"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

5 Juli 2012

Liburan 10 Situs Wisata Jogja-Klaten

Beberapa hari yang lalu keluargaku melancarkan misi liburan di Jogja yang diinisiasi oleh kedua adikku. Mereka memiliki rencana utama untuk main ke pantai Indrayanti yang sedang populer dan juga ke salah satu gua yang dekat dengan lokasi itu. Lalu karena target waktu selama 3 hari maka rencana itu ku panjang lebarkan. Jadilah kami mengunjungi kesepuluh tempat ini.
  • Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Benteng Vrederburg. Kami  mengunjungi ini pada hari pertama kedatangan di Jogja. Sayangnya acara (open mic) dimulai terlalu malam (pukul 20.00) sehingga kami memutuskan untuk hanya melihat-lihat stand pameran berbagai kerajinan dan buku loak. Sebenarnya sebelum ke FKY kami parkir di dekat Soping/Shoping atau apalah itu yang katanya pusat buku loak di Jogja, tapi ternyata kami dikibuli waktu parkir yang kedua di lokasi yang sama, parkir pertama hanya Rp3.000,00 tapi e tapi parkir yang kedua di hari yang sama kami diberi karcis abal-abal yang tarifnya Rp5.000,00. yasudahlah...
  • Taman Pelangi di dekat Monumen Jogja Kembali. Tidak lama di FKY kami langsung cap cus ke Terminal Jombor untuk menjemput kakak dan lanjut ke Taman Pelangi. Ini adalah lokasi yang cocok untuk nongkrong dan narsis abis. Ada ratusan lampion cantik berbagai bentuk yang bersinar dari kejauhan. Ada juga tempat pemancingan, permainan anak dan kuliner. Tapi jangan harap bisa makan murah di sini ya.. harga makanannya sebanding dengan harga tiketnya.. (Rp 12.000/orang). Sayangnya disini kami kembali dikibuli oleh tukang parkir. Melihat banyak kendaraan di luar lokasi kami langsung tanya dari dalam mobil "parkir taman pelangi di sini ya?", si tukang parkir jawab "iya disini", "lima ribu, langsung bayar ya". Begitu kira-kira percakapan kami waktu datang ke sini. Tapi e tapi ternyata lokasi parkir sesungguhnya ada di dalam setelah pos tiket yang tarifnya hanya Rp3.000,00. Sudah begitu ternyata tiket parkir yang  diberikan pada kami itu hanya satu kopi, itu berarti si tukang parkir bisa saja kabur dan tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Semoga anda tidak mengalami itu, naudzubillah...
Foto bersama romo penjaga loket Taman Pelangi
Ada Angry Bird dan tokoh-tokoh kartun juga loh..
Tembok Cina setinggi badan saya ternyata..hahah

Terbang naik lumba-lumba. Eits, jangan naik beneran ya..
(Tagline?) Jogja Never Ending Asia. Setuju banget..
Tempat parkir luar yang tidak dijaga dengan benar dan banyak tukang parkir abal-abalnya
  • Pantai Baron. Ini adalah pantainya nelayan, hingga ketiga kalinya mengunjungi tempat ini tetap tidak berubah. Kapal-kapal nelayan, anak-anak main layangan, dan pengunjung lain yang berenang di pojok karang. Tetapi kali ini kami kebetulan bertemu nelayan yang sedang menjemur kijing (bayi kelomang) hasil tangkapannya menggunakan jaring berbentuk segi tiga, dan juga seekor ikan pari yang terdampar dan berdarah-darah. Sayangnya tidak ada yang mempedulikan ikan pari itu, kami pun tidak punya pengetahuan bagaimana caranya mengangani ikan pari yang terluka?
Harap dibaca: "Dilarang mandi/berenang di laut"! Nah loh..
Banyak sekali kapal nelayan. Keren kalau mau buat foto prewed :p
Ikan pari terdampar berdarah-darah.. kasihan..
Ikut (nonton) menjemur kijing
Jaring untuk menangkap kijing
Ini loh yang namanya kijing.. imut-imut yah ^^
  • Pantai Wedi Ombo. Pantai ini juga tidak pernah berubah hingga kedua kalinya kami kemari. Langit terbentang luas, bibir pantai yang sepi pengunjung, batu-batu besar yang ditumbuhi lumut dan ganggang, pasir putih bersih, ombak berdeburan yang tak sampai meraba pasir, serta hewah-hewan laut yang imut dan lucu. Terang saja, pantai ini akan tetap seperti ini karena ini adalah salah satu pantai yang dilindungi agar hewan-hewan dan alamnya tidak rusak seperti pantai-pantai lainnya yang sudah populer. Maka dari itu, meski ratusan nama silih berganti menduduki peringkat atas pantai terindah/terpopuler, Wedi Ombo tetap di hati dan jadi favoritku. Tapi eh tapi, siap-siap sendal jepit, bekal makan-minum dan stamina yang cukup yah.. pispot juga boleh dibawa kalo ada, hhe. Masalahnya jalan dari tempat parkir menuju pantai harus dilalui dengan jalan kaki pada turunan yang tajam dan brangkal di sana sini, sudah begitu hampir tidak ada warung, dan untuk mencari toilet saja kamu bisa ngompol duluan sebelum ketemu toiletnya..
Pemandangan Wedi Ombo dari atas (tempat parkir)
Air yang jernih dan bisa dinikmati oleh para hydrophobia karena batu-batuan untuk berpijak yang tersebar di seluruh bibir pantai sampai cukup jauh ke lautan

Batu-batuan kecil dan besar di mana-mana
Satwa-satwa laut unik ada di sini
Hati-hati menginjak bulu babi dan landak laut
Bintang mengular mungkin bisa bikin kamu geli
Matahari terik. Siap topi atau payung ya..
  • Pantai Indrayanti. Kata orang, pantai ini dikembangkan oleh seseorang bernama Indrayanti. Memang benar pantai ini sangat cantik dengan bibir pantai yang menjorok ke darat, karang besar di sisi-sisinya, serta payung-payung dan gardu-gardu makan yang seperti di Bali (emangnya pernah ke Bali apa? :p). Namun seperti halnya pantai Parangtritis, di sini penuh orang berjejalan, kami sampai tidak dapat tempat utuk makan apa lagi duduk sampai akhirnya bisa menyewa satu payung seharga Rp20.000,00 untuk kami ber6. Terlebih angin pantai yang sangat kencang di sini membuat kami tidak bisa menikmati pemandangan pantai dengan nyaman karena pasir-pasir yang nyasar ke mata. Anda juga harus berhati-hati dengan anak nakal yang sembrono dan menggagalkan rencana anda untuk minum kelapa muda.
Satu-satunya gambar agak bagus yang bisa kami ambil
  • Goa Cerme. Jalan menuju tempat ini cukup sulit dan menegangkan karena hanya dibangun masyarakat secara swadaya dengan dana PNPM pada 2010 lalu. Lokasinya dapat diakses lebih mudah melalui Imogiri daripada melalui Parangtritis. Di sini, bukan hanya goa yang indah oleh kilauan alga (kata mereka yang sudah masuk, kalau saya mah canggih, anti air, jadi kagak ngeliat :p), namun sunset dan lanskap-nya pun bisa menenangkan hati yang galau.




  • Kuliner Soto Ayam Kampung Jawa. Di perjalanan pulang yang diiringi lagu keroncong-an perut kami terus mencari warung yang bukan menjajakan bakso ataupun mie ayam (sepanjang perjalanan hanya ada itu, bosen ah), lalu kami menemukan warung soto ini. Tidak sia-sia ternyata perjuangan menahan lapar tertebus oleh soto dengan ukuran porsi dan rasa yang mantap serta harga yang terjangkau (hanya Rp6.000,00).
  • Museum Affandi. Di hari ketiga ini kami lebih banyak mengunjungi seni dan kerajinan, setelah sebelumnya bercapek-capek ria dengan alam. Museum Affandi, salah satu maestro anak jogja. Selain lukisannya yang bergaya unik dan boros cat, model bangunan yang unik di sini juga mampu membuat pengunjung terpesona dan betah berlama-lama. Hanya saja bayaran yang diberikan juga harus sepadan, yaitu dengan tiket seharga Rp20.000,00/orang. Tapi tidak apa lah, untuk memberikan kontribusi bagi pelestarian seni dan budaya bangsa. Lagi pula di sini kami juga bisa mencicipi es krim Nyonya Besar rasa kacang hijau yang lezat untuk pertama kalinya.
Saya seperti Rapunzel dengan rumah menaranya bukan? hahahh
Tidak di semua ruangan pengunjung boleh berfoto. Di sini salah satu ruangan yang boleh untuk berfoto.
Pertama kalinya mencicipi es krim Nyonya Besar karena terpaksa haus dan lapar, namun akhirnya jatuh cinta dan ketagihan
  • Pasar Seni Gabusan. Rancangan tata letak bangunan dan segala macam fasilitas untuk disebut pasar seni bisa dibilang jauh lebih lengkap daripada semua tempat belanja oleh-oleh di Jogja yang pernah saya kunjungi. Sayangnya tempat ini masih sangat sepi. Jumlah penjual pun masih lebih banyak daripada pengunjungnya. Amat sangat disayangkan. Padahal, dibandingakan dengan harga barang-barang di Malioboro, harga di sini jauh lebih rasional. Sebagian pedagang adalah perajin produknya sendiri, sehingga harga barang bisa jauh lebih murah dari umumnya. Tempat ini sangat saya rekomendasikan untuk belanja oleh-oleh souvenir. Hanya saja anda perlu siap-siap capek jalan kaki karena lokasi kios-kios yang saling berjauhan antar blok. Bahkan, saat anda memasuki gerbang pasar ini anda bisa berdecak kagum akan luasnya areal pasar yang waw..

  • Rawa Jombor. Tak disangka, perjalanan menuju tempat ini lebih jauh dari dugaan.. dan ternyata, Rawa Jombor tidak termasuk wilayah Jogja (DIY), melainkan Klaten. Tepatnya di Desa Krakitan Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Awalnya kami pikir akan ada semacam area kuliner luas di sekeliling rawa. Ternyata area kuliner itu khusus hanya di Restoran Apung saja. Karena tidak ingin membayar mahal, akhirnya kami justru bersyukur karena dapat menikmati sunset yang romantis dan syahdu di tepi rawa dengan bersandarkan kursi bambu seadanya tempat orang biasa menunggu dan memancing.
Demikianlah perjalanan liburan kami yang nano-nano berakhir dengan sunset yang indah. Semoga pengalaman liburan ini bisa menginspirasi rencana liburanmu. Ingat selalu cari tau dan buat target lokasi yang sejalur untuk liburan agar tidak buang-buang waktu, tenaga dan biaya serta tidak menambah-nambah carbon footprint di perjalanan. Ingat juga untuk selalu berhati-hati dengan tukang parkir di area situs wisata, karena banyak dari mereka bukan tukang parkir sungguhan. Hehe ;)

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...