"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

6 Juni 2009

garis besar Riwayat Muhammad SAW

DOWNLOAD PDF
Di waktu umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah kedunia dari keluarga yang sederhana di kota mekah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim, bapaknya bernama Abdullah yang meninggal kurang lebih tiga bulan sebelum ia dilahirkan. Kelahiran bayi itu disambut oleh kakeknya Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawanya ke kaki Ka?bah. Di tempat suci inilah bayi itu dibei nama Muhammad, sebuah nama yang belum pernah ada sebelumnya menurut penelitian para ahli. Kelahiran Muhammad itu pada tanggal 12 Rabiul awal tahun Gajah atau tanggal 20 April 571 M. Adapun sebab dinamakannya tahun kelahiran nabi itu dengan sebutan tahun Gajah, karena pada tahun tersebut, kota Mekah diserang oleh suatu pasukan tentara yang kuat yang berkendaraan gajah. Pasukan tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Abrahah, gubernur dari kerajaan Nasrani Abbasiniya yang berkuasa di Yaman. Mereka datang ke Mekah dengan maksud untuk menghancurkan Ka?bah. Belum lagi maksud mereka tercapai, mereka sudah dihancurkan oleh Allah Swt, dengan mengirimkan pasukan burung yang bernama burung Ababil yang menyerang dengan mempergunakan batu-batu yang dibawa dari dasar neraka. Orang arab menyebut bala tentara yang berkendaraan gajah itu dengan nama pasukan gajah, maka tahun terjadinya peristiwa tersebut juga disebut dengan Tahun Gajah. Dan karena Nabi Saw lahir pada tahun tersebut, maka tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw disebut dengan sebutan Tahun Gajah.

NASAB DAN KETURUNAN NABI MUHAMMAD S.A.W.
Nabi Muhammad Saw.adalah anak dari Abdulah bin Abdul Muthalib. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari kalangan suku Quraisy, yang merupakan suku terpandang dan mulia pada masa itu. Kedua nasabnya masih ada hubungan kekeluagaan. Karena Abdullah (ayah nabi) telah meninggal dunia pada saat Nabi masih berada dalam kandungan, maka nabi tidak mengetahui bagaimana keadaan ayahnya. Nabi Muhammad Saw.tidak mendapatkan peninggalan harta benda yang banyak dari mendiang ayahnya, tetapi hanya beberapa ekor unta saja, karena memang keluarga nabi tidak termasuk golongan orang kaya.
Pada waktu dilahirkan Nabi Muhammad Saw sudah menjadi anak yatim. Sesudah beliau lahir, maka sudah menjadi adat kebiasaan orang di daerah Mekah, jika mempunyai anak maka si bayi dicarikan orang yang menyusui (ibu susu) dari daerah pedesaan. Dan mereka para ibu susu akan mencari dan memilih orang yang mempunyai keturunan yang baik, agar mendapat pengaruh dari bayinya. Maka pada saat itu Khalimatus Sa?diyah datang ke ibu nabi (Siti Aminah), beliau menawarkan diri untuk menyusui dan merawat nabi Saw. Maka atas persetujuan semua anggota keluarga, dibawalah nabi ke rumah Khalimatus Sa?diyah untuk disusui dan dirawat selama dua tahun. Pada saat merawat nabi tersebutlah keadaan keluarga Khalimatus Sa?diyah menjadi bertambah senang dan gembira, karena pikiran menjadi tenang, keadaan ekonomi bertambah baik dengan binatang ternak yang semakin bertambah gemuk dan pertanian yang bertambah subur. Maka terasalah bagi mereka perbedaan kegembiraan hidupnya pada saat sebelum dan selama waktu merawat nabi Saw. Maka ketentuan mengasuh yang selama dua tahun terasa amat sangat sebentar bagi Khalimatus Sa?diyah. Maka sesudah sampai pada batas waktu yang dua tahun tersebut, datanglah Khalimatus Sa?diyah kepada ibu nabi (Siti Aminah) untuk meminta tambahan waktu dua tahun lagi dalam merawat nabi, maka bermusyawarahlah keluarga nabi dalam menyikapi hal ini. Maka dengan sepakat keluarga nabi menyerahkan kembali Muhammad pada Khalimatus Sa?diyah selama dua tahun lagi. Maka jadilah Nabi Muhammad Saw dirawat Khalimatus Sa?diyah selama empat tahun. Maka selama empat tahun itulah Nabi SAW. Diasuh dan dibesarkan di bawah pengawasan Khalimatus Sa?diyah dengan perasaan yang masih berat kepada Nabi SAW, terpaksa dia menyerahkan Nabi kepada ibunya, sebab perjanjian selama empat tahun itu telah sampai pada batas waktunya. Sedangkan, ibu Nabi sudah sangat mengharap-harapkan anaknya itu kembali ke pangkuannya untuk diasuh dalam rumahnya. Maka sejak berumur lima tahun itulah Nabi dibawah asuhan ibunya (Aminah)

KEMATIAN IBU DAN KAKEK NABI MUHAMMAD SAW.
Sesudah Nabi berusia lima tahun, beliau selama satu tahun diasuh oleh ibunya (Siti Aminah). Setahun kemudian sewaktu beliau berusia enam tahun, beliau diajak oleh ibunya pergi ke Madinah bersama-sama dengan Ummu Aiman (sahaya peninggalan ayahnya). Maksud kepergian mereka ke Madinah ini, pertama untuk memperkenalkan Muhammad saw. Kepada keluarga kakek dari pihak ibunya (Bani Najjar, dan kedua untuk menziarahi makam ayahnya. Maka disana diperlihatkan kepada Nabi, rumah tempat ayahnya dirawat sewaktu sakit hingga ia meninggal dunia dan pusara tempat ayahnya dimakamkan. Demikian mengharukannya peristiwa tersebut, sehingga sampai beliau diangkat menjadi rasul dan sesudah beliau behijrah ke Madinah, peristiwa tersebut senantiasa disebut-sebut dan diceritakan kembali oleh beliau. Mereka tinggal di tempat tersebut kira-kira selama satu bulan, dan kemudian pulang kembali ke Makah.
Dalam perjalanan mereka pulang, pada suatu tempat yang benama Abwa, tiba-tiba Siti Aminah jatuh sakit, sehingga meninggal dunia. Dan kemudian dimakamkan di tempat tersebut. Abwa adalah nama sebuah desa yang terletak di antara kota Madinah dan kota Juhfah, kira 23 mil di sebelah selatan Madinah. Dapatlah dibayangkan betapa sedih dan bingungnya Muhammad saw.menghadapi peristiwa kematian ibunya. Baru beberapa hari saja ia mendengar cerita dan keluhan ibunya atas kematian ayahnya yang meninggal ketika ia masih dalam kandungan ibunya, dan sekarang ibunya telah meninggalkannya pula di hadapannya sendiri. Sehingga ia tinggal sebatang kara, menjadi seoang yatim piatu.
Setelah pemakaman ibunya, Muhammad saw.segera meninggalkan kampung Abwa, dan kembali pulang ke Makah, ketempat kakeknya Abdul Muththalib. Muhammad saw. Diasuh sendiri oleh Abdul Muththalib dengan penuh kasih sayang dan kecintaan. Abdul Muththalib pada waktu itu berusia hampir 80 tahun. Dia adalah seorang pemuka suku Quraisy, yang sangat disegani dan dihormati oelh segenap masyarakat Quraisy. Penghormatan bagi kedudukan yang tinggi dan mulia tersebut, sampai anak-anaknya sendiri tidak ada yang berani mendahului menduduki tempat duduk yang disediakan khusus untuknya di sisi Ka?bah. Begitu besar kasih sayang dan kecintaan kakeknya (Abdul Muththalib), maka Muhammad saw.mendapat hiburan dan dapat melupakan kemalangan nasibnya yang ditinggal mati ibunya. Akan tetapi ketenangan ini tidak berlangsung lama, sebab baru saja berjalan dua tahun ia merasa terhibur dibawah asuhan kakeknya, Abdul Muththalibpun meninggal dunia pula pada usia 82 tahun. Muhammad saw.pada waktu baru berusia 8 tahun.
Meninggalnya Abdul Muthhtalib, bukan hanya kemalangan bagi diri Nabi Muhammad saw., tetapi juga merupakan kemalangan dan kerugian bagi seluruh penduduk Makah. Meninggalnya Abdul Muththlib menyebabkan seluruh penduduk Makah kehilangan seorang pembesar sekaligus pemimpin yang cedas, bijaksana, pemberani dan perwira. Tentunya tidak akan mudah untuk mencari pengganti yang seperti beliau.Sesuai dengan wasiat yang ditinggalkan oleh Abdul Muththalib, maka Nabi Muhammad saw diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib. Kesungguhan dan kasih sayang yang diberikan oleh Abu Thalib kepada keponakannya tersebut tidaklah kurang dari apa yang diberikan kepada anak-anaknya sendiri.

PENGALAMAN YANG DIALAMI OLEH NABI MUHAMMAD SAW.
Ketika Nabi berumur 12 tahun beliau mengikuti pamannya Abu Thalib pergi ke syam untuk berdagang, saat tiba di Bushra beliau bertemu dengan salah satu pendeta nasrani yang „alim (Buhairo) namanya, pendeta itu mengetahui tanda-tanda kenabian yang ada pada diri Nabi, maka dinasihatilah Abu Thalib, sebaiknya kembali ke Mekah sebab dia khawatir kalau Muhammad ditemukan oleh orang yahudi yang pasti akan dianiyaya, mendengar hal tersebut mereka kembali ke Makah. Dan Muhammad saw.sebagaimana kebiasaan anak-anak di tempat tersebut , Muhammad saw. Mengembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kambing-kambing penduduk Makah yang lain yang mempercayakan kepadanya. Pekerjaan mengembalakan kambing ini, merupakan pendidikan yang sangat baik bagi diri Nabi, karena pekerjaan mengembala memerlukan keuletan, kesabaran, ketenangan, serta ketrampilan dalam bekerja dan tindakan, yang kesemuanya sangat penting bagi seorang pemimpin. Pada waktu Muhammad berusia !5 tahun, terjadilah peristiwa yang bersejarah bagi penduduk Makah, yaitu terjadinya peperangan antara Suku Quraisy dan Kinanah disatu pihakn dengan suku Qais „Ailan di fihak lain. Muhammad saw. Ikut aktif dalam peperangan tersebut, dengan memberikan bantuan kepada pamannya dengan menyediakan keperluan untuk peperangan. Peperangan itu terjadi di daerah suci dan pada bulan suci pula, yaitu pada bulan Zulkhaidah. Menurut pandangan bangsa Arab pada masa itu, peperangan tersebut adalah merupakan pelanggaran terhadap kesucian bulan Zulkhaidah, yang mana sesunguhnya pada bulan tersebut dilarang untuk berkelahi dan menumpahkan darah, oleh sebab itu peperangan tersebut dinamakan Harbul Fijar yang berarti perang yang memecahkan kesucian.
Semenjak wafatnya Abdul Muththalib (kakek Nabi) , kota Makah mengalami kemerosotan dalam hal ketertiban kota, keamanan harta benda. Terjadi perampokan, pemerasan, yang kesemuanya menjadikan hilangnya ketenangan dan kemakmuran dalam kehidupan bermasyarakat. Jika hal tersebut terus dibiarkan, maka akan merugikan semua penduduk Makah sendiri. Maka berkumpullah para pemimpin dari semua kabilah yang ada di Makah, dan terjadilah suatu persetujuan yang mengikat janji besama-samaa. Yaitu janganlah ada seorangpun yang teraniyaya diantara mereka, baik dari kabilah sendiri ataupun yang lainnya, dan lika terjadi penganiyayaan yang berupa apa saja, maka semuanya harus membelanya dengan sekuat tenaga. Drmikianlah perjanjian tersebut yang juga disertai sumpah. Sesudah itu keadaan kota Makah menjadi kembali tertib dan aman. Hilanglah semua penganiyayaan diri, harta benda ataupun yang lainnya, dan perjanjian itu disebut “Halful Fudhul”, yang pada waktu itu Nabi saw.ikut serta dalam pertemuan tersebut. Demikianlah keterangan yang sesuai dengan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad setelah beliau diangkat sebagai utusan Allah Sesudah Nabi mencapai usia dewasa, mulailah beliau berusaha sendiri dalam penghidupannya. Karena beliau terkenal sebagai orang yang jujur, maka seorang saudagar kaya yang benama Siti Khodijah mempercayai beliau untuk membawa barang-barang perniagaan ke negeri Syam. Dalam perjalanan ke negri Syam tersebut beliau ditemani oleh seorang budak yang bernama Maisaroh. Setelah selesai perniagaan dan mereka memperoleh laba yang banyak, mereka kembali ke Makah. Sepulang dari perniagaan ke Syam itulah, Muhammad saw. Mendapat lamaran dari fihak Siti Khodijah. Kemudian beliau menyampaikan hal itu kepada pamannya (Abu Thalib). Setelah tercapai kata sepakat maka pernikahanpun dilangsungkan. Pada saat itu Nabi Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Siti Khodijah sudah beusia 40 tahun. Perkawinan ini telah memberikan pada diri Nabi saw.ketenangan dan ketentraman. Nabi saw. Mendapatkan kasih sayang yang tulus dan ikhlas dari istrinya. Dan kemudian Siti Khodijah inilah orang pertama dan perempuan pertama yang mengakui kerasulan beliau. Ia senantiasa siap sedia menyertai beliau dalam semua perjuangan, meskipun dalam penderitaan ataupun kesusahan.
Setelah beliau menikah, bertambah populerlah namanya dikalangan penduduk Makah. Bertambah lagi setelah beliau berhasil mendamaikan pemuka-pamuka Quraisy ketika mereka bersengketa dalam memperbaharui bentuk Ka?bah. Dalam persengketaan itu, pada mulanya mereka tampak bersatu dan bergotong-royong mengerjakan pembaharuan Ka?bah. Tetapi ketika sampai kepada perkara peletakan Batu Hitam (Hajar Al Aswad) ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan hebat antara pemuka-pemuka Quraisy itu. Mereka masing-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tempat asalnya semula, pada saat yang kritis itu, datanglah Muhammad saw.dengan usulnya yang serta merta disetujui oleh mereka semua, maka beliau meminta sehelai kain yang lalu dihamparkannya dan diletaktannya Hajar Aswad di tengah-tengahnya. Kemudian diperintahkannya tiap-tiap pemuka golongan Quraisy untuk bersama-sama mengangkat tepi kain ke tempat asal Hajar Aswad itu, ketika sampai di tempatnya maka batu suci itu diletakkan dengan tangan dia (Muhammad saw.) sendiri ketempat batu itu semula. Dengan demikian selesailah perselisihan tersebut dengan membawa kepuasan pada masing-masing golongan terhadap kejadian itu. Pada saat terjadinya peristiwa tersebut Muhammad saw.berusia 35 tahun.

AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW.
Dalam perjalanan hidupnya sejak masih kanak-kanak hingga dewasa dan sampai diangkat menjadi Rasul, beliau terkenal sebagai seorang yang jujur, berbudi luhur dan mempunyai kepribadian yang tinggi. Tidak ada sesuatu perbuatan dan tingkah lakunya yang tercela yang dapat dituduhkan kepadanya. Berlainan sekali dengan tingkah laku dan perbuatan kebanyakan pemuda-pemudan dan penduduk kota Makah dapa umumnya pada waktu itu. Karena demikian jujurnya dalam perkataan dan perbuatan, maka beliau mendapat julukan “Al Amin” yang artinya orang yang dapat dipercaya. Ahli sejarah menuturkan bahwa Muhammad saw. , sejak kecil sehingga dewasa tidak pernah menyembah berhala, dan tidak pernah pula memakan daging hewan yang disembelih untuk korban berhala-berhala, seperti lazimnya masyarakat Arab Jahiliyah pada waktu itu. Ia sangat membenci berhala-berhala itu dan menjauhkan diri dari keramaian dan upacara-upacara pemujaan kepada berhala tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia berusaha sendiri mencari nafkah, karena orang tuanya tidak meninggalkan harta warisan yang cukup. Setelah beliau menikah dengan Siti Khodijah, beliau berserikat dengan istrinya tersebut, dalam perdagangan dan kadang-kadang berserikat pula dengan orang lain. Sebagai seorang manusia yang akan menjadi pemimpin umat manusia, Muhammad saw.memiliki bakat-bakat dan kemampuan jiwa yang besar, kecerdasan pikiran, ketajaman otak, kehalusan perasaan, kekuatan pikiran, kecepat tanggapan, kekerasan kemauan, dan segala pangalaman hidupnya mendapat pengolahan yang sempurna dalam jiwanya.

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...