"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

7 Februari 2014

Tips Menghemat Konsumsi Beras

Berapa harga beras sekarang? Ini benar-benar pertanyaan.. bukan ngetes. Saya memang hampir tidak pernah beli beras (tinggal ambil aja di rumah banyak, tiap tahun panen). Tapi mendengar ricuh harga beras sekarang membuat saya tidak bisa tinggal diam. Anda keberatan dengan harga beras mahal? Maka berhematlah.. beres.
Menurut hasil browsing saya selama beberapa detik yang lalu ada laporan bahwa harga beras ada di sekitaran 7-10 ribu per kg, bahkan ada yang menyebut sampai 12 ribu. Waw! Itu bagus buat petani (kalau bukan karena margin pedagang yang terlalu tinggi). Tapi buat konsumen itu pasti sangat memberatkan, apa lagi buat anak kos.. ya kan? Maka dari itu, janganlah memaksa pemerintah menurunkan harga beras, apa lagi caranya dengan impor beras.. itu benar-benar menunjukkan inkonsistensi. Di satu sisi kita bilang mau meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tapi mementingkan perut sendiri, padahal dari SD sudah bilang iya iya kalau sebagian besar matapencaharian masyarakat adalah petani. Jadi sekarang pilih mana? Ego atau empati?
Kalau pilih empati, saya punya tips nih. Gak perlu puasa makan atau ngikut OCD Cuma gara
-gara harga beras mahal dan gak bisa beli beras, atau malah makan nasi aking.. oh no..  Untuk menghemat pemakaian beras sebenarnya mudah, cukup mencari tahu apa saja yang membuatnya terbuang sia-sia.
1.     Gunakan beras baru, dan saat mencuci beras jangan terlalu bersemangat. Keep calm and let it flow. Yak, biarkan kotoran mengalir bersama air, tapi jangan biarkan berasnya ikut mengalir.. tetapi beda kasus untuk beras kualitas rendah atau beras yang sudah terserang hama gudang, biasanya memang jadi lebih banyak yang terbuang. Maka dari itu, jangan sok-sokan giling gabah banyak lalu disimpen lama, atau beli beras banyak-banyak tapi Cuma jadi pajangan di dapur. Sebisa mungkin usahakan beras selalu gilingan baru, sehingga kualitas masih bagus dan tidak banyak terbuang ketika dicuci.
2.     Masak secukupnya. Sering kali kita masak nasi (‘masak nasi’ à kesalahkaprahan yang enak diucapkan..haha) tanpa mengira-ngira sampai berapa lama daya tahannya dalam penyimpanan, atau tanpa mempertimbangkan siapa nanti yang mau makan.. perkirakan jumlah konsumsimu dalam sehari, jika memasak dengan rice cooker usahakan nasi tidak berdiam di dalamnya lebih dari 2 hari, karena setelah 2 hari pasti akan banyak yang berubah baik rasa atau pun warna sehingga kita ogah makan dan akhirnya dibuang.. oh no..

3.     Recycle. Aneh ya ada kata recycle di konteks makanan. Tapi nyatanya, it works. Kadang kita salah perkiraan, sudah terlanjur masak banyak tapi tidak ada yang makan. Dalam kondisi seperti ini jangan mati akal ! banyak cara untuk recycle nasi sisa. Jangan dibuat nasi aking ! itu menghilangkan nutrisi di dalamnya. Untuk hal seperti ini Indonesia juga punya banyak kearifan pangan lokal yang bisa diadopsi, contohnya bubur dan nasi goreng. Jadi sebelum nasi yang terlalu banyak itu berubah jelek, segera recycle ! biasanya jika tidak punya banyak waktu untuk memasak, saya cukup mengolahnya kembali menjadi bubur. Berikut ilustrasi singkat cara recycle nasi sisa menjadi bubur yang enak untuk menghemat konsumsi beras bagi yang menggunakan rice cooker.

Nasi sisa. Jangan dibuang !

Tambahkan air yang cukup banyak lalu hancurkan gumpalan nasinya sampai tercampur dengan air (cuma dihancurkan gumpalannya saja, jangan ditumbuk). 

Tambahkan santan dan garam secukupnya. Bila ingin praktis, gunakan santan kelapa bubuk.

Masak seperti biasa hingga menghasilkan bubur nasi yang agak keras seperti gambar di atas (seberapa keras hasilnya tergantung banyaknya air yang ditambahkan, saya suka yang seperti itu).
Bubur nasi siap disantap bersama taburan iwak kali. Nyam nyam..

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...