"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

13 Juni 2009

Cerita Rakyat Temanggung II: TERBELENGGU DERITA TAHAYUL

DOWNLOAD
Sebut saja namaku Mamik, beranak tiga dan berusia 30an tahun. Aku tinggal di sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian membuat batu bata. Banyak orang mengatakan kalau tempat aku membuat batu bata itu angker. Tempat itu terletak di pinggir sawah disisi jalan menuju Tembarak. Di tempat itu pula terdapat seonggok batu besar yang dipercaya sebagian besar tetanggaku, kalau batu besar itu berpenunggu. Sebagai orang beragama, tentu saja aku tidak percaya, bahkan aku berniat menghilangkannya. Selain mengganggu kerjaku batu itu juga telah membuat gossip tentang hantu. Sudah tiga kali dalam tiga lebaran aku kehilangan beberapa lembar rupiah, karena batu bata yang siap dibakar roboh tanpa sebab yang jelas. Orang orang percaya kalau hal itu terjadi disebabkan oleh kegiatanku yang mengganggu sang penunggu batu itu. Puasa tanggal 4 Januari 1999 adalah hari yang paling kelabu bagiku. Siang itu aku dedang duduk di pinggir tobong (tempat membakar batu bata) sambil menyaksikan batu bataku yang telah dibakar. Sambil istirahat kubayangkan bahwa sebentar lagi aku akan menerima jerih payahku dan tentu saja aku akan dapat membelikan baju baru untuk ketiga anakku dihari lebaran tahun ini. Brugh…..tiba-tibabatu bata yang masih di perapian itu mendadak roboh. Baru saja aku mencapai satu langkah, batu bata sebanyak 8000 itu telah menutupi sebagian dari anggota badanku. Dari dada kebawah, tubuhku terbenam diantara batu bata yang panas membaa. Dengan menjerit aku berusaha minta tolong, ibu mertuaku dan suamiku yang berada tak jauh dai tempat itu. Aku tidak tahui apa yang terjadi, setelah aku tidak mampu menahan panas yang melelehkan tubuhku. Sampai aku sadar, aku telah berada di rumah sakit dengan rasa pedih, perih, panas yang menyiksa tubuhku.
Kini tubuhku terbalut perban, aku kehilangan sebagian besar daging di pantat dan di tungkai, karena meleleh tertimpa batu bata panas itu. Kini aku terbaring di rumah sakit umum Temanggung, dengan bau amis daging terbakar. Sampai para tetanggaku yang menjengukku tak berani masuk ke bangsalku, karena bau amis dari badanku. Kudengar selentingan kalau musibah yang menimpaku adalah akibat usahaku yang ingin menyingkirkan batu sumber takhayul itu. Walau demikian aku tetap tak pecaya dan makin berniat akan mengkancurkan. Musibah ini ku anggap sebagai ujian, bukan kutukan. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan lukaku mengering, dan sampai kapan akan terbaring di bangsal rumah sakit ini.

Oleh: Anjar Yulianto

Baca juga

Kerja Sambilan Mudah dan Halal di Survei Online Berbayar #1

Mendapatkan bayaran dari mengisi survei sudah bukan hal asing . Lebih dari 70% orang online untuk mengisi survei . Mereka biasanya menj...