"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

5 Februari 2013

Riwayat Zaid bin Tsabit dan Perannya dalam Penghimpunan Al Quran

Zaid bin Tsabit merupakan keturunan Bani Khazraj dari Nuwar Binti Malik. Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru. Zaid Bin Tsabit adalah kaum Anshor yang masuk islam bersamaan dengan dengan keluargannya saat Rasulullah SAW tiba di Madinah, usianya kala itu baru 11 tahun. Ada yang mengatakan bahwa Zaid tinggal bersama Rasul sejak saat itu, sehingga dalam usia 11 ia sudah hafal beberapa surah Al Qur’an.

Sejak masih muda, Zaid merupakan anak yang cerdas, pandai dalam bahasa, pemberani, dan memiliki ingatan yang kuat. Di usia 13 tahun, Zaid Bin Tsabit datang menemui Rasulullah Muhammad SAW. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Tanpa rasa takut dan dengan penuh percaya diri pemuda kecil itu memohon kepada rasulullah agar diijinkan ikut berperang. “Saya bersedia syahid untuk anda wahai rasulullah. Ijinkan saya pergi berjihad bersama anda untuk memerangi musuh-musuh Allah, dibawah panji-panji anda,” ucapnya dengan tegas. Rasulullah tertegun mendengar permintaan itu. Dengan penuh rasa haru, gembira dan takjub ia menepuk-nepuk bahu Zaid. Sayangnya, rasulullah tidak bisa memenuhi permintaan itu. Zaid masih terlalu muda untuk ikut berperang. Akhirnya, Zaid pulang dengan rasa kecewa. Ia sedih karena tak diijinkan ikut berperang. Tapi kecintaannya yang tinggi terhadap islam tidak pupus. Dengan kecerdasannya, ia memikirkan hal lain yang mungkin dilakukan tanpa terhalang usia.
Dibantu oleh sang ibu, ia mengajukan permohonan baru untuk ikut berjuang dijalan Allah. Sang ibu pergi menghadap rasulullah, menyampaikan kelebihan Zaid yang hapal tujuh belas surah Al Qur’an dengan bacaan yang baik dan benar, serta mampu membaca dan menulis dengan bahasa arab dengan tulisan yang indah dan bacaan yang lancar. Lalu Rasulullah meminta Zaid mempraktekan apa yang dikatakan ibunya. Rasulullah kagum, ternyata kemampuan Zaid lebih bagus dari yang disampaikan ibunya.

Rasulullah meminta Zaid belajar bahasa Ibrani, bahasa orang Yahudi agar mereka tidak mudah menipu rasulullah. Hanya dalam waktu 15 hari Zaid mampu menguasai bahasa itu. Setelah itu, tiap kali rasulullah mendapat surat atau akan membalas surat kepada orang Yahudi, maka beliau meminta Zaid melakukannya. Lalu Rasulullah juga meminta Zaid belajar bahasa Suryani, ternyata Zaid juga mampu melakukannya dalam waktu hanya17 hari. Di usia yang masih muda, Zaid sudah menjadi orang kepercayaan rasulullah untuk menjadi sekretaris pribadi beliau. Tidak hanya itu. Karena kemampuannya membaca dan menghapal Al Qur’an, rasulullah juga mempercayakan Zaid untuk selalu menuliskan wahyu yang turun kepada rasulullah. Setiap kali wahyu turun, rasulullah memanggil Zaid, mendiktekan, dan meminta Zaid menulisnya. Pernah Zaid menyaksikan sendiri saat turunnya wahyu yang membuat Rasulullah sampai tampak seperti sedang sakit.

Karena kedekatannya dengan Al Qur’an, setelah rasulullah wafat, Zaid menjadi rujukan utama bila ada yang ingin bertanya tentang Al Qur’an dan menjadi salah satu penafsir Al Qur-an terpercaya di masanya. Di masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq, Zaid menjadi ketua kelompok yang bertugas menghimpun Al Qur’an. Dalam perang Yamamah banyak penghafal Al Qur’an yang gugur, sehingga Umar bin Khattab mengusulkan pada Abu Bakar untuk menghimpun Al Qur’an sebelum para penghafal lainnya gugur. Meskipun awalnya Abu Bakar ragu karena Rasul tidak pernah memerintahkan hal ini sebelumnya, namun akhirnya Abu Bakar setuju dengan usulan ini dan meminta Zaid bin Tsabit yang melakukan penghimpunannya. Zaid pun awalnya menolak, namun setelah diyakinkan akhirnya ia setuju untuk melaksanakan tugas ini dengan dibantu beberapa orang lainnya.

Di masa pemerintahan Ustman Bin Affan, ia menjadi ketua tim penyusun mushaf Al Qur’an. Karena kedalaman pengetahuannya akan Al Qur’an, ia juga diangkat menjadi penasehat umat islam dimasanya. Ia menjadi tempat bertanya bila ada masalah yang terkait dengan hukum islam. Terutama masalah warisan, dimasa itu hanya Zaid yang mahir membagi warisan sesuai aturan islam. Karena kemampuan itu, saat Umar Bin Khatab menjadi khalifah, Umar pernah berfatwa, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Al Qur’an, datanglah kepada Zaid Bin Tsabit…”.

Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan 92 hadits yang 5 di antaranya disepakati bersama dengan Imam Bukhari dan Muslim. Bukhari juga meriwayatkan empat hadits lain yang bersumber dari Zaid. Sementara Muslim meriwayatkan satu hadits lain yang bersumber dari Zaid. Dengan ini Zaid diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang Fiqih, Fatwa, dan Faroidh (mawaris /hokum waris).

Selain itu, Zaid juga merupakan seorang pejabat besar di bidang keuangan. Zaid pernah diangkat menjadi Bendahara pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Ketika masa kekhalifahan Utsman, Zaid diangkat menjadi pengurus Baitul Maal. Umar dan Utsman juga pernah mengangkat Zaid sebagai pemegang jabatan Khalifah selama mereka menunaikan ibadah Haji.

Meski sudah menjadi ulama besar, namun Zaid tetap zuhud dan tawadhu. Suatu hari saat ia sedang mengendarai seekor hewan, ia kesulitan mengendalikan hewan itu. Saat itu Ibnu Abbas melintas didepannya. Ia membantu Zaid mengendalikan hewannya. Lalu Zaid berkata, “Biarkan saja hewan itu wahai anak paman rasulullah,” katanya. Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan oleh rasulullah menghormati ulama kami.” Lalu Zaid menjawab, “kalau begitu berikan tanganmu padaku.” Ibnu Abbas memberikan tangannya, Zaid menciumnya dan berkata, “Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW untuk menghorrnati keluarga nabi kami.”

Zaid meninggal pada tahun 15 Hijriyah. Kebesaran nama Zaid Bin Tsabit dan kedalaman ilmu yang dimilikinya menjadi sebuah kehilangan besar ketika tiba waktunya ia pergi menghadap Illahi Robbi. Kaum muslimin bersedih karena mereka kehilangan seseorang yang dihatinya bersarang ilmu Al Qur’an. Bahkan Abu Hurairah mengungkapkannya sebagai kepergian Samudera Ilmu. Begitulah Zaid Bin Tsabit dengan keluasan ilmu Al Qur’an yang ia miliki. Semoga Allah merahmati dan memberi beliau tempat yang layak disisi-Nya.

Perjuangan Zaid bin Tsabit tidak berhenti sepeninggalnya, anaknya Kharijah bin Zaid menjadi salah seorang Tabi’in besar juga di masanya di antara 7 ulama faqih Madinah.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...