"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

13 Juni 2009

Cerita Rakyat Tembarak III: KARTINI

DOWNLOAD

Dahulu, di Desa Banjar ada seorang anak gadis yang benama Kartini. Kartini tidak mempunyai tempat mandi khusus di rumahnya. Setiap sore Kartini mandi di Kali Lungge, di dekat rumahnya. Aliran air Kali Lungge seperti biasanya tidak pernah deras. Itu sebabnya Kali Lungge aman dan ibu Kartini tidak melarang Kartini untuk mandi di Kali Lungge. Pada suatu hari, Kartini sedang bermain-main bersama teman-temannya seperti biasa di dekat Kali Lungge di sebelah rumahnya. Kartini sangat asyik bermain bersama temantemannya hingga ia lupa bahwa hari sudah sangat sore dan ia harus segera pergi mandi agar tidak terlalu larut malam. Kemudian ia berpisah dengan teman-temannya. Tanpa minta izin dengan oang tuanya, dia berangkat ke Kali Lungge untuk mandi. Menurut Kartini, jika dia pulang, tentu saja hal pertama yang akan diperintahkan oleh ibunya, pasti mandi. Jadi ia langsung saja mandi. Padahal biasanya Kartini tidak mandi selarut itu. Sore itu, matahari mulai tenggelam, dan bulan sabit mulai menampakkan diri. Kartini mulai melepas pakaiannya dan mengenakan kembennya. Kartini memilih tempat di kali lungge itu yang bagian dasarnya paling dangkal, lalu merendamkan tubuhnya ke bagian dasarnya. Saat asyik berendam, tiba-tiba kartini mendengar sebuah suara merintih dan memanggil-manggil namanya. “Kartini… kartini… katini… kemari kartini… kemari…” Kartini mengangkat tubuhnya dan mencoba bangkit, berjalan ke arah datangnya suara. Kartini tidak sadar semakin ia berjalan, semakin dalam tubuhnya terendam air.
Sementara Kartini masih bejalan menuju dasar kali lungge, tiba-tiba aliran air menjadi begitu derasnya. Kartini terbawa arus yang deras itu. Kepala
Kartini terbentur sebuah batu jeram. Kepalanya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Seketika setelah hanyut dan pecahnya kepala kartini tanggal 21 April itu, air kali lungge menjadi berwarna merah darah dan ketinggiannya berkurang drastis menjadi sangat dangkal. Esoknya, warga banjar mencari kartini, namun tak juga menemukannya. Tiga hari berturut-turut warga mencarinya, tapi tak juga ada hasilnya. Beberapa tahun kemudian seorang warga banjar menemukan tengkorak kepala manusia yang telah pecah di bantaran Kali Lungge. Setelah kejadian hilangnya kartini itu, tidak boleh ada orang yang mandi di Kali Lungge pada sore hari dan pada setiap tanggal 21 April.

Oleh: Fathin Nabihaty

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...