"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

4 Juli 2015

Kisah Sedih Menyusui Si Kecil [Part 1]



Harapan setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Termasuk yang terbaik dalam mengurus dan memberikan ASI eksklusif 6 bulan dalam satu waktu sekaligus, meski harus perjuangan ‘berdarah-darah’.. Maka Ibu mana yang tidak sedih jika sampai seluruh tubuh sudah remuk redam memperjuangkan keduanya, tapi taget untuk memberikan nutrisi terbaik itu tak bisa juga terpenuhi?

Tulisan ini adalah curhatan yang saya sampaikan di grup facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Tak disangka, curhatan ini sempat menempati posisi top post selama beberapa hari di grup ini. Sebelumnya saya kira hanya saya saja yang terlalu manja sebagai ibu muda dan terlalu berlebihan menghadapi kasus Si Kecil, Haidar, ternyata... bukan hanya saya yang mengalaminya! Begini ceritanya...
Saya sebenarnya menganut madzhab ASI Eksklusif 6 bulan dan No-Susu Formula sampai 2 tahun. Tapi sudah lama saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, semakin sulit, dan saya rasa sudah tidak bisa ditoleransi lagi, sampai akhirnya saya berikan bubur instan beras merah pisang pada Haidar saat usianya mencapai tepat 150 hari kemarin tanggal 3. Saya ragu apakah pilihan saya benar, tapi juga ragu adakah solusi lain yang lebih baik?

Haidar lahir pada usia kandungan 32 minggu karena pecah ketuban. Pola menyusu Haidar sejak pulang dari RS pascalahirnya di usia 2 hari (di Jogja, cuaca panas) ke Temanggung (cuaca dingin) memang gimana..gitu, luar biasa. Dia menyusu tiap 1 jam sekali dengan lama tiap menyusu juga 1 jam. Anehnya, saat dia cek up ke RS yg sama pada usia 9 hari, seharian penuh dari pukul 8-16 dia tidur, tidak mau menyusu, mulutnya dikunci rapat. Dokter bilang itu normal, maka saya tidak jadi curhat di sini..
Haidar beberapa jam setelah lahir ke dunia. Kurus bangeeet. Maklum, belum waktunya sudah keluar.
Tetapi, keluarbiasaan berlanjut memasuki usia 1 bulan. Sepulang dari imunisasi (di Temanggung), seakan jam tidurnya terbalik, dia menyusu semalaman penuh dan baru mulai tidur saat subuh. Saat itu ASI saya masih mengucur deras tanpa henti seperti belum berlaku hukum supply-demand, jadi stok ASI masih belum jadi masalah, hanya sayanya saja yang agak kecapekan karena kurang tidur. Saya pikir kondisi Haidar seperti ini juga masih normal karena tanda-tandanya mirip growth sprut, maka sekali lagi saya tidak jadi curhat di sini..

Tetapi (lagi), keluarbiasaan berlanjut memasuki usianya 2 bulan. (Lagi-lagi) sepulang dari imunisasi, saya terkejut sekaligus bersyukur karena malamnya dia tidak lagi begadang, tidur lelap dan hanya bangun minta menyusu tiap 3jam selama 15 menitan tiap menyusu. Namun kegirangan saya sirna sampai malam besoknya ternyata dia mulai pola baru, rapel menyusu sebelum tidur.. mulai pukul 17-24 tanpa henti.. saya kebingungan, kalap, karena ASI sudah tidak lagi mancur tanpa kran, hanya bisa keluar kalau disedot, dan setidaknya diistirahatkan 1 jam untuk bisa penuh lagi. Sementara Haidar mulai keluar emosionalnya (kata ibu saya sih seperti tantenya dulu, dari bayi suka ngamuk tanpa pandang bulu). Dia gak mau nyedot kalau payudara tidak kencang, langsung buang muka, nangis kejet. Demikian halnya kalau ASI habis sebelum dia tertidur, puting langsung dibuang dan nangis kejet. Saya bingung..tapi lagi-lagi tidak jadi curhat di sini, takut dibilang mengada-adalah, alasan mau menghentikan asi eksklusiflah, gak berpikiran positif kalau asi cukuplah. Pada kenyataannya sampai selama 2,5 bulan setelah itu, dengan perjuangan 'berdarah-darah' mengusahakan segala cara, tetap saja ASI kurang.. untungnya saya dapat ide manjur untuk mengalihkan perhatian Haidar dari minta susu dengan cara dikasih tontonan video lagu anak-anak dari tablet dan PC.

Alhamdulillah, selama sekitar 2 bulan itu cara nonton video berhasil membuatnya menunda minta susu. Celakanya, memasuki usia 4,5 bulan pola menyusunya berubah lagi. Saya terkejut (lagi) dan kebingungan, Haidar bisa menghabiskan ASI dalam payudara saya yang masih kencang hanya dalam beberapa sedotan kurang dari 3 menit, langsung minta menyusu pada payudara yang satunya lagi sampai habis, dan minta menyusu lagi 30 menit kemudian, paling lama 45 menit kemudian.. Sementara lama waktu ASI untuk kembali terisi sampai kencang tetap 1 jam. Video pun gak mempan lagi, cuma sedikit dia suka, itu pun sudah bosan sepertinya. Sebenarnya ada cara lain selain video yang masih bisa membuatnya tidak minta susu, yaitu gendong berdiri (gendong dengan posisi kepala di atas, bebas melihat ke mana-mana) dan jalan-jalan ke luar rumah. Tapi kan tidak mungkin seharian gendong berdiri & jalan-jalan ke luar terus, berapa kali sehari, dari pagi sampai tengah malam.. dianya berat banget pula.. gak mungkin. Akhirnya ibuku menyarankan untuk diberi bubur saja. Katanya, dulu saya waktu bayi juga begitu, Ibu saya beri saya MP-ASI mulai saya umur 5 bulan, karena saya minta susu terus sampai kurang-kurang, sementara waktu itu (sekitar 23 tahun yang lalu) anjuran ASI eksklusif memang hanya 4 bulan. Kata ibuku lagi, kalau memang dulu dianjurkan 4 bulan, berarti setidaknya ASI eksklusif yang 'paling wajib' ya 4 bulan itu, selebihnya 'insyaallah' bisa ditoleransi. Kami pilih bubur karena khawatir jika susu formula akan berdampak buruk seperti dituliskan di mana-mana. Terlebih, sebenarnya saya sendiri juga punya alergi (hipersensitif) susu, tiap minum susu langsung perut mulas & BAB. Jadi, apakah tindakan kami benar? kalau tidak, bagaimana sebaiknya?
Haidar usia 5 bulan. Berat buangeet. Kalau jalan-jalan sampai harus ditaroh di troli.
Note: seperti saya ceritakan sebelumnya, segala cara sudah saya lakukan selain memberi MP-ASI. Termasuk memompa ASI. tapi karena Haidar minum tanpa henti, hampir tidak ada kesempatan untuk memompa. Dalam seminggu mungkin hanya bisa sekali, dan itu sangat-sangat kurang dibanding permintaannya yang terus-terusan.

Kemudian seperti ini tanggapan para AIMIers..


Setelah 1 bulan berlalu dari saat itu, ternyata cerita sedih saya belum berakhir.. Nantikan di curhatan berikutnya saja ya.. :’( hiks..

Semoga curhatan berikut komentar-komentar dan saran-saran dari AIMIers ini bermanfaat buat emak-emak dan calon emak-emak lain yang sedang memperjuangkan ASI eksklusifnya :’)

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...