merupakan peluang peningkatan traffic, siapa yang gak mau..?

Namun demikian, saya tidak lantas mengikuti program ini setelah mangetahuinya. Masalahnya, rilis ODOP di saat seperti ini bagi saya bagai pedang bermata dua. Saya adalah seorang fleksibel yang perfeksionis, termasuk dalam hal tulis menulis dan blogging. Nah loh, kok bisa, bingung kan? Sama, saya juga bingung. Haha, yah begitulah jadinya kalau golongan darah B punya sisi perfeksionis. Saya sangat bisa berkompromi dengan apapun asalkan logis, termasuk ide yang bisa merubah hidup saya. Di sisi lain saya juga punya sekelumit lapisan sifat perfeksionis yang selalu ON otomatis ketika berniat sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Maka jika saya putuskan untuk ikut ODOP, saya harus benar-benar rajin posting dan itu artinya, saya harus merubah pola kegiatan harian.

Pasalnya, sejujurnya alasan saya jarang update blog bukannya malas melainkan karena prioritas saya pada urusan lain seperti mengerjakan tugas kuliah dan skripsi, jualan online-offline, mengejar target kompetisi, juga mengurus rumah dan keluarga. Saya menulis hampir setiap hari, hanya saja pada akhirnya sebagian besar tulisan-tulisan itu berakhir sebagai draft yang tak kunjung dipublikasikan, dan sebagian yang lebih besar lagi hanya berakhir sebagai judul file tanpa isi. Menyedihkan..

Lebih parahnya lagi, saat ini (lebih tepatnya sih sudah selama hampir tujuh bulan ini) saya sedang dihadapkan dengan masalah manajemen waktu (dan sejujurnya juga tenaga) yang cukup rumit karena meski tidak bekerja di luar, namun saya harus berperan sebagai baby sitter 18-20 jam dalam sehari, non stop..! Serius, ini bukan mode lebay... Baca curhat saya selengkapnya di: Kisah Sedih MenyusuiSi Kecil
 
Selain itu, saya pun menimbang kata-kata Darwis Tere Liye dalam akun facebooknya, “Ketika seorang ibu rumah tangga menghabiskan waktu mengurus keluarga, anak, suaminya, maka jangan tatap masa-masa berlalu cepat dan ibu itu hanya begitu-begitu saja di rumah—malah semakin menua. Tapi tataplah anak-anaknya yang tumbuh besar, jadi anak-anak keren. Tataplah suaminya yang berkembang mengagumkan, menjadi orang yang hebat. Itulah hakikat seorang ibu rumah tangga, tidak dilihat dari dirinya. Tapi dari orang-orang yang dia cintai di sekitarnya.”


Kegalauan saya pun menjadi-jadi. Namun setelah berhari-hari istikharah, menimbang manfaat dan mudharatnya bagi diri sendiri dan si kecil, akhirnya ku putuskan untuk ikut ODOP. Alasannya hanya dua kata: “kapan lagi?!!”. Apapun yang terjadi, saya harus mulai mendisiplinkan diri. Prioritas tak harus berarti mengambil alih segala-galanya. Meski waktu sendiri (bukan me time) hanya 4-6 jam sehari, produktivitas harus tetap terjaga. Bukan hanya demi obsesi, melainkan yang lebih penting adalah menjaga kesehatan pikiran dan ingatan. Jujur, baru tujuh bulan saja terjebak dalam rutinitas di dalam rumah, saya sudah lupa nama teman-teman kuliah, lupa cara penggunaan rumus analisis data, sampai lupa tadi rencana mau belanja apa. Parah..

Yap, kalau bukan sekarang, kapan lagi akan mulai berubah?

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...