"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

16 Januari 2014

Sugar Sorgo, Inovasi Gula Merah Sorgum



Permintaan gula merah untuk pasar industri dan umum terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Namun peningkatan permintaan ini baru mampu tercukupi 10% dari sektor perkebunan kelapa rakyat pada tahun 2010. Di beberapa daerah seperti Kabupaten Bantul dan Purworejo, penurunan produksi dari tahun ke tahun disebabkan ketiadaan tenaga kerja penyadap serta kesulitan dalam proses penyadapan nira kelapa. Sampai saat ini, potensi terkuat sebagai bahan baku pembuatan Gula Merah Rakyat (GMR) selain kelapa masih dimiliki komoditas tebu, yang juga merupakan bahan baku utama pembuatan gula putih. Maka dari itu, untuk meningkatkan produksi gula merah,

dalam beberapa tahun kedepan diharapkan gula tebu untuk gula merah dapat disubtitusi dengan tanaman pemanis alami lain seperti sorgum, sehingga dapat menurunakan tingkat kompetisi penggunaan sumber bahan baku, serta meningkatkan penghasilan produsen GMR dan mengaktifkan kembali unit-unit produksi GMR di daerah-daerah.
Sorgum, yang salah satu spesiesnya disebut sebagai Sorgo (Sorgum bicolor L.), termasuk dalam keluarga yang sama dengan padi, gandum, jagung, dan tebu. Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi komoditas agroindustri karena keunggulannya pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan kekeringan, panen mudah, resiko kegagalan rendah, produksi tinggi, dapat diratun, input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lainnya. Selain itu, sorgum juga mempunyai keunggulan dalam manfaat yang sangat luas karena seluruh bagian tanamannya bernilai ekonomi. Batang sorgum memiliki kadar gula antara 12-18%, hampir setara dengan tebu. Dengan demikian batang sorgum sebenarnya berpotensi sebagai sumber gula seperti halnya tebu.


Batang sorgum sebelum digiling
Penelitian untuk pembuatan gula sorgum telah dilakukan oleh mahasiawa Universitas Gadjah Mada pada Oktober-Desember 2011. Dalam penelitian tersebut, masyarakat yang berpartisipasi dengan antusias mengharapkan adanya pengembangan olahan sorgum seperti Sugar sorgo. Sugar sorgo diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sorgum di Gunung Kidul yang biasanya hanya dapat mengusahakan sorgum secara subsisten sebagai pakan ternak. Sugar sorgo juga diharapkan dapat mempermudah produsen gula merah dalam mendapatkan bahan baku, serta meningkatkan produksi per satuan luas lahan yang dimiliki. Oleh karena itu, pengembangan Sugar sorgo tidak boleh berhenti sampai di sini. Informasi lebih lanjut mengenai hasil penelitian dan lain-lain, silakan hubungi penulis.


Gula merah sorgum "Sugar Sorgo"

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...