"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

27 Juni 2012

PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA

Luas pertanaman kelapa di Indonesia telah mencapai 3,76 juta ha. Namun demikian pada tahun 2011, terjadi penurunan area perkebunan kelapa Dalam yang berpengaruh terhadap produksi secara umum. Kecenderungan terjadinya eksploitasi monopsonistik oleh perusahaan inti terhadap petani plasma merupakan salah satu penyebab penurunan areal pertanaman tersebut. Hal lain yang menjadi factor penyebab permasalahn tersebut adalah kurangnya pengetahuan akan teknologi penerapan budidaya kelapa dikalangan petani. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas kelapa dan pendapatan petani, kelapa tua perlu diremajakan, kelapa yang relative muda direhabilitasi dan perlu adanya penerpan teknologi tepat guna dalam budiaya tanaman kelapa, serta utamanya diperlukan pengkajian mengenai penaksiran produktivitas kelapa di suatu daerah dalam satu satuan luas lahan per satu satuan waktu. Sehingga dapat dilakukan upaya teknis lanjutan untuk peningkatan produktivitas kelapa tanpa hambatan yang berarti.
Tanaman kelapa dibagi menjadi dua jenis berdasarkan umur dan sifat lainnya, yaitu kelapa Dalam dan kelapa Genjah. Tanaman kelapa Dalam memiliki batang besar dan pada bagian bawahnya membesar yang biasa disebut bole. Tinggi tanaman dapat mencapai 30 m, dan umur produksi 70-90 tahun setelah tanam. Tanaman kelapa Genjah memiliki karakter sebaliknya, yaitu berbatang ramping, tidak membentuk bole, dan berbuah lebih cepat 3-4 tahun setelat tanam. Hibridisasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kelapa. Tahapan pada proses hibridisasi meliputi penyediaan serbuk sari, emaskulasi, dan polinasi/ penyerbukan. Persilangan secara alami dilakukan oleh serangga atau angin, sedangkan persilangan buatan dilakukan dengan menghembuskan serbuk sari pada bunga betina yang sedang reseptif. Pada persilangan buatan, serbuk sari tidak semuanya habis dipakai dalam satu hari persilangan, bergantung pada jumlah bunga betina yang sudah siap untuk diserbuki, sehingga serbuk sari perlu disimpan. Proses penyimpanan serbuk sari akan mempengaruhi viabilitasnya (Randriani dan Saefudin, 1993).
Keberhasilan Filipina dalam industrialisasi kelapa dapat tercapai dengan cara meningkatkan produk tradisional dan nontradisional. Produk kelapa tradisional yang dihasilkan adalaha kelapa segar, kopra, minyak kelapa, bungkil kopra, kelapa parut kering, arang tempurung, karbon aktif, roated coconut, fatty alcohol, coconut acid oil, sedangkan produk nontradisional meliputi coconut cream powder, hydrogenated cocfo oil, paring oil, crude glycerine, coco chemical, alkanolamide, dan coco shel flour. Diversifikasi produk kelapa dalam skala industry ini belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia. Adanya potensi bahan baku yang cukup besar dan teknologi pengelolaan produk kelapa yang makin dikuasai member peluang bagi diversifikasi produk melalui proses agroindustri (Wirakartakusumah et al., 1993).
Tanaman kelapa dikenal sebagai pohon yang mempunyai banyak kegunaan, mulai dari akar sampai pada ujungnya (daun), dari produk non-kuliner maupun kuliner/makanan, dan juga produk industri sampai produk obat-obatan. Bagi banyak negara di dunia,tanaman ini disebut sebagai "Pohon Kehidupan". Tinggi pohon kelapa dapat mencapai 15 sampai 30 meter di daerah perkebunan. Batang pohon di lingkari dengan parutan/ goretan bekas daun-daun tua yang sudah rontok. Bagian paling atas dari batang di mahkotai dengan daun-daun berbentuk bunga mawar. Buah kelapa berbentuk lonjong dan dilapisi oleh kulit yang licin yang berwarna hijau terang, jingga cerah atau warna-warna gading. Di bawah lapisan kulit terdapat lapisan serat tebal yang digunakan untuk sabut. Lapisan berikutnya adalah tempurung dari biji yang mempunyai tiga karakteristik 'mata'. Tempurung dapat digunakan untuk membuat arang dan alat-alat makan. Bagian dalam dari tempurung dilapisi oleh lapisan putih yang dapat dimakan, yang disebut daging atau kopra.Daging buah ini juga dibuat menjadi produk kimia, industri dan obat-obatan. Cairan di dalam lubang biji kelapa disebut air kelapa. Ketika biji berkecambah, batang baru akan muncul dari salah satu mata tempurung. Kelapa adalah satu-satunya spesies pada jenis Cocos. Kelapa tidak berbahaya bagi kesehatan, tapi penggunaan minyak kelapa secara terus-menerus dengan jumlah yang besar tidak disarankan karena minyak ini mengandung lemak jenuh yang berhubungan dengan penyakit jantung. Sabun yang terbuat dari bahan kelapa dapat menyebabkan iritasi pada kulit pada orang yang sensitif terhadap bahan ini (Anonim, 2009).
Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usaha tani kelapa yaitu dengan menanm tanaman sela. Penanaman tanaman sela di antara kelapa berpengaruh positif terhadap tata kehidupan mikroorganisme tanah serta pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman kelapa. Kaat dan Darwis (1989) mengemukakan bahwa kehadiran tanaman sela berpengaruh terhadap penambahan jumlah bunga betina dan jumlah buah kelapa tiap pohon.
Tingkat naungan atau intensitas sinar matahari di bawah tajuk kelapa berbeda sesuai dengan perkembangan umur dan jenis tanaman kelapa. Sejak tanaman kelapa ditanam sampai umur 8 tahun, jumlah radiasi yang sampai di bawah tajuk masih cukup besar. Memasuki umur 8-10 tahun, jumlah radiasi menurun, dan radiasi terendah terjadi pada saat tanaman kelapa berumur 10-25 tahun (+ 20%), kemudian berangsur-angsur bertambah sampai tanaman berumur 40 tahun (+ 50%). Setelah periode ini, radiasi matahari yang sampai di bawah tajuk kelapa kembai tinggi karena tajuk kelapa mulai mengecil, sehingga memungkinkan cahaya matahari lebih leluasa menembus tajuk kelapa sampai ke permukaan tanah (Nelliat et al., 1974).
Tanaman kelapa tidak luput dari serangan hama yang dapat menurunkan produksi. Hama penting yang menyerang tanaman kelapa meliputi 19 jenis serangga, 6 jenis vertebrata, dan satu jenis nematoda. Dari 19 jenis serangga tersebut, Setora nitens Walker, Parasa lepida Crammer, Hidari irava, Chalcocelis albiguttata, Brontispa longissima, Oryctes rhinoceros, dan Valanga sp. merupakan hama pemakan daun kelapa. Serangan hama pemakan daun berpengaruh terhadap menurunnya hasil buah kelapa. Jika terdapat hama pemakan daun 18 ekor setiap pelepah, maka 10% anak daun akan dikonsumsi hama tersebut. Akibatnya produksi buah menurun 1%. Hilangnya anak daun akibat dikonsumsi oleh serangga tersebut menimbulkan hubungan yang positif terhadap turunnya produksi buah (Ruskandi dan Odih, 2004).


DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2009. Tanaman Kelapa: Pohon Kehidupan. <http://coconutmic.com/id/produksi/pohon-kehidupan>. Diakses pada tanggal 14 Maret 2012.

Kaat, H. dan S. N. Darwis. 1989. Pengaruh tanaman sela terhadap produksi kelapa. Jurnal Penelitian Kelapa. Hal (1): 34-36.

Nelliat, E. V., Bavappa, and P. K. R. Nair. 1974. Multi Stroeyed Cropping. New Dimension of Multiple Cropping in Coconut Plantation. WorldCrops 26: 262-266.

Randriani, E. dan Saefudin. 1993. Persilangan buatan pada kelapa. Kumpulan Makalah Seminar Ilmiah tahun 1992/ 1993. Sub Balai Penelitian Kelapa Pakuwon. Hal: 2-3.

Ruskandi dan Odih S. 2004. Teknik pengendalian hama pemakan daun kelapa melalui infus akar. Buletin Teknik Pertanian. Vol. 9 No. 2.

Wirakartakusumah, M.A., T. R. Muchtadi, A. M. Syarif, Rokhani, Sugiyono, dan S. Ketaren. 1993. Agroindustri kelapa Dalam Prosiding Konferensi Nasional Kelapa III, Buku III. Seri Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Indsutri, Bogor. No. 25: 205-220.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...