"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

10 Desember 2011

PENCUPLIKAN TANAH

ABSTRAKSI
Praktikum pencuplikan tanah dilaksanakan dengan mengambil tanah vertisol di Dusun Jenggalan, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 2011. Metode pencuplikan tanah yang mampu mewakili keseluruhan area untuk uji kesuburan tanah adalah metode zig-zag sejumlah 16-20 titik sedalam 0-20 cm. Pencuplikan tanah vertisol dilakukan pada hamparan yang homogen dan dalam kondisi kapasitas lapang.

UJI CEPAT TANAH

ABSTRAKSI
Praktikum Kesuburan Tanah acara X dengan judul Uji Cepat Tanah dilakukan pada hari Jumat tanggal 28 Oktober 2011 di Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan praktikum ini adalah mengenal penggunaan perangkat uji cepat tanah sawah secara cepat untuk menentukan kebutuhan pupuk N, P, K.  Bahan dan alat yang digunakan adalah tanah sawah jenis inceptisol dan vertisol serta satu unit perangkat uji tanah sawah (PUTS). Pengujian ini dilakukan dengan menguji tanah sampel yang telah disediakan dengan perangkat uji tanah sawah. Dari hasil pengamatan diperoleh pada tanah inceptisol kadar hara N tinggi, kadar hara P tinggi, kadar hara K sedang dan pH tanah agak masam (pH 5-6). Pada tanah Vertisol kadar hara N rendah, kadar hara P sedang, kadar hara K sedang dan pH tanah netral (pH 6-7). Rekomendasi untuk tanah sawah inceptisol adalah pupuk urea 200 kg/ha, pupuk SP- 36 50 kg/ha. Dan pupuk KCl 50kg/ha + 5t jerami, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea. Rekomendasi untuk tanah sawah vertisol adalah pupuk urea 250 kg/ha, pupuk Sp-36 75 kg/ha, dan pupuk  KCl 50 kg/ha ditambah jerami 5 ton/ha, sistem drainase konvensional dan pupuk N dalam bentuk urea.
Key words: PUTS, Inseptisol, Vertisol.

Sifat Pupuk

http://adf.ly/YcG51Praktikum Kesuburan Tanah Acara 2 yang berjudul Sifat Pupuk dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2011 bertujuan untuk mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat-sifat pupuk berdasarkan koleksi yang sudah ada. Praktikum ini dilaksanakan di  Laboratorium Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kegiatan praktikum diawali dengan mengamati pupuk yang tersedia di atas meja praktikan kemudian dicatat sifat fisik, sifat kimia (kandungan hara dang senyawa kimia), kemasan dan aplikasi pupuk yang diamati. Dari pengamatan yang dilakukan diperoleh berbagai macam pupuk dengan sifat-sifat yang berbeda. Sifat – sifat tersebut adalah kadar unsur, higroskopisitas, kelarutan, kemasaman (pH) dan waktu yang diperlukan dari pemupukan sampai diserap tanaman .

Koleksi Pupuk

http://adf.ly/YcGLM
Praktikum Kesuburan Tanah acara I “Koleksi Pupuk” ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 07 Oktober 2011 di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Praktikum ini bertujuan untuk mengenal dan membuat koleksi pupuk. Setiap kelompok membawa satu pupuk disertai dengan deskipsi yang berisi sifat dan cara aplikasinya. Pupuk yang dibawa oleh kelompok empat pada acara koleksi pupuk ini adalah Provitonik. Provitonik mengandung bahan organik aktif yang paling tepat untuk memperbaiki dan menghidupkan tanah serta memacu pertumbuhan akar menjadi sehat dan kuat. Pupuk ini berfungsi untuk memperbaiki kesehatan dan kesuburan tanah, melindungi akar tanaman dari penyakit tanah, dan melindungi tanaman dari penyakit tepung dan penyakit bercak daun yang disebabkan bakteri maupun jamur. Pupuk ini diaplikasikan dengan cara dilarutkan 1-4 cc provitonik kedalam 1 liter air kemudian disemprotkan pada daun dan semua bagian tanaman tiap 5-10 hari sekali. Provitonik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman, baik sayuran, bunga-bungaan, tanaman buah semusim, tanaman buah tahunan maupun pada tanaman pangan seperti cabe, tomat, kentang, tembakau, melon, semangka, timun, pare, kobis, sawi, kol bunga, brokoli, apel, dan jeruk.
Key words: pupuk, provitonik, kesuburan.

9 Desember 2011

APA PENGARUH KADAR AIR BENIH PADA SERANGAN RADIKAL BEBAS?

Peroksidasi lipid terjadi pada semua sel, tetapi dalam sel yang berimbibisi secara penuh, air bertindak sebagai penyangga antara radikal bebas yang dihasilkan secara autoxidatif dan makromolekul target, sehingga mampu mengurangi kerusakan yang terjadi. Dengan demikian, jika kadar air benih diturunkan maka autoksidasi menjadi lebih luas dan dipercepat (oleh suhu tinggi), serta konsentrasi oksigen meningkat. Lipid autoksidasi bisa jadi merupakan penyebab utama dari kerusakan benih pada kadar air di bawah 6 persen. Di atas kadar air 14 persen, peroksidasi lipid dirangsang oleh aktivitas enzim oksidatif hidrolitik seperti lipoxygenase, sehingga peroksidasi lipid menjadi lebih aktif dengan meningkatnya kadar air. Antara kadar air 6-14 persen, peroksidasi lipid cenderung minimal, karena air yang tersedia cukup sebagai penyangga untuk melawan serangan radikal bebas autoxidatif, tetapi tidak cukup untuk mengaktifkan lipoxygenase yang memediasi produksi radikal bebas.

24 November 2011

IMBIBISI


ABSTRAKSI
Praktikum Imbibisi Benih ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 16 Oktober 2011 di Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan dalam acara ini adalah petridish, timbangan elektrik, pisau, dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan adalah aquades, tisu, benih kacang tanah (Arachis hypogeae), kedelai (Glycine max), dan jagung (Zea mays). Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui peran air dalam perkecambahan benih dan untuk mengetahui laju imbibisi beberapa jenis benih. Parameter yang digunakan adalah kadar air awal tiap benih dan berat benih setelah direndam dalam air selama 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Semakin tinggi kadar air benih mengakibatkan laju imbibisi semakin rendah. Laju imbibisi tercepat terjadi pada benih kedelai, diikuti benih kacang tanah, kemudian benih jagung.

RESUME “Status Interaksi antara Tektonik, Erosi, dan Iklim: Sebuah polemic”


Ahli geologi tektonik, dan Ahli Geomorfologi telah bergabung sejak 1988 dalam upaya untuk mengungkap keterkaitan antara tektonik dan iklim yang mempengaruhi erosi. Persamaan yang menggambarkan kesetimbangan ketiganya dengan baik adalah hukum gas mutlak:
PV = nRT .
P adalah tekanan, V adalah volume, n adalah jumlah mol gas, R adalah konstanta gas, dan T adalah temperatur absolut. Persamaan tersebut tidak memberikan gambaran penyebab atau efek, karena hanya merupakan kesetimbangan.
Konsep paling baik menggambarkan keadaan kesetimbangan adalah persamaan-isostasy. Isostasy bukan proses, tetapi itu ada. Pada skala waktu pendek (ribuan tahun), deformasi viskos dapat memperlambat tren ke arah ekuilibrium isostatic setelah mencairnya lapisan es Pleistosen. Dengan demikian, pada skala waktu seperti itu, perbedaan tekanan di astenosfer dilihat sebagai "mengemudikan" litosfer permukaan atasnya dan Kanada atau Fennoscandia ke atas. Pada skala waktu geologi lagi, litosfer dipertahankan sebagai isostasy dalam keadaan ekuilibrium; seperti hukum gas sempurna, "isostasy," sehingga sebenarnya tidak melakukan pengemudian apapun, namun hanya seperti peraturan lalu lintas dilarang "mengemudikan" mobil.
Tingkat erosi bisa berubah relatif cepat pada skala waktu geologi, misalnya karena beberapa perubahan iklim (misalnya, topan). Mnemonic yang ditawarkan untuk memahami hal tersebut, bahwa stormier iklim mempercepat erosi, tektonik dapat meningkatkan medan, dan kemudian mempengaruhi erosi, adalah sebagai berikut:
Presipitasi × Komponen gaya vertical dari kecepatan (gravitasi) = Jumlah banjir tiap presipitasi tahunan × Tingkat pemindahan batuan × Pergeseran tektonik.
Yang menarik disini adalah bahwa ekuilibrium tidak berlaku karena hal itu adalah keadaan sementara, karena perubahan tingkat erosi yang disebabkan oleh perubahan iklim terjadi lebih cepat daripada perkembangan lansekap. Selain itu, ada perbedaan antara persamaan (1) dan (2) yang tidak boleh diabaikan. Kelebihan persamaan (1) terletak dalam status yang menggambarkan masing-masing dari P, V, n, R (terutama), dan T. . Dalam persamaan (2), kelebihannya ada di pikiran pembaca, dan perkembagnan nyata dari persamaan tersebut mungkin akan muncul dengan memahami masing-masing dari P, V, n, R (sekali lagi, secara spesifik), dan T secara independen dari yang lain, tanpa mempelajari interaksi antara kelimanya.

Sumber:
Molnar, Peter. 2009. Status interaksi antara tektonik, erosi, dan iklim: Sebuah polemic. < http://216.7.177.8/gsatoday/archive/19/7/pdf/i1052-5173-19-7-44.pdf .>. GSA Today 11: 10-11. Diakses 1 November 2010.

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata (L.)) SERTA PENGENDALIANNYA


Hama utama yang sering menyerang tanaman kacang hijau adalah Agromyza phaseolli (lalat kacang), penggerek polong Meruca testualitis dan Etiella zinckenella, kepik coklat Riptortus linearis Spodoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips.
Selain kacang hijau, Agromyza phaseolli mempunyai tanaman inang lainnya yaitu: Kedelai, Kacang jago, Kacang tunggak, Kacang panjang, Kacang gude, Kacang Peda, dan Orok-orok. Tanda serangan awal berupa bintik-bintik putih pada kotiledon, daun pertama atau daun kedua, yaitu bekas tusukan alat peletak telur lalat. Tanda serangan larva pada kotiledon atau daun berupa telur atau garis lengkung berwarna coklat bekas gerakannya. Serangan larva sebelum umur 13 hari dapat menyebabkan kematian tanaman. Pada daerah endemik lalat bibit Agromyza phaseoli perlu tindakan perlakuan benih dengan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih).
Penggerek pucuk (Agromyza dolichostigma) tersebar di Formosa dan Indonesia. Serangga ini menyerang: Kacang Hijau, kedelai, Kacang Buncis, dan Kacang uci. Periode kritis tanaman terhadap serangan hama ini adalah 3-4 minggu untuk meletakkan telur-telurnya.
Penggerek batang (Melanagromyza sojae) tanaman inangnya yaitu: Kacang hijau, kedelai, Kacang gude dan Kacang uci. Lalat meletakkan telur pada tanaman muda, terutama yang berumur kurang dari 1 (satu) bulan. Jika serangan berat tanaman menjadi kerdil.
Hama-hama lalat kacang, lalat pucuk dan penggerek batang umumnya timbul pada saat cuaca kering dan didaerah dengan kesuburan tanah rendah. Untuk mengatasi hama-hama tersebut, dapat dilakukan dengan menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit, Tanam serentak, Sanitasi tanaman terserang, serta Penyemprotan dengan insektisida apabila ditemukan intensitas serangan lebih besar dan tidak dapat dikendalikan dengan cara biologi.
Ulat grayak (Spodoptera litura) dapat hidup pada berbagai jenis tanaman, termasuk kacang tanah, kacang hijau, tembakau, Lombok, bawang merah dan ketela rambut. Larva muda hidup bergerombol memakan daun kecuali epidermis permukaan atas daun, sehingga dari jauh daun tampak berwarna keputuh-keputihan. Larva tua dapat memakan seluruh bagian helai daun muda, tetapi tidak memakan tulang daun tua. Larva dapat juga menyerang bunga dan polong muda. Serangan larva pada stadia pembungaan dan awal pembentukan polong dapat menggagalkan panen. Serangan pada tanaman muda dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan atau mematikan tanaman.
Ulat jengkel (Chrysodeixis chacites) memiliki beberapa tanaman inang antara lain: Kentang, Jagung, Tembakau, Apel, Kacang tanah, Sayur-sayuran, Kacang Hijau, Kacang tunggak. Serangan larva muda menyebabkan bercak-bercak putih pada daun karena yang tinggal hanya epidermis dan tulang daunnya. Sedang larva yang lebih besar dapat menyebabkan daun terserang habis atau tinggal beberapa tulang daunnya saja. Serangan larva terjadi pada tanaman stadia vegetative dan generatif.
Penggerek polong (Etiella zinckenella) tersebar luas didunia, sedangkan E.hobsini hanya diAsia Selatan, Asia Tenggara dan Australia. Tanaman inang lainnya adalah: Kedelai, Kacang panjang, Kacang Tunggal, Kacang kratak, Kacang tanah. Seekor larva penggerek polong dapat merusak beberapa polong dan biji. Tanda serangan pada biji dan bunga adanya gerekan dan butiran karena berwarna coklat yang terikat oleh benang pintal.
Pengisap polong (Riptortus linearis) tersebar di India, Filipina dan Indonesia. Tanaman inangnya adalah: Kacang Hijau, Kedelai, Kacang Panjang, Kacang Tunggak, Kacang gude, dan Dadap. Kepik hijau (Nezara viridula) atau lembing hijau menyerang tanaman kedelai, kacang hijau, kacang tunggak, padi, orok-orok, jagung dan kapas. Imago Riptortus linearis maupun Nezara viridula mulai datang di pertanaman sejak pembentukan bunga. Akibat serangannya menyebabkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam, kulit biji keriput dan adanya bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan pengisap polong adalah stadia pengisian biji.
Pengendalian terhadap hama-hama perusak polong dilakukan dengan cara pergiliran tanaman, tanam serempak dan penyemprotan insektisida apabila ditemukan intensitas serangan penggerek polong 2 %, populasi pengisap polong dewasa sepasang pada umur 45 hari setelah tanam dan populasi kepik hijau dewasa sepasang pada umur 45 hari setelah tanam. Pengendalian hama secara kimia dapat dilakukan dengan insektisida seperti Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 500-600 liter/ha.
Penyakit utama kacang hijau antara lain bercak daun Cercospora canescens (bercak daun), Scierotium rolfsii, busuk batang, embun tepung Eryshipe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines. Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit atau dengan menggunakan fungisida. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 200 atau Dconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/liter air. Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexaconazol yang diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun efektif dikendalikan dengan fungisida hexalconzol yang diberikan pada umur 4, 5 dan 6 minggu. Beberapa varietas unggul tanaman kacang hijau tahan penyakit yaitu:

Varietas
Sifat Khusus
Murai
Tahan Penyakit bercak daun
Perkutut
Tahan penyakit embun tepung; agak tahan penyakit bercak daun
Kenari
Tahan terhadap penyakit bercak daun; toleran terhadap penyakit karat daun
Sriri
Tahan penyakit embun tepung
Manyar
Tahan penyakit bercak coklat daun
Nuri
Tahan penyakit bercak coklat daun
Walet
Tahan penyakit bercak coklat daun
Parkit
Tahan penyakit embun tepung
Merpati
Tahan penyakit embun tepung dan bercak coklat daun
Sriti
Tahan penyakit embun tepung dan bercak coklat daun
Murait
Tahan penyakit bercak daun Cercospora
Perkutut
Tahan penyakit Embun Tepung dan agak tahan terhadap bercak daun
Kutilang
Tahan penyakit Embun tepung
Fore Belu
Tahan penyakit Karat dan cukup tahan terhadap kekeringan.
Vima-1
Tahan penyakit Embun tepung


 
REFERENSI

Hartoyo, Dwi. 2011. Budidaya Kacang Hijau. < http://www.htysite.com/budi%20daya%20kacang%20hijau.htm >. Diakses 31 Oktober 2011.

B4KKAB SULSEL. 2011. Budidaya Kacang Hijau. < http://bp4kkabsukabumi.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=273 >. Diakses 31 Oktober 2011.

Arief. 2010. Budidaya Kacang Hijau. < http://epetani.deptan.go.id/budidaya/list/Kacang-kacangan >. Diakses 31 Oktober 2011.


BPTP SULSEL. 2011. Pengendalian Jasad Pengganggu Hama Utama Kedele dan Pengendaliannya. < http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=126%3Abudidaya-kedele&catid=47%3Apanduanpetunjuk-teknis--brosur-&Itemid=53&limitstart=4>. Diakses 31 Oktober 2011.

BPTP SULSEL. 2007. Budidaya Kacang Hijau. < http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?view=article&catid=48%3Apanduanpetunjuk-teknis-leaflet&id=143%3Abudidaya-kacang-hijau>. Diakses 31 Oktober 2011.


6 September 2011

PENANGKARAN BENIH

Pemerintah Indonesia telah bertekad untuk meningkatkan produksi tanaman pangan agar Indonesia mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan pangan utama masyarakat. Untuk mencapai target tersebut telah diimplementasikan sejumlah kegiatan. Satu diantaranya adalah penyediaan benih bermutu melalui pemberian bantuan dan subsidi benih VUB (varietas unggul baru) bersertifikat. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani. Ketersediaan benih bermutu mutlak diperlukan. Dalam pertanian modern benih berperan sebagai paket keunggulan teknologi bagi petani. Paket keunggulan teknologi tersebut harus terus berkembang dan dapat tersedia secara 6 tepat (varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi dan harga) bagi petani. Hal ini dapat diwujudkan dengan adanya system perbenihan yang mantap dan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya industri benih nasional. Ketersediaan varietas unggul baru (VUB) yang berdaya hasil tinggi yang telah dirilis cukup banyak, namun upaya penangkarannya untuk mendukung ketersediaan benih masih sangat terbatas, terutama pada sentra-sentra produksi tanaman pangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kegiatan perbanyakan melalui penangkaran benih unggul sangat perlu dilakukan, guna mendukung ketersedian benih varietas unggul dan meringankan beban pemerintah. Penangkaran benih bertujuan untuk memproduksi benih bermutu untuk memenuhi kebutuhan benih di suatu daerah.
Penangkaran benih di petani merupakan wujud kemandirian dan keswadayaan petani.
1. Penangkaran Benih Penjenis
Berdasarkan perarturan pemerintah, penangkar yang diperkenankan untuk melaksanakan penangkaran benih penjenis adalah lembaga penelitian, universitas, Balai Benih Induk yang telah terakreditasi karena memenuhi persyaratan. Pengawasan penangkaran benih pada institusi atau lembaga terebut berada dibawah pengawasan pemulia tanaman.
2. Penangkaran Benih Sumber
            Penangkaran yang diizinkan untuk menangkarkan benih dari Benih Penjenis ke Benih Sumber/Benih dasar adalah Balai Benih Induk dan atau penangkar swasta yang telah terakreditasi karena telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. Pengawas penangkar benih sumber adalah pemulia tanaman yang bersangkutan atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh pemerintah.
3. Penangkar Benih Pokok
            di berbagai desa banyak ditemukan kelompok penangkar benih pokok. Benih yang ditanam adalah benih dengan warna label ungu. Sebelum menanam kelompok harus melapor ke BPSB untuk memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi sebagai kelompok penangkar. SEbagai bukti penanaman varietas dan asal usul tanaman, kelompok harus melaporkan bukti label benih yang ditanam. Hal baru yang ditemui panangkar adalah rouging yaitu mencabut atau membuang varietas yang tidak sesuai dengan varietas yang ditanam. Bagi petani yang baru memulai penangkaran, rasanya sayang sekali untuk membuang tanaman tersebut. Rouging sangat penting dilakukan karena rouging sangat menentukan kemurnian benih padi yang akan dihasilkan oleh kelompok penangkar. Selain mengawasi kelompok penangkar, BPSB juga mengirim perwakilan kelompok penangkar untuk mengikuti pelatihan tentang penangkaran tanaman yang ditanam. Pelatihan bertujuan untuk menambah wawasan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan penangkaran.

Berikut adalah tempat – tempat penangkaran benih yang sudah ada :
  1. Penangkaran Benih Padi Vaietas Unggul Baru di Provinsi Gorontalo
  2. Penangkaran Benih Padi Prima Lestari 
  3. Penangkaran Bibit Karet Unggul

Kendala Yang Di Hadapi :

Sudah ada berbagai kelompok penangkar benih di pedesaan, namun teknikpenangkarannya masih dilakukan sebagaimana cara memproduksi tanaman untuk konsumsi. Berbagai jenis varietas termasuk varietas lokal berada pada kawasan penangkaran tanpa mengetahui perananan isolasi waktu atau jarak dan tidak melakukan rouging, sehingga kualitas genetik cenderung menurun. Sampel benih tidak lulus karena terdapat campuran varietas lain yang jumlahnya melebihi standard yang telah ditetapkan. Fakta juga menunjukkan bahwa kegagalan utama penangkar dalam memperoleh label di BPSP karena tidak memenuhi persyaratan kadar air, sehingga dalam pembinaan  penangkaran benih perlu pemberdayaan prosesing benih (terutama cara pengeringan)  agar diperoleh benih yang berkualitas, selain sortasi, cara pengemasan dan penyimpanan benih juga penting.


DAFTAR PUSTAKA

BPTP Gorontalo. 2009. Penangkaran. . Diakses tanggal 19 Mei 2011.

Sinar Tani. 2011.Industri Benih Di Tingkat Petani Solusi Jitu Mengatasi Persoalan Benih. . Diakses tanggal 19 Mei 2011.

Kurnia. 2011.Penangkaran Benih Padi Prima Lestari. . Diakses tanggal 19 Mei 2011.

Indowarta. 2010. Penangkaran Bibit Karet Unggul Diresmikan. . Diakses tanggal 19 Mei 2011.

Pitojo, Setijo. 2004. Benih Kentang. Kanisius, Yogyakarta.

11 Juni 2011

Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional

Bulan Januari
01 Januari – Tahun Baru Masehi
01 Januari – Hari Perdamaian Dunia
05 Januari – HUT Korps Wanita Angkatan Laut
10 Januari – Hari Tritura
10 Januari – Hari Lingkungan Hidup Indonesia
15 Januari – Hari Peristiwa Laut atau Samudera
25 Januari – Hari Gizi
25 Januari – Hari Kusta Internasional

Bulan Februari
02 Februari – Hari Lahan Basah Sedunia (konvensi Ramsar)
09 Februari – Hari Pers Nasional
13 Februari – Hari Farmasi

Bulan Maret
01 Maret – Hari Kehakiman Indonesia
06 Maret – Hari Kostrad
06 Maret – Hari Konvensi CITES (perdagangan satwa liar)
08 Maret – Hari Wanita Internasional
09 Maret - Hari Wanita Indonesia
10 Maret - Hut PARFI
11 Maret - Hari Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
18 Maret - Hari Arsitektur Indonesia
20 Maret - Hari Kehutanan Dunia
22 Maret - Hari Air Internasional
23 Maret - Hari Metereologi Sedunia
24 Maret - Hari Peringatan Bandung Lautan Api
30 Maret - Hari Film Indonesia

Bulan April
01 April – HUT Bank Dunia
06 April – Hari Nelayan Indonesia
07 April – Hari Kesehatan Indonesia
09 April – Hari Penerbangan Nasional
19 April – Hari HANSIP
21 April – Hari Kartini
22 April – Hari Bumi / Earth Day / KTT Bumi
24 April – Hari Angkutan Nasional
27 April – Hari Lembaga Pemasyarakatan Indonesia

Bulan Mei
01 Mei – Hari Buruh Internasional
01 Mei – Hari Peringatan Pernbebasan Irian Barat
02 Mei – Hari Pendidikan Nasional
03 Mei – Hari Surya
05 Mei – Hari Lembaga Sosial Desa
08 Mei – Hari Palang Merah Internasional
11 Mei – Hari POM TNI
17 Mei – Hari Buku Nasional
20 Mei – Hari Kebangkitan Nasional

Bulan Juni
01 Juni – Hari Lahirnya Pancasila
03 Juni – Hari Pasar & Modal Indonesia
05 Juni – Hari Lingkungan Hidup Sedunia
21 Juni – Hari Krida Pertanian
22 Juni – HUT Kota Jakarta
23 Juni – Hari Konvensi Bonn
24 Juni – Hari Bidan Indonesia
29 Juni – Hari keluarga Nasional

Bulan Juli
01 Juli – Hari Bhayangkara
01 Juli – Hari Anak-anak Indonesia
05 Juli – Hari Bank Indonesia
09 Juli – Hari Peluncuran Satelit Palapa
12 Juli – Hari Koperasi Indonesia
22 Juli – Hari Kejaksaan
23 Juli – Hari Anak Nasional

Bulan Agustus
08 Agustus – Hari ASEAN
10 Agustus – Hari Veteran Nasional
14 Agustus – Hari Pramuka
17 Agustus – Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
18 Agustus – Hari Konstitusi Indonesia
19 Agustus – Hari Departemen Luar Negeri
21 Agustus – Hari Maritim Nasional
24 Agustus – HUT TVRI

Bulan September
01 September – Hari POLWAN
04 September – Hari Pelanggan Nasional (mulai 2003)
08 September – Hari Aksara
08 September – Hari Pamong Praja
09 September – Hari Olahraga Nasional
11 September – Hari Radio Republik Indonesia
17 September – Hari Perhubungan Nasional
24 September – Hari Agraria Nasional / Hari Tani
27 September – Hari ParPostel
28 September – Hari Kereta Api
29 September – Hari Sarjana
30 September – Hari Pemberontakan PKI

Bulan Oktober
01 Oktober - Hari Kesaktian Pancasila
05 Oktober – HUT Tentara Nasional Indonesia
09 Oktober – Hari Surat Menyurat Internasional
14 Oktober – Hari Pangan Sedunia
15 Oktober – Hari Hak Asasi Binatang
16 Oktober – Hari Parlemen RI
24 Oktober - HUT PBB
24 Oktober - Hari Dokter Indonesia
27 Oktober - Hari Penerbangan Nasional
28 Oktober - Hari Sumpah Pemuda
30 Oktober - Hari Keuangan

Bulan November
03 November – Hari Kerohanian
10 November – Hari Pahlawan
12 November – Hari Kesehatan Nasional
14 November – Hari BRIMOB
16 November – Hari Konferensi Warisan Dunia
21 November – Hari Pohon
25 November – Hari Guru / HUT PGRI

Bulan Desember
01 Desember – Hari AIDS sedunia
02 Desember – Hari Konvensi Ikan Paus
03 Desember – Hari Penderita Cacat
04 Desember – Hari Artileri
09 Desember – Hari Armada RI
10 Desember – Hari HAM
12 Desember – Hari Transmigrasi
15 Desember – Hari Infantri
15 Desember – Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
19 Desember – HUT Tentara Nasional Indonesia
20 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Ibu
22 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Korps Wanita Angkatan Darat
25 Desember – Hari Natal
29 Desember – Hari Keanekaragaman Hayati

10 Juni 2011

POLIPLOIDISASI

DOWNLOAD FILE .doc

-->
I.               INTISARI
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Kamis, tanggal 28 April 2011. Pada acara keempat ini akan dilakukan pengujian dan pengamatan pembelahan sel yang telah diperlakukan dengan cairan kimia colchisine, agar sel tersebut mengalami polyploidy. Dalam meningkatkan produksi hasil pertanian, banyak usaha yang telah dilakukan dengan pemuliaan tanaman. Salah satunya adalah dengan polyploidisasi, yaitu usaha untuk menggandakan jumlah kromosom. Tanaman polyploid mempunyai sifat superior dibandingkan dengan tanaman diploid. Tujuan dari praktikum polyploidisasi ini adalah memperoleh forma-forma dalam bentuk liar maupun untuk persilangan, mengubah pollen yang incompatible menjadi compatible, mempertahankan kombinasi gen yang diperoleh pada forma-forma diploid, dan mempertinggi hasil pertanaman. Bahan yang digunakan adalah bawang merah ( Allium cepa ) yang diberikan larutan colchisni. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian colchisine menyebabkan terjadinya penggandaan jumlah kromosom dari 16 menjadi 32, karena colchisine membuat benang-benang spindel tidak terbentuk pada saat akan memasuki anafase dalam pembelahan mitosis. 

Kastrasi dan Hibridisasi

http://adf.ly/YcHBw
Teknologi awal yang digunakan dalam pemuliaan tanaman adalah dengan persilangan tanaman. Persilangan tanaman tersebut dalam perkembangannya telah melahirkan teknik penyilangan yang dikenal dengan teknik hibridisasi. Praktikum dasar-dasar pemuliaan tanaman ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi serta aplikasinya di lapangan. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 13-27 Mei 2011 di Kebun Percobaan Banguntapan, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kastrasi dilakukan dengan metode, clipping dan forcing. Kegagalan teknis hibridisasi dapat disebabkan oleh gagalnya proses kastrasi.

A. TUJUAN
Mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi serta aplikasinya di lapangan.

B. LATAR BELAKANG
Di alam bebas dapat terjadi penyerbukan silang berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara spontan oleh kupu-kupu, lebah, angin, dan serangga lainnya. Terjadinya penyerbukan bebas secara alami tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti apakah yang menjadi induk jantan maupun betina mempunyai sifat baik atau buruk. Sehubungan dengan kondisi tersebut maka kemudian manusia berusaha menyelenggarakan penyerbukan silang dengan sengaja antara dua jenis tanaman tertentu yang sifat-sifatnya telah diketahui dengan pasti dan tergolong jenis unggul.

Sebelum melakukan hibridisasi, untuk menghindari tanaman menyerbuk sendiri, terlebih dahulu dilakukan kastrasi. Kastrasi biasanya dilakukan dengan beberapa cara yaitu, clipping method, forcing method, sucking method, dan hot water treatment. Dengan hibridisasi diharapkan akan diperoleh varietas yang mempunyai perpaduan sifat kedua induknya, sehingga diharapkan akan dapat dihasilkan varietas unggul yang mempunyai produksi tinggi, tahan serangan hama dan penyakit, dan tahan kekeringan.

C. LANDASAN TEORI

Tiga fase penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman, yaitu: (1) menciptakan keragaman genotip dalam suatu populasi tanaman, (2) menyeleksi genotip yang mempunyai gen-gen pengendali karakter yang diinginkan, dan (3) melepas genotipe/kultivar terbaik untuk produksi tanaman (Frey, 1983). Beberapa parameter genetik yang dapat digunakan sebagai pertimbangan agar proses seleksi efektif dan efisien, yaitu: keragaman genetik, keragaman fenotipik, heretabilitas, korelasi dan pengaruh dan karakter-karakter yang erat hubungannya dengan hasil.

Pada awal tahun 1965, Bolton dan perhimpunannya mengamati bahwa fragment panjang dari DNA eukariotik dapat membentuk aggregate multimolekuler yang besar atau suatu jaringan kerja reasosiasi sebagian., dan mereka menyimpulkan bahwa sekuen berulangnya bertanggung-jawab untuk pasangan dasar dibawah kondisi mereka harus dihamburkan keseluruh genomnya (Rubenstein et al., 1980). 

Penyerbukan sendiri dan penyerbukan bersilang yang berlanjut dengan pembuahan akan menghasilkan komposisi genetic keturunan yang berbeda. Pada tanaman penyerbuk sendiri yang berlanjut dengan pembuahan secara terus-menerus, populasi generasi-generasi berikutnya cenderung mempunyai tingkat homozigot yang semakin besar, jadi populasi tanaman cenderung merupakan kumpulan suatu lini murni. Sedangkan pada tanaman penyerbuk silang dikenal adanya perkawinan acak. Perkawinan acak merupakan suatu perkawinan dimana setiap individu dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk kawin dengan individu lain dalam populasi tersebut (Hardjowigeno, 2003). 

Pada umumnya maksud dari penyerbukan silang adalah untuk memperoleh jenis-jenis tanaman batu yang memiliki sifat-sifat (Darjanto dan Satifah, 1982):
1. Tumbuhnya tanaman lebih cepat, dapat lekas menjadi besar dan lebih kuat.
2. Hasilnya dapat dipungut dalam waktu yang lebih pendek.
3. Produksinya setiap tahun tetap baik atau lebih tinggi.
4. Kualitas hasil yang diperoleh lebih baik.
5. Tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
6. Tanaman dapat tumbuh baik di berbagai daerah.
7. Bentuk dan warna bunga lebih menarik. 

Menurut Jennings et al (1979), teknik emaskulasi yang sederhana dan yang lebih efisien adalah membuka spikelet dan memindah anthera dengan tweezers atau vacuum. 

Penyerbukan sendiri dan penyerbukan bersilang yang berlanjut dengan pembuahan akan menghasilkan komposisi genetic keturunan yang berbeda. Pada tanaman penyerbuk sendiri yang berlanjut dengan pembuahan secara terus-menerus, populasi generasi-generasi berikutnya cenderung mempunyai tingkat homozigot yang semakin besar, jadi populasi tanaman cenderung merupakan kumpulan suatu lini murni. Sedangkan pada tanaman penyerbuk silang dikenal adanya perkawinan acak. Perkawinan acak merupakan suatu perkawinan dimana setiap individu dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk kawin dengan individu lain dalam populasi tersebut (Hardjowigeno, 2003). 

Menurut Poespodarsono (1988), tepung sari yang diambil untuk mencegah terjadinya penyerbukan sendiri dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Cara mekanis.
2. Menggunakan panas/bahan kimia.
3. Sterilisasi tepung sari.

Menurut Jennings et al (1979), teknik emaskulasi yang sederhana dan yang lebih efisien adalah membuka spikelet dan memindah anthera dengan tweezers atau vacuum. 

Sebagai konsekuensi dari system reproduksi ini dan sejarah evolusi mengenai hal ini sebelumnya, setiap populasi pada tipe ini dipercaya untuk memiliki struktur genetic yang terpadu yang setidak-tidaknya dapat dirtetapkan sebagian dalam hal frekuensi system gen. populasi seperti ini telah dikenal oleh Dobzhansky (1951) sebagai “Suatu komunitas seksual reproduktif dan organisme pembuahan silang yang terbagi kedalam suatu gen pool” (Allard, 1966).


III. METODOLOGI

Praktikum acara II yang berjudul “Kastrasi dan Hibridisasi” dilaksanakan pada hari Jum'at tanggal 13-27 Mei 2011 di Kebun Percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat- alat yang digunakan dalam praktikum yaitu pinset, pentil sepeda, kantong kertas, label, gunting. Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanaman padi (Oryza sativa).

Adapun cara kerja untuk pelaksanaan praktikum kali ini adalah pertama-tama dilakukan pemilihan induk tanaman, yakni tanaman dipilih yang sehat dan bisa mewakili varietas atau line yang digunakan, kemudian dipilih malai yang akan diserbuki, kemudian bunga dipilih yang cukup masak untuk disilangkan yaitu pada saat tinggi kepala sari kira-kira ditengah panjang bunga. Bunga yang tengah dan akan mekar dibuang. Kemudian yang kedua adalah perlakuan kastrasi dan hibridisasi yaitu setelah individu induk dipilih, maka daun benders dipotong untuk memudahkan persilangan, kemudian malai bagian atas dan malai bagian bawah dibuang untuk memudahkan kastrasi dan hibridisasi.

Untuk selanjutnya digunakan cara pertama: metode paksa (forcing method), caranya adalah bunga dibuka secara paksa secara hati-hati melalui lemma dan palea dengan pinset. Kedua ujung sekam dipegang dengan hati-hati. Setelah itu benang sari dari luar dibawa masuk kedalam bunga yang diemaskulasi, kemudian bunga ditutup kembali dan diberi pentil sepeda yang sudah dipotong kecil, dan terakhir diberi label. 

Cara kedua yaitu dengan metode clipping: sepertiga atau setengah bagian dari pallea dan lemma dipotong hingga kepala sari kelihatan, bidang potong miring kearah lemma. Benang sari kemudian dibuang secara hati-hati dengan menggunakan pinset. Setalah itu bunga parental jantan dalam malai yang sudah membuka digoyang-goyangkan diatas bunga yang sudah dikastrasi. Setelah itu bunga ditutup dengan kantong kertas dan diberi label.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kebutuhan akan pangan semakin hari semakin meningkat. Para pemulia tanaman telah berusaha mengembangkan teknologi dalam bidang pertanian untuk mendapatkan hasil yang terbaik pada varietas tanaman pangan. Salah satu teknologi yang sudah sangat populer saat ini, dan sangat membantu dalam peningkatan kualitas pangan di dunia adalah pembuatan varietas hibrida dari suatu tanaman. Varietas hibrida adalah varietas hasil persilangan dari dua tetua. Varietas ini mempunyai sifat heterosis, dan penampilannya lebih baik dibandingkan dengan penampilan rata-rata kedua orang tuanya. Pembuatan varietas hibrida ini didasarkan karena adanya penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu mengenai adanya kemunduran hasil dari tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri (selfing). Galur inbred pada dasarnya sama dengan lini murni pada tanaman penyerbuk sendiri karena merupakan hasil pemilihan akhir dari proses seleksi tanaman hasil penyerbukan sendiri pada setiap generasi sampai diperoleh individu tanaman yang homozigot. Pada proses selfing yang dilakukan, keturunannya akan mengalami kemunduran dalam hal kegigasan atau vigor, berkurangnya ukuran standar normal, dan berkurangan tingkat reproduksi dibandingkan dengan tanaman tetuanya. Kemunduran sifat-sifat ini sering disebut adanya tekanan silang dalam. Kemunduran yang terjadi pada suatu galur inbred sebagai akibat proses selfing dari generasi ke generasi akan sembuh pada f1 bila dua galur inbred yang tidak berkerabat disilangkan. Hasil dari persilangan inilah yang disebut dengan varietas hibrida.

Dalam rangka mendapatkan varietas-varietas yang lebih baik atau unggul, para pemulia menggunakan teknik kastrasi yang dilanjutkan dengan hibridisasi sehingga didapatkan jenis baru yang memiliki sifat yang diinginkan. Metode kastrasi yang digunakan dalam hibridisasi tanaman padi pada acara praktikum ini adalah clipping method dan forcing method.

Kastrasi atau biasa disebut emaskulasi, adalah mengambil alat kelamin jantan sebelum pecahnya kepala sari. Sedangkan hibridisasi adalah menyilangkan dua tanaman atau lebih yang punya sifat genetis yang berbeda. Hibridisasi dapat dilakukan pada tanaman autogam maupun tanaman allogam. Pada tanaman autogam, dikarenakan bunganya merupakan bunga lengkap, maka sebelum dilakukan hibridisasi bunga harus dikastrasi terlebih dahulu dengan cara membuang benang sari tanaman tersebut. Sedangkan pada tanaman allogam, tidak perlu dilakukan kastrasi karena bunga jantan dan bunga betina letaknya terpisah. Tanaman padi merupakan tanaman autogam maka sebelum dilakukan hibridisasi harus dilakukan kastrasi terlebih dahulu agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Proses hibridisasi didahului dengan proses kastrasi maka untuk menghasilkan tingkat keberhasilan hibridisasi yang tinggi, proses kastrasi harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada saat pollen diusahakan jangan sampai merusak struktur pollen bunga. Selain itu, tanaman yang akan dihibridisasi harus diambil dari varietas yang punya hubungan kekerabatan yang dekat dan tidak mempunyai sifat incompatibiltas.

Clipping Method merupakan metode yang dilakukan dengan cara memotong sebagian dari palea dan lemma sehingga kepala sari kelihatan. Bidang potong miring kebawah kearah lemma, kemudian benang sari dibuang menggunakan pinset. Setelah bunga pada satu malai selesai dikastrasi, selanjutnya malai dibungkus dengan kertas transparan dan penyerbukan dilakukan pada pagi harinya. Kantong kertas penutup malai dibuka lalu bunga lain yang telah mekar yang digunakan sebagai sumber pollen / pejantan digoyang-goyangkan didekat bunga yang telah dikastrasi tadi sehingga diharapkan pollen jatuh ke stigma dan penyerbukan terjadi. Kendala yang muncul dalam kastrasi menggunakan metode ini yaitu pada porsi pemotongan berpengaruh terhadap persentase jumlah biji padi. Pemotongan yang terlalu rendah dapat melukai stigma, tetapi jika pemotongan terlalau tinggi, emaskulasi menjadi sulit karena benang sari menjadi terlalu jauh dan pollen menjadi sulit untuk sampai ke stigma pada saat polinasi/ penyerbukan. Pemotongan miring kearah lemma menyebabkan benang sari yang berada didekat lemma menjadi lebih terbuka daripada benang sari yang berada di dekat palea sehingga pengambilan benang sari yang berada didekat palea menjadi lebih sulit karena benang sari tertutup palea. Pengambilan kepala sari yang didekat palea memerlukan kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kerusakan pada stigma, karena tinggi benang sari sama atau lebih rendah dari pada stigma dan keadaan benang sari yang tertutup palea. Malai yang telah diemaskulasi perlu dibungkus dengan kertas transparan agar lingkungan yang diharapkan menyerupai lingkungan saat putik terbungkus oleh lemma dan palea. Hal tersebut mempunyai tujuan untuk melindungi malai dari kondisi lingkungan yang dapat merugikan atau mengganggu prose emaskulasi. Kendala lain yang dihadapi jika menggunakan metode ini adalah biji yang tidak tertutup penuh oleh lemma dan palea yang dipotong meskipun viable, tetapi bentuknya tidak normal dan sering mempunyai dormansi yang tinggi dari pada biji normal. 

Forcing method merupakan metode kastrasi dengan cara membuka secara paksa bunga (padi) melalui penekanan pada lemma dan palea, yang kemudian dengan menggunakan jarum, garis temu antara lemma dan palea dibuka. Setelah lemma dan palea terbuka, kepala sariyang jumlahnya enam buah diambil dengan menggunakan pinset. Setelah itu bunga padi tersebut ditutup dan diikat dengan menggunakan pentil lalu diberi label. Masalah yang timbul dari metode iini adalah pembukaan dengan paksa lemma dan palea yang berisiko terhadap kerusakan stigma atau putik. Hal tersebut terjadi akibat adanya penekanan pada bunga. Putik dapat rusak akibat pembukaan bunga secara paksa melebihi batas membukanya bunga padi. Palea dan lemma membuka sedemikian sehinggaantara lemma dan palea terjkadi sudut kira-kira 30-600. Kastrasi dilakukan pada bunga padi yang belum mengalami self fertilization ( penyerbukan sendiri ), yaiut bunga yang memiliki panjang benang sari maksimal setengah panjang bunga. Keadaan tersebut menyebabkan tinggi benang sari hampir sama dengan tinggi putik atau lebih rendah dari putik sehingga pengambilan benang sari menjadi lebih sulit. Hibridisasi dengan forching method dilakukan sekali pada tiap bunganya, agar pembukaan paksa tidak terjadi berulang kali, untuk menghindari tingkat kerusakan putik yang lebih besar.

Pada dasarnya terdapat beberapa tahapan dalam melakukan teknik hibridisasi , yaitu:
1. Persiapan
 Dilakukan pengamatan pada bunga mentimun, meliputi pembungaan, benangsari, dan putik.
 Pemilihan induk jantan dan induk betina.
 Pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkanb.
2. Isolasi kuncup terpilih.
3. Emaskulasi
 Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga mentimun yang akandijadikan induk betina.
 Dilakukan sebelum putik dan benang sari masak
4. Mengumpulkan dan menyimpan serbuk sarie.
5. Melakukan penyerbukan silang.

Biasanya persilangan yang diadakan dalam usaha memperoleh hybrid tidak saja melibatkan persilangan yang sederhana yang berarti melibatkan dua jenis induk saja, tetapi kadang-kadang persilangan-persilangan yang sangat kompleks dengan menggunakan lebih dari dua induk yang dianggap mewakili kelebiha-kelebihan sifat yang diharapkan menyatu dalam suatu keturunan. Dalam hal ini, seleksionis harus mempunyai koleksi tanaman, sehigga dapat dengan mudah memilih material yang diperkirakan sesuai dengan tujuan seleksinya. Pemeilihan material ini perlu disetai tentang pengetahuan tentang sistematik, morfologi, fisiologi, cytology dalam genetika dari bahan-bahan untuk membatasi kemungkinan-kemungkinan kegagalan yang terjadi. 

Keberhasilan atau kegagalan proses hibridisasi dapat dilihat setelah 3 hari sampai satu minggu setelah peerlakuan. Ciri-ciri proses hibridisasi yang berhasil adalah bunga masih segar, dan bila bunga/ bulir padi tersebut dipencet maka akan keluar cairan putih seperti susu yang merupakan cairan pati. Sedangkan jika gagal maka maka bunga akan kelihatan layu dan warnanya berubah menjadi kecoklatan. Diantara kedua metode tersebut sudah nampak jelas bahwa clipping method lebih efisien untuk dilakukan, karena tidak perlu membuka bunga depan secara paksa yang sulit dikerjakan, tetapi kekurangan dari metode ini yaitu adanya kemungkinan jatuhnya pollen yang terbawa oleh angin ke kepala putik sebelum putik benar-benar masak untuk melakukan penyerbukan, karena tidak ada penghalang untuk melindungi putik dari masuknya benda asing (pollen), untuk mengantisipasinya maka pada saat penutupan dengan menggunakan kertas harus serapat mungkin, hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya pollen ke kepala putik. Sedangkan kelebihan dari forcing method yaitu adanya penutupan kembali bunga yang tadinya dibuka secara paksa tersebut setelah diambil benang sarinya, hal inilah yang yang menjadi nilai lebih bagi forcing method untuk mendapatkan tingkat akurasi data yang maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini, setelah satu minggu, didapatkan tanaman padi yang diberi perlakuan kontrol dapat tumbuh dengan baik dengan persentase keberhasilan 100%. Sedangkan bulir padi hasil perlakuan forcing mempunyai persentase keberhasilan 15 %. Dari 20 bulir yang dikenai perlakuan hanya ada 3 bulir yang di dalamnya terdapat cairan berwarna putih susu. Sedangkan untuk percobaan kastrasi dengan metode clipping mempunyai persentase keberhasilan sebesar 0%. Dari 20 bulir padi yang dikastrasi tidak ada bulir yang berwarna hijau dan malai tampak segar. Secara teoritis, kastrasi menggunakan metode forcing memiliki presentase keberhasilan terjadinya polinasi yang lebih besar karena pollen dipastikan ada di dalam bunga yang dikastrasi. Sedangkan pada kastrasi dengan metode clipping, presentase keberhasilan terjadinya polinasi lebih kecil karena pollen belum tentu masuk ke dalam bunga yang dikastrasi. Meskipun demikian, metode ini lebih cepat dan mudah dilakukan daripada metode kastrasi yang lain.

-----
Persentase keberhasilan:
Forcing method 0%
Clipping methode 4.44 %
Kontrol 82.78%
Tabel 1. Persentase keberhasilan Hibridisasi
 -----

Faktor-faktor berikut ini merupakan hal-hal yang dapat menjadi penyebab kegegalan hibridisasi pada tanaman:
1. Gametic mortality (kematian gamet)
Meskipun oleh struktur yang kebetulan memungkinkan bahwa dua spesies tumbuh-tumbuhan dapat melakukan perkawinan, fertilisasi yang sebenarnya mungkin tidak akan terjadi. Contohnya ketika bunga jantan sampai pada alat kelamin betina namun segera terhenti gerakannya karena keadaan yang tidak sesuai pada alat kelamin tersebut, sehingga sperma tidak akan mencapai sel telur.
2. Aygot mortality (kematian zigot)
Hybrid seringkali sangat lemah dan berbentuk tidak baik sehingga sering mati sebelum mereka dikeluarkan dari induknya. Hal ini berarti bahwa gene flow antara kedua golongan induk tidak terjadi.
3. Hybrid inviability
Anggota dari kedua spesies berdekatan mungkin dapat mengadakan persilangan dan menghasilkan keturunan yang fertil. Juka keturunan ini dan keturunannya lagi bersifat sekuat orang tua mereka disamping adaptasi juga sebaik orang tua mereka, maka kedua populasi ini tidak akan tetap terpisah untuk jangka waktu yang lama jika mereka simpatrik. Hal ini mengakibatkan mereka tidak lagi disebut sebagai dua spesies yang penuh tetapi jika jika anak-anaknya dan keturunannya kurang beradaptasi, mereka lenyap. Akan tetapi faktor ini dapat diabaikan dalam praktikum ini.

Dalam melakukan kastrasi diperlukan kecermatan yang tinggi, karena menyangkut hasil yang akan didapat. Kecermatan diperlukan dalam hal memilih bunga yang akan dikastrasi, memilih tanaman yang akan digunakan sebagai induk jantan dan betina, memilih waktu yang tepat pada saat kastrasi, kemudian juga saat melakukan kastrasi harus teliti dalam arti pada saat mengambil benang sari dari induk betina haruslah cermat yaitu tidak melukai putik dan dapat membedakan mana yang putik dan mana yang serbuk sari. Dan juga semua benang sari harus terambil (yang berjumlah 6 kepala sari).

V. KESIMPULAN

Hibridisasi dapat dilakukan secara buatan dengan terlebih dahulu melakukan kastrasi untuk tanaman penyerbuk sendiri. Dua contoh teknik kastrasi adalah forcing dan clipping. Kegagalan teknis hibridisasi dapat disebabkan oleh gagalnya proses kastrasi.





DAFTAR PUSTAKA


Allard R. W. 1966. Principles of Plant. John Wiley & Sons, Inc. New York, USA. 485 p.

Darjanto dan SAtifah, 1982. Biologi Bunga dan Taknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia. Jakarta.

Hayes, H. K., F. R Immer, D. C Smith, 1955. Method of Plant Breeding. McGraw Hill Book Company Inc. New York.

Jennings., P. R, W. R Scoffman, H. E. Kauffman. 1979. Rice Improvement. IRRI. Los Banos. The Philippines.

Mangoendihardjo W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 181 p.

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. PAU. Bogor.

Rubenstein I., Burle Gengenbach, Ronald L Philips, C Edward Green. 1980. Genetic Improvement of Crops Emergent Techniques. University of Minnesota Press. United States of America. 242 p.

Saptowo, S., Pardal C. A. Wathmena, M. F. Masyhudi, S Hanan. 1994. Pengaruh Umur Embrio dan Genotip Tanaman Terhadap Pertumbuhan Kultur Embrio Muda. Zuriat. V (2): 52

Sucipto, A. 1993. Sekilas Tentang Hibridisasi Pada Tanaman Padi (Oryza Sativa). Buletin Ilmu Terpadu. IV. (21): 3-6

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...