"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

6 Juni 2009

SEJARAH KALI KEROK

DOWNLOAD
Dahulu kala ketika salah seorang Sultan masih hidup, beliau sering memandikan kuda yang jadi alat transportasinya yang bernama kuda Sembrani itu di sebuah sungai yang berada di barat daya desa kecil yang bernama desa Precet. Beliau memandikan kuda sembrani miliknya itu satu kali seminggu, yaitu pada setiap hari selasa kliwon, tepatnya sore hari. Hal itu berlangsung sangatlah lama, mungkin bisa lebih dari tiga tahun.
Suatu hari, ketika hari selasa kliwon, Sultan membawa kuda kesayangannya yang selalu menemani beliau kemana saja atau si kuda Sembrani itu ke sungai untuk memadikan\memembersihkan kotoran-kotoran yang ada pada tubuh kuda sembrani miliknya itu, misalnya kotoran dari tubuh si kuda itu sendiri maupun kotoran dari alam. Kebetulan waktu itu kuda Sembrani tubuhnya sangat kotor hampir seluruh tubuh tertutup oleh kotoran, maka beliau harus mengeluarkan tenaga ekstra supaya badan kuda Sembrani menjadi bersih. Mungkin, karena kelelahan, Sang Sultan itu menjadi lupa membawa alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh kuda sembrani. Sesampainya di rumah,tiba-tiba beliau ingat kalau alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh si kuda itu tertinggal di sungai tempat beliau memandikan kuda sembrani miliknya itu.
Kemudian setelah itu Sang Sultan pergi ke sungai untuk mengambil alat itu, tetapi sesampainya di sana beliau tak menemukan alatnya itu. Pikir beliau mungkin saja alat itu sudah terbawa arus air, lalu dengan tangan kosong beliau pulang. Beberapa tahun kemudian kuda Sembrani itu mati, tak tahu apa sebab kematiannya. Sedangkan sungai tempat memandikan kuda itu dinamai sungai Kerok. Kerok artinya alat yang digunakan untuk membersihkan tubuh kuda (dalam bahasa jawa disebut “k√©rok”).
Beberapa tahun kemudian datanglah seorang laki-laki. Sebut saja namanya Suwirno. Penduduk desa precet. Beliau tahu bahwa dahulunya sungai di sebelah barat daya desa Precet itu sering digunakan untuk memandikan kuda Sembrani milik sang Sultan. Suwarno berpikir, bukankah kuda sembrani itu merupakan salah satu kuda terhebat yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya, sedangkan kehebatan kuda Sembrani itu, bahwa kuda Sembrani itu bisa terbang. Mungkin saja kalau kuda kepunyaanku kumandikan disini maka kudaku akan jadi hebat seperti kuda Sembrani.
Akhirnya, mulai saat itulah kuda milik Suwarno dimandikan di sungai Kerok, sungai yang pernah dijadikan tempat untuk memandikan kuda Sembrani milik Sultan. Hal itu selalu dilakukannya, setiap kuda miliknya kotor dengan segera Suwarnno datang ke sungai Kerok untuk membersihkn tubuh si kuda. Sampai pada akhirnya terasa ada keanehan yang terjadi pada kuda miliknya, rasanya kuda itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mungkin kalau kudaku kumandikan terus di sungai kerok, kudaku akan menjadi lebih hebat dari yang sekarang aku rasakan ini.
Melihat perubahan yang terjadi pada kuda miliknya, beliau menjadi lebih giat lagi untuk membersihkan kuda miliknya itu. Ternyata perkiraan Suwarno tidak salah. Kuda miliknya lama-kelamaan menjadi semakin hebat daripada yang lain. Sangat beruntung beliau bisa mendapati kuda miliknya lebih baik, hanya karena rutin memandikan kudanya di sungai kerok. Kesimpulannya, sungai kerok ternyata memiliki kekuatan ghaib.
Tak lama setelah itu, karena kudanya itu sudah dewasa, dikawinkannya kuda betinanya itu dengan seekor kuda jantan yang dengan segera bisa ia dapatkan. Suwarno harus menunggu beberapa bulan agar ia dapat melihat bayi kuda dari sepasang kuda miliknya itu. Akhirnya masa-masa yang telah lama dinanti itu datang juga. Dari kejauhan dilihatnya ada tiga ekor kuda di kandang miliknya. Salah satunya adalah bayi kuda atau kuda yang baru lahir. Beliau sangat gembira dan mendekati kuda itu….
Setelah beliau berada didekatnya, beliau kaget karena ternyata bayi kudanya berkaki hijau(dalam bahasa jawa: “tracak ijo”). Baliau lebih gembira lagi karena tahu bahwa kuda yang bercirikan seperti itu tidak lain adalah kuda Sembrani milik salah seorang Sultan yang dulunya pernah dimandikan tubuh kudanya itu di sungai yang sama dengan sungai yang beliau gunakan.
Tak lama setelah kelahiran kuda keturunan kuda Sembrani milik Suwarno itu, kabar kalau kuda bayi itu mirip dengan kuda Sembrani milik seorang Sultan itu telah tersebar ke berbagai tempat. Pada suatu hari, sampailah kabar itu ke telinga sang Ratu yang berada di Keraton Yogyakarta. Sang Ratu ingin membuktikan kebenaran kabar tentang kuda itu, maka diutusnya dua orang prajurit untuk menyelidiki hal itu dengan mendatanginya langsung ke desa Precet. Dan kalau kabar yang didengarnya itu benar, beliau ingin memiliki kuda itu dan kuda itu harus dibawa.
Lalu kedua prajurit itu datang ke desa Precet. Sesampai disana mereka mencari tahu akan hal itu, dan mereka mendapati kuda itu, lalu keduanya meminta izin kepada pemuliknya, Suwarno, untuk membawa kuda Tracak Ijo itu ke Keraton Yogyakarta karena sang Ratu ingin memiliki kuda tersebut. Setelah Suwarno dibujuk-bujuki terus, akhirnya dia tetap tidak mau memberikan kuda dambaannya itu. Karena baginya ini adalah suatu kebahagiaan dalam hidupnya. Kedua prajurit itu pulang dengan tangan kosong karena sang pemilik kuda tidak mau memberikan kudanya.
Sepulang dari desa precet, para prajurit itu melaporkan bahwa kabar itu memang benar adanya, namun mereka tak berhasil membawa kuda Tracak Ijo karena sang pemilik tidak mengizinkan kudanya dibawa. Mangetahui hal itu, Ratu mengutus prajurit yang lain untuk mendatangi desa itu lagi dan mambeli kuda Tracak Ijo dengan harga berapapun, akan dinaikkannya derajat anak Suwarno setinggi-tingginya, dan akan mengabulkan permintaannya sampai tujuh turunan sekalipun. Namun jika Suwarno tidak bersedia, desa itu akan dinamai desa “Nggrajegan” atau “ Dawunan” yang artinya:
? Nggrajegan: ajeg(tetep). Maksudnya desa itu tidak akan mengalami perkembangan dan akan tetap seperti itu.
? Dawunan: wukan (gagal). Maksudnya kalau mereka menginginkan suatu hal maka hal itu tidak akan tercapai.
Dan kedua hal ini akan berakhir setelah Suwarno mempunyai tujuh turunan. Dahulunya desa Precet ini hanya dihuni oleh 1 keluarga yaitu keluarga Suwarno. Kemudian prajurit utusan sang Ratu tadi datang ke desa Precet dan menyampaikan beberapa hal antara lain:
? Kuda milik suwarno tadi akan dibeli dangan harga berapapun yang suwarno inginkan.
? Kelau suwarno menyetujuinya maka derajad anak cucunya akan dinaikkan bahkansampai tujuh turunan sekalipun.
? Kalau suwarno tidak menyetujuinya maka desa ini harus diberi nama Dawunan atau Nggrajegan.
Ternyata Suwarno tetap tidak mau memberikan kuda itu. Beliau ingin merawat kuda itu sampai mati. Kedua prajurit itu pulang ke keraton Yogya dengan memberitahukan keputusan Suwano tadi.
Kabar-kabarpun telah tersebar sampai keluar jawa tengah, lalu setiap orang yang mempunyai kuda ketika mendengar kabar itu, mereka langsung pergi ke desa Precet dan memandikan kudanya di sungai Kerok. Sesampai diumah, kuda yang sudah dimandikan di sungai itu meninggal. Kemudian mereka mengubur kuda milik mereka di desa precet dekat dengan rumah Suwarno. Bebeapa tahun kemudian mereka baru sadar akan perkataan sang ratu. Lalu desa Precet bagian atas mereka namakan desa Nggrajegan sedangkan yang bawah mereka namakan Dawunan, tetapi kedua desa itu masih dalam satu wilayah dan dipimpin oleh satu kadus.
Penduduk desa Dawunan dan Nggajegan itu semuanya adalah dari keturunan Suwarno, jadi mereka semua masih ada ikatan keluarga. Ada seorang pintar yang tahu akan hal atau keajaiban di sungai Kerok, desa Dawunan itu. Orang itu datang ke sungai Kerok dan memikat air yang ada di sana sehingga airnya menjadi tawar (tidak punya kekuatan magis lagi). Dulu di sekitar sungai itu banyak batu-batu besa seperti batu lapak, batu yang ada telapak kudanya, dan batu kendang (karena batu itu sering mengeluarkan suara seperti gendang setiap malam selasa kliwon. Ternyata pekataan ratu hanya berlaku untuk masyarakat asli dari keturunan masyarakat desa itu, sedangkan yang tinggal diluar desa itu hanya tiga turunan saja.
Sampai sekarang sungai Kerok masih dianggap keramat. Setiap masyarakat yang mengadakan dan menyembelih hewan seperti sapi, kerbau, kambing, dan lain sebagainya, maka kepala hewan yang disembelih itu harus dicuci dan ditinggal di sungai kerok. Hal itu harus dilaksanakan kalau mereka ingin acara yang diadakannya itu berjalan dengan lancar. Kaena kebetulan disamping sungai itu terdapat suatu jalan menuju desa lain yang keadaannya menanjak, maka setiap kendaraan yang melewati jalan itu harus membunyikan klalson kalau mereka ingin bisa sampai ke atas jalan itu. Sedangkan orang yang tidak menuruti perintah itu maka dirinya dalam keadaan bahaya, bahkan bisa saja orang itu kehilangan nyawanya.
Kebanyakan orang menyebut desa ini dengan nama desa Dawunan bukannya desa Nggrajegan. Banyak penduduk yang berkata bahwa jalan atau jembatan yang berada di depan Sungai Kerok itu juga angker. Terutama pada setiap malam jumat kliwon. Sampai sekarang, desa ini masih tergolong kedalam desa pelosok, karena jalannya masih terbuat dari batu yang dipukul dan ditata atau biasa disebut dengan “kricak” (dalam bahasa jawa), selain itu juga masih banyak terdapat pohon-pohon besar dan ladang di kanan kiri jalan. Kendaraan pun yang melewati melewatinya sangat sedikit, kendaraan-kendaraann besar seperti bis, tanker, dan lain lain tidak pernah lewat desa dawunan.
Mungkin hanya inilah yang bisa saya sampaikan mengenai sejarah sungai kerok (sungai kerok). Semoga anda sekalian bisa puas dengan legenda yang cukup singkat ini. Satu pesan dari saya, kalau anda ingin melewati jalan yang berada di dekat sungai Kerok desa Dawunan, bunyikan klakson atau paling tidak ucapkanlah “Assalamualaikum”. Itu kalau anda ingin selamat dari bahaya yang mengancam. Dalam peta-peta yang digunakan para tentara itu, desa Dawunan bukan dinamakan desa Dawunan, tetapi desa Precet. Semoga dapat dijadikan periksa.

Oleh: Esti Nurul Aini

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...