"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

20 Maret 2011

Menentukan Iklim Suatu Tempat



Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk yang bermata pencaharian di bidang pertanian. Produksi pertanian sangat tergantung pada empat faktor utama yaitu keadaan tanaman, keadaan tanah, keadaan iklim, dan pengelolaan oleh manusia.
Keadaan tanaman dan tanah sampai batas tertentu dapat diubah oleh manusia untuk mencapai keadaan yang sangat menguntungkan. Sedangkan iklim merupakan faktor alam yang tidak dapat diubah. Manusia harus mengerti sifat-sifat iklim untuk kemudian menyesuaikan diri seperti sehingga produksi pertanian yang optimal dapat dicapai.
Iklim adalah suatu keseluruhan dari keadaan atmosfir dalam jangka waktu panjang dan berbeda-beda di setiap tempat. Iklim meliputi keadaan-keadaan ekstrim dari tiap-tiap unsur cuaca seperti suhu maksimum-minimum, kelembaban nisbi udara, dan sebagainya. Oleh karena itu mempelajari cara penetuan iklim di suatu tempat penting untuk kesesuaian produksi pertanian. 
Sistem klasifikasi genetik didasarkan atas sebab terjadinya iklim. Sistem genetik merilis informasi tentang elemen klimatologi dari radiasi matahari, masse udara, tekanan, dll. dan terakhir applied classification system (Khomarudin,2002). 
Klasifikasi iklim ini seringkali dinyatakan sebagai tipe hujan, karena data yang dianalisisnya adalah data curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunanya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Ada beberapa klasifikasi iklim yang dikenal, seperti iklim menurut Koppen, Thornthwaite (merupakan klasifikasi iklim yang meliputi skala dunia), serta Mohr, Schmidth Ferguson dan Oldeman (merupakan klasifikasi iklim Indonesia). Untuk penentuan klasifikasi ini telah disepakati datanya harus tersedia paling sedikit 10 tahun yang diperoleh dari satu stasiun klimatologi atau hasil rata-rata dari beberapa stasiun yang tercakup di daerah yang akan ditentukan tipe iklimnya dan data yang dikumpulkan adalah data curah hujan bulanan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsure iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsure-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Hanafi, 1988). 
Cuaca dan iklim dipandang sebagai salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup dan kehidupan manusia. Pengaruh cuaca dan iklim juga sangat nyata dalam kehidupan di bumi ini. Iklim di wilayah Indonesia sangat ditentukan oleh variasi dari parameter curah hujan. Variasi curah hujan dipengaruhi oleh mekanisme muson yang terkait dengan angin pasat, mekanisme equatorial dan faktor lokal. Dengan adanya variasi curah hujan yang notabenanya sebagai penentu iklim, maka iklim dapat bermacam-macam atau bervariasi. Oleh karenanya, klasifikasi iklim sangat diperlukan guna mengetahui iklim suatu wilayah (Sudibyakto, 2003). 
Iklim telah terbagi sesuai lokasi atau daerah yang telah di determinasikan tidak hanya untuk satu elemen saja tetapi dengan variasi kombinasi variable meteorologi. Dua tempat mungkin memililki temperatur yang sama tapi ada perbedaan curah hujan di sana. Beberapa karakteristik dari distribusi iklim telah diketahui melalui klasifikasi secara astronomi. Ada beberapa klasifikasi iklim sesuai parameter pengukurannya yaitu klasifikasi menurut Mohr, Schmidt dan Fergusson, Oldeman dan Koppen. Di antara keempat jenis klasifikasi iklim ini terdapat persamaan dan perbedaan (Harwitz, et al., 1944). 
Variasi-variasi yang kecil sekalipun dalam sirkulasi umum hampir selalu tercermin dalam perubahan elemen-elemen iklim. Beberapa kawasan mengalami peningkatan curah hujan sedangkan kawasan-kawasan yang lain mengalami musim kering. Tidaklah ada suatu cara yang benar-benar sempurna untuk mengklasifikasikan skala variabilitas iklim yang berbeda. Memang benar bahwa perubahan cuaca dari hari ke hari dengan regim cuaca yang berlangsung lebih pendek adalah merupakan sifat alamiah dari cuaca dan tidak mencerminkan variabilitas iklim. Namun demikian, para pakar klimatologi menganggap beberapa regim cuaca berlangsung lebih lama sebagai suatu bentuk variabilitas iklim (Trewartha, et al., 1995). 
Peralihan musim merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi musim kemarau dan musim hujan lebih dini sehingga perencanaan pertanian terutama periode tanam dan jenis komoditas dapat disusun sesuai dengan kondisi iklim aktual. Perubahan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dapat dilakukan dengan menggunakan indikator penciri musim untuk menentukan apakah wilayah berada pada periode musim hujan, memasuki musim hujan, musim kemarau dan memasuki musim kemarau. Berdasar permasalahan anomali iklim dan iklim bulanan utuk meminimalkan resiko pertanian, maka ada tiga hal yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut yaitu (Irianto, 2003) :
1.  Analisis perkembangan iklim dengan indikator penciri perubahan musim.
2.  Analisis perkiraan curah hujan menggunakan teknik Kalman filter.
3.  Diseminasi informasi anomali iklim dan mitigasinya kepada pengambil kebijakan. 
Data iklim (temperatur udara, temperatur udara maksimal, kelembaban relatif, durasi sinar matahari dan curah hujan) yang diperoleh dari BMG dipergunakan untuk menganalisis variasi iklim Indonesia, baik variasi yang disebabkan oleh perbedaan posisi (lintang, bujur), topografi, maupun perbedaan waktu dalam rentang 33 tahun (1956-1989). Ada beberapa hal yang mempengaruhi variasi iklim yang bersifat alami yaitu sebagai berikut: 
  1. Faktor-faktor astronomi. Perubahan posisi permukaan bumi relatif terhadap matahari menyebabkan variasi  iklim dalam skala waktu ribuan tahun.Komposisi atmosfer
  2. Pada zaman tertier dan quarter, iklim dipengaruhi oleh penurunan konsentrasi CO2 di atmosfer. Jika dibandingkan antara laju penurunan konsentrasi CO2 dan perubahan temperatur udara dapat disimpulkan bahwa pengaruh alami CO2 pada  iklim teramati dalam interval waktu di atas sepuluh ribu tahun 
  3. Struktur permukaan bumi. Perubahan relief permukaan dan perubahan garis pantai berpengaruh pada iklim dalam periode waktu di atas seratus tahun sampai sejuta tahun.
  4. Konstanta matahari. Variasi radiasi matahari mempengaruhi keadaan iklim di atas periode waktu lebih dari seratus juta tahun (Budyko (1982) cit. Juaeni, 1996).
Pada percobaan telah dilaksanakan hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010 di Laboratorium Agroklimatologi, Jurusan Tanah, Fakultas Peratnian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta diamati cara menentukan iklim di suatu tempat berdasarkan data-data yang telah disediakan yaitu sebagai berikut. Data curah hujan (CH) bulanan selama 10 tahun di stasiun Banjarmasin, data rerata suhu udara (T) bulanan, data tinggi tempat dan data pendukung pola tanam, vegetasi dominan, dan tanah.
Cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut. Data CH, T, dan h digunakan untuk menganalisis tipe iklim daerah setempat menggunakan sistem klasifikasi Mohr, Schmidt-Fergusson, Oldeman, dan Koppen. Sistem klasifikasi Mohr ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun, CH rerata, dan derajat kebasahan bulan (DKB). Semua data dimasukkan ke dalam tabel, kemudian dihitung curah hujan rerata dari bulan-bulan sejenis. Ditentukan derajat kebasahan bulan masing-masing curah hujan rerata kemudian dimasukkan ke dalam kolom DBK. Dari kolom DBK, dihitung jumlah bulan kering (BK), bulan lembab (BL), dan bulan basah (BB). Tipe iklim daerah setempat ditentukan menurut penggolongan iklim Mohr. Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun dengan kolom DBK pada setiap kolom tahun. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, ditentukan DBK tiap data dan dimasukkan ke dalam kolom DBK. Jumlah BK, BL, dan BB dihitung selama 10 tahun. Nilai Q dihitung dengan menggunakan rumus.
Ditentukan tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan iklim Sistem Schmidt dan Fergusson. Sistem klasifikasi Oldeman ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom seperti tabel sistem klasifikasi Mohr. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, ditentukan DKB tiap data menurut kriteria Mohr. Jumlah rerata BK, BL, dan BB dihitung ke dalam bentuk angka bulat. Berdasarkan pembulatan tersebut, ditentukan tipe iklim daerah setempat dengan menggunakan “sistem klasifikasi Agroklimat”. Sedangkan untuk klasifikasi Koppen, dilakukan dengan menghitung rerata BB, BL, dan BK. Selain itu untuk klasifikasi Koppen dibutuhkan tabel identifikasi tipe iklim untuk menentukan suatu tipe iklim. 
Menurut klasifikasi Mohr, iklim daerah Banjarmasin termasuk iklim golongan I yaitu daerah basah dengan CH melebihi penguapan selama 12 bulan, hampir tanpa periode kering (BL antara 1 – 6), sedangkan menurut perhitungan Schmidt dan Fergusson termasuk dalam iklim golongan B ( 0,143 ≤ Q < 0,333) yaitu daerah  basah, vegetasi hutan hujan tropis. Oldeman menggolongkan zona iklim, dengan bantuan segitiga agroklimat menurut jumlah bulan basah yang berurutan, sehingga dengan segitiga agroklimat dapat diketahui bahwa pada daerah Banjarmasin, memiliki iklim bertipe C3 artinya daerah dengan 5-6 BB berurutan dan 4-6 BK sehingga periode bero tidak dapat dihindari, namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan. Menurut klasifikasi Kopen, tipe iklimnya adalah Aw. Tipe Aw merupakan daerah iklim hujan tropis (tropical rainy climate). Daerah ini beriklim panas dengan suhu rerata bulanan 18ºC, sekurang-kurangnya 1 bulan dengan curah hujan 60mm.
Dalam praktikum ini, pengklasifikasian iklim dari tahun ke tahun diamati dengan perbandingan berbagai metode pengklasifikasian. Pengklasifikasian tersebut yaitu dengan sistem pengklasifikasian Mohr, Schmidt dan Fergusson, Oldeman, dan Koppen. Unsur-unsur iklim yang menunjukkan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang dipakai yaitu suhu dan curah hujan. Karena itulah Hanafi (1988) menyebut pengklasifikasian iklim ini dengan klasifikasi iklim tipe hujan.Pengklasifikasian iklim yang dicetuskan oleh beberapa ahli tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun melalui pengklasifikasian iklim tersebut dapat memudahkan dalam mengidentifikasi iklim pada suatu daerah, karena pengklasifikasian iklim tersebut menyederhanakan jumlah iklim lokal yang tidak terbatas jumlahnya menjadi beberapa golongan yang jumlahnya relatif sedikit, yaitu kelas-kelas yang mempunyai sifat penting yang bersamaan.
Sistem klasifikasi iklim menurut Mohr ditentukan oleh jumlah bulan basah dan bulan kering suatu tempat untuk tiap-tiap bulan. Mohr mengklasifikasikan bulan sebagai BK (bulan dengan CH<60 mm), BL (bulan dengan 100>CH>60mm), BB (bulan dengan CH>100 mm). Bulan basah merupakan bulan yang curah hujannya dalam 1 bulan lebih dari 100 mm. Untuk lokasi Banjarmasin, hujan terjadi hampir tiap bulan berkisar mulai 61,6 mm sampai 353,5 mm. Hasil tersebut adalah rata-rata setiap bulan untuk periode tahun 1980 sampai tahun 1989. Berdasarkan klasifikasi ini, maka hasil pengamatan curah hujan di stasiun pengamatan Banjarmasin mendapatkan hasil bahwa jumlah BK=0, BL=3, dan  BB=9; sebagaimana terlihat dalam tabel di bahwa ini:
Tabel Penentuan BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Mohr
1980-1989
Jan.
Feb.
Mar
Apr.
Mei
Jun
Juli
Agust.
Sept.
Okt.
Nov.
Des.
Rerata
353,5
287,1
302,1
243,3
238,2
100,0
150,8
61,6
73,3
172,4
239,0
333,1
Derajat
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BB
BL
BL
BB
BB
BB

 Berdasarkan metode Mohr dapat diketahui bahwa daerah Banjarmasin,termasuk golongan I yaitu daerah dengan CH melebihi penguapan selama 12 bulan, hampir tanpa periode kering (BL antara 1-6). Dengan metode Mohr ini, pengklasifikasian iklim hanya didasarkan pada penguapan dan besarnya curah hujan. Jadi cara ini cukup praktis untuk mengamati iklim suatu daerah selama 10 tahun. Data curah hujan bulanan dapat dijadikan acuan pergeseran iklim tiap bulan. Namun demikian sistem pengklasifikasian dengan cara ini juga memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah pengklasifikasiannya didasarkan hanya pada rata-rata bulanan sehingga kurang sesuai untuk memberi gambaran secara sempurna mengenai keadaan iklim Indonesia, tidak mengikutsertakan sifat fisis suatu tanah yang juga dapat memberi pengaruh pada penentuan iklim. Padahal dalam menentukan keadaan suatu iklim diperlukan beberapa parameter yang dapat menunjang hasil pengamatan suatu iklim  di suatu daerah. Selain itu, dengan metode klasifikasi ini, tidak dapat diketahui pergeseran iklim tiap tahun, dasar penentuannya hanya dari curah hujan sehingga hanya dapat digunakan untuk menentukan iklim di daerah dengan curah hujan stabil maupun periodik.
Sistem klasifikasi yang kedua yaitu, sistem Schmidt-Fergusson. Sistem ini sangat terkenal di Indonesia. Pengklasifikasian iklim dengan cara ini banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt dan Fergusson didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering pada klasifikasi iklim Mohr. Penentuan iklim sistem ini menggunakan harga perbandingan Q, yaitu jumlah rerata bulan kering dengan jumlah rerata bulan basah.
 Tabel  Jumlah BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Schmidt dan Fergusson

Januari-Desember
tahun
∑ BB
∑ BL
∑ BK
1980
8
0
4
1981
7
1
4
 1982
8
0
4
1983
6
1
5
1984
10
1
1
1985
10
1
1
1986
11
0
1
1987
6
2
4
1988
10
2
0
1989
9\
2
1
rerata
8,5
1,0
2,5

Berdasarkan perhitungan (yaitu rerata BK dibagi dengan rerata BB), diperoleh harga Q=0,29 sehingga tipe iklim di stasiun pengamatan Banjarmasin ini adalah tipe iklim Golongan B (dengan nilai 0,143≤Q<0,333); yaitu daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropis. Hasil perhitungan data dari tahun 1980 sampai tahun 1989 menyajikan jumlah bulan basah sebanyak 85, bulan lembab sebanyak 10 dan bulan kering sebanyak 25.



Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson ini memiliki kesamaan dengan sistem Mohr, yaitu didasarkan atas bulan kering dan bulan basah. Hanya saja, Mohr mencari bulan basah dan bulan kering melalui harga rata-rata curah hujan untuk tiap bulan, dan Schmidt dan Fergusson melalui pencarian setiap bulannya untuk masing-masing satu tahun. Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah mengetahui pergeseran iklim tiap tahun, mempermudah pengamatan dalam melihat kapan terjadinya bulan kering dan bulan basah. Kekurangannya adalah kriteria untuk bulan basah ataupun bulan kering untuk beberapa wilayah terlalu rendah, sehingga terjadi kesulitan dalam mengelompokkan bulan kering dan bulan basah pada suatu daerah.
Sistem klasifikasi iklim menurut Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama tanaman pangan dan palawija. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturut-turut. Selain itu, Oldeman juga menggunakan istilah bulan basah dan bulan kering untuk membantu penggolongan iklim seperti halnya pada sistem Mohr dan sistem Schmidt-Fergusson. Hanya saja terdapat perbedaan penentuan batas curah hujan. Dalam metode Oldeman , kriteria derajat kebasahan bulan adalah bulan dengan CH>200 mm sebagai BB, bulan dengan 200>CH>100 mm sebagai BL, dan bulan dengan CH<100 mm sebagai BK.

Tabel Jumlah BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Oldeman

januari-desember
tahun
∑ BB
∑ BL
∑ BK
1980
4
4
4
1981
4
3
5
1982
6
2
4
1983
4
2
6
1984
8
2
2
1985
7
3
2
1986
8
3
1
1987
4
2
6
1988
8
2
2
1989
8
1
3
rerata
6,1
2,4
3,5

6
2
4
Pengklasifikasian iklim menurut metode Oldeman ini dibantu dengan penggunaan “Segitiga Agroklimat” dan dapat diketahui bahwa iklim daerah Banjarmasin termasuk golongan C3. Pada golongan ini, BB berjumlah 5-6 serta periode bero tidak dapat dihindari, namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan.
. Ketentuan bulan basah dan bulan kering ini didasarkan karena padi sawah dipandang cukup untuk dibudidayakan pada curah hujan 200 mm tiap bulan, sedangkan untuk sebagian besar palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan tiap bulan adalah 100 mm. Sistem klasifikasi iklim oleh Oldeman memiliki cara yang lebih efektif dibanding dengan cara-cara sebelumnya seperti dalam sistem Mohr dan Schmidt-Fergusson. Hal ini disebabkan oleh metode Oldeman yang telah mempertimbangkan unsur cuaca yang lain seperti radiasi matahari yang mempengaruhi evapotranspirasi dan kebutuhan air tanaman. Sehingga, dengan memanfaatkan sistem klasifikasi ini, sudah dapat diperkirakan pola tanam dengan keterkaitan antara iklim dan tanaman. Namun sistem ini juga memiliki kekurangan, sistem ini menjadikan curah hujan sebagai salah satu indikator pentingnya. Sehingga, akan terdapat banyak kesulitan dan kendala dalam menentukan wilayah yang mempunyai 4 musim. Selain itu, sistem klasifikasi ini belum dapat menjelaskan pergeseran iklim bulanan.
Sistem klasifikasi Koppen didasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen menjadikan tiga hal sebagai indikatornya. Indikator tersebut secara berurutan adalah curah hujan, radiasi matahari (suhu udara), dan  kesesuaian lahan. Curah hujan pada sistem Koppen ini diperoleh dengan merata-ratakan jumlah curah hujan yang terjadi tiap tahunnya. Dalam percobaan kali ini, adalah data dari Banjarmasin tahun 1980 – 1989 yaitu berdasarkan sistem klasifikasi ini, maka diperoleh data-data (hasil perhitungan) sebagai berikut :
Nilai r (rerata curah hujan tahunan observasi) =   2554,4 mm = 255,44  cm
Nilai T (rerata suhu) = 27,060C
Nilai r1 (jumlah curah hujan yang besarnya tergantung T) = 68,12 mm
Nilai P1 (jumlah CH bulan terkering dg rumus yang besarnya tergantung r) = 7,275 mm
Nilai  p2 (jumlah bulan terkering observasi) = 0 mm
 Dari data di atas diperoleh nilai rerata curah hujan sebesar 255,44 cm tiap tahun. Dengan membagi 10 nilai curah hujan tersebut diperoleh koefisien korelas  ( r ) sebesar 681,2 cm. Dari penjumlahan T max dan T min yang kemudian dibagi dua diperoleh T rerata ( T ) sebesar 27,060C.. Adapun nilai P1, jumlah curah hujan  terkering yang besarnya tergantung r adalah 7,275 mm  dan P2 curah hujan bulan terkering observasi 0. Nilai C,T,R,P2 dan P1 tersebut akan membantu dalam menentukan tipe iklim di lokasi stasiun Banjarmasin.
Melalui pengolahan data rerata suhu wilayah Banjarmasin lebih 10°C yaitu 31,37°C maka dapat dikelompokkan dalam tipe iklim A,C dan D. Namun masing-masing tipe iklim tersebut dapat dibedakan lagi berdasarkan rerata suhu bulanan terdingin dimana T > 18ºC dan diperoleh bahwa iklim wilayah Banjarmasin adalah tipe A dimana tipe A tersebut merupakan iklim hujan Tropis. Untuk wilayah ini termasuk iklim Aw, karena berdasar data P2 < P1. Tipe iklim ini berkarakter beriklim panas dengan suhu rerata bulanan > 18ºC. di daerah ini sekurang-kurangnya 1 bulan dengan curah hujan >60mm.musim kering pendek tetapi curah hujan besar sehingga tanah cukup basah sepanjang tahun. Sistem klasifikasi iklim Koppen juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan sistem klasifikasi ini adalah terletak dalam penyusunan simbol-simbol tipe iklim yang dengan tepat merumuskan sifat dan curah masing-masing tipe iklim dengan tanda yang terdiri dari kombinasi beberapa huruf saja yang dapat dengan tepat merumuskan sifat dan corak iklim suatu wilayah. Sedangkan, kekurangan sistem klasifikasi iklim ini adalah jika diterapkan di Indonesia, sistem ini kurang dapat menggambarkan kondisi detail iklim Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya perbedaan curah hujan wilayah-wilayah di Indonesia. Walaupun, suhu udara tahunannya hampir sama sepanjang tahun.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi. 1988. Klimatologi. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bandung.
Harwitz, Benhard, and J. M. Austin. 1944. Climatology. Mc Graw-Hill Book   Company, inc. New York and London.
Irianto, G. 2003. Model Prediksi Anomali Iklim untuk Mengurangi Resiko Pertanian. http://www.baitklimat.litbang.deptan.go.id. Diakses pada 7 Desember 2010.
Juaeni. 1996. Variasi iklim Indonesia. Warta Lapan 20 (49): 46-65.
Khomarudin, M. R. 2002. Mengenali Pola Hujan di Berbagai Kawasan di Indonesia. http://www.rudyet.topcities.com/pps7071034/khomarudin.html. Diakses pada tanggal 7 Desember 2010.
Sudibyakto. 2003. Pengaruh iklim dan cuaca terhadap tanaman. Majalah Geografi Indonesia III. (17) : 71-80.
Trewartha, G. T. and L. H. Horn. 1980. An Introduction to Climate 5 th edition. Mc Graw-Hill Book Company Inc, Madison.


Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...