"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

27 Juni 2012

KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KELAPA KULON PROGO

Tanaman perkebunan (kelapa dan kelapa sawit) tumbuh baik pada gambut dangkal sampai gambut dalam (1-3 m). Ketebalan gambut lebih dari 3 m tidak disarankan untuk pertanian, dan lebih sesuai untuk kawasan hutan lindung atau konservasi. Pengembangan tanaman kelapa terutama kelapa hubrida di lahan gambut pasang surut banyak dilakukan di Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan (Mahmud dan Allolerung, 1998).
Kelapa mempunyai persyaratan tumbuh dengan selang sifat yang relative lebar, sehingga dapat tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi, dengan iklim basah (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) maupun iklim kering (Sulawesi dan Nusa Tenggara). Dalam criteria kesesuaian lahan (Djaenudin et al., 2000) dinyatakan bahwa kelapa dapat tumbuh pada daerah dengan temperature tahunan rata-rata 20-350 C dengan suhu optimal 25-280 C, dan curah hujan 1.000-5.000 mm/tahun atau paling sesuai 2.000-3.000 mm/tahun. Meskipun demikian, pada umumnya tanaman kelapa (terutama kelapa hibrida) tidak dapat betahan apabila bulan kering lebih dari 6 bulan (Abdurachman dan Mulyani, 2003).
Pohon kelapa dapat hidup pada berbagai macam jenis tanah, asalkan jenis-jenis tanah itu memiliki susunan physis yang baik. Susunan physis yang baik itu menjamin peresapan air dan peredaran udara yang sempurna di dalam tanah. Permukaan air tanah letaknya cukup dalam, setidaknya 1 meter dari permukaan tanah, dan air tanah itu hendaknya selalu dalam keadaan bergerak, karena pohon kelapa itu untuk pertumbuhannya yang sempurna memerlukan air banyak. Syarat penting yang dikehendaki terhadap tanah itu ialah kemampuannya yang cukup besar untuk menahan air, supaya tidak cepat merembas ke bagian dalam tanah. Pohon kelapa yang tumbuh di tempat -tempat yang berdekatan dengan air yang bergerak, misalnya di tepi-tepi sungai, di tepi-tepi galangan sawah, di dekat pantai, dsb. biasanya keadaan tumbuhnya baik sekali, karena air yang selalu dalam keadaan bergerak itu banyak mengandung zat asam (O2). Sebaliknya, pohon kelapa yang hidup di tepi-tepi rawa atau di tepi-tepi pantai yang berlumpur, tumbuhnya tetap kerdil. Pohon kelapa yang tumbuh di dataran rendah mempunyai potensi produksi yang tinggi. Di dataran tinggi, tumbuhnya lambat, karena itu mulainya berbuah dan berproduksi juga lambat, sedangkan penghasilan buah dari tiap batang juga tidak banyak. Kadang-kadang buahnya berukuran kecil pula. Tanah humus dan juga tanah gambut baik sekali untuk perkebunan kelapa; kalau menggunaan tanah gambut, drainasenya harus diatur dengan sempurna. Pada tanah-tanah tersebut pohon kelapa itu mudah tumbang, disebabkan karena susunan tanah kurang padat. Di pantai-pantai yang tanahnya terdiri dari lapisan pasir yang steril, sering kali pohon kelapa itu menunjukkan pertumbuhan yang baik. Ini disebabkan karena air tanah yang bergerak di bawah lapisan pasir itu mengandung unsur-unsur zat makanan tanaman yang cukup banyak. Pohon kelapa juga dapat tumbuh subur di pulau-pulau karang, kalau tanah itu banyak mengandung humus (Soetedjo, 1969).
Di Indonesia pada umumnya pertanaman kelapa terdapat pada ketinggian di bawah 500 m. Namun memang ada beberapa pengecualian, pada lokasi tertentu di daerah pegunungan Sumatera, Jawa dan Sulawesi Utara masih dijumpai pertanaman kelapa pada ketinggian 900 m atau lebih dari permukaan laut. Di daerah Minahasa (Sulawesi Utara) dijumpai kelapa yang tumbuh pada ketinggian 1.100 m. Pertumbuhan vegetatif kelihatan masih baik, pembentukan buah masih terjadi namun kecil-kecil dan tidak mempunyai daging buah. Perbedaan tinggi tempat dari permukaan laut, menyebabkan perbedaan temperatur. makin tinggi tempat, makin rendah temperatur. Dan sebenarnya faktor temperatur inilah yang terutama mempengaruhi pertumbuhan kelapa. Penurunan temperatur pada umumnya adalah sekitar 0.6o C setiap penambahan ketinggian 100 m. Walaupun hal ini tergantung pada beberapa faktor seperti musim, waktu, kandungan uap air di udara dan lain-lain. Tanaman kelapa tidak bisa tumbuh baik di daerah tinggi, karena temperatur yang rendah di tempat tersebut (Darwis, 1986).
Hasil penilaian kesesuaian lahan dibedakan menjadi lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi. Apabila wilayah yang dievaluasi tersebut telah digunakan untuk tanaman kelapa, maka arahan pengembangan lebih ditujukan untuk intensifikasi. Lahan untuk intensifikasi yang berpotensi tinggi hanya seluas 427.500 ha, sedangkan seluruh wilayah yang berpotensi (potensi tinggi, sedang, dan rendah) mencapai 872.900 ha, lebih kecil dari luas total lahan tanaman kelapa saat ini 3.759.397 ha. Hal ini terjadi karena lahan yang intensig ditanami kelapa belum seluruhnya terpetakan dalam peta penggunaan lahan, terutama untuk perkebunan rakyat yang umumnya berupa kebun campuran yag sulit untuk dibatasi/ didelineasi di peta. Peta penyebaran lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi di masing-masing propinsi tersedia di Puslitbangtanak (Abdurachman et al., 1998). Hasil penilaian berupa kelas dan subkelas kesesuaian lahan dari tanaman yang dinilai ditentukan oleh faktor pembatas terberat. Faktor pembatas tersebut dapat terdiri dari satu atau lebih tergantung dari karakteristik lahannya (Ritung dkk., 2007).
Untuk Kabupaten Kulon Progo, kesesuaian lahan S1 untuk tanaman kelapa dan pisang ditemukan di wilayah Kecamatan Temon, yaitu Desa Kulur, Kedungdandang, Demen, Kaligintung, Temonwetan, Temonkulon, Kebonrejo, Janten, Karangwuluh, Sindutan, Jangkaran, Palihan, Glagah, dan Plumbon, dengan factor pembatas kesuburan lahan, sehingga perlu ditambahkan pupuk N, K, dan pupuk organik. Sarana pengembagnan komoditas yang utama di daerah ini adalah tenaga kerja produktif usia 15-54 tahun yang rata-rata 4 orang/Ha (BPTP Yogyakarta, 2005).

 
DAFTAR PUSTAKA


Abdurachman, A. dan Anny Mulyani. 2003. Pemanfaatan lahan berpotensi untuk pengembangan produksi kelapa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 22(1): 24-30.

Abdurachman, A., A. Mulyani, dan K. Gandasasmita. 1998. Kesesuaian lahan untuk pengembangan beberapa tanaman perkebunan di Indonesia dalam Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Perkebunan: Kelapa, Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Kakao, Teh, Lada, Pala, Jambu Mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. hlm. 20-41.


Darwis.1086. Tanaman Kelapa dan Lingkungan Pertumbuhannya. Balai Penelitian Kelapa, Manado.

Djaenudin, D., M. Henrisman, Subagyo, A. Mulyani, dan. Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Beberapa Komoditas Pertanian. Versi 2, 2000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Mahmud, Z. dan D. Allolerung. 1988. Teknologi peremajaan, rehabilitas, dan perluasan tanaman kelapa dalam Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Perkebunan: Kelapa, Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Kakao, Teh, Lada, Pala, Jambu Mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. hlm. 116-130.

Ritung S, Wahyunto, Agus F, Hidayat H. 2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian Lahan dengan Contoh Peta Arahan Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh Barat. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia.

Soetedjo, R. 1969. Ilmu Bercocok Tanam Kelapa. Penerbit C. V. Yasaguna, Jakarta.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...