"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

25 September 2015

Kebakaran Hutan Tanggung Jawab Siapa?

Kalimat “Indonesia paru-paru dunia” terdengar begitu familiar. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki kawasan hutan terbesar se-Asia Tenggara. Hingga akhirnya kini Indonesia dinobatkan sebagai penyumbang emisi karbon terbesar ketiga di dunia, tentu tidak lepas kaitannya dengan “penciutan paru-paru” itu. Kontributor utamanya tidak lain adalah kebakaran hutan langganan di berbagai wilayah kaya hutan yang kini ribut diperbincangkan. 

Tahun-tahun lalu, negara tetangga yang terdampak asap kebakaran hutan masih bisa menyalahkan Indonesia atas setiap kebakaran yang terjadi. Tapi kini tampaknya dunia cukup bisa sadar bahwa kita semua adalah korban atas tangan kita sendiri. Kebakaran hutan yang identik dengan fenomena deforestasi ini, apapun motivasi dan penyebab alami yang mengakibatkan deforestasi itu tidak akan terselesaikan hanya dengan saling menyalahkan. Semua pihak harus sadar bahwa kebakaran hutan dan deforestasi adalah “masalahku dan masalahmu”.

Dahulu, kebakaran hutan bukan hal yang dibuat-buat. Kebakaran hutan sudah merupakan salah satu ciri hutan Indonesia tanpa tanpa perlu utak-atik tangan manusia karena bumi yang sangat kaya batu bara, kemudian secara alami cuaca panas tinggi dan kekeringan berkepanjangan menyebabkan kebakaran.

Namun demikian, kebakaran hutan yang sering terjadi akhir-akhir ini tampaknya kurang pas jika disebut kebakaran alami karena ternyata tidak sedikit titik api teridentifikasi berada di area konsensi perusahaan)1. Kebakaran yang terjadi diluar area itu pun secara tidak langsung merupakan dampak pengembangan perkebunan sawit oleh perusahaan di kawasan hutan gambut yang sering kali tidak memperhatikan daya dukung lahan. Prinsip standar lahan gambut yang boleh digarap dengan kedalaman tidak lebih dari 1 (satu) meter kebanyakan hanya sampai pada pengetahuan para pengembang dan pembuat kebijakan. Dampaknya, kanal-kanal yang dibuat untuk pengairan di perkebunan menyedot air di sekitarnya, menyebabkan kekeringan, panas berlebih, dan kebakaran. Bukan hanya perusahaan, kadang masyarakat setempat pun melakukan pembakaran demi menghemat biaya pembukaan lahan)2.

Kanal kebun yang menyedot air dari lahan gambut, menyebabkan kekeringan dan kebakaran (sumber).
Demi ekonomi, sekarang orang bisa melakukan apa saja. Pun untuk mengalihfungsikan hutan menjadi perkebunan dengan dalih keduanya sama-sama ditumbuhi pepohonan dan menghasilkan oksigen. Padahal, kerapatan vegetasi hutan tidak dapat disamakan sekalipun itu dengan perkebunan. Kemampuan penyerapan karbon pun jauh berbeda karena struktur vegetasi serta komponen biotik-abiotik perkebunan tidak sekompleks hutan.

Berkurangnya kualitas dan kuantitas area hutan akibat alih fungsi ataupun tindakan deforestasi lainnya memberikan kontribusi besar bagi ancaman kelangsungan hidup manusia. Penurunan kualitas dan kuantitas hutan sebanding dengan penurunan aktivitas penyerapan karbon alam. Berkurangnya variasi vegetasi, penurunan tingkat kerapatan dan penimbunan sampah karbon sama artinya dengan membiarkan karbon dan gas rumah kaca lainnya tebang lepas ke udara karena tidak ada lagi yang mampu mengikat mereka. Gas gas rumah kaca yang terbebas itu bertebaran di udara dan menahan panas matahari di dalam atmosfir bumi, tempat tinggal manusia. Panas yang terakumulasi ini ujung-ujungnya ada dua hal. Pertama, menjadi pemicu kebakaran berikutnya. Kedua, merupakan komplemen perubahan iklim yang berujung pada kerusakan bumi.

Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) mengungkapkan bahwa lima puluh persen potensi mitigasi perubahan iklim dunia dapat dicapai dengan mengurangi emisi yang disebabkan oleh deforestasi (Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 4th Assessment Report 2007). Kebakaran hutan pada 1997 karena adanya El Nino menimbulkan emisi / penyebaran sebanyak 2,6 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer (majalah Nature 2002). Sebagai perbandingan total emisi karbon dioksida di seluruh dunia pada tahun tersebut adalah 6 miliar ton. Padahal El Nino terjadi setiap rentang waktu tertentu. Harusnya hal-hal semacam ini menjadi pelajaran mahal untuk membuka mata kita terhadap alam, dan hutan pada khususnya. Oleh karenanya, masalah deforestasi ini semstinya bukan hanya tanggung jawab pemilik lokasi hutan yang diakui secara de jure, melainkan menjadi tanggung jawab setiap individu di seluruh belahan bumi. Ya, kita semua.

Baca juga: Ayo Lakukan! 5 Aksi Konkret Melawan Asap

Artikel diperbarui dalam rangkaian event #SpecialBlogWalking #BloggerMuslimah #SaveHutanIndonesia 

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...