"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

13 Juni 2009

Cerita Rakyat Tembarak I: DEMIT-DEMIT TUK KEDUNG DANDANG

DOWNLOAD
Pusat mata air Kali Legok terletak disebelah barat Dukuh Gondangan Desa Tawangsari Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, mata air itu akrab disebut “Tuk Kedung Dandang”. Disebut demikian karena semburan airnya yang begitu besar hingga menyerupai dandang. Dandang merupakan wadah untuk menanak nasi. Orang-orang tradisional (orang desa) biasanya menggunakan dandang yang tingginya mencapai lebih dari satu meter ini untuk menanak nasi, bukan dengan menggunakan sabluk. Konon katanya, pada setiap hari jumat ( tidak pandang bulu, mau Jumat Kliwon/Jumat Pahing/Jumat apa) di dekat Tuk Kedung Dandang itu selalu terdengar suara gamelan yang diyakini masyarakat sebagai acara wayangan yang diadakan oleh dedemit-dedemit yang menghuni mata air itu. Yang paling tidak masuk akal adalah bunyi gamelan itu selalu terdengar pada sekitar pukul 10.00 sampai pukul 12.00, apakah mungkin acara wayangan hanya dilakukan selama 2 jam??!! Pagi yang cerah, seorang petani, sebut saja namanya Abas, sedang bersiap akan berangkat ke sawah untuk menanam padi di lahan yang telah selesai dibajaknya kemarin. Abas keluar dari rumah dengan perasaan senang karena ia akan segera memiliki persediaan beras lagi. Abas saking asyiknya menanam bibit-bibit padi hingga tidak menyadari matahari yang sudah semakin meninggi dan petani-petani lainpun satu persatu kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap jumatan.
Abas lupa kalau hari itu adalah hari Jumat. Dia terus melanjutkan pekerjaannya, sampai ia mendengar sebuah suara berisik dari kejauhan. Dia baru berfikir, apakah ada orang sedang nduwe gawe. Abas semakin penasaran karena ia tidak ingat ada orang yang sedang punya acara. Abas terus mengikuti suara itu sampai akhirnya ia ingat bahwa hari itu adalah hari Jumat dan ia harus segera pulang untuk jumatan.
Di perjalanan pulang, Abas tidak lagi mendengar suara berisik itu. Seminggu kemudian, ketika hari Jumat juga, waktu itu Abas sedang menjaga sawahnya. Lagi-lagi abas mendengar suara berisik dari kejauhan, tapi kali ini dia tidak sendiri, tetapi bersama dua orang tetangganya. Abas dan kedua tetangganya mengikuti arah datangnya suara itu. Mereka melewati beberapa petak sawah dan akhirnya mereka sampai di hulu Kali Legok. Dari sana suara itu semakin jelas. Mereka mendengar suara gamelan. Semakin mereka mengikuti suara itu, semakin keras pula suaranya. Sampai di Tuk Kedung Dandang, suara itu hilang. Mereka bertiga pulang dengan terheran-heran. Esoknya, Abas dan kedua tetangganya pergi ke rumah tetua desa Tawangsari untuk menanyakan kejadian yang mereka alami kemarin itu. Sampai di rumah tetua itu, mereka menceritakan semuanya, kemudian tetua itu menceritakan sebuah kejadian yang terjadi beberapa geneasi lalu yang entah mengapa pesis sekali dengan kejadian yang dialami mereka. Kata tetua itu, dulu juga pernah terjadi hal seupa di dusun tersebut. Malahan, orangnya bukan hanya mendengar, tetapi juga melihat demit-demit yang sedang bermain wayangan dengan diiringi musik gamelan. Setelah kejadian itu, banyak orang percaya bahwa pada setiap hari jumat di Tuk Kedung Bendo ada demit-demit yang bermain gamelan yang merupakan pertanda bahwa mereka harus segera pulang.

Oleh: Fathin Nabihaty

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...